Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
33. Penanganan Dokter Morb


__ADS_3

Beberapa waktu usai perjamuan sarapan besar, Lyra berpisah dengan Nona Yue. Wanita muda yang sangat baik hati serta berwibawa itu langsung kembali ke Volant Lapis menggunakan alat transportasi buatannya sendiri.


Sementara itu Sean mengajak Lyra untuk bertemu Onyx, yang mana perempuan itu sama sekali tidak muncul di perjamuan sarapan besar. Lyra curiga kalau perempuan itu sudah tidak memikirkan kondisinya lagi karena terlalu terobsesi dengan proyeknya walaupun hasil yang dia dapatkan adalah berita baik tetapi tetap saja, itu tidak sebanding. Bahkan kalau diingat-ingat, Onyx bilang jika dia akan menghabiskan waktu malamnya untuk bergadang mencari obat penawar untuk luka bekas cakaran milik Lyra.


Lyra bersyukur kalau ternyata masih banyak orang-orang baik yang ingin menolongnya tanpa mendapatkan imbalan sekalipun, tanpa ada timbal balik yang akan menguntungkan.


"Maaf ya, aku tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu. Itu karena, aku ingin memberikan mu kejutan. Tapi, luka itu sudah tidak sakit, kan?"


Lyra mendengus, "lukanya tidak bertambah parah sih, tapi rasa berdenyut nya masih tetap ada dan kadang membuat tidak nyaman."


"Ya sudah, cepat kita hampiri Onyx." Sean menarik tangan Lyra sementara Lyra hanya mengikutinya.


Beberapa menit berjalan menelusuri jalanan yang memasuki hutan-meskipun keadaan sekitar masih terang tetapi rasanya hutan itu memiliki atmosfer yang mencekam. Lyra dan Sean sampai di depan sebuah rumah kaca yang cukup besar, berisikan tanaman herbal dan beberapa bunga yang tidak Lyra ketahui. Rumah kaca tersebut memiliki banyak embun di tiap kacanya yang berasal dari tumbuhan yang ada di sana. Dalam diam, Lyra sudah membiasakan diri dengan apa yang dia temui di Flos Orbis, semua tempat atau bahkan apapun yang ada di sana adalah kebenaran yang tidak akan dengan mudah dia temui di Eropa. Nakum, Lyra penasaran akan suatu hal.


"Tapi omong-omong, kau tahu dari mana tempat ini?" tanya Lyra pada Sean.


"Oh, itu, aku sudah berjalan-jalan terlalu jauh dengan Suisen." sahut Sean sebagai balasan tanpa peduli dengan Lyra yang sebenarnya menaruh curiga.


Tentu saja, bagaimana tidak? Sejak tadi Sean berjalan di depannya seakan memberi arahan kepada anak didiknya. Dia bertingkah seperti seorang pramuwisata dan tempat-tempat itu adalah objek dari destinasinya. Lyra tidak menduga kalau ternyata profesi itu sangat cocok untuk Sean, entah bagaimana perempuan itu tertawa kecil sendirian akibat pikirannya yang terlalu mengacau.


"Tunggu sebentar lagi, cewek itu akan keluar."


Sedetik kemudian Onyx memang muncul dari pintu kacanya, dia membawa mortir di tangannya. Tidak ada senyuman yang terukir di wajahnya tetapi melihat dari penampilan perempuan itu, dia sepertinya memang tidak tidur sama sekali. Rambutnya acak-acakkan, garis wajahnya kusut, juga sorot mata yang dingin seakan tidak akan mengizinkan seseorang pun masuk ke dalam wilayahnya.


"Datang juga akhirnya." ketus Onyx kemudian kembali masuk.


Lyra baru sadar kalau Onyx mengenakan jaket kelabu gelap yang panjang sekaki, dia mengenakan sepatu boots kusam yang beberapa bagiannya sudah mengelupas. Nampaknya Onyx tidak lagi memperdulikan keadaannya yang memang berantakan saat ini.


Lyra mengikuti Onyx masuk ke dalam rumah kaca tersebut dan diikuti Sean yang kini berada di belakangnya bagai bodyguard.


Sesuatu sukses menyita perhatian Lyra, dia dapat mendengar dengan jelas aliran air yang mengalir, yang entah berasal darimana. Dan itu sedikit membuatnya gelisah karena dia kembali teringat dengan kediamannya, yang mana setiap hari membuka jendela selalu deburan ombak yang menemani paginya. Lyra belum ingin bertanya kepada Onyx karena mungkin akan menganggu konsentrasi perempuan itu, lagipula, untuk sekarang yang terpenting adalah kesembuhan lukanya yang masih saja berdenyut.

