Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
67. Menjadi Tempat Yang Nyaman


__ADS_3

Hiruk pikuk yang tercipta berhasil menyadarkan Rick dari tidurnya, dia bahkan tidak tahu kalau rupanya dia tertidur cukup lama di sana dengan masih memegang tangan Lyra dan menyentuh rambut perempuan itu. Matanya melirik ke arah jam dinding mini di sebelah lemari, jarum pendeknya terus bergerak memutar sementara jarum yang agak panjang mengarah pada angka sebelas.


Sean hadir lebih dulu di ruangan itu, diikuti oleh beberapa orang lainnya. Termasuk Luo Qing yang seharusnya sudah kembali ke Flos Orbis.


Entah mengapa, tiba-tiba saja di ruangan itu terasa begitu menenangkan dan nyaman. Itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Lalu Rick mencium aroma bunga di sekitar sana dan segera bangkit menyadari hal itu.


Nona Yue.


Dia sungguh-sungguh berada di rumah itu bersama mereka dan dua orang wanita lainnya di sampingnya, seolah menjadi asisten tapi Rick mengenali mereka berdua.


"Sejak kapan dia hilang kesadaran?" tanya Nona Yue dengan pelan.


"Siang hari tadi, saat aku mencoba meramalnya." balas Chamomile dengan tenang.


Rick merasa begitu terharu, diam-diam dia bersyukur karena begitu pentingnya seorang manusia serigala bagi para penyihir itu dan hanya Lyra yang beruntung mendapatkan perhatian lebih dari mereka. Dia melirik Sean dan melemparkan rasa terima kasihnya lewat tatapan itu, Sean yang mengerti membalas dengan menyunggingkan senyum dan juga berharap kalau hal itu bisa berhasil.


"Ya, aku tidak akan menyalahkan siapapun atas kejadian itu. Lyra menyadari bahwa dirinya memang akan pingsan jika diramal oleh mu, dia melakukannya karena dia memiliki alasan tersendiri." Irish menjelaskan, dengan hanya melihat kondisi Lyra yang seperti itu, dia sudah bisa menyimpulkan sebuah fakta tanpa terpikirkan oleh siapapun. "Dan kasus ini adalah hal langka. Hanya beberapa penyihir yang bisa melakukannya tapi siapa saja tahu kalau dia bukan seorang penyihir."


"Dia bukan sembarang manusia serigala," celetuk Sean. "Selama beberapa tahun dekat dengannya, dia bahkan dilindungi oleh sihir yang tersebelung dari Orance."


"Betapa berharganya anak ini baginya." Nona Yue melangkah lebih dekat ke tubuh Lyra, tangannya yang memegang sebuah kuas antik berlapis emas dengan bulu panjang di ujungnya bergerak ke sana kemari. "Bagaimana pun, anak ini harus kembali." katanya.


Rick yang tidak sengaja bertemu mata dengan Bethany, melihatnya untuk beberapa detik lamanya. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi kepada wanita itu, rasa bencinya sudah menumpuk cukup banyak tapi dia pun berterima kasih karena berhasil memanggil para penyihir lainnya. Meski pun, memang dia yang membuat Lyra menjadi kritis, setidaknya dia bertanggung jawab atas perbuatannya yang tidak bisa dibenarkan itu.


"Mile, tolong ambilkan air untukku. Semoga dengan cara ini dia tidak menyerap terlalu banyak aroma sihir." kata Nona Yue lagi, tidak ada yang berani bersuara saat dia bicara.


Beberapa detik setelahnya, Chamomile kembali dengan cepat karena mungkin dia memang tidak ingin menunda-nunda lagi, merasa bersalah sekaligus kasihan ketika Nona Yue mengatakan banyak hal yang dilihatnya dari seorang Lyra dan saat itu pula Bethany mengutuk dirinya karena sudah bertindak gegabah yang bermain-main dengan nyawa seseorang.


