Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
44. Pengakuan


__ADS_3

"Kau memintaku untuk meninggalkannya saja setelah aku bersusah payah untuk menahan diri agar tidak berteriak karena kesal dengan apa saja yang baru saja terjadi padaku? Apa kau masih tidak mengerti?" mata Lyra menyipit seiring dengan nada bicaranya yang meninggi, dia terlanjur emosi pada akhirnya.


Rick menunduk, entah kenapa dia bisa salah bicara hingga membuat Lyra mengamuk. Padahal Rick bermaksud agar Lyra meninggalkan Sean dan dia yang akan mencari Sean, tetapi Lyra tidak mendengar Rick bicara sampai selesai dan memotong pembicaraannya begitu saja.


"Kau bilang kau peduli padaku, tapi akhirnya kau juga yang membuatku kesal. Aku tidak akan meninggalkannya!" tukas Lyra, Rick tahu dia masih kesal.


Dengan keadaan dingin malam itu dan minim cahaya, sukses membuat situasi terasa mencekam apalagi ditambah Lyra yang memasang wajah marahnya, semuanya begitu lengkap. Rick tidak tahu apakah dia harus menjelaskan pada Lyra mengenai perkataannya yang sebenarnya atau tidak, dia bingung kenapa Lyra bisa langsung berekasi seperti itu padanya. Padahal dia pikir Lyra sudah benar-benar mempercayainya, maka dari itu dia dibiarkan untuk membantu dan melindunginya, tetapi rupanya itu juga belum cukup membuktikan.


"Lyra, aku akan pergi mencari sesuatu untuk dimakan, kau bisa ku tinggal sebentar saja?" akhirnya Rick memutuskan melupakan hal yang sempat dipikirkannya, karena dia merasa perutnya kelaparan.


Lyra membawa wajahnya ke tanah yang sedang dia duduki, kakinya yang penuh dengan noda tanah tidak sempat dia singkirkan, dia bahkan tidak memikirkan kalau dirinya kembali berantakan dan tidak terurus sama sekali. Yang menjelma dalam isi kepalanya hanyalah bagaimana dia harus menemukan Sean. Hanya itu.


"Aku tidak bisa berjanji kalau aku masih di sini bila kau kembali nanti." gumamnya pelan, "mereka masih di sini, sementara kau pergi." dia menghela napas panjang.


"Hei, aku bukan meninggalkanmu, maksudku, kau pasti kelaparan, kan?" Rick memegang lengan Lyra dengan pelan, "asal kau tahu, yang menjadi tempat pulang untuk ku hanyalah kau. Aku sudah kehilangan semuanya." mata Rick berkaca-kaca, alasan yang membuatnya hampir menangis hanyalah dia takut akan kehilangan.


Dia baru saja akan melepas lengan Lyra dan merebahkan tubuhnya bersandar ke batang pohon, tapi tangan Lyra menggapai tangannya dan menariknya. Lyra memeluknya dalam diam, tidak berucap apa-apa, napasnya teratur seakan menunjukkan kalau dia mulai merasa baikkan meskipun badai melandanya belum usai menerpa.


"Kau baik-baik saja?"


"Ya.." lirihnya pelan kemudian menempelkan telinganya ke dada Rick hanya untuk mendengar detak jantungnya. "Aku hanya butuh sesuatu yang mampu menenangkan ku."


"Semua akan baik-baik saja, bersabarlah sedikit lagi." Rick mengusap puncak kepala Lyra dan mencoba mengecupnya tetapi tidak melakukannya. Dia hanya membalas pelukan Lyra dengan lembut, dia benar-benar tidak bisa kehilangan sosok yang sudah menjadi rumah baginya.


"Kenapa iramanya menjadi lebih cepat? Rick, kau baik-baik saja?" Lyra melepas pelukan begitu saja dan melihat wajah Rick, memperhatikannya dengan seksama. "Kau.. kau menangis?" jemarinya kemudian menyentuh pipi Rick yang hangat.

__ADS_1


Rick tersenyum puas, "aku tidak tahu kapan lagi aku akan merasa begitu nyaman seperti ini, aku bahagia Lyra, aku merasa bahagia saat bersama mu." dia menunduk sekilas dan menatap mata Lyra begitu dalam, seolah mengirim semua isi hatinya lewat tatapan itu.


