
"Iya." Chamomile mengangguk meyakinkan.
"Lalu mengapa kau mengatakannya kalau hal itu mustahil?" tanya Sean dengan tidak sabaran.
Sean yang waktu itu menginginkan yang terbaik untuk Lyra menjadi putus asa dalam sekejap saja, dia tidak dapat berbuat banyak hal lagi kecuali berharap akan datangnya mukjizat yang siapa pun tidak pernah menduganya. Namun, apa bisa hal semacam itu datang begitu saja? Terdengar sama mustahil nya.
"Nona Yue memberikan satu kasus padaku, di mana ada yang pernah selamat dari takdir yang seperti ini. Tapi beberapa bulan berikutnya salah satu dari mereka meninggal juga." Chamomile mengindahkan perkataan Sean.
Sean berdecak, lagi-lagi dia yang bersuara. "Lelucon macam apa itu."
Chamomile menghembuskan napas panjang, "aku akan menjelaskannya satu per satu."
"Biarkan Mile bicara sampai selesai dulu, Sean, walau bagaimana pun, memang sangat mustahil jika takdir bisa diubah. Kecuali aku memiliki kekuatan yang bisa membawaku menjelajah waktu agar aku tidak dilahirkan pada bulan Matahari transit antara tanggal 21 Mei dan 21 Juni. Dan sekarang aku tahu, di sana gemini sedang menunjukkan konstelasinya. Benar begitu kan, Mile?" Lyra yang tadinya terdiam tanpa sepatah kata pun akhirnya bersuara, kini semua yang dikatakan Orance sangat jelas.
"Ya, benar begitu." Chamomile mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. "Sejak awal, lahirnya mereka pada saat gemini sedang konstelasi itu atau menampakkan rasi bintang mereka dengan jelas kala itu tidak ada yang tahu sehingga mengakibatkan perdebatan yang serius. Aku tidak tahu entah ayah atau ibu mereka menentang hal itu atau tidak, aku hanya yakin mereka juga tidak menginginkannya sehingga mau tidak mau mereka dipisahkan secara paksa. Apalagi keduanya berjenis kelamin yang berbeda, tidak bisa dipungkiri betapa beratnya memisahkan kedua anak itu untuk selamanya." Chamomile hampir tidak dapat mengendalikan emosinya, matanya sedikit memanas sebab merasakan ketidakadilan yang diterima oleh Lyra serta kembarannya.
"Aku pernah beberapa kali memimpikan saat-saat mereka memisahkan ku dengan Larry, dan mungkin saat itu Orance dengan sengaja memperlihatkannya." Lyra dengan perasaannya yang bergejolak hebat menahan diri agar tidak menangis. "Kabut-kabut ilusi yang terlihat begitu nyata sehingga ku pikir itu memang berasal dari mimpi ku, bukan sihir Orance."
"Itu karena kau semakin beranjak dewasa dan Orance mungkin sudah tidak bisa menahannya lebih lama lagi sehingga membuat mu mengingat masa bayi mu, mengatakannya padamu meski tidak secara langsung." jelas Chamomile. "Aku tahu, usia memang tidak penting bagi serigala, karena mereka tumbuh tidak sesuai dengan usia yang seharusnya. Usia hanya sebuah angka bagi kaum serigala."
Lyra menyandarkan tubuhnya ke kursi roda, "iya, usiaku baru menginjak enam belas tahun."
"Ku harap kau bisa lebih dewasa untuk mengerti banyak hal lainnya, jangan jadikan usia sebagai tolak ukur pengetahuan mu, bahkan kekuatan mu. Baru kali ini aku bertemu dengan sosok yang kuat agar dapat bertahan dalam keadaan apa pun." dia melemparkan senyuman hangat yang bisa dirasakan oleh Lyra kehangatannya. "Fakta lainnya, ada sesuatu yang menyelubungi mu hingga membuatmu dapat memanipulasi sihir, bukan karena aliran sungai bekas jam air milik Nona Yue yang kau temukan di Flos Orbis, tapi karena memang ada sesuatu yang membuatmu bisa memanipulasinya dan kau tidak dapat mengendalikannya sesuai keinginanmu."
"Sepertinya itu ulah Orance, lihat kan kalung itu? Saat itu lah Lyra bisa menggunakan sihir." sergah Sean, dia teringat dengan keajaiban yang terjadi kepada Lyra beberapa waktu yang lalu, yang rasanya sudah lama sekali.