Tidak ada siapa pun yang ingin berada di situasi semacam itu, tapi Lyra hingga sampai detik ini masih tetap berusaha bertahan. Jika saja itu terjadi pada dari salah satu di antara mereka, mungkin akan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang disukai ketimbang menyelamatkan hidup orang lain yang malah membuat diri sendiri menjemput kematian. Bahkan Nona Yue kalut, meski mulanya Lyra pasrah dengan takdirnya itu, tetapi dia tetap ingin bertemu dengan keluarganya dan menyelamatkan orang tua asuhnya.


Saat Nona Yue menerima gelas yang berisikan air, suara bisikan kecil keluar dari mulutnya, dia merapal kan mantra hingga membuat air tersebut melayang di udara, membentuk sebuah lingkaran yang mana memiliki bentuk yin dan yang yang dilukis oleh Nona Yue menggunakan kuas antiknya. Luo Qing yang tahu tanda itu tersenyum lega, akhirnya Nona Yue menggunakan kekuatan turun temurun itu, dia sudah kembali seperti dulu.


"Jangan ada yang bersuara." tukas Nona Yue, mulai lebih konsentrasi.


Semua orang tidak melihat yang dilihatnya pada yin dan yang yang diciptakannya, tetapi dia lega karena bisa menggunakan kedua kekuatan itu secara bergantian untuk berkomunikasi dan bila memungkinkan, dia akan mengajak Lyra untuk kembali pada tubuh aslinya.

__ADS_1


Sementara sedang membuka sebuah segel kuno dan memilih kekuatan yin, Nona Yue diperlihatkan kilas balik mengenai apa saja yang telah terjadi sebelum Lyra tidak sadarkan diri dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat rupa kembaran Lyra dengan jelas dihadapannya, wajah itu sangat familiar menurut pandangannya. Lalu Nona Yue dikejutkan lagi oleh fakta yang disebutkan Larry, tentang cahaya kembar.


Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya hingga dia tidak menyadari jika kekuatan yin sudah membawanya pindah ke tempat lain lagi. Tempat itu dengan mudah membuatnya merasa aman, kedatangannya disuguhi oleh aroma khas bunga kesukaannya. Ruangan itu hanya memiliki warna putih tanpa sudut bahkan satu perabotan pun, di sana terdapat beberapa orang yang berjalan sangat lambat, seakan waktu memang berjalan lambat. Setiap dari mereka memancarkan aura-aura putih yang menenangkan dan tidak ada satu pun yang mengganggu kedamaian itu.


Nona Yue penasaran dengan alasan mengapa kekuatan yin membawanya ke sana, padahal dia ingin bertemu Lyra, mencarinya yang entah kemana. Hingga pada akhirnya, saat Nona Yue menyebut nama Lyra untuk ketiga kalinya, sosok itu muncul tapi hanya bayang-bayang samar. Wajahnya berwarna berbeda dengan yang beberapa detik lalu dilihatnya sedang terkapar tidak berdaya, perempuan itu tersenyum manis dengan rambut terurai yang terbang seakan tertiup angin.


"Nona Yue." panggilnya, suaranya sangat lembut, seolah bukan Lyra sungguhan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nona Yue.


Kali ini senyumannya semakin lebar, "aku tak tahu kalau ternyata ada tempat yang nyaman seperti ini dalam kehidupan."


Nona Yue tidak sanggup membalas senyumannya, sebab Nona Yue sadar, itu bukan lagi di kehidupan yang seharusnya. Lyra sudah berjalan sejauh ini dan merasa bahwa dia masih tinggal di dunia yang sama dengan yang lainnya.


"Senang rasanya bertemu dengan orang-orang baru yang sangat ramah," katanya. "Bahkan orang tua Chamomile dan saudara penyihir yang lain, mereka dengan cepat mengenalku."


"Lyra, kau masih mau mendengarku?" Nona Yue meraih pundak Lyra yang bahkan tidak bisa disentuhnya, Nona Yue tidak bisa berpikir positif lagi.