Lyra ikut tersenyum, beberapa beban yang sedang dipikulnya seakan terangkat untuk waktu yang lamanya karena dia merasa lega. Entah kenapa ketika melihat Rick dengan mata yang berkaca-kaca itu bahkan irama detak jantungnya, Lyra seperti tersihir oleh sesuatu yang hanya dia yang bisa merasakannya. Walau dia tidak yakin kalau Rick benar-benar merasa bahagia, dia ikut merasakan hal itu secara tidak langsung.


"Aku pernah mendengar seseorang berkata padaku kalau aku tidak harus percaya dengan orang yang baru saja ku kenal, bagaimana menurutmu? Jika hal itu terjadi sekarang?" Lyra menggoda Rick dengan senyuman miring di bibirnya.


Rick tertawa seraya menghapus air mata yang ada disudut matanya, "kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain. Bahkan mungkin aku sudah mengakui isi hatiku, meski tidak langsung." wajah Rick langsung berubah semerah tomat di bawah redup cahaya Bulan.


Lyra tidak sanggup lagi menahan tawanya hingga akhirnya tawa itu pecah dengan sendirinya, sementara Rick yang melihat hal itu ikut tertawa kecil sambil memperhatikan Lyra, matanya menghilang karena pipinya terangkat. Rick menyadari kalau Lyra lebih kurus dari satu bulan lalu, bahkan kantung matanya menghitam akibat kurang tidur meskipun awal pertemuan sudah nampak hitam, tapi kali ini lebih hitam dari itu. Kalung yang menghuni lehernya tidak pernah lepas itu berkilau sesekali dengan jarak yang tidak menentu. Rick memperhatikan semuanya dengan terperinci sampai akhirnya Lyra sadar kalau Rick melihat tepat ke dadanya.


"Hei!" sergah Lyra mendorong wajah Rick ke belakang dengan kedua tangannya. "Jangan coba-coba memikirkan hal itu." katanya.


Rasa malu menerpa Rick, wajahnya agak memerah, padahal dia tidak bermaksud memperhatikan itu. Namun, karena Lyra sudah menangkap lirikkan mata Rick yang mengarah ke sana, Rick tidak bisa lagi menghindar.


"Tapi tentang yang sebelumnya, mungkin kita bisa mencobanya." kemudian Lyra tersenyum dengan sangat tulus, itu pertama kalinya dalam waktu yang lama Rick diperlihatkan sosok Lyra yang mungkin sebenarnya tidak di sana. Rupanya dia muncul di saat-saat yang seperti ini.


Kepala Lyra mengangguk perlahan-lahan seraya menarik tangan Rick, mengaitkan jemari mereka. "Ini yang kau inginkan, bukan? Aku sudah melihatnya, Rick."


Walaupun perkataan itu bukan sebuah alat yang bisa membuat Rick tertampar, tapi dia merasakannya. Jantungnya berdegup tidak teratur karena takut akan satu hal, dia takut kalau rahasianya yang tidak pernah dia beberkan ke siapapun itu akan dilihat oleh Lyra dengan cara itu. Dia takut setengah mati tetapi untuk saat ini dia harus menyembunyikannya, dia harus bisa bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi hingga akhirnya dia memutuskan untuk melepas jemari mereka yang tadinya saling bertautan lalu menarik wajah Lyra dengan pelan dan menciumnya. Bibirnya menyentuh bibir Lyra yang kering karena kurang minum dan hal itu seakan membuat Lyra membeku di tempatnya. Dia tidak menolak dan membalas, dia hanya menutup kedua matanya dan menikmati ciuman Rick yang perlahan membasahi bibirnya.


Maafkan aku, Lyra. Rick bergumam sendirian dalam hatinya, merasa begitu bersalah karena dia telah melakukannya.


Keduanya terdiam dan saling pandang lalu tersenyum, Lyra yang tersipu menundukkan kepalanya. "Itu pertama kalinya selama hidup ku." ujarnya.


"Tak apa," balas Rick seraya membenarkan rambut Lyra yang menutupi wajahnya, dia menaruh sejumput rambut ke belakang telinga Lyra. "ku pikir tadinya kau akan menolak."

