Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
52. Pertemuan Dengan Luo Qing


__ADS_3

Tobias berniat menyerang laki-laki yang menangkap Lyra, tetapi Valdes datang tanpa diminta karena mungkin dia mendengar keributan yang berasal dari luar. Valdes menahannya seolah menjadi tembok besar di tengah-tengah Lyra dan Tobias hingga membuat Tobias mengurungkan niatnya. Dia bingung akan bagaimana kalau dia bertarung saja dengan Valdes atau tidak, toh dia juga bukan orang yang pantas dihormati mengingat tindakannya yang sudah tidak bisa dibilang tindakan yang rasional.


"Terus terang, kedatangan mu dan Alpha mu itu sangat tak terduga. Berani menampakkan diri lagi setelah memisahkan diri dari kawanan. Luar biasa!" tukas orang itu, agak tidak terima dengan Tobias dan Rick yang ikut campur dalam urusan penculikan Sean.


Tobias mencoba mengeluarkan suara tawanya dalam pikiran tetapi suaranya menjadi sumbang, ini bukan soal ikut campur, pikir Tobias dalam hati. Kemudian dia melirik Carlos yang sedang menggenggam ampul itu.


"Kau berpikir tentang apa sekarang? Aku tidak bisa mendengar mu." Valdes tertawa juga.


"Tobias! Sebaiknya kau bantu Rick dan kembali!" Lyra berteriak.


Sementara kakinya menendang ke belakang seperti keledai, dia berupaya melumpuhkan laki-laki yang tidak sesuai dengan tubuhnya yang terlalu besar dan kuat itu. Meski laki-laki itu mengelak, dia terlambat menyadarinya hingga membuatnya sedikit meringis.


Luo Qing yang melihat hal itu bingung akan berpihak kepada siapa, karena dia pikir jika tetap membela Lyra meskipun dia sudah berjanji untuk melepaskannya dari jeratan Carlos dan kembali ke Flos Orbis, mereka sudah kalah telak. Mereka seperti tidak bisa melakukan hal lain lagi selain pasrah dan membiarkan Carlos mendapatkan ampul nya. Luo Qing seakan bisa membayangkan langsung apa yang akan terjadi ke depannya, Carlos akan lebih berhati-hati dan membuat penjagaan semakin ketat agar dia tidak kabur.


Namun, ada hal yang masih ingin dia percayai dari seorang perempuan yang bernama Lyra itu. Bahkan tentang isu anak kembar yang memang dipercayai oleh banyak penyihir di masa-masa peralihan.


Saat tiba di rumah Carlos, Lyra dan Tobias menguping pembicaraan Carlos dan Cravene palsu tetapi Carlos menyembunyikan Sean entah dimana karena dia tidak mau Cravene berlaku tidak menyenangkan. Namun, rupanya Lyra tertarik dengan perbincangan mereka yang sedang berlangsung selama beberapa menit lamanya sebelum Carlos meledak-ledak karena kebodohan Cravene.


"Kau menyusahkan sekali, seperti tidak menghargai kerja keras ku lagi untuk mu, ya?" sergah Carlos yang kesal seraya menghentakkan meja.


"Seandainya kita bisa melihat wajah Carlos yang memerah dan Cravene yang setengah mati menahan rasa emosinya yang sudah memuncak." Tobias berbisik pelan lalu cekikikan sendirian.


"Kau juga! Anak buah macam apa yang tidak mengingatkan Tuan mu yang semakin bodoh ini?" Carlos menghela napas. "aku sudah memiliki target yang kau inginkan sebagai alat yang bisa memancing perempuan bernama Lyra itu agar dia menyerahkan dirinya pada mu, tapi kerja mu saja semakin buruk begini!" lagi-lagi Carlos menghela napas panjang.


Ada jeda yang cukup lama sampai akhirnya Cravene mulai bicara, "harusnya benda itu ada di dalam saku celana. Karena aku takut kalau-kalau ampul itu akan pecah, jadi aku memindahkannya ke dalam saku jaket. Saat akan memberikannya pada mu, itu sudah tidak ada di saku mana pun."


