
Tepat pada pukul sembilan malam, Lyra dan Sean bertemu dengan Kawanan Epile. Mereka muncul dengan wujud serigala yang memang pantas diapresiasi, dari tubuh yang gagah sampai wajah mereka yang dibuat menyeramkan. Mereka bahkan terlihat sama dengan warna bulu putih yang bercampur sedikit warna hitam dan coklat di ujung bulunya. Entah sejak kapan jantung Lyra menjalani terapi yang semacam ini ketika melihat sesuatu dan yang pasti itu bukan perasaan yang tidak wajar.
Seketika mereka berubah menjadi manusia lagi dengan dada terbuka yang mengkilap penuh peluh. Ternyata mereka memang tidak main-main soal omongannya, tetapi yang membuat Lyra berpikir keras adalah bagaimana mereka bisa kesini tanpa sepengetahuan Pimpinan Ducis.
"Jadi, kapan bisa dimulai?" Lyra ingat itu adalah Dorian.
Sean mengajak mereka ke tempat yang rasanya lebih aman, jauh dari kawasan Feroces biasa berkemah dan juga berburu. Tempat itu tidak asing bagi Lyra tetapi sepertinya dia pernah kemari atau hanya lewat saja. Lyra seolah deja vu.
"Kalau boleh ku tahu, siapa nama kalian?" tanya Dorian akhirnya membuka percakapan.
"Aku Sean dan ini Lyra." jawab Sean singkat.
Mereka kemudian memperkenalkan diri mereka masing-masing, si laki-laki pertama bicara dengan alis tebal dan rambut hitam mengkilap panjang hampir sebahu itu namanya Ed, lalu laki-laki kedua dengan hidung besar yang agak bengkok itu namanya Max dan yang terakhir si pendiam tidak banyak bicara tetapi terlihat begitu tegas namanya Martin.
Awalnya Lyra mengira nama mereka akan susah untuk diingat tapi ternyata tidak. Namun, diam-diam Lyra bersyukur mereka sudah mau menemui mereka berdua di sini dengan cara yang mungkin diam-diam juga.
"Apakah kalian tidak keberatan datang kemari? Atau kalian memang sedang bertugas?"
Dorian menggeleng, sepertinya dia adalah Alpha dari Kawanan Epile tersebut. "Tidak, bukan, tugas kami hanya dari pagi sampai petang dan kemudian akan melaporkan sesuatu yang sepantasnya, lalu dari petang sampai waktu menjelang pagi kami bebas pergi kemana saja." jelasnya, Lyra menyukai cara laki-laki ini menjelaskan sesuatu. Seperti punya ketertarikan tersendiri.
Sean mengangguk mengerti dan bertanya tentang banyak hal lebih dulu kepada mereka. Lyra dan Sean sebelumnya sudah sepakat untuk tidak langsung mengatakan tujuan mereka memanggil Kawanan Epile itu kemari karena hal apa, sebab akan tampak terlalu buru-buru meskipun sebenarnya mereka berdua agak geli dengan 'berbasa-basi'.
Kemudian mereka berbincang banyak dengan Sean perihal penampungan dan kebijakan yang ada di sana. Sementara Lyra berjalan agak menjauh dari mereka hanya untuk melihat bulan dan menghirup udara dingin malam di sekitar.
Sekolah sudah libur dan Lyra hanya belum mendapatkan sesuatu untuk dia habiskan di masa liburannya itu. Akan sangat disayangkan bila dia hanya keluar rumah sebentar dan membantu ibunya di dapur. Berbincang dengan mereka perihal ekonomi dan lain semacamnya tanpa menyinggung kan sesuatu yang akan memicu pikirkan negatif muncul di antara mereka sekeluarga. Mereka bilang padanya bahwa Qwentin akan sering kemari untuk sekedar berkunjung dan melihat kabarnya. Dia benar-benar merasa beruntung sekali waktu itu karena Qwentin tidak melihat penampakan Rick yang gila itu, bila Qwentin melihatnya dan menemukannya yang pastinya sedang bersama laki-laki itu, dia akan menginterogasi Lyra habis-habisan sampai Lyra kehilangan topik untuk mengalihkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dia temukan jawabannya, maksudnya belum.
Lyra mendengar sesuatu mendekat ke arahnya dan saat dia lihat ke belakang, yang dia temukan adalah penampakan Martin. Laki-laki itu tidak ikut bergabung bersama Sean dan yang lainnya, dia malah menghampiri Lyra yang sedang ingin sendirian sebenarnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan sebenarnya?" tanyanya tiba-tiba.
Aku? Dia bertanya hal itu padaku? Tanya Lyra dalam hati.
Lyra menggeleng pelan sebagai jawaban tidak ada, tetapi dia ingin sekali bilang pada Martin saat itu juga bahwa dia ingin menyuruh Rick dan teman-temannya untuk kembali ke Amerika. Itu saja.
__ADS_1
"Tapi kau tidak ingin ikut dengan mereka." Martin menengok ke arah Sean dan teman-temannya yang ada di belakang mereka.
"Bukan, bukan seperti itu." kata Lyra, "aku tidak sedang memikirkan apa-apa tetapi sesuatu sedang mengganggu ketenangan."
