
Carlos berhenti di sebuah tempat di pedalaman hutan Glencoe dengan dua orang yang sejak tadi mengikutinya dari belakang, mereka menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar di hutan yang menghijau tanpa peduli dengan musim yang sudah berganti. Lagi-lagi, telinga Lyra mendengar aliran air yang cukup kencang mengalir di suatu tempat. Meski mungkin jauhnya bermil-mil tetapi rasanya aliran air kencang itu hanya di sebelahnya saja.
Mata Lyra seakan bisa melihat pohon-pohon tumbang yang di lahap api yang mulai mengubah langit menjadi penuh asap kelabu yang seiring waktu semakin menghitam, jeritan ketakutan serta kesakitan menyatu dengan suara api yang menelan semua yang dilewatinya. Laki-laki, perempuan, dan anak-anak, mereka semua berlarian menjauhi tempat kejadian. Beberapa orang yang berhasil selamat dari kebakaran hutan itu menangis terisak tanpa peduli dengan orang yang masih berlarian lalu lalang, bahkan salah satu dari mereka tidak lagi mampu berdiri dengan kedua kakinya, orang itu duduk di atas tanah tanpa alas apapun.
Lyra menghembuskan napasnya yang kesekian, "tidak bisa ku bayangkan kalau aku berada di sana saat itu." gumamnya pelan yang hanya di dengar oleh Sean. "tapi aku yakin, ibu mu melakukannya karena dia memang orang yang baik." kemudian tersenyum dengan terpaksa, alih-alih menghibur Sean yang rasanya tidak butuh untuk dihibur sama sekali.
"Terimakasih." sahut Sean seakan tidak bisa mengatakan hal lain selain itu.
"Di depan sana." tukas Carlos tiba-tiba, dia menunjuk ke arah pepohonan yang tumbuh berjajar mengelilingi sesuatu.
Mereka berjalan beberapa meter ke depan dan sampai di sebuah pemakaman para manusia serigala, terbentang cukup luas untuk sebuah pemakaman suatu desa. Rerumputan liar yang tumbuh di sana tidak menutupi kayu-kayu yang bertengger sebagai tanda kepemilikkan dan meski cukup luas, Carlos meminta penduduk yang lain agar membangun pagar untuk mengelilingi pemakaman tersebut yang kini sudah berkarat dan di tumbuhi tanaman rambat. Sebelum Lyra benar-benar melangkahkan kakinya untuk masuk, dia melihat sesuatu dari sudut matanya lalu tanpa berpikir panjang menghampiri sesuatu itu. Dia melihat bunga poppy yang tumbuh liar di hutan itu atau bunga itu memang pernah tumbuh di sana, dia memetik satu tangkai lalu menyusul Sean dan Carlos yang sudah berhenti di salah satu pemakaman.
Kayu berlumut yang bertuliskan Xylia membuat lutut Sean lemas seketika, dia terduduk di tanah berlapis rumput liar. "Aku tidak tahu harus berkata apa.." suara Sean menghilang seiring perkatannya.
"Coba saja katakan semua perasaan mu, kadang kau perlu meluapkannya meski tidak akan didengar olehnya." sahut Carlos, dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Aku sering melakukan itu kepada saudaraku." lalu membawa wajahnya melihat ke arah berlawanan.
Lyra mengikuti wajah Carlos yang berpaling dan membuntut di belakangnya, dia hanya ingin memberi ruang kepada Sean agar dia tidak perlu merasa tertekan hanya karena dia tidak bisa mengutarakan isi hati dan pikirannya kepada sang ibu yang sudah lama meninggalkannya.
"Kau hanya mencoba menenangkannya, kan? Aku tahu kau tidak sering kemari." celetuk Lyra dengan santainya.
Carlos mendengus, "anak muda memang tidak bisa diremehkan, ya. Tapi kuakui itu benar, terakhir kali aku kemari dan mencoba bicara dengan saudara ku adalah saat dia pertama kali di makamkan."
"Ku harap kau memang membuat-buat cerita sejak awal." sahut Lyra dengan nada tidak suka.
"Lagipula untuk apa melakukan ziarah? Toh orang-orang yang sudah lama mati di bawah ini juga tidak lagi memiliki indra pendengar." jemarinya menyentuh kayu berlumut dengan tulisan yang sudah tidak bisa di baca.
