
"Cepat sekali kau kembali, dan bersama orang itu lagi? Tidak, kali ini tidak akan ku maafkan." Amarilys yang masih dikuasai amarah memang sulit mengendalikan dirinya kadang Bethany dan Chamomile harus rela terluka akibat perbuatannya.
Bethany menyunggingkan senyum sinis padanya, "kau yakin tidak menyesal memperlakukan seseorang yang baru saja akan akrab dengan mu seenaknya?" dia melipat kedua tangannya di depan dada, persis seperti yang Amarilys lakukan beberapa menit lalu.
Sementara Rick langsung memindahkan koktail yang ada di nampan ke meja, agar dia bisa memungut pecahan gelas tersebut dan menaruhnya dengan teliti di nampan agar tidak ada yang tersisa lagi di lantai. Kemudian berangsur membersihkan air minuman yang tumpah karena ulahnya sendiri, lalu menghilangkan noda darah yang sempat menetes beberapa kali di lantai dengan kain yang dia temui di bawah meja. Meskipun kakinya berdenyut-denyut, itu tidak setara dengan rasa sakit yang sedang dialami oleh Lyra. Rick sangat mengharapkan keajaiban muncul begitu saja atau bahkan jika nyawanya harus diganti sebagai penebus agar Lyra tetap hidup.
"Bercandaan mu tidak lucu, aku sama sekali tidak suka dengan orang pesimis dan lemah seperti itu!" ketus Amarilys, "Demi Tuhan, kau selalu membiarkan orang-orang aneh ini masuk ke rumah sesuka hati mu! Apa kau tidak sadar kalau mereka bisa saja membawa penyakit, atau lebih parah membunuhmu!"
"Jaga mulutmu Am! Siapa sebenarnya yang berhak berkata begitu?" Bethany maju selangkah lebih dekat, "kau benar-benar sudah berubah sejak kau tidak bisa berbaur dengan banyak orang. Kau itu pecundang! Kau yang harusnya malu pada dirimu sendiri karena tidak menghargai orang lain! Kau pikir perempuan itu siapa?"
"Oh, kau mulai membongkar aib saudari mu sendiri di depan laki-laki yang setengah mati kau cintai ini, ya!" Amarilys mendesis, dia mulai dikuasai amarahnya. "Aku tidak akan pernah lagi mengijinkan mu membawa orang asing masuk ke rumah ini lagi. Ini yang terakhir!"
Bethany dengan cepat menampar wajah Amarilys, bahkan rasanya kejadian itu hanya bayang-bayang saja karena terlalu cepat terjadi. "ini rumah ku! Kau tidak berhak mengaturku sama sekali! Dan jawab pertanyaan ku yang terakhir! Pakai otak mu!" tangan Bethany menekan kedua pipi Amarilys sangat kuat, bahkan wanita itu sampai kesulitan membuka mulutnya.
Chamomile yang tahu keadaan kedua saudarinya sedang tidak baik-baik saja hanya mengirimkan sinyal kepada Amarilys, dia memberitahukan bahwa Lyra adalah anak dari Orance. Penyihir yang mengajari mereka tanpa meminta imbalan barang sedikit pun. Lyra adalah anak asuh Orance yang mana adalah si kembar yang hilang yang banyak dicarikan sekumpulan manusia serigala dan beberapa penyihir yang disewa.
Jantung Amarilys berdetak tidak karuan, dia begitu merasa bersalah sekaligus menyesali perbuatannya karena membiarkan Lyra merasakan sakit terlalu lama di tempatnya. Rasanya dia ingin mati saat itu juga.
Rick yang melihat aura Amarilys sedang tidak baik-baik saja beranjak menarik Bethany mundur dari sana, muncul cahaya kemerahan di sekeliling Amarilys yang membuat atmosfer benar-benar panas.
"Hanya Mile yang bisa menghentikan kemarahannya." gumam Bethany.
"Apa tidak ada cara lain selain itu?"
"Kau bisa menahannya untukku sementara aku mencari vodka dan campuran limun?" tanya Bethany, dia sebenarnya tidak ingin membiarkan Rick mengalaminya juga.
"Maksudmu?" Rick agak bingung dengan perkataan Bethany.
"Kau tahan dia, pegang kedua tangannya, tapi.. tapi di sana sangat panas. Bisa-bisa kau mendapati luka bakar yang serius bila terlalu lama."
__ADS_1
Rick melihat Amarilys yang semakin berkobar seperti api yang siap melahap habis targetnya, "pergilah, jangan buat aku mencabut nyawa saudari mu."
