Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
68. Tinggal Menunggu Waktu


__ADS_3

Banyak hal yang rupanya sudah dilewatkannya dalam sehari dan saat suapan terakhir meluncur masuk ke dalam mulutnya, Rick kembali berkata maaf untuk yang kesekian kalinya.


Pada awalnya Lyra memang tidak mengira jika Bethany akan melakukan hal buruk terhadapnya dan membuat orang menuding Rick sudah melakukan hal-hal yang tidak-tidak kepadanya. Namun, ketika Sean menjelaskan secara terperinci semua kejadiannya, Lyra percaya bahwa Bethany memang kesepian.


Chamomile bersedih hati karena Bethany meninggalkan mereka di malam itu juga, dia memutuskan untuk ikut bersama Nona Yue dan yang lainnya ke Flos Orbis, agar dia bisa belajar lebih banyak cara untuk mengendalikan emosi dan perasaannya alih-alih menebus dosa-dosanya. Chamomile menyayangi kedua saudarinya tetapi kadang dia tidak bisa melarang Amarilys melakukan hal yang disukainya sehingga Bethany tidak dapat menerima kekalahan sang kakak yang terus memanjakan adiknya itu.


Itu adalah pagi yang cukup sepi untuk mereka semua. Sean, Tobias, serta Amarilys sedang sibuk di ruang tamu yang entah membahas masalah apa, sedang Chamomile berada di istalnya menyibukkan diri agar tidak terlalu memikirkan Bethany dan kejadian-kejadian seharian penuh kemarin itu.


Lyra dan Rick yang baru saja selesai sarapan masih di tempat tidur Bethany, dia mengizinkan Lyra sepuasnya tidur di sana karena dia memang tidak menggunakannya untuk beberapa waktu lamanya. Dan Lyra kembali teringat dengan raut wajah Bethany yang bercampur aduk, sedih, senang, dan merasa bersalah secara bersamaan ketika Lyra membisikan sesuatu di telinganya.


"Tetaplah menjadi Belladonna, karena orang akan mengubah pandangan mereka terhadap tanaman yang cantik itu."


Bethany tahu kalau perkataan itu sering kali diucapkan oleh ayahnya ketika dia terpuruk atau bahkan dilanda kesedihan dan entah bagaimana wanita itu percaya begitu saja dengan Lyra yang mengaku bertemu dengan kedua orang tuanya kala itu.


"Kau percaya tidak? Saat aku di ruang hampa, aku bahkan tidak bisa menyentuh diriku sendiri." kata Lyra memecahkan keheningan.


Rick terkekeh, "aku jadi teringat ubur-ubur yang bahkan tidak ingin menyentuh diri mereka sendiri karena takut akan tersengat."


"Kau ini!" Lyra menjambak rambut Rick dengan cukup kuat.


"Aku hanya ingin kau tidak memikirkan hal itu lagi, semua yang terjadi kemarin sebaiknya cukup diingat di hari kemarin saja. Sebab pagi ini, dengan Matahari yang cukup cerah menyambut sesuatu yang baru, yang mungkin akan menyenangkan." tukas Rick, dia memeluk tubuh Lyra yang agak sedikit kurus.


Lyra menghela napas, "aku ingin jalan-jalan."


Rick yang menyadari bahwa kaki Lyra belum dapat bergerak menatap perempuan itu dengan rasa kasihan yang mendalam. Sejak kedatangan mereka di rumah itu, Lyra hanya mendapatkan penderitaan fana yang terbilang parah dari biasanya hingga harus mengalami cedera serius pada kakinya yang harus dipasangi ankle agar tetap bisa lurus seperti semula. Entah bagaimana rasanya Rick tidak memahami kesakitan itu, tapi yang pasti hal itu membuat Lyra akan terus dirundung kepedihan yang mendalam.


"Sebenarnya, aku juga ingin mengajak mu keluar dan jalan-jalan, agar kau bisa menikmati masa pemulihan mu dengan tenang."


"Lalu?"


Rick tidak menjawab melainkan melihat ke arah kaki Lyra yang terbungkus oleh perban dan dipasangi ankle. Mungkin perasaan perempuan itu kini campur aduk dan Rick tidak seharusnya mematahkan semangat Lyra karena dia saat itu sudah menjadi salah satu alasan untuk Lyra tetap bertahan.


