
"Oh.. kau, maaf aku tidak seharusnya berada di tempat ini. Aku akan keluar."
Luo Qing menyunggingkan senyum, "ini memang ruang kerja ku, biasanya aku akan marah sekali jika orang asing masuk tanpa seizin ku."
Sean menunduk, "kalau begitu maaf karena sudah lancang." katanya seraya melihat Luo Qing sekilas dan kemudian berbalik berjalan ke arah pintu untuk keluar.
"Tapi kali ini dengan senang hati ku izinkan." tukas Luo Qing yang mana membuat Sean berhenti yang kemudian berbalik lagi untuk melihat laki-laki itu. "Aku tahu situasinya canggung dan tidak enak untukmu, gunakanlah ruangan ini untuk beristirahat. Kau boleh duduk di kursi ku dan bersantai, lagipula Rick meminta ku untuk mengecek kondisi mu."
"Oh.. terima kasih, untuk tempatnya. Aku memang butuh waktu agar bisa mengendalikan diri." Sean memunculkan senyum terpaksa kepada laki-laki sipit yang sedang berbagi oksigen dengannya itu.
Luo Qing mengangguk, setidaknya laki-laki itu masih nampak baik-baik saja meski dia terus menekukkan wajahnya yang penuh tekanan. Memang bukan hal mudah bagi siapa saja untuk nampak baik-baik saja dihadapan semua orang jika sudah mengalami patah hati yang serius, bahkan sepertinya itu lebih sakit dari cedera parah yang tiada kunjung sembuh. Namun, Luo Qing tahu kalau Lyra tidak bisa melakukannya bersama Sean dengan alasan takut kehilangan sosok teman baiknya. Bahkan dengan Rick, dia nampak berusaha memaksakan diri dan membiarkan dirinya mencintai laki-laki yang kuat itu.
Dia mengakui kalau dua orang yang sedang bersama Lyra itu adalah laki-laki yang beruntung, terutama Sean. Lyra hampir tidak bisa berkata-kata lagi selain meminta Rick untuk memahami situasinya, dia begitu merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang terjadi di antara mereka.
"Ya sudah, aku akan keluar dari bunker, beristirahat lah." Luo Qing berjalan keluar ruang kerjanya sendiri seraya mengambil beberapa serbuk yang ada di dalam botol kaca bening. "Oh ya, pesan ku, kau sebaiknya tidak usah bermain-main dengan benda itu." dia menunjuk ke sebuah benda yang berada di paling sudut meja, benda itu terlihat seperti jarum suntik dengan cairan kental berwarna biru gelap di dalam tabung mungilnya. "Sampai jumpa." kemudian Luo Qing menghilang dari balik pintu.
Sean menghela napas saat sudah menyandarkan tubuhnya di kursi kerja Luo Qing. Kain yang menyelimuti kursi tersebut memang sudah robek di beberapa tempat, bahkan disudut kiri paling luar kursi tersebut hanya tersisa plastik hitam yang mana itu sebagai wadah busanya tetapi itu tidak menghilangkan rasa nyamannya mengingat Sean memang sudah lama tidak menemukan tempat yang empuk untuk tubuhnya.
Sekilas ingatan mengenai kejadian beberapa waktu lalu kembali muncul dipikiran Sean, membuatnya tidak habis pikir sekaligus agak kecewa. Dia sempat mengira kalau semua itu hanya omong kosong Rick yang mungkin memiliki dendam dengannya karena sudah menurunkannya di tengah jalan saat dia sudah memantapkan diri untuk ikut dan melindungi mereka berdua, tapi saat mendengar Lyra yang secara tidak langsung mengatakannya, itu membuat semua perkataan Rick adalah benar. Dia tidak pernah sekalipun berkata perihal kebohongan, bahkan dia ingin Sean tetap melihat Lyra sebagaimana sebelumnya. Meski Sean sudah merasa hatinya patah tanpa kejelasan, Sean tidak bisa berpura-pura tidak tahu hal itu.
"Seperti seseorang yang egois sekali." dia mendengus, memarahi dirinya sendiri.
Kalau saja dia bisa lebih menahan diri dan tidak bertindak aneh di depan semua orang, kecanggungan di antara mereka tidak akan terjadi. Apalagi sampai membuat Lyra begitu merasa bersalah sebab memikirkan perasaan Sean padahal dia juga berhak bahagia dengan pilihannya.
"Kenapa aku selalu saja menghalangi dan terus mencoba menjadi yang paling diandalkan padahal menjamin keselamatan Lyra saja aku tidak bisa." dia terus berceloteh sendiri, bahkan hampir ingin membenci dirinya sendiri.