Bethany dengan sigap pergi ke ruangan lain, mengambil vodka yang ada di dalam gentong kayu eks buatan Amarilys sendiri, mencari campuran limun yang biasa disimpannya di tabung besar. Dia mencampur kedua senyawa itu, berharap dia berhasil seperti yang Chamomile lakukan waktu itu. Aromanya segar dan menenangkan, tetapi tidak tahu dengan rasanya karena campuran limun tersebut memiliki larutan penenang yang Amarilys racik sendiri untuk dirinya kalau-kalau dia sedang putus asa.
"Mundur Rick!" tukas Bethany, dia kembali dengan membawa satu gelas penuh minuman. "kau sudah terbakar sebagian di tiap ujung jemari mu, aku akan mengobatinya nanti. Tapi, sekarang mundur." pintanya seraya membaca sebuah matra kuno yang tidak Rick tahu sama sekali.
Bethany menarik paksa saudarinya itu yang mana membuat kulitnya seketika memerah akibat radiasi yang dikeluarkan Amarilys, dia menumpahkan semua minuman itu ke dalam mulut Amarilys dan menahan mulutnya agar menelan semua minuman itu. Beberapa detik setelahnya Amarilys terjatuh dan terbaring dengan mata terbuka.
"Tidak, dia tidak mati, reaksi dari minumannya memang seperti itu." kata Bethany buru-buru, tidak mau Rick berpikiran yang tidak-tidak atas peristiwa itu.
Rick mendengus, menyunggingkan senyum sinis. "Tadinya aku malah berharap dia memang tidak baik-baik saja, tapi karena itu saudari mu, apa boleh buat."
Tak lama setelahnya, ketika Luo Qing hendak menghampiri Rick yang baru saja selesai mencuci tangannya, yang mana agar Bethany bisa mengobati luka bakarnya, Luo Qing tidak sengaja melihat Bethany merangkul Rick dari belakang. Dia terpaku melihat pemandangan yang tidak enak dilihat. Dia ingin sekali menegur Rick, tetapi itu malah akan menjadi bencana baru. Bukannya dia akan baik-baik saja karena berniat meminta maaf, malah membuat Rick semakin membencinya.
Luo Qing buru-buru melangkahkan kakinya keluar dari dapur itu, pikirannya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan menemukan jawaban. Apakah itu sebenarnya tujuan Rick, agar dia bisa berduaan dengan Bethany? Apa dia sudah gila dengan bertindak seperti itu? Meskipun Luo Qing memang tidak tahu mengenai cinta padahal dia sudah cukup berumur, dia tahu bahwa mengkhianati kekasih sendiri itu bukanlah hal yang baik. Bahkan mungkin kalau Lyra mengetahui perselingkuhan itu, dia akan merasakan derita yang lebih parah lagi.
Dia menghembuskan napas, mengatur oksigen yang masuk agar tetap tenang dan terkendali. Gagasan untuk menampar wajah Rick dan memakinya karena sudah berkhianat sempat menjadi salah satu ide sinting yang dipikirkannya, tetapi Luo Qing lagi-lagi menepisnya karena dia tidak ingin ikut dalam urusan percintaan mereka.
"Kau sudah mengatakan padanya?" tanya Sean, dia sudah menangis sejak beberapa saat lalu, melepaskan seluruh emosinya.
Luo Qing hanya diam saja di ambang pintu, tidak maju pun tidak mundur. Dia hanya berdiri mematung di tengah-tengah pintu kamar Bethany, tidak tahu akan melakukan apa dan bersikap bagaimana padahal dia melihatnya begitu jelas. Saat tangan Bethany meraba pinggang Rick dan Rick hanya diam saja seolah menikmatinya, bahkan saat Bethany menyandarkan tubuhnya yang sempurna ke tubuh Rick yang besar, Rick tidak menghindarinya sama sekali. Jika memang sejak awal dia berpura-pura terhadap Lyra dan terus mengancam Bethany, kenapa pula dia harus menggunakan cara agar Lyra terluka begitu parah seperti itu. Dia punya cara yang lebih baik, meminta hubungan mereka berakhir misalnya.
"Hei! Kau dengar tidak, Luo Qing?" entah kapan Tobias sudah di depan wajahnya, sangat dekat.
Luo Qing menghela napas panjang seraya menutup matanya sekilas, "aku tidak menemuinya di mana pun." sahutnya.
Seketika dia sangat merasa bersalah menyadari tubuh Lyra yang tidak bergerak sama sekali. Kakinya yang mengalami patah tulang serius sudah diatasi oleh Chamomile dan katanya itu akan membutuhkan waktu berminggu-minggu sampai kembali normal, tergantung Lyra menginginkan kakinya lebih cepat pulih atau tidak. Tapi jika dia tetap tidak sadarkan diri seperti saat itu, Chamomile hanya berharap kalau Lyra akan bertahan semampunya.