__ADS_1
Itu cukup aneh.
Lyra berdecak lalu menghela napas panjang, dia tidak habis pikir dengan perilaku kepala suku yang dipilih manusia serigala lainnya di Kota ini. "Aku akan menghampiri Sean." kata Lyra akhirnya dan meninggalkan Carlos yang masih menatap makam saudaranya.
"Kau sudah selesai? Maaf karena sudah menyela." Lyra ikut berjongkok di samping Sean, kemudian laki-laki itu meraih tangannya. "Ah ya, tunggu sebentar." kata Lyra seraya mengambil setangkai bunga poppy merah yang meskipun masih menguncup, sepertinya itu tidak jadi masalah. Dia menaruh bunga tersebut di makam Xylia, di atas rumput liar tebal yang seperti baru saja tumbuh di sana.
Sekembalinya mereka dari pemakaman dan duduk di salah satu rumah kerabat Carlos, mereka dijamui makanan lezat yang baru saja di buru. Mendengar cerita pemilik rumah yang agak ramah kepada mereka itu, rasanya cukup meyakinkan kalau masih banyak hewan-hewan liar yang bisa jadi santapan para manusia serigala hingga akhirnya Carlos menyeletuk dan memintai dua orang tersebut agar berburu sendirian di pedalaman hutan dekat sungai Coe yang lokasinya lumayan jauh dari sana.
"Bukankah kalian butuh bekal untuk perjalanan?" Lyra tahu itu hanya terdengar seperti alasan Carlos.
"Tentu saja, sepertinya terdengar mengasyikkan." Sean buru-buru menjawab. "Kau mau 'kan melakukannya?"
Lyra hanya menganggkat bahu sebagai jawaban lalu melanjutkan santapannya sampai habis. Dia sadar kalau sesuatu memang terasa aneh sejak awal, apalagi sikap Carlos yang seolah-olah menutupi banyak kerahasiaan di balik wajahnya yang terus tersenyum. Kalau saja dia ataupun Sean cedera karenanya, Lyra tidak akan diam saja. Mungkin dia akan membakar habis tempat itu juga bila saja dia sudah tidak waras. Padahal dia hanya ingin mampir sebentar saja untuk sekedar meminta bahan makanan lalu melanjutkan perjalanan kembali mengingat mimpi yang seperti penglihatan masa depan itu sudah menunjukkan keberadaan Cravene palsu yang semakin mendekat dengan tempat tujuannya. Lyra tidak mungkin bisa membiarkan orang itu menginjakkan kaki lebih dulu darinya, apalagi orang itu sebenarnya ingin menghabisi keluarganya sendiri. Dia sungguh tidak bisa berdiam diri saja dan menunggu sesuatu terjadi, dia harus terus bergerak.
Namun, kenyataan bahwa Sean sudah terbawa suasana Glencoe yang rasanya penuh dengan kebohongan ini, sepertinya sudah tidak bisa lagi disadarkan dengan hal-hal yang masuk akal.
Menjelang sore, mereka—Lyra, Sean, serta tiga orang yang tidak sengaja bertemu mereka waktu itu—berjalan ke arah sungai Coe dengan menelusuri pedalaman hutan dan melewati beberapa rumah-rumah warga yang ada di sana. Katanya di sana akan ada sebuah tempat untuk mereka beristirahat seraya memandangi pantulan pegunungan dengan siluet redup yang nyata indahnya. Mendengar itu Lyra agak semangat dimana sebelumnya dia ragu untuk ikut berburu.
"Tapi, kalau kupikir-pikir, nama mi memang unik, mungkin 1:1000."
"Itu pun kalau orang-orang semua tahu makna yang sebenarnya." sahut Grace menyela perkataan Peter yang sedang berbincang dengan Lyra.
Lyra tersenyum, "kau tahu makna Lyra yang sebenarnya?"
"Tentu saja," ujar Grace, "jangankan makna sebuah nama, aku bahkan hafal rasi bintang di langit." kemudian menaruh kedua tangannya di depan dada seakan bersikap berlagak sombong.
