
Jalanan agak lenggang karena beberapa penduduk yang termasuk serigala di rumahkan. Jadi jalanan hanya di penuhi manusia normal yang beberapa dari mereka menatap nanar ke arah jalanan yang tidak biasanya sepi begitu.
Para pekerja Civitas bahkan meliburkan diri dari pekerjaan mereka yang membantu para manusia normal dan beberapa Ducis yang bisa masuk dengan mudahnya ke wilayah pemerintahan manusia normal. Semua dapat berubah hanya dalam kurang dari satu hari saja, semua begitu menuruti perintah dan aturan Tetua G tetapi bukan berarti Lyra dan Sean membangkang.
"Kuharap Dorian dan teman-temannya sudah siap akan hal ini, aku sempat bertemu mereka semalam sebelum benar-benar kembali ke rumah." ujar Sean
"Apa kau bilang waktunya?" tanya Lyra melihat awas.
Sean mengangguk cepat, "tapi kita terlambat beberapa menit." akunya pada akhirnya.
Mata Lyra langsung melirik ke bawah sekilas, menyadari sesuatu telah melingkar di lehernya. Entah untuk selamanya menghiasi lehernya atau tidak, dia tidak tahu. Orance hanya bilang bahwa kalung itu akan sangat dia butuhkan ketika waktunya tiba. Lalu Lyra meraih mata kalungnya dengan tangan yang lain sebab dia masih mengemudi, dia merasakan dinginnya benda itu ketika menyentuh kulit tangannya.
Lindungi aku, Orance. Lyra membatin.
Dia tidak menyalahkan benda itu ataupun Orance karena membuat mereka sampai terlambat. Jika saja dia tidak membuang-buang waktu untuk pergi ke kamarnya dan mendapati penglihatan aneh itu, dia dan Sean mungkin sudah berjalan dengan aman saat ini. Tanpa merasa takut dicurigai banyak orang, juga terbebas dari penjagaan ketat para Feroces.
Sekitar sepuluh meter lagi, mereka akan melewati gerbang tersebut. Lyra bisa merasakan kehadiran banyak serigala di sana, mereka mengenakan pakaian lengkap layaknya polisi normal dan matanya mendapati Martin sedang mengobrol dengan salah satu penjaganya. Tiba-tiba dari arah kiri, dimana d
Lyra bisa melihat hal itu dengan jelas, Dorian dan Ed sedang tarik-menarik kerah baju mereka satu sama lain seakan mereka berdua akan bertarung dengan serius.
Sean tertawa, "aku bersumpah, aku akan memberikan rating terendah jika itu film sungguhan."
Apakah harus sebodoh itu rencana mereka? Lyra menghela napas panjang.
Dia bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka berdua katakan, karena dia memelankan sedikit laju mobilnya. Mereka mencaci satu sama lain hanya karena seorang perempuan dan masalah perselingkuhan yang membuat Lyra benar-benar tidak percaya bahwa mereka memang melakukannya.
"Luar biasa sekali." katanya.
__ADS_1
Sean masih tertawa di samping Lyra, "tunggu klimaksnya."
Ketika mereka akan sampai di depan gerbangnya, Dorian dan Ed mengubah diri mereka menjadi serigala dengan bulu putih yang terang akibat terpaan cahaya Matahari pagi itu yang seolah membuat mereka berdua bersinar. Lyra langsung menatap Sean dengan tatapan mematikan yang membuat Sean seketika mengangkat kedua tangannya di udara.
"Itu rencana mereka." ujarnya pelan alih-alih tak ingin amarah Lyra meledak saat itu juga.
"Kau berhutang penjelasan padaku!" sahut Lyra agak kesal padanya. "Ingat itu!"