Lyra dengan cepat mengangguk, dia kemudian menunggu Nona Yue bicara. Dia tidak lagi ketakutan akan takdirnya karena dia akhirnya tahu jika ada sisi kehidupan yang teramat sangat nyaman itu. Tiada kepedihan dan keterpurukan lagi, tiada rasa sakit dan penderitaan yang tidak kunjung berhenti. Dia ingin berada lebih lama di sana atau bahkan selamanya, sebab tidak ada lagi hal lain yang dikhawatirkannya. Dia sudah merasa aman.


"Bukan kah mereka akan datang ke sini juga? Kenapa aku harus kembali? Di sini tidak ada yang bisa mengangguku." balasnya.


Ingin sekali Nona Yue memeluknya tetapi tidak bisa melakukannya karena Lyra hanya bayang-bayang putih tanpa wujud. "Kau adalah orang yang beruntung, Lyra. Karena itu, bertahanlah, kuatkan dirimu untuk melaluinya dengan cara yang lebih baik sekali lagi. Semua orang membutuhkan mu, menginginkan mu kembali kepada mereka seutuhnya." Nona Yue pasrah jika saja Lyra tetap menolaknya, untuk menariknya secara paksa pun dia tidak bisa karena itu hanya jiwanya.


"Rick? Sean? Bahkan Larry?" tanya Lyra.


Nona Yue mengangguk meyakinkan sambil menahan matanya yang mulai memanas. Siapa yang sanggup menghadapi jiwa seseorang yang belum mati tetapi merasa nyaman bila meninggalkan raganya seutuhnya? Siapa yang bisa bersikap normal dan baik-baik saja? Meski pun Nona Yue tahu kalau kenyataan memang sangat kejam memperlakukan Lyra yang hanya seorang perempuan muda, yang ingin tumbuh normal seperti yang lainnya.


"Nona Yue, apa kau memang tidak bisa menyentuh ku?" suaranya agak sedikit panik, menyadari sesuatu yang janggal.


Nona Yue hanya melihatnya dengan masih menahan emosinya, dia tidak pernah mengira kalau ternyata akan mengalami hal itu. Benar-benar di luar dugaan.


"Aku.. Aku sudah berjalan terlalu lama di sini sehingga aku tidak sadar. Bahkan terlalu banyak aroma sihir yang menyelubungi ku sehingga sulit bagiku untuk kembali. Tidak ada jalan bagi ku untuk kembali.. tidak ada.." Lyra panik sembari melihat sekitarnya, dia benar-benar ketakutan.


"Tenanglah, Lyra, jika kau ingin kembali, aku akan menuntun mu." Nona Yue mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Lyra.." lirih seseorang dari balik tubuh Lyra yang transparan.


Nona Yue terdiam ketika manik mata mereka bertemu, wajah yang tidak asing itu benar-benar muncul dihadapannya. Betapa tidak menyangka dengan semua hal yang ada di tempat itu, seakan mengabulkan ribuan doa yang tidak akan terkabulkan semudah itu di Bumi.


"Tempat mu memang bukan di sini," sambungnya. "Yue hanya ingin jiwa mu kembali pada raga mu yang sudah terbengkalai, akan ku pastikan semuanya akan baik-baik saja." dia tersenyum dengan tulus.


"Nenek Mei-Yin," Nona Yue hampir ingin berlari memeluk wanita cantik memesona itu, tetapi dia tahu upaya nya itu tidak akan berhasil. "ternyata ini alasan kekuatan yin mengantarku kemari." katanya.


Wanita dengan paras yang sempurna itu meraih wajah Nona Yue dan entah bagaimana Nona Yue bisa merasakan kulitnya tersentuh oleh benda sehalus sutra. "Yue," ujarnya, "tuntun dia agar kembali bersama mu, dia terjebak, berkekeling sendirian tanpa tujuan. Saat melihatnya pertama kali, aku langsung menghampirinya karena aura itu berbeda dengan kami yang memang sudah mati. Dia terlalu muda untuk tumbuh di tempat seperti ini." jelasnya.


