
Hari terakhir sekolah kali ini sama sekali tidak menjanjikan sesuatu yang menarik. Lyra bersumpah, dia tidak menginginkan waktu sekolah ini diadakan lagi. Selamanya.
Masih pagi sekali seseorang menghampirinya, menarik rambutnya dengan sesuka hatinya menuju bangku yang ada di bawah pohon Larch.
"Ada apa kau dengan Rick?" teriak perempuan itu yang benar-benar memekikkan telinga. "Semalam kau bertemu dengannya, kan?"
Lura ingat dengan orang ini, dia datang bersama Rick dan satu orang lainnya. Perempuan yang dia lihat dengan rambut kemerahan dan warna kulit yang agak pucat. Lyra tidak yakin dia berasal dari Amerika. Karena Lyra kesal kepadanya, Lyra dorong perempuan itu dan dia menarik kerah bajunya, terdengar suara sobekan yang muncul dari sana.
"Jaga sikapmu ya!" tukas Lyra sembari menggeram.
Kala itu dia ingin sekali mencakar-cakar wajah perempuan itu sekaligus mengajaknya bertarung. Hal memalukan macam ini? Perempuan itu bersikap seenaknya hanya karena laki-laki tidak tahu diri itu.
"Aku tidak segan merobek wajahmu, bocah! Kau seharusnya fokus saja belajar bukannya malah bercinta di hutan tengah malam!" nada bicaranya tidak berubah, wajahnya semakin memerah.
Astaga, rasanya Lyra ingin sekali mengumpat dan menyelesaikan semuanya dengan melukai dirinya. Agar dia jera dan tidak kembali mencari Lyra.
"Kau bodoh sekali ya!" umpat Lyra pada akhirnya, "hanya karena laki-laki tidak tahu diri itu kau membuat dirimu sendiri malu." katanya lagi.
Perempuan itu menepis tangannya dari kerah bajunya dan mengangkat dagunya agak tinggi, "kau pikir aku bisa diam saja melihatmu berduaan dengannya, hah? Dia pacarku, jauhi dia! Serigala bodoh!" lalu dia berjalan menjauhi Lyra, menjauh dari bawah pohon.
Lyra ingin teriak di depan wajah perempuan itu tapi ini di sekolah, dia tidak bisa seenaknya kalau tidak mau berhadapan dengan guru konsultan yang mengerikan itu.
Alhasil Sean mendapatinya dengan wajah yang penuh amarah. Lyra mengoceh sendirian di sana dan semakin membuat Sean penasaran. Secepat kilat Sean berlari menghampirinya, menyeretnya lembut ke arah bangku dan mengajak Lyra duduk di sana. Dia mencoba menenangkannya sebisa mungkin tanpa bertanya lebih dulu. Dia juga mencoba membuat dirinya sendiri tenang, menarik-hembuskan napasnya agar amarah itu menghilang.
Kalau dipikir-pikir, tidak ada gunanya dia menyalahkan perempuan itu. Mungkin mereka berdua memang berpacaran dan Rick belum mengatakan hal itu padanya. Dan lagi, kenapa Lyra harus memikirkan soal itu? Dia tidak ingin berurusan lagi dengan mereka, para serigala Amerika.
Lyra tidak akan bertemu lagi dengannya, dia tidak akan mendengar penjelasan apa-apa darinya lagi jika Rick mendatanginya untuk menjelaskan semuanya dan dia tidak akan mau membantu laki-laki itu sama sekali. Meskipun sebenarnya Lyra tertarik.
"Bagaimana dia bisa menemukanmu?" tanya Sean.
Mereka kembali bertemu setelah waktu istirahat, menjauh dari kerumunan orang banyak dan berupaya tidak terdengar oleh siapapun.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba dia menghampiriku saat aku baru saja turun dari mobil. Dia menarik rambutku dan menyeret ku sampai ke sana. Kemudian dia menuduhku berpacaran dengan Rick tidak tahu diri itu." Lyra menahan amarahnya.