"Tapi akan lebih baik jika kau tetap di sini." sahut Rick dengan nada yang agak sedih.


"Jadi kau menyerah begitu saja melihat ku dengan keadaan yang menyedihkan?" tanya Lyra, dia mendorong Rick yang masih merangkul tubuhnya. "Tinggalkan aku sendiri." pintanya.


Lyra memaksakan kakinya untuk bergerak karena dia ingin membaringkan tubuhnya lagi dan kembali tidur sebab hanya itu yang bisa dilakukannya untuk beberapa waktu ke depan. Tidak akan kemana pun dan merasakan sakit yang tiada henti, itu yang sebenarnya dia hindari.


"Pakailah ini." kata seseorang di belakang mereka.


Rick menoleh ke belakang dengan cepat untuk melihat, Amarilys datang bersama dengan Sean membawa kursi roda.


"Ini milik Chamomile, dia pernah mengalami cedera serius juga dan kurasa Lyra membutuhkannya." katanya.

__ADS_1


Mata Lyra terbuka lagi, dia membalikkan tubuhnya untuk melihat keberuntungannya itu.


Betapa adilnya hidup itu, kan? Dia mendengar seseorang berbicara dalam kepalanya lalu menyunggingkan senyum.


Rick yang mulanya tidak menduga akan hal itu langsung menunjukkan wajah senangnya sementara Sean menghampiri mereka untuk membantu menggendong Lyra kemudian memindahkannya ke kursi roda. Mau tidak mau Rick mengakui kalau Lyra memang sedang sakit dan dalam kondisi lemah, dia akan sangat membutuhkan perlindungan dari orang yang dipercayainya.


"Apa kau sudah merasa nyaman diposisi itu?" tanya Sean dengan raut serius.


Lyra tersenyum, "iya, terima kasih." balasnya.


Hanya tinggal menunggu waktu, kapan Lyra ingin memulihkan dirinya dalam waktu yang cepat, dan juga tinggal menunggu waktu agar dia dan yang lainnya bisa melanjutkan perjalanan mereka yang entah kapan akan berakhirnya.


Aroma kue yang baru saja di angkat dari oven memenuhi ruangan dapur saat mereka melewatinya, Amarilys berpamitan untuk mengurus kue-kue nya lagi dan meninggalkan mereka bertiga saja. Rumah itu memang menjadi terasa agak sepi ketimbang sebelumnya walau pun ada kehadiran mereka berempat di sana. Sekali lagi, Lyra menghirup udara yang masuk ke paru-parunya dan menghembuskan nya perlahan-lahan, dia benar-benar merasa hidup seutuhnya dalam satu detik.


Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya mengingat semua hal yang pernah dilaluinya, banyak orang-orang baru yang ditemuinya dalam perjalanan yang tidak seharusnya dia lakukan. Entah mengapa meski menurutnya dia sudah cukup lama pergi meninggalkan Porstmouth, rasanya tetap saja perjalanan itu terhitung singkat dan berlalu sangat cepat. Bahkan dia hanya tinggal menunggu waktu untuk bertemu dengan saudaranya lagi, dalam keadaan yang nyata.


"Mau berjemur?" tawar Rick.


"Tentu."


Sean sudah berjalan lebih dulu di depan untuk membukakan pintunya, dia berlagak seperti pelayan di rumah-rumah kerajaan lalu menggoda Rick yang mengundang tawa kecil di wajah kedua orang itu. Lyra bersyukur kalau ternyata mereka sudah sedekat itu dan mungkin saling memahami satu sama lain hingga akhirnya air mata haru menitik di wajahnya. Namun, dia buru-buru menghapusnya takut Rick dan Sean akan salah paham akan hal itu.


Tiba mereka di beranda rumah, yang mana disuguhi pemandangan cantik dari kebun bunga milik para penyihir itu. Udara dingin yang menyelimuti terkalahkan oleh sinar Matahari yang secara langsung menerangi wilayah itu. Entah suara burung yang berkicau atau bukan, tapi suara itu berhasil mengisi keheningan di sekitarnya. Lyra menutup matanya dan menyandarkan kepalanya ke perut Rick yang tepat di belakangnya, yang juga ikut menikmati sinar surya itu menerobos masuk ke dalam kulit mereka.