"Ya, mungkin terjatuh. Aku akan mencarinya." sahut suara lain yang ada di sana.


Mereka terdengar hanya tiga orang saja dan Lyra bertanya-tanya kemana laki-laki yang dia cari. Si mata sipit yang dibanggakan Carlos sebagai anak emasnya itu. Karena, untuk masuk ke dalam rumah Carlos pun rasanya percuma saja sebab Sean tidak di sana. Entah bagaimana lagi menemukannya kalau Sean sudah dipindahkan dari sana.


Jadi Tobias meminta Lyra untuk menunggu sedikit lagi saja, takut kalau-kalau mereka ketinggalan informasi penting dari percakapan yang sebenarnya hanya berisikan kemurkaan Carlos karena Cravene yang bodoh.


"Tapi aku harus menemuinya, dimana pun, mungkin dengan penciuman sihir ku. Aku butuh orang itu." sergah Lyra pelan alih-alih berbisik.


Lagipula jika dia terus-terusan di sana, Carlos dan Cravene mana mungkin mengatakan tujuan mereka selain meminta Lyra menyerahkan diri sebagai ganti Sean yang sudah mereka culik. Ah, Lyra kesal dengan hal-hal yang terus datang tanpa kejelasan seperti itu.


"Ini peringatan terakhir untuk mu, Valdes." suara Carlos muncul lagi. "Jika kau masih melakukan hal-hal dihadapan ku, bisnis ini selesai. Aku tidak membutuhkan kunci sihir darimu karena aku akan meminta Qing untuk membuatkan yang serupa dengan mu." Kemudian terdengar suara kursi yang bergeser.


Lyra dan Tobias saling menatap dengan pikiran yang sama, "kau mendengarnya dengan jelas, kan?" tanya Lyra setengah tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar.


Valdes. Valdes. Valdes. Dia mengulangnya dalam hati terus-terusan agar tidak lupa.


"Apakah dia menyebutkan nama asli Cravene?" Tobias mengeluarkan suara meremehkan, "ya ampun, pantas saja Rick tidak mau mengakuinya. Dunia ini dipenuhi kepalsuan, ya?" kemudian menghela napas panjang.


"Kau tidak akan membiarkan kawanan mu mengetahui hal apa saja yang kau sembunyikan selama ini, kan?"

__ADS_1


Suara tawa Carlos yang cukup kencang menghambur sampai keluar, dia seakan merasa senang tetapi bereaksi dengan berlebihan. "Jadi kau mengancam ku? Kau luar biasa, Valdes kecil. Mereka tidak akan semudah itu percaya kepada orang luar."


Lagi-lagi keheningan memenuhi tempat itu, Carlos dan dua orang lainnya sedang bergelut dengan pikiran mereka masing-masing.


Lyra ingin sekali bertemu orang itu hingga akhirnya dia menarik tangan Tobias untuk segera pergi dari sana dan akan kembali jika mereka punya kesempatan. Sedang Tobias hanya pasrah dan mengikuti kemauan Lyra yang tidak bisa dibantah sama sekali.


"Aku yakin, aku bisa menemuinya." tukas Lyra ketika sudah agak jauh dari rumah reyot milik Carlos. "Hei, aku merasa dia tidak jauh dari sini atau mungkin dia sedang menuju kemari." kata Lyra lagi pada Tobias yang mencari ke sana kemari tetapi tidak menemukan apa-apa kecuali dua ekor serigala kecil yang berlarian di tengah malam.


Tobias terkekeh, "bercanda mu itu tidak lucu, Lyra."


"Kau lihat apa memangnya?" sergah Lyra. "Itu!" Lyra menunjuk sosok lain yang tidak terlalu jauh dari tempat serigala kecil yang berlarian.