__ADS_1
Saat dia melirik Sean, raut wajah Sean kesal. Tatapannya menjauh dan tidak berpaling kemanapun. Lyra merasakan sesuatu. Dia mengikuti tatapan Sean dan menemukan sosok tinggi besar muncul dari kejauhan, dia langsung tahu siapa itu. Lyra menahan Sean dengan memegang tangannya sebab dia sudah mendengar dia menggeram di tempatnya, Lyra takut kalau-kalau Sean hilang kendali dan berubah menjadi serigala di depan orang banyak seperti ini.
"Kau di sini saja." tanpa Lyra berkata iya, Sean langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Rick yang masih berjalan ke arahnya.
Bukannya Lyra tidak mau membantu, tapi dia memang tidak ingin bicara lagi dengan Rick.
"Kenapa kau kemari?" tukas Sean, Lura bisa mendengar obrolan mereka.
Rick melihatnya sekilas dan lalu melihat Sean bergantian. "Aku ingin bicara dengan Lyra."
"Bicara katamu? Kau pikir kau siapa?" Sean meninggikan nada suaranya. "dengan meninggalkan Lyra sendirian di tengah hutan dan menyuruh pacarmu mempermalukannya?" Sean mendengus dengan kasar, "kau seperti seorang yang br*ngs*k, bung!"
Lyra menyadari Sean mengepalkan tangannya yang kapan saja akan mendaratkan tinjunya ke wajah Rick. Sesegera mungkin Lyra menahannya lebih dulu seraya bangkit dari duduk.
Lyra mendekatkan bibirnya ke telinga Sean dan berbisik padanya, "tak ada gunanya, Sean, lebih baik kita pergi." Dengan terpaksa Sean melangkah mundur perlahan.
Sebelum benar-benar menjauh, Lyra melihat Rick sekilas dan melempar tatapan mematikan. Dia berharap Rick tahu bahwa dia sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi atau perihal lainnya. Lyra tidak lagi memberatkan dirinya soal pemisahan itu dan tentang pasukan Exchanges. Meski sebenarnya dia ingin didengar oleh Tetua G dan meminta pertolongan Alpha Pemburu Feroces.
Semilir angin terasa sejuk untuk ukuran siang hari di musim panas bulan July yang menyengat. Sean dan Lyra berjalan santai di koridor seraya menunggu kelas selanjutnya dimulai. Kami tidak lagi membahas soal pertemuan itu dan sama sekali tidak menyinggungnya sedikit pun, tetapi tiba-tiba ketenangan itu terganggu oleh sesuatu.
Suara derap langkah kaki terburu-buru yang semakin dekat dengan mereka spontan membuat Lyra dan Sean berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi.
Pemandangan pertama yang dia dapatkan adalah empat orang yang mana mereka semua laki-laki. Berlarian kecil terburu-buru entah akan kemana, tetapi rasanya semua tatapan mereka menatap ke arah Lyra dan Sean
"Bisa bicara sebentar saja?" salah satu dari mereka membuka percakapan.
Mereka semua sangat imut, sepertinya dari kelas bawah. Namun, hebatnya mereka semua punya rambut hitam mengkilap dengan kulit terang sedikit berbintik kecoklatan di area hidung. Bisa-bisa waktu istirahat ini hanya dia habiskan untuk memperhatikan mereka satu-persatu.
"Di sini?" tanya Sean.
Salah satu dari mereka celingak-celinguk mengawasi sekitar mereka. "Ah! Di sana saja." si laki-laki menunjukkan ke arah pekarangan kosong yang hanya di penuhi semak belukar yang agak rimbun, pohon-pohon cemara memenuhi setengah bagiannya.
"Bagaimana ya memulainya." laki-laki yang pertama membuka percakapan berkata agak gugup.
__ADS_1
"Sebentar!" kata Lyra agak berisik. "Kau mencium bau mereka Sean?" kemudian dia rendahkan nada suaranya.
Sean menganggukkan kepalanya dengan cepat. Astaga, apakah mereka suruhan Rick? Sayang sekali, padahal mereka imut-imut. Pikir Lyra.
"Tunggu dulu, kami juga mencium bau yang sama dari kalian." kata laki-laki yang lain, yang memiliki hidung agak bengkok dan besar.