__ADS_1
"Benar, sepertinya memang begitu. Lyra memang memiliki darah penyihir dalam dirinya sesuai yang dikatakan Amarilys yang mana artinya Lyra memiliki orang tua dengan kekuatan hybrid atau memang hybrid sungguhan."
"Maksud mu, orang tua Lyra adalah seorang manusia serigala dan seorang penyihir?" Rick tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Chamomile mengangguk meyakinkan sekali lagi, "Lyra adalah anak dari serigala keturunan ketiga dari leluhur mereka, aku bahkan tidak mempercayainya." Chamomile tersenyum sangat puas, benar-benar tidak menyangka jika fakta-fakta itu berhasil membuat Lyra merasa bahwa hidupnya memang berharga. "Sekarang, aku akan menjelaskan bagaimana para leluhur penyihir menjadikan pepatah lama itu sebagai alasan untuk memisahkan mereka."
Lyra bersiap untuk itu sejak awal, dia benar-benar memasangkan telinganya untuk mendengar penjelasan itu dengan serius.
Chamomile melihat buku catatannya, "saat cahaya kembar melintasi langit bumi, saat itulah takdir bisa diubah. Begitu isi pepatah nya dan mereka bilang kalau itu benar-benar bisa mengubah takdir. Karena cahaya kembar akan muncul dalam waktu-waktu tertentu seperti sepuluh tahun sekali atau bahkan bisa lebih, hal itu yang membuat mustahil. Namun, anehnya, konstelasi gemini akan selalu ada setiap tahun di penghujung akhir tahun, pada bulan Desember. Saat itu akan terjadi hujan meteor di langit Bumi dan berlangsung sampai dua hari, jika tahun ini Lyra beruntung, dia akan menemukan cahaya kembar tersebut di penghujung akhir tahun nanti."
"Itu terdengar jika Lyra memiliki peluang yang sangat kecil." sergah Rick, "dan apakah dia harus menunggu tahun-tahun berikutnya sampai cahaya itu benar-benar melintasi Bumi?"
Chamomile menggeleng untuk kali ini sebab dia memang tidak tahu jawabannya. "Aku sudah mencari data kelengkapan dari berbagai sumber, tapi tidak ada satu pun keterangan atau ada yang menyadari cahaya kembar tersebut melintasi Bumi sehingga cukup sulit untuk menghitungnya agar Lyra memiliki kesempatan."
Lyra tahu jika akhirnya akan tetap sama, akan tetap seperti pada awalnya. Namun, itu sama sekali tidak berhasil menggoyahkan keinginannya untuk bertemu keluarganya secara langsung, meski pun dia memang akan benar-benar menghilang dari Bumi ini. Dia sudah memikirkannya berulang kali sampai dia paham kalau jalan hidupnya memang tidak dapat diganggu gugat lagi oleh siapa saja, sekali pun dia juga menentang takdirnya. Dia hanya percaya pada dirinya kalau dia akan bisa bertahan sedikit lebih lama dari kasus sebelumnya, dan jika dia rasa sudah selesai, dia merelakan hidupnya direnggut begitu saja oleh yang berhak merenggutnya.
"Tak apa.." gumam Lyra, dia membuat rekor menjadi pemecah keheningan yang paling sering. "aku sudah pernah membahas ini dengan Nona Yue, aku benar-benar merelakannya jika memang harus begitu. Lagi pula, selain hal itu, apa lagi yang bisa ku lakukan? Untuk hidup dengan normal pun, takdir tetap tidak berpihak kepada ku." Dia memaksakan senyuman keluar dari mulutnya meski hatinya kembali hancur berkeping-keping lagi.
Rick menggenggam tangan Lyra tetapi tidak melihat perempuan itu, dia menunduk, membawa pandangannya ke bawah. Lyra tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya, Lyra tahu dia sangat tidak nyaman mendengar pernyataan itu muncul dari mulutnya dan mereka semua termasuk Lyra sendiri harus bersikap tegar di depan semua orang.
Pukul sebelas lewat lima belas menit, Lyra sudah di tempat tidur Bethany lagi dan semua kembali pada kesibukan mereka masing-masing lagi. Rick bilang bahwa sebentar lagi dia akan kembali membawa makan siang agar Lyra memiliki energi untuk meregenerasi semua lukanya termasuk kakinya yang patah. Dan saat dia sedang melamun dengan pandangan yang menatap kosong pada kakinya yang masih diperban, Sean mengetuk pintu perlahan agar Lyra tidak terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Dia membawa sebuah keranjang bersamanya berisi berbagai jenis bunga dengan warna yang mencolok.
