
Suara petir yang menyambar dan diikuti dengan angin kencang membuat Bethany dan saudarinya kalang kabut menutup pintu serta jendela rumah mereka. Wajah mereka pasrah kalau tanaman yang ada di luar akan hancur dan berantakan tidak terkendali. Saat guntur terakhir menyalak, hujan turun dengan lebatnya seiring waktu, Lyra merasakan angin dinginnya menembus kulit-kulit kakinya yang terasa kaku. Jiwanya memang belum seutuhnya kembali, tetapi dia mampu untuk sekedar merasakan perasaan dingin itu.
Sudah lama sekali sepertinya sejak mereka meninggalkan tempat kejadian saat Valdes memerintahkan pasukan Exchanges untuk membunuhnya, dan di Glencoe saat tidak sengaja malah bertemu dengan Valdes juga, pada akhirnya aroma hujan yang begitu khas ikut masuk bersamaan dengan oksigen yang dihirupnya. Tidak tahu pasti apakah itu perasaan merinding atau dia memang bergidik akibat terlalu dingin, Rick menggenggam tangannya lebih erat. Meski Lyra sudah meyakinkan untuk tidak perlu khawatir berlebihan, Rick tetap tidak beranjak dari sisinya, ditambah Lyra mengakui kalau kakinya belum bisa digerakkan, seakan lumpuh.
"Aku sudah tidak apa-apa, Rick." lirih Lyra dengan pelan.
"Rasanya setengah diriku ikut menghilang," ujarnya lembut, tangannya menyentuh pipi Lyra yang masih sedingin es. "andai aku bisa lebih cepat menarik mu kembali."
Lyra menyunggingkan senyum, "itu artinya kau masih kurang pandai untuk menyadarkan ku."
"Mile sudah membantuku mencari kayu kering, sebaiknya kau beristirahat di dekat perapian agar lebih hangat." Sean muncul kembali setelah menghilang dari ruangan itu cukup lama, napasnya tersengal.
Rick yang menghargai usaha laki-laki itu buru-buru berdiri, "kalau begitu bantu aku lagi membopongnya, kau tahu kan kita mengangkat sebongkah es yang mirip Lyra." katanya dengan cepat.
Lyra langsung membayangkan sebongkah es yang dipahat begitu mirip dengan dirinya dan hal itu mendorongnya menjadi berpikir kalau sebenarnya dia hanyalah sebuah replika di dalam tubuh seseorang yang kebetulan mirip dengannya, jiwanya tersesat di sana dan tidak kembali pulang.
"Bercandaan mu, Rick." tukas Sean yang melihat raut wajah Lyra tidak berekspresi.
Rick dan Sean membaringkan Lyra di atas sofa, mereka mendekatkan sofa tersebut ke perapian agar Lyra cepat menghangat. Padahal biasanya para serigala lebih sering merasa kepanasan, tetapi berbeda dengan suhu tubuh Lyra yang tidak bisa di bilang normal. Memang hal yang langka mengapa itu bisa terjadi pada serigala dan bisa berarti menjadi salah satu akibat kepergian jiwa Lyra yang sering kali terlepas dari raganya sendiri karena pengaruh besar yang diterimanya saat bersentuhan langsung dengan sihir.
Tidak tahu kapan tepatnya hujan sudah berhenti dan terjadi angin mati, sebab telinga Lyra tidak lagi mendengar hembusan angin kencang di luar sana. Namun, sesuatu menarik perhatiannya, seseorang yang baru saja datang di tengah-tengah mereka. Wanita itu persis Bethany. Dia seakan duplikatnya dengan kulit seputih porselen, rambutnya ikal berwarna merah sewarna bunga Poppy, matanya berwarna coklat terang dan ada sedikit freckles di bagian hidung serta bawah matanya. Dia mengenakan baju terusan berwarna krem dengan rumbai-rumbai di masing-masing lengannya yang sedang memegang nampan berisi penuh minuman dingin.
"Udaranya agak panas, ada yang mau koktail?" dia mengangkat sedikit lebih tinggi nampan yang dibawanya sejak awal, "bersyukurlah kalian jika menemukan rasa yang pas, aku hanya menaruh 30% vodka dan itu hanya ada di satu gelas. Bersenang-senang lah!" katanya lagi, menaruh nampan tersebut di atas meja kemudian menarik salah satu gelas berwarna merah dengan limun yang masih segar di pinggir gelasnya.
Rick melihat Lyra, merasa begitu tidak nyaman jika dia beranjak untuk mengambilnya. Namun, lagi-lagi Lyra menyunggingkan senyum. "jangan, jangan lakukan itu." sergah Rick.
Lyra mendengus menahan tawa, "tak apa, jika aku jadi kau, aku sudah melakukannya. Aku tahu kau butuh minum, apalagi yang seperti itu."
Rick mengerutkan dahinya.
"Itu gratis, cepatlah." Lyra mendorong tangan Rick untuk berangkat mengambilnya.
Sayang sekali kedua kakinya masih saja kaku, padahal jika dia sedikit merasa lebih baik dia juga ingin merasakan minuman dingin berbahan dasar buah-buahan yang segar.