"Boleh aku tahu apa itu?" Lyra bisa merasakan pertanyaannya sedikit menyelidik.
Lyra menghembuskan napas kemudian melirik sekelilingnya, melihat awas. "Aku hanya takut soal pemisahan itu, lebih dari sepekan ini aku tidak bisa tidur nyenyak."
"Aku kurang paham, kau bisa jelaskan secara lebih mendetil?" tanya Martin lagi. Tersimpan keingintahuan yang kuat terpancar dari matanya tetapi Lyra tidak keberatan. Dia pikir dia bisa percaya kepada Martin atau bahkan mereka—Kawanan Epile.
"Begini, sejujurnya aku tidak takut akan hal apa saja yang membuatku cemas. Namun, jika sudah membicarakan soal orang tua, aku tidak sanggup. Aku tidak bisa melihat orang tuaku merasa kehilangan lagi karena mereka hanya punya aku, yang tersisa satu-satunya. Saudara laki-laki ku sudah meninggal dan saat aku mendengar isu tentang Tetua G yang ingin memisahkan kami yang berbeda warna bulu, aku merasa lemah." jelas Lyra dengan singkat.
"Karena?"
"Aku berbeda, dari yang lain."
Martin terdiam, dia menatap Lyra. Bibirnya seperti ingin berbicara kembali tetapi tertahan oleh sesuatu, apakah Lyra terlihat konyol mengatakan itu atau terlihat seperti sedang berbohong? Lyra tidak tahu.
"Bukan, bukan soal aku percaya atau tidak." jawabnya cepat sekali. "tetapi aku ingin kau tahu, isu itu akan terlaksana beberapa hari lagi. Aku minta maaf, tapi apakah aku bisa membantu?"
Semilir angin di sekitar mereka yang terasa menyentuh kulit Lyra lembut, terasa masuk menembus bajunya yang padahal sudah tebal. Dia terdiam cukup lama dan belum ingin menjawab pertanyaan Martin, dia hanya tidak yakin seseorang bisa membantunya, apalagi mengingat kalau isu itu datang dari mulut Tetua G sendiri yang memang tidak dapat dibantah sekalipun, karena semua golongan sudah menaruh kepercayaan terhadap mereka untuk memimpin dan bersumpah untuk menuruti.
"Aku bukannya tidak memberi kesempatan untuk siapa saja membantuku, tapi asal kau tahu, pada akhirnya aku berpikir bahwa akan lebih baik begitu. Namun, sebelum hal itu terlaksana, aku hanya ingin meyakinkan Tetua G untuk tidak menuding dan menuduh Civitas sebagai pelaku atas semuanya. Karena aku tahu sesuatu sedang mengintai wilayah kita."
Martin melihat Lyra dengan tatapan tidak percaya, seolah ingin tahu lebih dalam tentang hal-hal yang sedang bergentayangan di alam pikiran perempuan ini, yang masih tertahan untuk dia tumpahkan. Namun, panggilan Dorian mengusik keheningan diantara mereka berdua, dia menyuruh mereka untuk ikut duduk bersama mereka. Lyra pikir ini sudah gilirannya untuk menjelaskan apa tujuannya sebenarnya kepada mereka dan sekaligus memberitahukan mereka tentang kedatangan serigala Amerika yang tujuannya belum terlihat jelas, entah baik atau buruk.
"Apakah ini sudah giliran ku?" tanyanya seraya duduk di samping Sean.
Sean menggeleng, "aku hanya ingin kau mendengar kisah menarik ini." lirihnya agak pelan yang terdengar jelas karena dia bicara di samping telinga Lyra.
"Ya, Dorian akan menceritakan sebuah kisah menarik dari para leluhur." Max angkat bicara.
Martin ikut duduk bersama mereka dan menaruh minat untuk mendengar kisah itu sepertinya, sementara Lyra mencari posisi yang tepat agar semakin menyenangkan untuk mendengar kisahnya.
__ADS_1
"Aku mulai ya," Dorian berdeham untuk bersiap, dia mulai bercerita "semuanya berawal dari kisah para leluhur yang ada di Polandia, manusia serigala berasal dari sana sebelum hidup menyebar di berbagai tempat. Mereka hidup begitu damai dan monoton, beberapa dari mereka memangsa hewan-hewan buas dan berupaya memakan-makanan yang di makan manusia normal. Mereka belum sangat terbuka dan menghindari kontak dengan manusia normal meski beberapa berupaya beradaptasi. Dan setelah dari mereka mengajukan sesuatu yang baik untuk kelangsungan hidup mereka, mereka memilih kepala suku. Dari sana, mereka membuat sedikit banyak peraturan dan untuk beberapa dekade semuanya berjalan lancar. Yang terjadi setelahnya adalah beberapa dari mereka merasa bosan hidup dibawah tekanan yang seperti itu, mereka adalah turunan Lycan yang baru dari para leluhur tetapi tidak mendapatkan pengajaran yang baik.