__ADS_1
Sementara itu Joy memutarkan bola matanya, "dia mulai lagi." katanya. "kau jangan sekali-kali mendengarnya deh, tidak baik untuk kesehatan mental mu. Tapi kuakui, nama mu itu memang unik, aku setuju dengan Peter."
Dengan begitu Lyra langsung tahu kalau hanya Grace-lah yang sedikit berbeda dari mereka. Semua dari mereka memperlihatkan sikap yang seolah sedang berusaha terlihat nampak normal dan biasa-biasa saja sedangkan Grace melakukan hal-hal yang memang dia sukai, rasanya Lyra ingin berbisik kepada dua orang tersebut bahwa sebenarnya mereka memiliki teman yang langka. Karena, sangat sulit mencari orang yang jujur pada dirinya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu, kita bagi tim saja." kata Peter, "aku akan bersama Lyra, sementara Grace dan Joy pergi dengan Sean."
"Aku tak masalah sih, tapi kau jaga dia ya." tukas Sean.
Mereka berpisah di tempat peristirahatan dan akan bertemu di sana lagi beberapa jam setelahnya. Padahal Lyra sebenarnya ingin pergi berdua dengan Grace dan bertanya-tanya padanya yang mungkin bisa membongkar seluruh rahasia tempat tinggal mereka itu. Karena meski perawakan perempuan itu terlihat bagus, dia sebenarnya tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain. Namun, mungkin karena keadaan memaksa, dia terpaksa melakukannya dan tetap tidak berhasil.
Semua hal yang terjadi sangat-sangat aneh dan mencurigakan. Lyra berharap Rick bersama mereka dan berhasil menyadarkan Sean tetapi rasanya itu tidak akan mungkin terjadi.
"Kau mau duduk dulu sebentar dan menimbang-nimbang akan berburu apa atau langsung bertindak gegabah seperti biasa yang ku lakukan."
"Aku pilih opsi ke dua."
Peter mengernyit, "tidak ku sangka kau lebih suka tantangan. Baiklah, kalau begitu pertama-tama kau harus bisa mengontrol langkah kakimu. Karena itu adalah trik utama yang sangat di butuhkan." mereka masih berjalan dengan mata memandang awas, takut kalau-kalau santapan mereka mengetahui keberadaan merek lebih dulu. "Lagipula, itu adalah fungsi dari bulu-bulu kaki yang ada pada kaki serigala 'kan. Kemudian kau harus bisa fokus dan menebak, kira-kira target yang kita kejar akan berlari dan mengarah kemana. Itu juga cukup penting tapi bagiku, kalau kau lari dengan kencang, mereka tidak akan bisa lolos lagi. Usahakan kau mengoyak leher mereka lebih dulu lalu menggigit kakinya agar target kita kehilangan kendali atas dirinya." jelaa Peter dengan cepat tanpa basa-basi yang tidak diperlukan.
"Aku mengerti. Terimakasih." Lyra langsung membalas, kemudian dia menunduk, bersembumyi di balik semak-semak belukar dengan dedaunan lebat yang ada di sebelah pohon. Matanya menemukan gerak-gerik sesuatu di depan mereka, tidak begitu jauh.
"Aku mendengarnya, kau pandai sekali." bisik Peter, alih-alih ingin berteriak tetapi takut target mereka kabur begitu saja.
Seekor rusa dengan tanduk yang patah sebelah sedang memakan rumput di bawah pohon besar, dia mengunyah rumput dan daun-daun muda yang baru saja tumbuh rendah itu dengan santainya. Rusa itu nampak menikmati setiap gigitannya tanpa berpikir bahwa setelah itu dia akan mati.
"Kau harus berubah.."
__ADS_1
"Kau lihat saja ini." Lyra memotong perkataan Peter lalu bergerak perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiannya. Entah apa yang dia pikirkan hingga dia memutuskan untuk berlari mengejar rusa itu lalu melompat dengan tinggi seiring dia berubah menjadi serigala yang bertubuh besar.
Peter ternganga, tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terkejut sekaligus terkesima melihat Lyra, lebih tepatnya dia kagum melihat rupa serigala Lyra yang sungguh luar biasa. Dia bahkan sama sekali tidak menyangka kalau Lyra tidak hanya memiliki nama yang unik tetapi juga rupa serigala yang hampir bisa dikatakan sempurna. Dia sungguh terlihat luar biasa.[]