"Kalau wajahmu sudah begitu, mana mungkin aku bisa menolaknya Lyra." Rick menghela napas panjang.
__ADS_1
Lyra melihat Rick yang kebingungan hanya sekedar untuk memilih koktail dengan warna yang masih tersisa, yaitu kuning, putih, dan satu lagi putih agak kebiruan sewarna laut. Dia berkacak pinggang merasa agak frustrasi, padahal kalau dipikir-pikir apa susahnya tinggal pilih sesuai keinginannya, tetapi karena Rick menghindari vodka, dia takut memilih sesuai keinginannya.
Rick berbalik dengan tiba-tiba, mendapati Lyra sedang melihatnya juga. Dia berjalan menghampiri Lyra lagi dengan santai, "tolong jangan ganggu tiga warna itu dulu sebelum aku memilih salah satu di antaranya!" katanya memperingati orang-orang yang ada di sana termasuk Chamomile, perempuan penyihir yang mendorong jiwa Lyra terlepas dari raganya.
"Aku baru saja akan mengambil bagian ku." sergah Luo Qing pasrah di kursinya seraya merebahkan tubuhnya.
"Kenapa kau kembali?" tanya Lyra saat Rick menarik tangannya lagi ke dalam genggaman.
"Justru itu, kau suka warna apa? Lebih baik tidak ada vodka di dalamnya ketimbang melihatmu menahan haus begitu."
Lyra membawa matanya melihat ke sana kemari seraya menggerak-gerakkan bibirnya yang membuat Rick ingin mengecupnya. "Menurut mu?" katanya akhirnya.
"Sepertinya aku tahu, tapi, ah, tentu saja!" tukas Rick ketika selesai melihat Lyra, dia bangkit kembali dan menghampiri meja yang terdapat tiga koktail dengan warna berbeda.
Butuh beberapa menit sebelum akhirnya Luo Qing mencomot koktail yang paling dekat dengannya, yaitu berwarna putih agak kebiruan yang mana itulah yang sejak awal ingin diambil Rick.
"Kau tidak dengar, hah?" seru Rick tidak terima koktail nya diambil orang lain.
"Kau 'kan bisa mengambil dua lainnya, aku sudah haus sekali." Luo Qing tanpa rasa bersalah langsung meminumnya beberapa teguk.
Dengan cepat Rick menepisnya hingga gelas itu terlepas dari tangan Luo Qing yang mana menyebabkan gelas itu pecah dengan air yang membasahi baju Luo Qing. Semua otomatis terdiam melihat ke arah mereka dan suara teriakan dari ruangan lain yang sedang menuju kemari membuat Chamomile bergegas mendekati Luo Qing dan Rick, dia berjongkok sambil membersihkan pecahan gelas yang berhamburan di lantai.
Wanita itu berdiri dengan sigap seraya melipatkan kedua tangannya di depan dada, "kau pikir kau bisa menyalahkan dirimu terus menerus atas kesalahan orang lain, hah? Lepaskan pecahan itu dari tangan mu Mile!" wajahnya agak memerah akibat emosinya membara.
Chamomile tidak bergerak barang sedikit pun, dia tetap tertunduk dan agak gemetar di tempatnya.
"Ku bilang lepaskan, SEKARANG!" tukas wanita itu lebih kencang dari sebelumnya.
Pecahan gelas yang tadinya hampir bersih kini berbunyi kembali dan malah menambah pecahan yang baru karena Chamomile membantingnya agak keras ke lantai, dia kesal atas sikap saudarinya yang keras. Dia berdiri kemudian meninggalkan ruangan itu dengan kesunyian yang menjalar.
Lyra yang ingin menjelaskan tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suaranya, tetapi dia bisa menggerakkan kakinya sedikit demi sedikit. Atmosfer yang mengerikan itu mengeluarkan beberapa partikel sihir yang membuat kepala Lyra sedikit panas, dia dengan pelan berangsur-angsur dari sofa tersebut dan membawa kakinya untuk turun. Rasanya sangat berat, ditambah dia harus menahan napas karena tidak mau menerima aroma sihir lagi yang mana memang akan membuatnya meninggalkan dunia itu selamanya. Dia berusaha sekeras mungkin sampai pada akhirnya tersungkur di lantai, disusul dengan suara tulang yang patah. Lyra menggigit bibirnya hingga membuatnya berdarah menahan rasa sakit di kakinya.
Rick berlari menuju Lyra yang kesakitan di lantai diikuti Sean yang kesal dengan situasi semacam itu, diam-diam Rick juga menahan sakit pada telapak kakinya yang tertancap pecahan gelas. Begitu tidak pedulinya dia hingga tidak berhati-hati dengan diri sendiri karena panik melihat kekasihnya sedang tersungkur.
Jelas semua orang yang ada di sana mendengar suara tulang yang patah itu dan entah bagaimana itu bisa terjadi.
__ADS_1
Sean dengan wajah memerah menahan tangis memegang Lyra agar tidak bergerak sedikit pun karena takut keadaannya semakin parah.
Apa ini yang dilihat Chamomile? Apa memang ini yang harus ku lalui?