__ADS_1


Lyra menggeleng, "sejak awal pertemuan mata yang tidak sengaja itu membuat perasaanku sedikit berbeda. Rupanya kau juga tertarik dengan pertemuan kita yang diam-diam walau kau sempat membuatku kecewa dan bersikap bodoh karena kau pikir kau sudah memilih hal yang benar. Tapi entah mengapa.." dia diam sejenak, memejamkan matanya beberapa detik lalu membukanya lagi. "perasaanku yang mungkin untuk mu hampir tidak pernah pergi. Ku akui, aku memang sudah jatuh."


"Aku mencintai mu, Lyra." tukas Rick. "Ini sungguhan."


"Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi peluk aku sekali lagi." Lyra kemudian membentang kedua tangannya dengan lebar, membiarkan Rick memeluknya.


Dia merasa hangat serta bahagia, meski jantungnya berdetak kencang tak karuan. Pikiran tentang Sean perlahan-lahan menghilang dalam ingatannya dan dia sudah tidak lagi merasa cemas dan khawatir dengan porsi yang berlebihan. Dia hanya ingin menikmati sebentar saja ketenangan yang pernah direnggut darinya, diam-diam Lyra tidak ingin pelukan itu lepas dan malam cepat berakhir.


Lyra merasakan kecupan lembut dari Rick di dahinya, dia senang tak kepalang karena dia tidak pernah meraskaan hal itu. Semua yang terjadi di malam itu adalah untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mereka mungkin bisa dibilang sudah berpacaran, tetapi Lyra tetap menganggap Rick sebegai sosok yang melindunginya, bukan kekasihnya. Dia hanya tidak tahu bagaimana membedakan kedua hal tersebut, belum. Namun, dia tidak ingin mengetahuinya.


"Kau tidak lelah, lagi?" tanya Rick pelan.


Lyra mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Rick yang bisa di bilang sempurna, tulang pipinya tinggi serta matanya yang berpijar bagai lampu taman. "Apa aku boleh tidur di sini?"


Rick memiringkan kepalanya seraya tersenyum, dia diam cukup lama untuk memperhatikan Lyra juga, "tentu saja, tidurlah, aku akan menjaga mu."


"Tapi.." ujar Lyra lagi, "aku merasa bersalah karena telah meninggalkan Sean. Apakah kau masih ingin membantu ku untuk menemukannya? Rick, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." wajah Lyra kembali bersedih.


Rick tidak menduga kalau Lyra masih memikirkan itu walaupun rasanya wajar, tapi apakah dia tidak bisa membiarkan waktu berjalan sebagaimana adanya dan menikmati setiap detiknya lalu membahas hal lain di keesokan harinya? Apakah Lyra memang orang yang terus bersikap terburu-buru dan tidak sabaran?


"Maaf, aku memang selalu terburu-buru tapi ini demi teman ku." katanya pelan, tidak ingin merusak suasana tenang yang sudah bersusah payah mereka berdua ciptakan.


"It's okay. Tapi sebaiknya kau tidur dulu, besok kita bicarakan lagi, beristirahatlah 'lil wolf." Rick mengecup dahi Lyra sekali lagi tanpa keraguan yang biasanya datang menghampiri sementara Lyra hanya tersenyum lalu menimbun wajahnya dalam-dalam ke dada Rick yang hangat.


Hanya suara napas keduanya yang terdengar di hutan itu, sunyi dan gelap, suram dan mencekam, perasaan yang tadinya menghantui Rick kini hilang begitu saja karena dia sudah mendapatkan apa yang sudah sejak lama dia incar, dia tinggal melakukan satu hal lainnya agar Lyra tidak kecewa lagi padanya.

__ADS_1


Memang berat untuk mempertahankan rahasia itu sendirian, tetapi Rick bertahan sampai hari ini dan tidak mengatakannya. Dia belum ingin mengatakan itu kepada siapapun, termasuk Lyra. Meski Rick tidak bermaksud untuk menghianati Lyra, tapi baginya hal itu akan merusak semua hal yang sudah genggam. Dia memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat, untuk mengutarakannya .[]


__ADS_2