Seketika sesuatu terlintas dari benaknya, seseorang pernah bertemu dengannya secara tidak sengaja ketika berada di Flos Orbis saat dia sedang mencari keberadaan Lyra di malam dia menghilang atau melarikan diri dari Volant Lapis, seakan menyadarkannya tentang sesuatu tetapi dia tidak memahami isi dari setiap perkataannya. Namun, sekarang rasanya pesan itu mulai tersusun dengan kata-kata imajiner yang dibuat Sean di atas kepalanya, yang tadinya berantakan kini menjadi sebuah kalimat yang melayang-layang.
'Sesuatu yang memang bukan milikmu, semakin kau berusaha keras untuk mendapatkannya, semakin jauh kau akan mencapainya.'
Senyuman kecut muncul di wajahnya dan Sean berharap dia menjadi semakin lebih baik setelah semua hal-hal itu. Patah hatinya adalah suatu hal kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu lama, toh meskipun dia memilih untuk mengutarakan isi hatinya kepada Lyra, perempuan itu tidak akan menerimanya seperti yang dia lakukan kepada Rick dan gagasan itu bukanlah pilihan yang bagus untuk menjadi opsi.
Jadi, Sean sudah memikirkan tindakan selanjutnya. Memang tidak semudah itu bangkit tetapi jika dia tidak bergerak satu inci pun untuk keluar dari perlindungannya, dia tidak akan mendapatkan apa-apa selain semakin tenggelam dalam kesedihannya.
__ADS_1
Mulanya dia hanya berjalan untuk meninggalkan tempat itu, tapi ada sesuatu yang sejak awal memang menarik perhatiannya, yaitu sebuah benda yang diperingatkan Luo Qing agar tidak menyentuhnya sedikit pun. Sean mendekatnya wajahnya ke benda itu dan menghirup aromanya yang sangat pahit sehingga membuat kepala Sean sedikit pusing. Aroma itu seakan menempel di hidungnya hingga membuatnya cepat-cepat kabur dari tempat itu.
Tobias dan Luo Qing sedang berbincang di luar bunker sementara dua orang yang sejak tadi dicarinya tidak ada di mana-mana. Namun, Sean mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kau lapar, bung?" tanya Tobias.
Sean menyunggingkan senyum seraya menggeleng.
Di malam hari yang hampir pagi, semua orang yang ada di sekitar mereka merasa tidak membutuhkan tidur. Semua nampak sibuk, berjalan ke sana kemari dan berbincang satu sama lain.
"Padahal aku punya rencana untuk si tua bangka itu, tapi kau sepertinya masih punya hati nurani untuk membiarkannya tetap hidup." kata Tobias saat memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, dia melihat orang yang lalu lalang tidak jauh dari keberadaan mereka bertiga.
Luo Qing memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana, dia menghela napas panjang. "Apa yang ku perbuat padanya memang tidak setimpal, tapi jika aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya selama ini, aku sama saja dengannya. Jadi ku biarkan kawanannya saja yang menangani, lagi pula aku siapa? Seorang penyihir pada akhirnya akan tetap diminta untuk pergi dari kelompok yang berbeda." balas Luo Qing santai.
"Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi Lyra menemukan kunci mobilnya. Kau tidak mau membawa barang mu yang lain?"
Luo Qing menunduk sebentar, melihat ujung sepatunya yang benar-benar nampak kotor. "Aku tak punya pilihan selain membuang barang pemberian Carlos, dia sudah membakar habis semuanya, bahkan potret aku dan ibu ku."
Jantung Sean seakan ditikam oleh sesuatu yang tidak terlihat, dia terdiam sejenak seraya mencerna perkataan Luo Qing.
"Jadi, kau tahu soal Valdes yang hidup sebagai hybrid?" sergah Tobias tiba-tiba.
Sean tidak asing mendengar kata itu, Rick pernah mengucapkannya saat pertarungan sengit mereka di jalanan kala hujan. Hanya saja Sean tidak mengerti bagaimana Valdes, si mata merah itu bisa terlahir dan hidup sebagai hybrid yang cukup banyak ditakuti orang-orang.
"Ya," sahut Luo Qing sambil mengangguk, "tapi awal mula ceritanya aku tidak tahu." katanya lagi.
"Padahal aku penasaran." balas Tobias hampir berteriak.
"Kau bisa menceritakan padaku tentang kebakaran itu?" kata Sean sangat pelan, "tolong.." lirihnya.
Tobias yang mendengar agak syok dan berinisiatif untuk menarik Sean dalam rangkulannya, dia menaruh tangannya di atas pundak laki-laki itu dan tersenyum. "Rawan, mungkin dalam perjalanan kau akan tahu semuanya." bisik nya lalu menepuk bahu Sean beberapa kali agar terlihat akrab satu sama lain.
