Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
59. Terima Kasih Atas Semuanya


__ADS_3

Bethany.


Nama itu muncul di permukaan secara tiba-tiba dan membuat Tobias memiliki ide cemerlang.


"Hei bro, kau masih ingat si seksi Bethany Palmneus?" goda Tobias dengan menyikut pundak Rick.


Rick yang seketika memerah wajahnya langsung mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya alih-alih menutupi rasa malunya. Kalau benar Bethany yang 'itu' yang di maksud Tobias, itu menjadi bencana.


"Bukankah dia seorang penyihir juga?" tanya Tobias memastikan kalau dia tidak salah mengingat seseorang yang pernah menggoda Rick sampai Rick hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri. "Mungkin saja si seksi itu bisa membantu Luo Qing, kan?"


Menyadari derap langkah kaki yang semakin mendekat ke arah mereka membuat Rick otomatis berbalik dengan tingkah yang aneh seraya menyikut Tobias dengan kuat ke dadanya untuk memberi anak itu pelajaran.


"Kau kembali." katanya dengan nada agak sumbang, membuat Lyra mengerutkan dahinya keheranan. "Luo Qing belum juga kembali?"


Lyra menggaruk belakang kupingnya yang tidak gatal sambil melihat Rick yang berkelakuan aneh dihadapannya. Dia baru saja membanggakan Rick di depan Sean alih-alih memastikan kalau Rick sesungguhnya bisa dipercaya, tetapi dia malah mendapati Rick nampak seperti seseorang yang baru saja bertemu atau bahkan bersapa dengan orang yang membuatnya bertingkah aneh.


"Ada apa denganmu?" ujar Lyra yang tidak tahan melihatnya.


Rick mengernyitkan wajahnya lalu menyengir lebar, "sedikit senang..?" dia memiringkan kepalanya.


"Ya, bisa dikatakan begitu!" imbuh Tobias mencairkan suasana yang penuh curiga.


"Memangnya kalian melakukan apa sampai harus terlihat aneh ketimbang senang seperti ini?"


"Oh, itu, itu, soal kawanan Carlos." balas Tobias tergagap, dia takut kalau-kalau dia salah berucap yang mana berujung mengerikan. Rick akan memukulnya dua kali lipat lebih sakit daripada beberapa detik lalu.


Rick buru-buru menyela, "Tadi, ada salah satu kawanan Carlos sedang bergumul dengan sesuatu sendirian, dia tidak menyadari kami berada dihadapannya sehingga dia menabrak kami dan Tobias menakutinya. Orang itu kemudian lari dengan celana yang basah karena ketakutan."


"Ku pikir wajahku memang se-mengerikan itu." Tobias memaksa suara tawanya keluar.


"Katakan saja yang sebenarnya." tukas Lyra nampak agak marah.

__ADS_1


"Sudahlah, sebaiknya kita mencari Luo Qing saja." Sean berbalik meninggalkan mereka bertiga, dia melaju untuk mencari Luo Qing yang entah kemana perginya.


Sementara Lyra memicingkan matanya kepada Rick menuntut penjelasan dan Rick langsung merasa bersalah karena membuat Lyra menaruh curiga terhadapnya. Itu semua ulah Tobias yang mulai memiliki ide gila yang tidak akan pernah berjalan lancar jika berhadapan dengan perempuan itu. Ditambah, pada masa itu Rick tidak mengenal banyak perempuan lain selain Alice dalam kelompoknya. Sekalinya takdir mempertemukannya dengan Bethany, Rick seakan berada dalam dimensi lain yang rasanya memang mustahil ada perempuan yang sebaik itu padanya. Meskipun perempuan itu agak gila, dia hampir membuat Rick mengambil langkah yang salah. Ada gunanya juga Valdes menghipnotisnya kala itu.


Rick berlari menyusul Lyra yang berjalan dengan cepat mengikuti Sean yang berada jauh di depannya seraya melirik Tobias tajam seakan lirikan itu menembus ke jantung Tobias, membuat nyalinya menciut seketika itu.


"Hidupku tidak lama lagi." gumam Tobias pelan dengan wajah yang panik.