Lyra menatap mereka bergantian dan langsung menaruh curiga kepada mereka bertiga. "Apa yang kau cium?" tukasnya sangat pelan tapi masih bisa didengar.
"Kami mencium bau serigala." bocah yang sejak awal hanya diam saja, kini bersuara dengan tegas.
Sean dan Lyra saling bertatapan, saling menautkan alis, lalu melemparkan mereka pertanyaan yang benar-benar ingin terjawab hanya dalam satu kali penjelasan.
Mereka melangkah sedikit lebih jauh lagi dari sana, alih-alih menghindari telinga manusia normal di sekitar sekolah.
"Siapa kalian sebenarnya?" Sean menatap mereka bergantian, "kalian serigala?" Sean mencoba langsung terbuka dan meyakinkan mereka.
Awalnya mereka saling bertatap-tatapan bergantian, kemudian salah satu dari mereka angkat bicara. "Ya, kami manusia serigala dari golongan Ducis, Kawanan Epile."
"Biar aku saja yang menjelaskan," ucap bocah yang awalnya tidak banyak bicara itu. "Pertama, kami tidak bersekolah di sini, kami ditempatkan di penampungan yang seperti sekolah militer. Kedua, kami kemari ditugaskan untuk menjaga keamanan para manusia serigala seperti kita, sekaligus mencari keanehan yang terjadi selama ini. Pemimpin Ducis juga menyuruh kami mengawasi golongan Civitas."
"Ya, kami dari Civitas, dan ku pastikan kami tidak bersalah." sergah Lyra dengan ketus.
"Aku tahu. Ah ya, panggil aku Dorian." laki-laki dengan rambut hitam yang cukup panjang untuk seorang laki-laki dan tubuh atletis. "Aku tahu bahwa Civitas tidak bersalah, aku pernah melihat pasukan itu berbulu agak kemerahan dan coklat. Kukira Civitas tidak punya warna bulu yang seperti itu."
"Ya, kami juga kurang mempercayainya karena kami juga melihatnya. Tapi sayang sekali, kami tidak bisa membantah untuk tugas ini. Maafkan kami."
"Aku punya sesuatu." Lyra menimbang-nimbang sebelum melanjutkan. Dia punya suatu ide untuk bekerja sama dengan mereka dan sedikit membantu penangkapan serigala Amerika yang kedatangannya tidak diundang itu, yang mana itj malah membuat keadaan semakin rumit.
Sean mengangguk, sepertinya dia tahu apa yang sedang Lyra pikirkan kala itu dan dia seakan menyetujuinya.
"Apakah kalian berminat untuk tahu?" Lyra berupaya meyakinkan mereka terlebih dulu sebelum bertindak gegabah. Mereka seperti orang linglung kehilangan akal tetapi akhirnya mereka menjawab. "Temui kami di wilayah Utara, tetapi jangan sampai bertemu Pemburu Feroces. Tepat pukul 9." Lyra melihat mereka satu-persatu memberikan mereka tatapan meyakinkan sebab dia benar-benar membutuhkan bantuan mereka untuk menyingkirkan serigala Amerika itu dari wilayah mereka dan pasukan Exchanges. Bukan soal pemisahan lagi.
Usai masuk kelas dan Lyra berpisah dengan Sean, anehnya dia sangat bersemangat untuk malam ini seolah akan bertemu seseorang atau mendapatkan sesuatu yang sudah lama dia idam-idamkan. Namun, yang membuatnya seketika lemas hanyalah karena Rick, dia sungguh kecewa kepadanya. Dia bilang pada Lyra bahwa dia akan membantunya, dia akan menyampaikan pesan kepala suku mereka ke Tetua G dan menyelamatkan hidupnya, mungkin untuk selamanya. Tapi apa boleh buat, Lyra memang sudah seharusnya tidak menemuinya malam itu.
__ADS_1
Lyra yakin dirinya akan baik-baik saja setelah ini. Dia yakin dengan sungguh untuk mencari si pembuat masalah itu lalu mendapatkan kebenaran dan mengungkapkannya kepada seluruh manusia serigala berdarah murni yang ada di Portsmouth.
Lyra sangat yakin kalau dia bisa melakukannya.[]