Tobias memicingkan matanya untuk melihat dengan teliti dan benar sekali bahwa sosok itu muncul dari kegelapan yang tidak terkena cahaya sama sekali. Dengan baju polos putih berlengan panjang yang digulungnya sampai ke sikut, lalu celana katun coklat panjang selutut. Dia berjalan dengan tegas tanpa mengetahui bahwa sebentar lagi sesuatu akan menerkamnya.


"Kau sepertinya bisa membaca pikiran ku. Kalau begitu, kita culik dia." Tobias bersembunyi lebih dulu di anatar pepohonan berkulit tebal yang ada di sana.


Lyra tertawa dan ikut bersembunyi juga, mereka menunggu sosok itu sampai di sana dan mempermudahkan mereka untuk menariknya dan membekap mulutnya agar dia tidak berteriak.


"Kau siap, Lyra?"


Lyra tersenyum begitu lebar seperti singa yang siap menerkam targetnya, dia merasa puas karena tidak perlu mencari-cari ke seluruh penjuru rumah itu walau pun sebenarnya itu perlu kalau-kalau dia menemukan Sean dan tidak perlu lagi mencari alasan mengenai Valdes alih-alih Cravene palsu.


"Lyra!" seru Tobias.


Tobias menarik tangan orang itu dan Lyra menarik bajunya, orang itu terkejut setengah hati dan mengamuk, berontak tanpa henti berupaya melepaskan diri. Namun, Tobias dengan tenaganya yang masih tersimpan banyak menekan leher orang itu dan menarik kedua tangannya ke belakang dengan bantuan Lyra. Tobias menendang kakinya hingga membuat orang itu tersandung dan terjatuh di tanah yang basah, celana beserta kakinya penuh dengan tanah.


"Dimana dia?" Lyra sedikit kesal dibuatnya, padahal sebenarnya dia tidak tahu apa-apa mengenai itu.


Tobias terkekeh, "bagaimana dia bisa menjawab mu kalau kau menutup mulutnya." terdengar suara helaan napas yang berat.


"Astaga!" Lyra menahan tawa untuk menertawakan dirinya sendiri. " aku lupa."


"Tapi apa dia akan diam saja setelah kau melepaskan tangan mu dari sana?"


Lyra mendesis, "dia perlu di ancam sebelum akhirnya berakhir dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Iya, kan?" lirikan mata Lyra yang tajam membuat orang itu agak merinding.


"Anggukan kepala mu kalau kau mengerti, bodoh!" tukas Tobias agak kesal juga.


Orang itu dengan berat menganggukkan kepalanya, dia sejak awal hanya memperhatikan Lyra. Wajahnya seakan tidak percaya dengan sosok perempuan yang ada di hadapannya. Kesan pertama yang dia dapat saat melihat Lyra—yang sering dia dengar dari mulut si b*j*ngan Valdes itu—adalah perempuan itu terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Mata biru sewarna samudra yang indah itu bisa menyayat hati sekaligus membuat merinding, lalu rambutnya yang sangat mencolok, berbeda dari kebanyakan orang yang pernah dilihatnya. Seakan para Malaikat tidak sengaja meninggalkannya di bumi.


"Kau lihat apa?" tanya Lyra seraya melepaskan tangannya dari mulut orang itu.


Dia menundukkan kepalanya, bersembunyi dari tatapan Lyra yang seolah ingin menelannya. "Siapa kalian? Dan apa mau kalian?" tanyanya.


"Secara garis besar, kami berdua adalah malaikat pencabut nyawa." Tobias menggodanya, dia melakukan itu untuk meruntuhkan nyali orang tersebut. "Namun, karena kami selalu memberi kesempatan kedua, kau bebas dari jeratan api panas yang akan melahap mu habis-habisan."

__ADS_1


Dia tidak bereaksi sama sekali, masih menundukkan kepalanya. Sama sekali tidak bisa memberanikan diri untuk menatap balik dengan tajam, karena dia memang tidak bisa melakukan hal seperti itu.


"Mau ku sebenarnya, kau tunjukkan trik sihir mu. Kau 'kan anak emasnya Tuan Carlos yang hidupnya bergantung dengan sihir." Lyra menyeletuk diantara keheningan kemudian tertawa kecil menertawakan lawakannya sendiri.