Sean yang paham situasi dan kondisi saat itu langsung celingak-celinguk, takut kalau-kalau bekas kawanan Carlos memperhatikannya dengan tatapan mengerikan. Meskipun ibunya berasal dari tempat itu, bukan berarti dia juga berasal dari tempat yang sama. Dia hanyalah anak yang tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri dan ibunya yang tidak bisa melihatnya kesakitan walau sebenarnya dia merasa lebih baik mati bersama ibunya kala itu juga. Sean tahu Luo Qing dibalik kebakaran itu, Luo Qing dibalik kematian ibunya, dan begitu cepat dia beranjak tumbuh sehingga membuatnya bertemu dengan si pembunuh meski dia tahu Luo Qing tidak melakukannya dengan sengaja. Tapi Sean tetap saja kesal. Sedikit.
__ADS_1
Tak lama, dua orang datang dari samping mereka yang salah satu dari mereka tersenyum pada Sean dan tidak ada arti apa-apa dibalik senyuman itu kecuali rasa tenang.
"Kau aman?" tanyanya seraya menepuk pundak Sean sekilas.
Sementara satu orang lagi, Lyra, berdiri canggung dihadapannya dan takut mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat Sean.
"Apa kalian sudah menemukan kuncinya?" tanya Sean dengan nada rendah dan santai, matanya melirik ke dua orang yang baru saja tiba di sana.
"Ya," Rick mengangguk, "kita hanya perlu sedikit bekal untuk perjalanan."
"Aku akan minta beberapa orang untuk memberikan kita makanan, tak usah khawatir, aku bisa mengatasinya." tukas Luo Qing kemudian menghilang di antara orang yang lalu lalang.
"Eh, hei, Rick, apa aku boleh bicara dengan Lyra sebentar?"
"Memangnya aku berhak melarang mu?" ujar Rick lalu mereka tertawa kecil.
"Terima kasih."
"Kalau begitu aku dan Tobias pergi dulu, dan, Lyra, semuanya baik-baik saja." Rick mengelus puncak kepala Lyra yang sejak tadi hanya diam mematung seakan dirinya sudah lama membeku.
Saat jarak mereka agak jauh dari Rick yang sudah berjalan semakin dalam ke hutan, Sean berdeham, meminta perhatian Lyra dan perempuan itu langsung mengangkat kepalanya tiada ragu.
"Aku tidak apa-apa." tukas Sean, "jangan menyia-nyiakan kesempatan sekali pun kau tidak menginginkannya." lalu dia tersenyum.
Lyra yang awalnya menolak gagasan untuk bercerita dengan Sean akhirnya memeluk Sean tanpa berpikir kalau Rick akan memarahinya, tapi dia tahu, Rick tidak akan melakukannya.
"Dia tidak berubah, dia tetap sama, dia tetap Rick yang sejak awal ingin membunuhku." tukas Lyra dengan emosi yang bercampur, suaranya seperti ingin menangis. "dia hanya sedikit tersadar dari hipnotis Valdes ketika dia sudah dicampakkan." kata Lyra lagi.
"Mana mungkin aku membiarkan mu dijaga oleh orang yang salah kalau bukan karena Rick sejak awal sudah memperingatkan ku." Sean teringat kembali saat Rick datang seperti hantu di toilet kafe. "Walaupun aku hampir tidak pernah tahu rasanya dicintai lawan jenis, tapi pandangan Rick padamu, cara dia membela mu, cara dia memperlakukan mu, itu bukan lagi karena dia memiliki tujuan lain, meski awalnya nampak mencurigakan, tetapi kita tahu, dia tidak melakukan itu atas kehendaknya sendiri. Dia sungguh mencintaimu, Lyra." tangan Sean naik turun untuk mengusap punggung Lyra alih-alih meyakinkan perempuan itu kalau dia sudah baik-baik saja.
Tubuh Lyra yang sedikit gemetaran menahan tangis dan mendorong Sean untuk memeluk perempuan itu sedikit lebih erat dari sebelumnya. "Tidakkah cukup untukmu menangisi semuanya? Itu sudah keterlaluan Lyra, kau sudah sepantasnya bahagia. Bukankah pundak mu sudah ringan dari beberapa beban yang kau pikul sendirian sejak awal?"
Lyra mengangkat kepalanya untuk melihat Sean dan menarik diri, dia menaruh kedua telunjuknya di masing masing pipinya lalu menariknya secara berlawanan hingga membentuk lah sebuah senyuman yang sudah lama Sean rindukan.
__ADS_1
"Kau seharusnya juga senang, bahwa kau tidak perlu repot-repot menjadi penjaga untukku."
Sean menaruh kedua tangannya di atas kedua pundak Lyra, "sekarang, kita bisa memulainya lagi sampai kau bertemu saudara mu. Aku juga tidak akan melupakan janji ku yang satu itu, maafkan aku, kita bisa kembali seperti dulu." tukas Sean lalu membalas senyuman Lyra dengan senyuman sangat lebar.[]