Beberapa waktu kemudian saat mereka sibuk mencari Luo Qing yang entah kemana, mata Lyra mendapatinya sedang berbincang dengan seorang wanita tua. Kedua tangannya menenteng keranjang yang isinya penuh dengan buah dan beberapa makanan lainnya. Keranjang anyaman itu rasanya tidak asing tetapi Lyra mengakui kalau keranjang anyaman tersebut benar-benar mengingatkannya akan satu hal, yaitu sebuah adegan film di mana pemeran utama memiliki kebun sayuran di pekarangan rumahnya dan bertemu dengan wanita cantik berpakaian serba putih, rambutnya hitam ikal panjang sebahu, membawa keranjang anyaman yang dibuat khusus untuk sang pemilik kebun. Lyra terdiam sesaat setelah menyadari adegan selanjutnya adalah mereka tertembak mati oleh tentara negara sebelah yang sengaja mencari perkara untuk memulai peperangan.


Kalau dipikir-pikir, dia memang cukup banyak menghabiskan waktu bersama Peal menonton adegan televisi yang berbahaya, sekalipun Orance melarangnya, ketimbang duduk bersama Orance dan dibacakan sebuah kisah kuno.


"Lyra!"


Seruan itu memanggil Lyra kembali ke kenyataan, dia langsung tersenyum sambil berlari menuju Luo Qing.


"Sejak kapan kau berdiam diri mematung di sana?"


Wanita tua itu tersenyum lebar pada Lyra, wajahnya yang penuh kerutan itu menampilkan masa senja yang akan dialami oleh semua orang yang hidup di dunia ini. Pada kenyataannya, ada juga orang-orang yang terpilih tidak mengalaminya seumur hidup. Matanya menyipit kala itu dengan alis yang ikut berubah warna sewarna awan mendung yang tipis. Putih agak kelabu.


"Oh, kenalkan, dia adalah pengasuh anak-anak di sini, namanya Tris."


"Orang biasa memanggilku nenek Tris." sambung wanita tua itu.


"Lyra." dia membungkukkan dirinya sekilas.


"Oh iya, bantu aku bawakan bekal kita untuk di perjalanan nanti." kata Luo Qing seraya memberikan salah satu keranjang anyaman yang dia dapat entah darimana.


Seseorang dengan sigap menyambar keranjang anyaman itu dan membuat ketiganya terkejut serentak, "tak usah repot-repot menyuruh perempuan membawakan bekal, kalau begitu apa gunanya laki-laki di sekitar sini?" kemudian orang itu menyengir lebar.


Di belakangnya ada dua laki-laki lagi yang menyusul, satu dengan wajah yang muram dan satu lagi menampakkan wajah yang datar tetapi Lyra bisa menangkap rautnya yang aneh yang berusaha disembunyikannya.

__ADS_1


Apa Rick tetap tidak ingin mengatakannya padaku dan malah memilih diam seperti ini? Rasanya aku menyesal mengatakan hal itu kepada Sean. Padahal dia tidak sedikit pun menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Gerutu Lyra dalam hatinya sambil melirik Rick dengan sinis.


"Hati-hati di jalan ya, anak muda. Dan kau, Luo Qing, sebenarnya kau bisa tinggal lebih lama jika aku yang meminta mereka karena bagaimana pun, kau sudah berjasa di desa kami yang tidak pernah dianggap ini." nenek Tris menarik tangan Luo Qing yang kosong, "kau anak muda yang bertanggung jawab, meskipun kau memikul beban yang cukup banyak karena ulah Carlos. Terima kasih atas perhatian mu selama ini padaku, kepada anak-anak yang lain."


Luo Qing ikut mengelus tangan nenek Tris kemudian tersenyum sangat manis. "Terimakasih juga atas semuanya, kau sudah ku anggap seperti nenek ku sendiri. Bahkan saat Carlos mencampakkan ku, kau rela menjadi perisai agar Carlos tidak menghajar ku lebih parah. Namun, aku merasa tidak pantas diperlakukan baik oleh orang yang bahkan sudah ku buat menderita selamanya." raut wajahnya seketika berubah, suasana bahkan ikut menjadi menyedihkan.