"Ada dua belas kasus yang mereka lakukan selama kurang lebih dalam dua tahun, yang pertama mereka memperlihatkan diri mereka sebagai manusia serigala di hadapan manusia biasa. Mereka memangsa manusia yang tidak bersalah, mereka juga membunuh masal kawanan serigala, lalu mereka membuat sekutu tanpa sepengetahuan kepala suku dan tanpa persetujuan kepala suku. Mereka mengubah manusia menjadi manusia serigala, mereka sama sekali tidak mengikuti aturan kepala suku dan karena itu mereka berani membunuh kepala suku. Akhirnya mereka memperbudak manusia serigala kemudian menciptakan pasukan-pasukan baru yang memicu terjadinya konflik antar manusia serigala dan manusia biasa. Mereka menculik manusia sebagai ancaman dan menyerang manusia di tengah malam. Dan yang terakhir mereka mengadu domba kan leluhur sebagai pelaku atas semua kekacauan yang terjadi di Polandia.
"Dan pada akhirnya perang itu terjadi." Max memotong percakapan Dorian.
Lyra menghela napas begitu panjang seolah dia yang baru saja menceritakan semua kisah itu kepada mereka. Perasaan ngeri dan amarah bercampur menjadi satu dan dia ingin menghancurkan hidup mereka menjadi rata.
Lyra baru menyadari bahwa pasukan Exchanges bukanlah satu-satunya manusia serigala yang diubah oleh manusia serigala berdarah murni, seperti yang diceritakan Rick kepadanya. Atau mungkin itu adalah mereka. Lyra sedikit takut mengingat kekejaman itu tapi tidak menggoyahkannya untuk tetap mempertahankan wilayah ini.
"Satu hal lagi," sergah Dorian ketika Lyra sedang asik bergumul dengan pikirannya. "beberapa pasukan lain, yang memihak kepada leluhur. Mereka membantu segala jenis bantuan agar manusia serigala tidak musnah begitu saja. Tetapi anehnya, setelah peperangan manusia dan manusia serigala berakhir yang memakan banyak korban jiwa, mereka tidak dapat ditemukan di manapun. Mereka seolah menyembunyikan diri mereka atau mungkin hal yang paling menyeramkan bahwa kenyataannya mereka juga ikut mati." raut wajah Dorian pias seolah merasa bersalah karena tidak bisa memberikan jawaban yang tepat.
"Tetapi kami percaya, semuanya akan terungkap suatu saat." Max ikut bicara lagi dan Ed hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Dan ya, yang ingin ku sampaikan mungkin sedikit berhubungan dengan hal itu." ujar Lyra buru-buru agar mereka tidak membuatnya lupa untuk menceritakan hal itu. Lagi.
"Apa?" bisa ditebak bahwa seseorang itu adalah Martin, sebab sejak tadi dia sangat penasaran dengan apa yang akan Lyra sampaikan.
"Mungkin agak memalukan, tapi ketahuilah bahwa anak mana yang ingin sekali terpisah dari orang tuanya? Tidak ada. Kecuali karena terjadinya beberapa hal. Namun, hal ini lain, sejak mendengar isu bahwa akan adanya pemisahan perbedaan warna bulu, ibuku selalu cemas setiap saat padaku karena dia tahu aku sangat berbeda dari yang lain." Lyra diam sebentar dan menatap mereka semua.
Lyra bangkit dari duduknya seraya melepaskan pakaiannya yang tebal, yang hanya menyisakan selembar kain tipis di tubuhnya. Tidak ada yang bertanya padanya mengapa dia melakukannya, mereka hanya memperhatikan Lyra dalam diam. Lyra mundur sedikit, memberikan jarak diantara mereka semua, lagi-lagi, mereka menatapnya aneh kecuali Sean, karena dia sudah tahu apa yang akan Lyra lakukan. Lyra merubah dirinya menjadi serigala dengan surai sedikit lebat di bagian leher, bergerak-gerak tertiup angin malam itu. Mata birunya yang indah seolah bersinar dalam gelap, membuat siapa saja menggelengkan kepala mereka.
"Astaga!" Lyra bisa mendengar suara Max yang terkejut itu. "Bulu mu indah sekali!" tukasnya, matanya tidak berpaling dari memperhatikan Lyra sama sekali.
"Kalian bisa lihat bahwa dia tidak berbohong. Aku juga awalnya tidak percaya darimana dia mendapatkan warna bulu secantik itu dan mata biru yang menawan, padahal dia dari golongan Civitas, dimana golongan itu hanya punya satu warna yang mencolok. Hitam pekat." Sean mewakilkan isi pikiran Lyra.
"Apakah dia tidak bertanya kepada ayah ibunya?" tanya Dorian.
Sean menggeleng, "mereka hanya bilang bahwa ada kelainan genetik." entah darimana Sean tahu soal itu, apakah orang tua Lyra hanya menceritakan hal itu pada Sean atau Sean memang mengarang saja? Lyra sungguh kebingungan.
Sean mengangguk, dia meminta Lyra untuk kembali berubah menjadi manusia lagi dan cepat-cepat memberikan pakaian tebal miliknya.
Lyra menjadi tidak sabar menyampaikan klimaks dari ceritanya ini.[]
__ADS_1