Kain kasa yang bernoda darah memenuhi nampan besi di atas meja, beberapa cairan putih dan suntikan bekas pakai masih bertengger di sana, seakan itu akan terus di sana hingga Lyra membuka matanya dan dinyatakan sadar. Luo Qing bisa merasakan keraguan dalam diri Chamomile, melihat kondisi Lyra tidak berubah sama sekali. Entah dia pingsan, atau sudah sejak beberapa waktu lalu meninggalkan raganya.
__ADS_1
"Kenapa suhu tubuhnya tidak turun?" gumam Sean pelan saat memegang tangan Lyra yang nampak membeku, kulitnya hampir membiru. "setidaknya beberapa derajat saja." jemarinya meremas tangan Lyra dengan lembut.
"Hanya Amarilys yang bisa menciptakan hawa panas di seluruh penjuru rumah, tapi rasanya berat sekali bila harus meminta bantuannya." kata Chamomile menjelaskan.
"Di mana aku harus menemuinya? Aku juga harus menemui Rick, kenapa dia pergi lama sekali." gerutu Sean, "siapa saja, tolong gantikan posisi ku." Sean beranjak dari tempat tidur tersebut dan posisinya langsung digantikan oleh Tobias yang dengan suka rela menjadi penyemangat untuk Lyra, dia kemudian pergi begitu saja.
Mulanya Tobias memang tidak percaya dengan kehadiran orang kembar yang bisa menyatu waktu itu, dia pikir Valdes hanya berkata omong kosong, tetapi setelah melihat sendiri bahwa Lyra bisa memanipulasi sihir—yang mana dia baru mencerna informasi rasional itu kala Chamomile menjelaskan sebuah fakta yang baru diketahuinya—hingga dapat melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat seorang manusia serigala mana pun.
"Tobias.." panggil Luo Qing pelan, "ayo kita bicara sebentar."
"Oh, Mile, tidak apa-apa bila kau harus meninggalkannya, aku dan Luo Qing akan menjaga Lyra, lagipula kau butuh istirahat juga." ujar Tobias.
Chamomile meliriknya sekilas, "umm.. baiklah, panggil saja aku kalau ada perubahan, sekecil apapun itu sangat berarti. Kalau begitu, aku pergi dulu." balasnya dan menghilang dari balik pintu.
Tobias tengah menggenggam tangan Lyra yang hampir membeku saat Luo Qing akhirnya angkat bicara, mengatakan bahwa Rick melakukan hal 'itu'. Itulah ekspresi yang dilihat Tobias saat Luo Qing tiba di sana beberapa menit lalu, terdiam tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Aku benci mengatakan hal ini, tapi Rick, dia memang.. dia memang pernah tidur dengan Bethany." Tobias seketika merasa bersalah, menjadi seorang pengkhianat untuk temannya sendiri.
"Tidak, kau tidak usah berpikir kalau kau adalah teman yang buruk untuknya, sementara dia memperlakukan Lyra lebih dari itu."
"Aku sungguh tidak percaya itu terjadi lagi."
Luo Qing mawas diri alih-alih tidak ingin seorang pun mendengar berita sinting itu, "aku mengatakan hal ini karena kau adalah orang yang dekat sekali dengannya dan terpaksa berbohong kepada Sean karena aku tidak ingin dia terlepas kendali hingga menghabisi Rick. Hanya saja, aku tidak tega dengannya.." matanya turun ke bawah, melihat Lyra yang terbujur kaku seolah memang sudah mati.
"Dia memang orang yang baik, kau tahu, dia menghargai kerja kerasku walau pun aku akan di ancam mati oleh Rick karena sudah bersikap seenaknya kepadanya." ujar Tobias, mereka memelankan suara mereka masing-masing hampir seperti berbisik. "Lyra adalah satu-satunya orang yang berhasil membuktikan kepadaku bahwa kuasa itu ada."
"Dia bahkan mengorbankan diri untuk menyelematkan ku." gumam Luo Qing, "apa yang harus ku lakukan padanya? Rasanya, semua hal yang dilaluinya sudah membuatnya putus asa setengah mati. Saat Sean bercerita mengenai takdirnya, aku tidak tahu harus menyikapinya bagaimana, dia terus bangkit dan berusaha agar tidak terlihat lemah padahal sebenarnya dia rapuh."
"Aku berpikir untuk menghajar, Rick, Demi Tuhan, kapan lagi kesempatan seperti ini muncul? Sebagai teman dekatnya, aku ingin membuatnya terluka sekali saja seumur hidup."
__ADS_1
Luo Qing menghela napas, "Lyra akan baik-baik saja bersama ku." ujarnya.[]