Perasaan sakit yang mendalam tiada henti, lebih baik aku mati daripada menerima derita sepanjang hidup. Aku sama sekali tidak mengharapkan hal ini.
Wajah Lyra penuh air mata, di sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Dia benar-benar tidak tahu harus memikirkan tentang apa lagi untuk sekedar menenangkannya alih-alih menghapuskan perasaan yang bercampur tersebut sementara semua rasa sakit berkumpul menjadi satu dalam dirinya.
"Lyra, Lyra, tenanglah, sayang. Ku mohon tenanglah." Rick mencoba menenangkan padahal dia juga sama rapuhnya.
Suara Rick yang terdengar gemetar mendorong Bethany turun tangan, diikuti dengan Luo Qing dan Tobias di belakangnya. Bethany membacakan mantra untuk menghilangkan rasa sakitnya alih-alih membuat Lyra pingsan.
Namun, lagi-lagi Rick mencegahnya dengan cara yang lebih serius ketimbang saat dia kesal dengan Luo Qing. "Kau sengaja membunuhnya!" seru Rick membuat Bethany mundur.
"Dasar tidak tahu malu!" wanita itu berjalan dengan cepat ke arah mereka semua dan melayangkan tamparan ke wajah Rick, Rick mematung dalam hitungan detik. "Kau sudah ku ijinkan untuk kedua kalinya berteduh di rumah ini kalau bukan karena Bethany yang meminta. Bukannya mengatakan terima kasih karena sudah di bukakan pintu, kau malah bersikap kurang ajar padanya!"
Bethany yang seketika menyadari kalau jiwa Lyra akan terlepas lagi saat menerima aroma sihir melototi wanita yang baru saja menampar wajah Rick. "Am! Dia hanya panik, dan itu memang salahku!" tukasnya, mencoba membela.
"Dia selalu membuat kekacauan saat datang kemari dan aku memaafkannya untuk hal yang pertama kali dilakukannya, dia bahkan tidak belajar dari kesalahannya sendiri!" saat itu bukan hanya rambutnya yang merah, wajahnya pun semakin terlihat memerah dan mengerikan.
"Cukup!" teriak Sean, napasnya tersengal, "kalau tidak mau membantu sejak awal setidaknya katakan!" katanya lagi masih berteriak, "temanku sekarat, tidak bisakah kalian sedikit menunjukkan rasa kemanusiaan di sini? Kalau ini terjadi pada dirimu atau anggota keluarga mu, kau akan sama marahnya!"
Wanita itu kembali menaruh kedua tangannya di depan dada dengan senyuman sinis terukir di wajahnya, "setelah ini selesai, kau sendiri yang harus membersihkan kekacauan ini, kau harus bertanggung jawab karena kau sudah lancang."
"Aku tidak peduli," gumam Sean pelan kemudian melihat Rick dengan tatapan kesalnya, membopong tubuh Lyra yang sudah terkapar di lantai.
"Bawa dia ke kamar ku saja." kata Bethany pelan.
Tobias yang berjalan paling akhir melihat Amarilys dengan tatapan kecewa sambil menggeleng pelan, tidak percaya kalau ternyata semudah itu dia melakukan hal yang tidak diharapkan oleh siapapun. Padahal dulu dia cukup sopan dan beretika, bersikap normal dan tidak mudah terbawa suasana. Namun, sepertinya penyihir memang lebih cepat berubah ketimbang manusia normal lainnya.
"Semua tidak mengharapkan hal itu terjadi, setidaknya tunjukkan sedikit rasa kasihan mu meski kau bukan lagi Amarilys yang waktu itu." gumam Tobias pelan ke arah wanita itu seraya berjalan mengikuti yang lainnya.
Chamomile yang tadinya pergi begitu saja kini sudah membawa peralatan medis, dia baru saja tiba di pintu istal miliknya saat Bethany mengirimkan sinyal bahwa Lyra kecelakaan. Walaupun mulanya Lyra hanya orang asing di mata mereka, tetapi Orance satu-satunya orang dengan tangan terbuka menerima kehadiran mereka bertiga di depan gerbang Flos Orbis.
"Mile, tolong pasangkan ankle di kakinya karena serigala cukup cepat pulih dari sakit apapun yang mereka terima. Jangan pernah menggunakan matra atau sihir di sekitarnya, cukup berikan obat dengan jarum suntik." tukas Bethany dengan cepat ketika Rick dan Sean sudah membaringkan tubuh Lyra di atas ranjang tempat tidurnya. "aku perlu bicara dengan Amarilys." katanya lagi, tapi lebih pelan dari sebelumnya.
__ADS_1
"Aku ikut," kata Sean, "maksud ku, aku juga akan ke sana untuk membereskan kekacauan itu." katanya lagi saat Bethany menatapnya dengan aneh.
Rick menahan tangan Sean dan itu pertama kalinya dia menyentuh Sean, rasanya aneh sekali. Rick tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "itu adalah tanggung jawabku, sebaiknya kau temani Lyra di sini, semangati dia, jangan sampai dia meninggalkan raganya untuk kedua kalinya." lalu berjalan keluar ruangan dengan sangat menyesal.[]