__ADS_1


Di dalam, Lyra menemukan banyak kotak box dengan keterangan di papannya, yang mana box-box tersebut tersusun rapi di tiap sudut rumah kaca itu, box tersebut dipenuhi tanaman hijau yang membuat pandangan mata terasa nyaman. Bahkan oksigen di sekitar sana agak berbeda, seakan lebih dingin dan bersih. Semua tempat di ruangan itu dipenuhi dengan tanaman hijau dan tidak ada celah sama sekali untuk melihat ke arah ke luar. Lalu tempat selanjutnya, yaitu sebuah ruangan mirip laboratorium kimia, dimana semua alat-alatnya tersusun rapi. Onyx berhenti di salah satu meja dengan alat penyulingan di depannya, mortir yang sejak tadi dia pegang kini sudah ditaruh nya di samping labu ukur, kemudian Onyx mengambil sesuatu di sebelahnya dan menuangkan benda itu menggunakan pipet tetes ke labu distilasi. Dia juga mengambil benda berwarna hijau yang sudah dia tumbuk halus dengan mortir tadi menggunakan spatula stainlessteel, lalu mencampurkan kedua bahan tersebut seraya mengaduknya sampai benar-benar tercampur.


Air yang berada di dalam wajah sudah mendidih sehingga membuat kedua bahan tersebut mengeluarkan uap yang kemudian menuju kondensor. Uap yang sudah dingin berkumpul di dalam labu distilasi yang agak kecil dari yang pertama dan akhirnya uap tersebut menjadi larutan kimia yang mengeluarkan aroma harum. Lyra seperti pernah mencium aroma itu, seperti minyak asiri.


"Selesai juga." Onyx menghela napas. "Hariku rasanya begitu panjang."


"Kau barusan melakukan apa?" tanya Sean yang mengerutkan dahinya. "Kau tidak menjelaskan apa-apa, tapi itu tidak penting. Bagaimana obat penawarnya?"


Onyx melihat Lyra dan tidak memperdulikan pertanyaan Sean sama sekali. "Aku sudah minta beberapa bantuan dari teman-temanku, rupanya mereka tahu obat yang cocok untuk kulit. Tapi mereka tidak yakin obat itu juga dapat menghilangkan gosongnya sekaligus." Onyx berdeham, dia berjalan ke meja yang lain, yang penuh dengan rak kuvet berisikan larutan-larutan kimia. "Ini semua hasil uji ku, aku sudah menguji setiap larutan yang aku tambahkan dengan minyak esensial untuk menetralisir gosongnya, minyak itu aman untuk di kulit. Tenang saja. Tetapi, ini hasil uji coba ku yang gagal." Onyx tertawa kecil.


"Dia mulai lagi." gumam Sean pelan yang sudah menduga kalau hal itu memang akan terjadi.


Onyx yang akhirnya berhenti tertawa mengajak mereka ke meja yang lain lagi, total meja ada tiga, dan itu adalah meja terakhir. Jemarinya menarik sebuah botol tester dengan tutup aluminum dari box, yang mana botol tersebut sudah tertulis rosehip.


"Ini," kata Onyx setelah melihat-lihat botol tester berisi larutan minyak. "aku mencampurkan minyak biji bunga mawar, beberapa daun teh yang sudah melewati uji coba distilasi, dan minyak lavender sesuai anjuran teman-temanku. Karena beberapa dari mereka mengasumsikan kalau itu luka bakar yang menjadi gosong, mereka memilih minyak tersebut." dia menyodorkan botol tersebut kepada Lyra. "Aku tidak yakin kalau kau akan mau minum obat padat yang mengandung rasa pahit yang berlebihan, jadi ku buatkan obat oles saja. Asal kau rajin mengolesnya pada kulitmu yang gosong, ada kemungkinan gosongnya akan menghilang. Mari ku beritahu kau caranya."


Lyra yang paham maksud Onyx langsung membuka jaketnya dan menggulung lengan bajunya. Luka itu sudah mengering tapi agak menggelikan melihatnya berubah menghitam seakan menjadi tato yang gagal dibuat. Onyx menuangkan minyak itu ke telapak tangannya dan kemudian mengolesnya ke luka tersebut dan entah bagaimana beberapa kulit gosong tersebut mengelupas begitu saja, Lyra terkejut melihatnya.


"Kau sempat bertemu Nona Yue?" tanya Lyra menyelidik.