Nona Yue langsung mengangguk tanpa bertanya hal lain lagi sementara Lyra mengucapkan banyak terima kasih kepada Nenek Mei-Yin karena sudah menyelamatkannya dari ruang hampa tersebut. Meski dia merasa nyaman, dia belum pantas mendapat hal itu secara permanen dengan cara seperti itu.


Jadi, saat Nona Yue akan benar-benar pergi dan menggunakan kekuatan yang yang akan membawanya kembali ke Bumi, semua orang yang ada di ruang kamar Bethany terkejut melihat air mata menetes dari kedua mata Nona Yue yang terpejam. Semua orang langsung berpikiran yang tidak-tidak dan berputus asa jika memang Lyra tidak bisa di selamatkan lagi.


Kekuatan yang menyelimuti jiwa Lyra yang transparan sehingga memudahkan Nona Yue untuk membawanya kembali. Lalu saat melewati hal paling sulit, Nona Yue lagi-lagi menitikkan air matanya. Dia terus membayangi wajah Nenek Mei-Yin yang selama ini membesarkannya setelah orang tuanya berpisah dan tidak kembali, sangat disayangkan dia tidak bisa berlama-lama karena ruang hampa akan menariknya ke dalam, sama halnya dengan Lyra yang tidak tahu arah pulang. Tapi diam-diam dia bersyukur karena hal itu, dia bertemu kembali dengan Nenek Mei-Yin.


"Sebentar lagi kau akan melihat banyak orang di sebuah ruangan, kau langsung pergi menghampiri raga mu saja. Aku akan menghentikan yin dan yang lebih dulu." tukas Nona Yue ketika mereka sudah menginjakkan kaki ke tanah di Bumi.


Tempat itu kosong, gelap dan hanya ada sedikit cahaya tetapi Lyra langsung tahu kalau itu ada di dalam ruang pikiran Nona Yue. Ketika dia menemukan cahaya yang lebih besar, dia dengan cepat melangkah untuk mencapainya. Dia tidak lagi ingin mengalami hal itu, jika bisa untuk selamanya. Dia akan benar-benar mati bila terus melakukan manipulasi itu meski pun yang terakhir itu bukan kehendaknya, bukan juga karena dia membiarkannya tetapi seakan ada sesuatu yang memaksanya untuk menghirup lebih banyak aroma sihir ketimbang sebelum-sebelumnya.


Nampaknya, itu adalah resiko terbesar dalam hidupnya. Jika Nona Yue tidak datang menjemputnya, dia akan selamanya terjebak di sana dan orang-orang akan mengira dia memang sudah mati sejak lama.


"Nona Yue, terima kasih." katanya pelan lalu melangkah masuk ke dalam cahaya.


Dia mendapati banyak orang di sana, orang-orang yang dikenalinya sedang mengerubungi sesuatu dan saat dia menerobos, matanya mendapati tubuhnya terkapar lemas di atas ranjang tempat tidur. Begitu pucat seakan memang benar-benar sudah mati, kondisinya sangat buruk dan itu yang terparah dari sebelum-sebelumnya.


"Sudah cukup untuk mu beristirahat, kawan, kini aku kembali." bisiknya.


Lyra menyentuh tangannya sendiri dan memejamkan matanya, cara itu agak berbeda dengan saat dia bertemu Larry tapi walau begitu keduanya sama-sama memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan pada raga aslinya. Lyra menarik napas dalam-dalam dan menariknya, rasanya sedikit sesak pada bagian kiri paru-parunya.


"Rona wajahnya sudah kembali." kata seseorang sesaat setelah semua anggota tubuh dan alat vital Lyra kembali berfungsi perlahan-lahan.


Lyra tidak yakin siapa orang itu, tapi mendengar semua orang yang ada di sekitarnya menghela napas panjang seolah memberitahukan padanya jika kekhawatirkan mereka sudah cukup sampai di sana. Entah bagaimana bisa dia merasa bersalah karena membuat orang cemas akan keadaannya, terutama membuat Rick bingung dan panik menghadapi situasi yang mana dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Saat Lyra terbangum, dia merasakan matanya basah oleh air mata.[]

__ADS_1


__ADS_2