"Kau salah, kau itu anak muda yang seharusnya dibimbing dengan benar, bukan memikul beban berat yang bahkan kau sendiri tidak bisa mengangkatnya. Jadi, biarkan kenangan pahit itu berlalu, taruh di masa lalu mu. Sekarang kau memiliki orang-orang yang baik pada mu, teruslah menjadi orang yang baik." nenek Tris merangkul Luo Qing layaknya cucu dan entah bagaimana, Lyra merasa suasananya memang mengandung makna tersendiri.


Luo Qing yang terharu menutup matanya alih-alih menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca dari semua orang menarik diri, "kalau begitu aku pergi dulu, nenek Tris, sekali lagi terima kasih atas bantuan mu. Aku menunggu adanya kesempatan untuk bertemu kembali." dia tersenyum untuk terakhir kalinya kepada nenek Tris sebelum akhirnya berbalik sambil berbisik, "dia orang yang berjasa semasa hidup ku berada di sini."


Lyra yang mendengar bisikan itu langsung mengejar Luo Qing, "kalau begitu, selalu ingat amanat yang dia berikan kepada mu."


"Pasti." gumam Luo Qing pelan.


Setelah membawa beberapa bekal yang Luo Qing minta kepada orang-orang di sana, mereka sudah bersiap untuk berangkat. Cahaya Matahari berwarna jingga yang sudah menyinari cakrawala di atas mereka menandakan kalau hari memang sudah pagi. Saat ingin melihat pukul berapa, Sean sadar kalau arlojinya sudah kehabisan baterai atau mungkin memang sudah mati karena pertarungan yang membuat arloji tersebut tidak berfungsi.


Di bangku pengemudi, Tobias agak bergetar ketakutan, sementara Sean yang menyadari hal itu karena berada di sampingnya menawarkan diri untuk mengemudi tetapi Tobias menolaknya alih-alih tidak ingin diajak berbincang oleh siapa pun.


Rick yang berada di tengah bangku belakang malah terdiam membisu karena Lyra tidak mau melihatnya sama sekali. Dia lebih memilih memandangi hutan yang tiada habisnya itu ketimbang melihat wajah kekasihnya sendiri.


"Teman-teman, aku sangat berterima kasih kepada kalian." Luo Qing dengan suaranya yang tegas memecahkan keheningan di antara mereka. "aku sama sekali tidak menyangka kalau akhirnya aku akan terbebas. Bahkan kau mau membantuku untuk kembali, Lyra, sekali lagi, terimakasih banyak atas semuanya."


"Awalnya memang bukan hal mudah, rencananya kami ingin membunuh mu." sahut Lyra dengan cepat, "kalau saja bukan karena kepercayaan mu pada kami."


Rick menyentuh tangan Lyra dengan terpaksa dan tanpa berpikir panjang kalau Lyra akan menepisnya, tetapi Lyra diam saja. "Lagipula, kapan lagi kau punya kesempatan untuk melarikan diri sendirian?" katanya dengan santai seakan tidak melakukan apa-apa, padahal tangannya sudah memegang tangan Lyra yang dingin.


"Ah, bagaimana pun, jika pintu yang tadinya terkunci rapat menjadi memiliki celah walau pun kecil, jangan ragu untuk membukanya dengan lebar. Karena kesempatan tidak datang dua kali secara gratis." Luo Qing lalu tertawa, diikuti oleh suara tawa Sean dan Rick yang terdengar renyah.


"Benar juga." sahut Sean masih dengan tertawa.


Mendengar itu Lyra menyadari satu hal, sebaiknya dia tidak menyia-nyiakan segalanya. Selagi masih ada waktu atau bahkan kesempatan, dia tidak akan membuang-buangnya lagi. Lyra menggenggam balik tangan Rick setelahnya tetapi berpura-pura dia tidak melakukannya. Dia terus membawa matanya untuk melihat keluar jendela hingga akhirnya dia terpejam.

__ADS_1


Rick menahan senyum.[]


__ADS_2