Onyx mengangguk, "dia memintaku untuk segera membuatkan obat penawarnya dan itu membuatku sedikit memutar otak. Dia juga sudah memberitahu ku kalau luka bakar ini memiliki sihir pelacak di dalamnya yang berhasil di keluarkan oleh Nona Yue."


"Ya, aku ingat dia melakukannya. Terimakasih atas penanganan mu yang sempurna Dokter Morb." Lyra tersenyum seraya mengejek Onyx yang ikut tersenyum.


"Ya, ku rasa aku akan memanggilmu Dokter Morb sampai kapanpun." sergah Sean yang hanya melihat kegiatan dua orang itu. "Kau harusnya mendaftar jadi murid di sekolah kedokteran saja."


Onyx mendengus, "tidak perlu, aku hanya harus menjadi gurunya."


"Aku setuju." celetuk Lyra yang membuat Sean mengangkat kedua tangannya mengaku menyerah berdebat dengan Onyx.


"Omong-omong, apa kalian mau berjalan-jalan sebentar sebelum kembali?"

__ADS_1


Lyra langsung teringat dengan sesuatu, dia kemudian menyuarakannya. "Ya, aku sempat mendengar aliran air yang mengalir tadinya, apa di sini ada sungai atau semacamnya?"


"Oh, itu, ayo ikut aku."


Lyra dan Sean mengikuti Onyx yang sudah berjalan keluar, mereka melewati jalan yang kerap kali di lewati. Mereka menuju ke hutan tetapi tidak pergi begitu dalam, telinga kedua manusia serigala itu semakin jelas mendengar aliran air tersebut dan Lyra langsung tahu kalau itu air terjun. Ketika sampai, penampakan bebatuan yang licin penuh lumut menjadi pembatas antara tanah dan air yang mengalir cukup deras. Udara di sana benar-benar bersih dan menenangkan, Lyra tidak sabar untuk menyentuh air yang jernih itu.


Sean yang menghirup udara sejuk di sana seolah terhipnotis oleh ketenangannya, "kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau ada tempat setenang ini?"


"Tempat ini ku rekomendasikan untuk Lyra saja, bukan untukmu."


"Dia sensitif sekali padaku." Sean bergumam di telinga Lyra yang berhasil membuat perempuan itu cekikikan.


Lyra turun perlahan ke dalam air tanpa peduli ada apa di dalam air sejernih itu. Dia memang tidak melihat darimana asal air itu dan letak air terjunnya, tapi ketika air itu menyentuh kulit kakinya, dia bisa melihat refleksi dirinya tetapi dalam rupa serigala yang tidak melepas pandangannya dari melihat dirinya. Tatapan itu kosong nan tajam, Lyra tidak mengerti maksud dari tatapan itu. Namun, dia berasumsi kalau refleksi itu muncul dari dalam dirinya yang memang sedang dalam masa pemulihan—dalam artian berbeda. Dia mencoba tersenyum kepada refleksi itu tapi refleksi dirinya langsung menghilang tertawa arus.


Dia berpikir sejenak, apakah refleksi akan sejelas itu pada arus yang lumayan deras. Bahkan refleksi itu nampak tenang seakan tidak berada di airnya tapi di atas airnya, berhadapan dengannya.


"Hei, dasar anak ini!" Sean menggerutu.


"Aku melihatnya?" tanya Lyra tiba-tiba yang membuat kedua orang yang ada di depannya saling memandangi satu sama lain.


"Apa?" tanya Sean.


Lyra sadar, warna bulu itu bukan miliknya, tapi persis milik Rick. Apakah tadi itu Rick sungguhan?


"Kau kenapa sih?" kini Onyx yang terdengar agak cemas.


Lyra hanya mematung sambil memandangi arus air yang terus mengalir di kakinya, dia baru saja berhalusinasi kalau dia bisa melihat refleksi dirinya dengan jelas padahal hal itu mustahil terjadi. Namun, yang lebih aneh, kenapa refleksi itu malah muncul Rick dengan rupa serigalanya? Padahal Lyra tidak memikirkan laki-laki itu sejak tadi, dia tidak memikirkan laki-laki itu untuk saat ini. Atau itu hanya pengaruh obat oles? Itu lebih tidak masuk akal.


"Hei!" Lyra tersadar dari lamunannya. "Ayo keluar dari air." Sean sudah menarik kedua tangan Lyra pelan agar dia keluar dari airnya, Sean khawatir Lyra mulai bersikap aneh.


"Dia berhalusinasi." sahut Onyx.[]

__ADS_1


__ADS_2