"Apa yang ku dapatkan jika aku melakukannya?" tanyanya.


Lyra melirik Tobias seakan meminta bantuan lewat tatapan matanya, "kau mendapatkan apa yang kau inginkan." sahut Tobias.


Bukankah hal itu terlalu berat? Lyra bertanya-tanya dalam hatinya.


"Aku tidak percaya sebenarnya, tapi apa boleh buat kalau aku tidak mencobanya." sahutnya, dia berharap sekaligus memasrahkan diri secara tidak langsung.


Tobias melepaskan tangannya dari leher orang tersebut dan belum benar-benar menarik tangannya dari kedua tangan orang itu. Dia antisipasi kalau-kalau orang itu melakukannya untuk kabur dan memberitahukan semua orang bahwa ada penyusup di tempat mereka dan menggagalkan rencana mereka.


"Aku bukan orang yang suka berbohong. Jadi kau bisa melepaskan tangan ku." orang itu menjelaskan. "Lagipula, kita tidak boleh berada di sini, orang akan melihat kalian dan aku."


"Kenapa kau bilang 'aku'?"


"Karena jika ada penyihir yang berkeliaran di sini, akan mati terpenggal. Sebaiknya, ikut aku." tukasnya.


Lyra dan Tobias saling menatap tetapi kaki mereka melangkah mengikuti orang itu tanpa peduli dengan apa yang ada di depan. Entah bagaimana, Tobias pun berani melepaskan tangannya dari orang itu tanpa embel-embel yang membuatnya ragu untuk melakukan hal itu sebelumnya.


Orang itu membawa mereka ke sebuah tempat yang menyembunyikan sebuah bunker yang pintunya terbuat dari besi karatan. Di tengah-tengahnya hanya memiliki simbol pohon dengan dedaunan yang lebat, saat orang itu membuka pintunya maka pohon itu nampak seperti terbelah dua.


"Ini markas ku, silahkan masuk."


Lyra melangkah diikuti Tobias di belakangnya dengan menahan napas karena mencium udara pengap yang tersimpan di dalam sana. Di dalam itu cukup besar untuk satu orang saja, ada dua kursi pendek dan satu kursi panjang serta meja kecil berbentuk kubus. Di atasnya terdapat tapestri kusam yang memiliki lingkaran bekas minuman tumpah yang rasanya tidak bisa hilang.


"Maaf dengan keadaanya yang agak menggelikan karena aku tidak terlalu sering kemari." katanya lagi, "aku lebih banyak menghabiskan waktu di belakang untuk memeriksa pasokan kayu dan membuat laporan, atau mungkin mengikuti perbincangan Carlos dan si b*j*ngan Valdes."


"Hei," Tobias tertawa dibuatnya, "kau se-benci itu padanya?"


"Sudah ku bilang, aku bukan orang yang suka berbohong, apalagi menyembunyikan perasaan ku. Kecuali saat di depan Carlos."


"Kau bukan berasal dari sini, kan?" celetuk Lyra.


Matanya melirik ke Lyra sekilas seraya mengajak mereka untuk ikut duduk bersamanya. "Kau rupanya jeli sekali ya. Kenalkan, nama ku Luo Qing, aku adalah penyihir yang berasal dari Jepang, tapi aksen ku cukup sempurna, kan."


Tobias mendengus, "pantas saja kau tidak ada mirip-miripnya dengan orang bagian Barat."


"Oh iya, sebaiknya aku melakukan trik sihir ini sebelum nanti aku dipanggil untuk menemui Carlos." tukasnya buru-buru.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Trik sederhana."

__ADS_1


Kemudian Luo Qing berdiri dia merapal kan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh Lyra karena dia sudah terlalu banyak mengucapkannya. Luo Qing berhasil menerbangkan beberapa gelas plastik yang ada di rak kayu di sebelahnya, sementara Lyra mulai kehilangan kesadarannya.[]


__ADS_2