Lelaki yang secara tidak sengaja dicintainya itu berpindah posisi ke sampingnya, berjongkok agar Lyra mudah melihat wajahnya. "Terima kasih sudah ingin membagikan waktu mu bersama ku." Rick kemudian tersenyum.


Telapak tangannya yang berkeringat menyentuh pipi Lyra dengan lembut sambil mengelusnya, menatap dalam mata yang mirip lautan itu dan melepaskan semua kekhawatiran yang menjelma dalam dirinya secara bersamaan. Rick benar-benar merasa lega dan jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia masih tetap menyimpan kewaspadaan.


Lyra memegang tangan Rick yang masih ada di pipinya, menempelkan tangan Rick lebih lama di pipinya. "Aku berharap tidak ada lagi hal-hal buruk yang akan terjadi dan kau tetap bersama ku."


"Aku juga berharap hal yang sama."


Beberapa menit berlalu dan Matahari sudah berada diposisi agak lebih tinggi dari sebelumnya dan Rick memutuskan untuk membawa Lyra kembali masuk ke dalam rumah, betapa terkejutnya mereka berdua ketika mendengar lantunan instrumen yang berasal dari ruangan lain, sangat merdu dan memanjakan telinga.


Keduanya tidak bisa menebak siapa yang memainkan instrumen itu hingga Lyra meminta Rick untuk membawanya ke ruangan tersebut. Tibanya mereka di sana, pemandangan yang tidak pernah Lyra lihat sebelumnya membuatnya terdiam cukup lama, dia terkagum-kagum dengan dekorasi ruangan tersebut sampai tidak menyadari sosok yang ada dibalik piano hitam besar itu.


Amarilys muncul dari belakang mereka, membawakan satu nampan kue lalu menawarkannya kepada mereka berdua. "Dia sangat berbakat rupanya, aku terkejut dibuatnya." ujarnya disela-sela suara denting tuts piano yang masih dimainkan.


Sosok itu mengintip dari celah piano sambil menyunggingkan senyum, itu adalah Tobias.


"Seperti pemain profesional saja." kata Lyra sembari melihat Rick yang ikut tersenyum juga.


"Aku bahkan baru tahu kalau dia bisa bermain piano sehebat itu."

__ADS_1


"Dia sungguh berbakat." kata Amarilys lagi.


Mereka bertiga berakhir menikmati permainan piano Tobias yang entah darimana asal bakat itu muncul, padahal rasanya Lyra cukup memahami laki-laki itu tapi rupanya dia masih saja terkejut dengan bakatnya yang tiba-tiba itu. Bahkan Rick, teman lamanya sendiri tidak mengetahui jika Tobias memiliki bakat terpendam.


Permainan selesai dan ditutup dengan tepukan tangan dari ketiga orang itu, Tobias merasa puas di kursi piano nya lalu berjalan menghampiri teman-temannya.


"Sudah lama rumah ini merindukan lantunan instrumen seperti itu, biasanya Chamomile yang bermain di sana sampai lupa waktu." Amarilys menawarkan kue nya lagi kepada Tobias.


"Aku hanya suka memainkannya, dulu sekali aku sering melakukannya di sekolah dan membolos saat pelajaran." jelas Tobias sembari mengunyah kue yang diambilnya dari nampan.


"Pantas saja aku tidak tahu." sela Rick, remahan kue menempel di sekitar mulutnya.


Lyra tertawa kecil menyadari itu, rasa kuenya memang tidak kalah hebat dari permainan piano Tobias, tapi Rick tidak seharusnya memakan langsung sebanyak itu kan?


"Kau lapar, ya?" gumam Lyra pelan padanya.


Rick menyengir tanpa membalas.


Mereka duduk di ruang tamu yang sudah dipersiapkan Amarilys, dia menyusun beberapa macam kue berbeda di atas piring antik dan sudah membuatkan teh herbal yang cocok di minum untuk pagi itu. Hal itu membuat Lyra teringat dengan Orance yang sering kali duduk di beranda rumahnya, membaca buku sembari menyesap teh herbal atau minuman limun jika musim panas. Pemandangan itu sudah nampak jauh untuk menjadi kenyataan lagi.