"Apa maksudnya ini?" tanya Lyra seraya menahan tawa.
Sean menaruh keranjang bunga tersebut di atas pangkuan Lyra agar perempuan itu bisa melihatnya lebih jelas. "Kau sangat suka dengan bunga, tapi aku tidak tahu jelas jenis bunga yang mana. Ini tidak memiliki maksud apa-apa, aku serius, aku hanya ingin melakukannya saja. Merayu Mile agar meminjamkan keranjang milik Bethany ini cukup sulit lho!" goda Sean agar Lyra tetap mengukirkan senyuman pada wajahnya.
__ADS_1
Lyra memperhatikan bunga itu satu per satu, dia menyentuhnya perlahan alih-alih takut merusak kelopak bunganya.
"Kau tahu, tanaman apa pun, jika terus di beri air dan pupuk yang bagus, akan selalu memperlihatkan bagian paling indah dari mereka." dia sudah duduk di kursi sambil melipat kedua tangan nya di depan dada. "Aku berharap begitu kepada mu, semua orang, terutama Rick, menginginkan yang terbaik untuk mu, kami akan selalu mempercayai mu dan membuatmu mau terus bertahan dalam kondisi apa pun, anggap saja semua penderitaan dan rasa sakit sebagai lebah yang menarik serbuk sari, bukan kah karena itu semua jenis bunga akan terlihat indah?"
Lyra menarik tangan Sean, "perumpamaan yang bagus, terima kasih atas segalanya. Aku bersyukur kau pergi bersama ku, bahkan masih bertahan sampai sejauh ini."
Sean tersenyum hangat, "aku tidak akan mengingkari janji ku kali ini."
Tak lama Rick datang saat mereka berbincang, tidak ada lagi kecurigaan yang membuat Rick berpikir tentang hal yang macam-macam karena Sean memang sudah membelanya. Bahkan dia bertindak sangat jauh di luar dugaan siapa pun. Jadi Rick mengetuk pintu alih-alih tidak ingin mengejutkan mereka berdua, dia membawa air mineral dan semangkuk penuh makanan yang masih hangat. Kepulan asap nya sangat nyata.
"Waktu nya makan siang!" seru Rick, berjalan menghampiri ranjang tidur. Duduk di atas kasur bersama dengan Lyra sebab dia tidak mungkin mengusir Sean yang sedang duduk di kursi. "Wah! Kau hanya memberikannya pada Lyra? Mana bagian ku?" Rick menyengir dengan lebar.
Sean mengerutkan dahinya, nampak berpikir. "Ah! Aku memang sudah mempersiapkannya untuk mu, khusus untuk mu."
Lyra yang penasaran menunggu sesuatu muncul dari tangan Sean, dia sedang mencari-cari sesuatu yang khusus itu dalam saku celananya dengan tampang serius yang tidak dibuat-buat.
"Ketemu!" serunya tiba-tiba.
Sebuah benda berkilau keluar muncul dari kepalan tangannya, batu kecil dengan warna biru gelap mirip permata. Sean menarik tangan Rick agar menerima benda tersebut dan Rick merasa bodoh ketika menerimanya. Seakan-akan dia baru saja dilamar oleh Sean dengan sangat konyol.
Rick tertawa terbahak-bahak, "aku menolak lamaran mu." katanya lagi dan kembali tertawa diikuti oleh Lyra yang paham situasi itu.
"Usaha ku gagal lagi." gerutu Sean dan kemudian ikut tertawa juga.
Ruangan itu hanya penuh dengan suara tawa mereka bertiga hingga Rick hampir lupa kalau dia harus menyuapi Lyra. Mereka masih sibuk bercanda dan saling menggoda, bertingkah konyol dihadapan Lyra agar perempuan itu melepaskan rasa bahagianya dan mendapatkan kehangatan kembali pada hubungan mereka bertiga yang memang pada awalnya tidak pernah sedekat itu. Rick memang sengaja melakukan hal itu, meminta Sean bekerja sama dengannya agar Lyra tidak terus mengingat hal-hal buruk yang telah terjadi dan akan terjadi padanya. Setidaknya, semua yang dilakukan Rick dan Sean sudah cukup membuat Lyra merasakan bahwa hidup bukan tentang sisi pahitnya saja.
__ADS_1
Rick ingin menciptakan kenangan sebanyak mungkin bersama Lyra.[]