Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
13. Rencana Penculikan yang Gagal


__ADS_3

"Seharusnya aku mengatakannya kepada kalian sejak awal, dan, aku, aku benar-benar minta maaf." Lyra bahkan tidak tahu kapan terakhir kalinya dia bicara gagap seperti itu. Dan itu memalukan.


Sementara itu Martin menatapnya kebingungan, Lyra tidak bisa tidak kembali menatapnya dan melemparkan pertanyaan imajiner yang hanya dia saja yang bisa mengerti.


"Aku tidak mengerti." sahut Dorian. "Kau berasumsi seolah kau akan menyakiti kami."


Lyra menggeleng dengan cepat, "bukan, bukan itu yang ku maksud."


"Singkatnya begini." Sean mengambil alih pembicaraan. "Lyra takut sesuatu akan terjadi pada kalian, mengingat pasukan Exchanges tahu soal kalian semalam. Lagipula, kalau dipikir-pikir lagi, rencana penculikan tersebut hanya memancing mereka untuk melakukan tindakan yang diluar dugaan kita. Kita tidak tahu mereka memiliki apa dan sudah mempersiapkan apa selama ini, dan ku rasa mereka belum menyerang karena mungkin sedang menunggu sesuatu." Sean mencoba membuat mereka mengerti.


"Apakah pimpinan Ducis sudah tahu?" tanya Lyra akhirnya.


"Ya, kami sudah memberitahukan mereka dan mereka memarahi kami karena teledor." aku Dorian, "tetapi kami juga sudah mengatakan kepada mereka untuk memperketat penjagaan dimana pun. Kuharap mereka langsung melakukannya dan merekrut lebih banyak pemburu Feroces."


Mendengar itu Lyra agak sedikit lega, karena pimpinan Ducis tidak menuntut banyak dan langsung mempercayai mereka. Namun, entah mengapa rasanya jengkel sekali ketika mencoba meyakinkan seseorang untuk percaya tapi seseorang itu tidak kunjung percaya karena dia belum menyaksikannya sendiri, lalu kemudian dia tiba-tiba percaya setelah ada korban yang jatuh. Lyra ingin membakar orang tersebut hidup-hidup tanpa pengecualian.


Untuk beberapa saat, dia tidak dapat berpikir. Seketika pikirannya kosong tanpa ada hal-hal yang muncul seperti biasanya. Seperti orang tidak sadarkan diri, dia bahkan mulai menggigiti kukunya. Entah sejak kapan dia melakukan hal-hal diluar kendalinya begitu. Rasanya agak memalukan karena dia tidak pernah seperti itu sebelumnya.


"Dan soal Rick," Martin tiba-tiba bicara.


"Ah ya, soal cowok yang kau ceritakan itu," Dorian memotong pembicaraan Martin. "cowok itu sepertinya tidak ada di sana. Dengan ciri-ciri yang kau sebutkan, benar-benar tidak ada yang mirip dengannya."


Lyra langsung melirik Sean yang seolah sedang bertelepati dengan seseorang di kejauhan bermil-mil. Sean tidak menangkap lirikan matanya sebab terlalu sibuk menangkap sinyal yang mungkin sangat penting menurutnya.


"Kalau begitu, kita tidak akan melakukan rencana ku, rencana penculikan itu." sahut Lyra, "karena kita tidak ada bukti sama sekali soal Rick."


Lyra sesungguhnya takut kalau Rick berkata benar dan dia malah beranggapan Rick sebagai penjahatnya.


Sean langsung menyentuh lengan Lyra pelan, Sean mencoba membisikkan sesuatu kepadanya. "Orance ada di kepalaku, dia bilang kalau nanti pulang kita harus berhati-hati. Ada sesuatu yang sedang mengintai."


Lyra terdiam, mengapa Orance tidak langsung mengatakan itu padanya? Lalu sesuatu apa yang sedang mengintai? Apakah sesuatu itu akan menyakitinya?


"Sebenarnya," lanjut Sean, "beberapa dari mereka mengincar mu."

__ADS_1


Napas Lyra tersengal, seakan di ambang kematiannya, dia rasanya ingin pingsan saat itu juga. Entah perasaan macam apa yang sedang bergumul di dalam dirinya sampai-sampai dia lupa bahwa dia sedang berada di sekitar teman-temannya yang sedang memperhatikannya dengan keadaan yang tidak mereka mengerti sama sekali. Dia berpegangan pada Sean, alih-alih takut tumbang begitu saja. Karena kalau dipikir-pikir, jika mereka mengincar Lyra, mereka pasti punya maksud yang benar-benar akan membuat nyawanya diujung tanduk. Itu yang dia maksud seakan berada di ambang kematiannya.