Sean mengangguk cepat kemudian meminta Lyra untuk menekan klaksonnya sebagai kode kepada mereka agar mereka berlari ke arah gerbang dan menyerang penjaga di sana. Tidak, mereka tidak akan melukai penjaganya. Hal itu mereka lakukan untuk mengalihkan para penjaga, yang mana mereka akan memarahi Dorian beserta Ed karena dengan seenaknya mengubah diri mereka ditempat terbuka seperti itu. Namun, itu adalah bagian dari rencana yang sudah mereka rencanakan matang-matang. Tak ada siapapun di sana untuk melihat mereka kecuali para penjaga itu sendiri dan Lyra serta Sean.
Lyra menancap gas untuk melewati gerbang tersebut dimana para penjaga berkumpul disebelah kanan bangunan. Dalam hati Lyra berdoa kalau mereka—para Feroces tidak akan menyadari kehadiran Lyra dan Sean di sana yang hanya sekali lewat. Namun, yang terjadi malah di luar dugaan sekali. Beberapa mobil patroli polisi yang digunakan Veneris ke rumahnya pagi itu memasang sirene sebagai tanda. Jantung Lyra berpacu bersamaan dengan speedometer mobilnya, tidak disangka kalau Veneris masih saja mengejar mereka berdua. Di saat bersamaan, Sean membanting setir ke kiri seperti akan menabrak bangunan sisi kiri gerbangnya. Dia mengambil alih setir meski Lyra masih mengemudi dan berkatnya ternyata mereka berhasil kabur.
Mobil patroli seketika berhenti dibelakang mereka seolah tak bertenaga saat Lyra melirik kaca spion mobil. Dia melihat Dorian, Ed, dan Martin menatap tepat ke arah mereka berdua. Lyra hanya mampu tersenyum dan mengucapkan terima kasih di dalam hati.
Kawanan Epile sudah melakukan yang terbaik.
Sean datang dengan kedua tangan memegang kopi dan di mulutnya terdapat satu bungkus roti isi. Lyra berharap dia tidak merepotkan penjualnya dengan menaruh bungkus plastik tersebut ke mulutnya. Padahal mereka berdua sempat sarapan pagi tapi dia rasa perut Sean tidak cukup dengan itu, jadi Sean membeli roti isi tersebut.
"Penjualnya bilang kalau itu tidak merepotkan nya karena aku membayar lebih dulu." katanya ketika Lyra ambil bungkus roti isi itu dari mulutnya.
Lyra mendengus, "kau pasti merayunya lebih dulu, aku tahu bahwa kasirnya perempuan." katanya ketika matanya mendapati sosok wanita dibalik pintu kaca kedai pinggir jalan itu, dia melihat ke arah mereka berdua dengan alis yang bertautan.
Sean ikut melihat ke arah yang Lyra lihat, "sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
"Ya, dengan bodohnya kau membuat perempuan itu cemburu." Lyra tertawa mengejek Sean agar dia kesal.
Lelaki itu menyodorkannya satu gelas kertas berukuran sedang berisi kopi yang masih mengeluarkan uap dari bolongan di pinggir penutupnya, gelas itu hanya bertuliskan 'pagi selalu indah dengan secangkir kopi' lalu di bawahnya terdapat nama kedai tersebut.
__ADS_1
"Aku menghampirinya sebentar kalau boleh." lirih Sean lalu berbalik, dia berjalan menuju ke kedai tersebut.
"Jangan sampai lepas, pecahkan rekor untuk masa lajang!" seru Lyra yang mungkin terdengar oleh perempuan tersebut.
Meskipun Lyra tahu bahwa Sean tidak benar-benar akan melakukannya, tetapi dia yakin dalam hatinya kalau Sean ingin sekali bisa mendapatkan seorang pacar dan pergi bersama mereka seperti manusia normal lainnya. Pergi menonton bersama atau bahkan setidaknya terlihat berdua saat kemanapun mereka pergi.
Lyra menyesap kopinya meski sebenarnya dia tidak menginginkannya. Dia pikir itu bisa untuk menghilangkan rasa kantuknga saat mereka akan berkendara dengan perjalanan yang panjang itu. Tiba-tiba ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu, saat Peal sedang menyesap kopinya di pagi hari yang panas itu. Alasannya hanya karena dia tidak ingin terlambat pergi kerja, sesungguhnya Lyra tidak mengerti apa maksudnya waktu itu. Tapi di hari itulah dia tahu, bahwa rasisme ini membuat golongan mereka semakin dipandang sebelah mata oleh golongan lainnya.