Semua sudah berada di sana dan saling bercanda kecuali Chamomile yang belum juga kunjung datang. Jika mendengar dari Amarilys, Chamomile masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun, Lyra penasaran dengan apa yang sedang digarapnya mengingat ruangannya hanya penuh dengan alat-alat ramuan, beberapa rak buku, beberapa benda yang tidak Lyra tahu namanya dan alat tulis lainnya.


Dia tengah mengunyah kue coklat berisi kacang tanah saat Chamomile datang membawa sebuah buku yang mirip buku catatan, agak tebal dari buku catatan mana pun. Meski nampak kusam, tetapi wanita itu memeluknya seakan menjadi berkas rahasia milik negara yang tidak boleh dibocorkan.


"Acaranya belum di mulai, kan?" katanya berbasa-basi, memilih duduk di sebelah Sean yang kebetulan kosong. "Ayo nikmati acaranya." katanya lagi sembari menarik gelas kosong lalu menuangkan teh herbal.


Itu bukan acara minum teh yang biasa dilakukan putri kerjaan, tapi tetap saja rasanya begitu. Bahkan semua alat dan kondisi rumah yang mirip suasana kerajaan, semakin menambah kesan kalau mereka sedang melangsungkan acara pesta teh yang tiba-tiba.


"Sebuah kejutan untuk Lyra," Chamomile menaruh gelasnya kembali ke meja, "juga sebuah kejutan untuk kita semua atas peristiwa yang terjadi." lanjutnya lagi.


Semua orang yang ada di sana terdiam seakan bersiap untuk pidato Chamomile selanjutnya kecuali Amarilys yang seperti sudah tahu akan terjadi sesuatu yang tidak diduga oleh yang lainnya.


"Nona Yue menemukan sebuah fakta, sebelum dia kembali ke Flos Orbis dia meninggalkan banyak catatan yang hampir tidak bisa ku pahami setiap kalimatnya." Chamomile melirik setiap orang yang ada di sana, satu per satu. "Saat aku mencoba mencocokan dengan yang ku temukan, akhirnya aku bisa memahaminya dan aku berterima kasih kepada Lyra karena berkatnya, pengetahuanku bertambah luas."


Beberapa mata melihat Lyra sekilas dan Lyra hanya melirik ke sana kemari, tidak tahu siapa yang harus dilihatnya lebih lama dari orang sebanyak itu.


"Dahulu, leluhur kami percaya akan sebuah rasi bintang dan konstelasinya yang mempengaruhi perjalanan hidup di Bumi. Itu berlangsung selama beribu-ribu tahun lamanya. Untuk di abad ini, masih ada beberapa dari penyihir yang mempercayainya, termasuk aku dan Nona Yue sendiri. Dia menyadari ada yang aneh dari sosok Lyra yang sesungguhnya, dia terus bertanya-tanya siapakah Lyra sebenarnya." kata Chamomile, membuat Lyra merinding di pagi yang cerah itu.


"Amarilys juga memberiku sebuah fakta baru, kalau Lyra ternyata memiliki darah penyihir yang entah bagaimana mengalir dalam dirinya. Amarilys mendapati fakta itu saat dia sedang memberikan kehangatan yang seharusnya mampu menaikkan suhu tubuh Lyra." Chamomile mulai membuka lembar demi lembar buku catatannya yang sudah kusam, bahkan warna kertasnya sudah menguning. "Lyra pasti sudah mendengar perihal cahaya kembar, iya kan?" mata Chamomile menatap Lyra dengan sangat yakin.


Lyra terdiam seribu bahasa, bukan karena hal lainnya. Dia hanya terkejut, tidak percaya jika Chamomile akan mengungkapkan sebuah kebenaran yang selama ini dipertanyakan olehnya. Lyra tidak sadar kalau dia sudah mengangguk sebagai balasan.


"Itu adalah sebuah keajaiban yang mustahil terjadi."[]

__ADS_1


__ADS_2