"Kau baik-baik saja, Lyra? Hei, Sean, apa yang kau lakukan padanya?" Suara Martin sedikit panik, Lyra dengan jelas mendengarnya.


"Dia sudah seperti adikku sendiri, aku tidak akan melukainya, kecuali.. seseorang." lirih Sean diakhir katanya.


"Kalau begitu kau bisa jelaskan siapa seseorang itu." Dorian menyambar perkataan Sean begitu cepat.


Manusia serigala akan selalu punya masalah di dalam hidupnya, karena kehausan akan kekuasaan tidak pernah musnah. Tidak akan ada perdamaian dan keadilan yang benar-benar adil selama manusia—atau apapun itu—yang serakah masih hidup, atau bahkan manusia serigala itu sendiri, atau penyihir, dan musuh bebuyutan mereka para vampir.


Lyra menghela napas, cukup kuat agar bisa menarik perhatian mereka semua kepadanya. Dia menatap mereka satu per satu dan menyadari bahwa tatapan Martin lah yang paling menuntut. Dia seolah menginginkan sesuatu, laki-laki itu ingin tahu sesuatu, tatapannya tidak main-main.


"Apakah kalian akan membantuku jika nanti ku beritahu sesuatu?" dimana pun kita berada, akan selalu ada kesepakatan. Jadi, Lyra meminta pertolongan mereka sementara mereka mendapatkan informasi baru. Cukup adil kan?


"Apapun." balas Dorian.


"Apakah tidak terlalu berbahaya?" Sean menggerutu.


Lyra menatap Sean dengan penuh keyakinan dan seolah berkata semuanya baik-baik saja.


Udara sore itu membuat Lyra semakin bergairah, pantulan cahaya keemasan dari Matahari yang hampir menghilang seakan menyemangati. Lyra bahkan baru menyadari bahwa musim panas akan berakhir dan memaksanya untuk mengenakan baju lengan pendek dan masih saja digulung olehnya, dia merasa sangat panas dan berkeringat sejak tadi. Mungkin para cowok-cowok ini juga?


"Bagaimana? Kau mau menjelaskannya Lyra?"


Dengan senang hati dia tersenyum kepada mereka, Sean sudah mempercayainya untuk hal itu.


"Soal rasisme, yang terjadi di kawasan manusia serigala, kini sudah menjadi-jadi. Hanya karena kita memiliki warna bulu yang berbeda, kita dibagi dalam beberapa kelompok." Lyra mencoba memulai awal percakapan dengan baik, dia melangkah perlahan ke depan seraya mengintip cahaya Matahari yang masih mampu menyentuh kulitnya. "Aku tidak bisa berbohong, bahwa aku memang benar-benar yang paling berbeda. Dan mereka akan menganggap ku aneh. Namun, setelah dipikir-pikir, tentu saja, aku tidak pernah cocok berada dalam ruang lingkup yang di buat para Tetua G. Sehingga itu sedikit mendorongku untuk kabur, lagipula, aku sudah tahu bahwa orang tuaku tidak tinggal di sini."


"Jadi kau merasa kau tidak seharusnya di sini?" tanya Dorian.


"Sejak awal," lanjut Lyra lagi tanpa mengindahkan pertanyaan Dorian yang membuatnya berbalik melihat mereka yang benar-benar sudah menaruh perhatian penuh kepadanya. "aku tinggal bersama orang tua asuhku. Kalau boleh aku berkata jujur dan kalian sudah berjanji padaku, aku akan mengatakan bahwa orang tua asuhku adalah seorang penyihir yang pernah terkenal pada masanya. Dia menyebut namanya Orance, yang pernah merubah dirinya menjadi serigala."


"Aku tak yakin, setelah mendengar ini, rasanya ada yang aneh." sahut Ed, dia seolah tidak menerima kenyataan itu.

__ADS_1


Sean tertawa, "Kau boleh berkata semau mu, bro, dan percaya tidak percaya, aku melihatnya sendiri dan dia baru saja mengirimiku pesan, dia adalah penyihir yang jenius."