Bagi mereka sebagai budak saja belum cukup untuk menindas Civitas, karena itu, mungkin hal ini yang menyebabkan Tetua G menyetujui akal-akalan pemerintahan Ducis yang seenaknya. Lagipula apa yang bisa dilakukan Civitas karena memang dari awal mereka tidak diberi kesempatan sama sekali, bahkan untuk merubah nasib, mereka terkekang oleh aturan yang dibuat-buat oleh si br*ngs*k Ducis.
Peal mengatakan padanya bahwa hal itu sudah sejak lama terjadi meski belum terlihat, berbeda dengan situasi saat ini. Ditambah karena adanya isu tentang pasukan yang ingin membunuh Tetua G, mereka semakin yakin bahwa Civitas ingin melakukan kudeta dan menggulingkan pemerintahan Ducis. Padahal mereka sudah merelakan dan kembali mengabaikan hal itu, tetapi tetap saja mereka terus-menerus menuduh Civitas sebagai pelaku dari semuanya tanpa bukti. Meskipun warna bulu mereka persis hitam dan tahu tepat dimana letak tempat tinggal Tetua G, bukan berarti mereka pelakunya. Alhasil, itu benar-benar mendorong Lyra untuk menjauh dari Peal dan Orance, walaupun alasan sebenarnya bukan itu.
Ketika Lyra sadar dari pemikiran itu, di sudut matanya dia bisa melihat pergerakan aneh dari sesuatu. Saat dia membawa kepalanya ke arah kanan, Lyra menyadari presensi seseorang yang pernah dia temui. Dia pernah mencium baunya dan benar-benar tidak asing lagi.
Rick.
Dia berdiri di atas trotoar di seberang jalan, dia benar-benar menatap Lyra dengan tatapan kosong seperti seseorang yang kehilangan akal. Lyra tidak bermaksud untuk membalas tatapannya, tetapi dia penasaran apa yang dilakukan Rick di sana. Sesekali dia mengedipkan matanya tetapi tidak bergerak sama sekali, dia berhasil membuat Lyra ketakutan setengah mati.
Terakhir Lyra melihatnya saat Rick ada di rumahnya dan dia sudah memintanya untuk tidak mengganggunya lagi, dan kemarin Lyra tidak mendengar kabar tentangnya dari Kawanan Epile. Maka itu Lyra pikir dia sudah pergi dari Kota dan benar-benar tidak akan mengganggunya lagi, tapi kenyataannya, dia sedang berada di Kota, berada tepat di seberangnya yang berjarak kira-kira tujuh meter dari mobilnya yang terparkir.
Lyra merinding seketika saat dia tersenyum miring dan senyuman itu sangat menyeramkan hingga Lyra tidak tahu hal apa yang harus dia perbuat sampai yang dia pikirkan hanyalah mengalihkan pandangannya dari melihat Rick dan langsung menghidupi mesin mobil, menekan tombol klakson agar Sean menyadarinya.
Beberapa orang yang berada di luar kedai melihat ke arahnya dan mungkin bertanya-tanya pada diri mereka sendiri tentang apa yang terjadi, dan tak lama Sean muncul dari kedai sambil berlari kecil. Wajahnya memperlihatkan kecemasan yang tidak dapat disembunyikan.
"Lyra!" teriaknya ketika hampir sampai di mobil.
"Cepat naik!" Balas Lyra buru-buru dan langsung menancap gas tanpa sepatah kata lagi.
__ADS_1
Lyra memberanikan diri melirik ke kaca spion mobil setelah agak jauh dari kedai, tidak ada siapa-siapa di sana, tidak ada sosok yang berdiri di sana, dan tidak ada lagi sosok yang tadinya tersenyum mengerikan kepadanya.[]