Pancaran mata Sean mengatakan bahwa Lyra terbebas dari salah sangka mereka dan seolah mengaku-ngaku bahwa penyihir jenius macam itu menjadi orang tua asuhnya, Ed seperti iri padanya.


Lyra tersenyum setelah itu, "kalau itu hanya omong kosong belaka, kau," dia menunjuk Ed, dan kemudian berpindah ke Dorian dan Martin "atau kalian bisa melihat hal itu besok tapi aku benar-benar butuh bantuan kalian, jaga mereka selama aku pergi."


"Kau mau pergi? Kau akan pergi kemana Lyra, kau tidak bisa pergi kemanapun."


"Ya, Martin benar, untuk hari besar besok, semua gerbang keluar masuk di jaga sangat ketat karena Tetua G tidak mau ada yang kabur, seperti yang ingin kau lakukan." sahut Dorian menjelaskan.


Lyra terdiam berpikir sejenak, apakah dia bisa lolos tanpa dikejar oleh para penjaga gerbang? Atau meskipun mereka tidak mengejarnya, apakah dia bisa melewati gerbang itu tanpa sepengetahuan penjaga Tetua G? Ya ampun, kenapa rasanya dia semakin bodoh, toh para Kawanan Epile ada di sini untuknya, kan? Lyra tertawa sendirian seolah dalam sekejap menjadi orang sinting.


Mereka semua melihat Lyra, tidak apa jika mereka mengira kalau dirinya sudah gila dan mengalami gangguan mental. Karena sejak mengetahui bahwa orang tuanya ternyata bukan orang tua aslinya dan bahwa dia memiliki kembaran, kejiwaannya benar-benar terguncang tetapi, setidaknya Lyra masih dapat berpikir dengan baik.


"Kalau begitu kalian bisa 'kan, membantuku, setidaknya mengalihkan perhatian mereka agar aku bisa melewati gerbang tersebut tanpa sepengetahuan penjaga Tetua G? Iya, kan?" tanya Lyra kepada Kawanan Epile.


"Aku akan membayar setimpal jika penjelasan ini kurang meyakinkan." sahut Sean. "aku tahu bahwa memang agak sulit untuk menyanggupi permintaan Lyra yang terakhir. Tapi percayalah, setelah kami kembali, semua akan berbeda. Tak ada rasisme, tak ada ketakutan perebutan wilayah kekuasaan." janji Sean.


Mengapa Sean nampak yakin sekali? Apa dia mendapat sesuatu yang tidak Lyra dapati dari Orance atau siapapun?


Lyra tidak yakin, tapi sepertinya Martin sudah angkat bicara setelah keheningan beberapa saat. "Dorian sudah berjanji, dan itu artinya aku juga harus menepatinya."


"Tapi boleh aku tahu, mengapa kau mau kabur, Lyra."


"Aku akan mencari orang tuaku, membawa mereka kemari, jika itu mungkin. Bahkan bersama Tefra sekalipun."


Dorian seolah sedih, wajahnya menumpahkan beberapa emosi yang tidak dapat Lyra tangkap secara bersamaan tetapi dia tahu kalau Dorian sedih hanya saja, dia tidak tahu karena hal apa. Mungkin Dorian akan mengatakan sesuatu setelah ekspresi wajahnya yang muram itu. "Aku kehilangan ayahku," katanya, "dan kupikir kehilangan itu tidak akan mengubahku. Namun, ternyata aku menyadari bahwa keadaan keluarga kami semakin buruk." dia menghela napas panjang kemudian menundukkan wajahnya, melihat ke tanah yang penuh ranting pohon kering.


"Aku minta maaf soal itu."


"Tak apa, itu hanya masa lalu yang kelam. Sekarang aku sudah mendapatkan keluarga baru, yaitu mereka." dia melirik ke arah Martin dan Ed bergantian kemudian Ed merangkulnya berterimakasih alih-alih menyemangati saudaranya yang tidak bisa melupakan masa lalu yang pahit itu.


"Bagaimana kalau kita melakukan perjalanan kecil sebagai tanda perpisahan?" sela Sean. "mungkin akan menyenangkan."

__ADS_1


Semua seolah setuju dengan ide itu, tidak buruk juga menghabiskan waktu—hari terakhir—di sini bersama mereka. Lyra bahkan sampai tidak menyadari senyumnya sangat merekah, dia sangat senang saat bersama mereka.[]


__ADS_2