
"Lyra! Bangun!"
Dia mendengar suara itu sekilas dan merasakan tubuhnya seolah bergoyang-goyang. Dia langsung sadar ketika dia membukakan matanya dari tidur yang dia rasa hanya sebentar itu.
"Bangunlah!" Sean menggerakkan wajahnya.
"Ada apa?" tanya Lyra setengah kesal.
Sean menunjuk ke kanan, dimana terparkir sebuah mobil yang mengejar mereka kemarin pagi, polisi Feroces dan Ducis serta Veneris. Beberapa dari mereka kini berjalan ke arah Lyra dan Sean, jantung Lyra kini berdebar sangat cepat.
Bagusnya bagaimana, dia benar-benar tidak tahu. Karena mereka dengan senang hati menangkap dan membawa Lyra dan Sean kembali yang sudah bersusah payah untuk keluar dari sana. Lagipula, dia tidak menyangka kalau mereka akan tetap mengejar sampai kemari, kalau dipikir-pikir, lokasi ini sudah sangat jauh dari Porstmouth dan ini bukan lagi wilayah para Veneris.
Belum sempat dis menikmati pagi itu dengan sinar Surya yang sedikit meredup tidak seperti kemarin, awan menggumpal menutupi Matahari tetapi dia yakin sekali kalau tidak akan turun hujan. Mungkin cuaca hari ini berawan?
"Aku punya firasat buruk tentang ini." Sean bergumam pelan, alih-alih tidak ingin terdengar oleh mereka yang kini tinggal berjarak dua meter dari kami.
Lyra berdeham, "aku penasaran apakah mereka menyadari nomor plat mobilku atau tidak, aku akan keluar."
"Tidak! Aku saja." sergahnya lalu keluar dari mobil.
Dia hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi pengemudi, "terserah kau, mau kau ataupun aku, aku yakin mereka mengingat wajah kita berdua."
Saat berupaya mendengar apa yang mereka bicarakan, mata Lyra benar-benar tidak sengaja menangkap sesosok wajah di balik hutan di hadapannya yang minim cahaya, itu muncul dari sela-sela dedaunan yang rendah. Jantungnya kembali berpacu tanpa bisa dia kendalikan, tetapi tatapan itu berbeda kali ini meskipun dia masih sedikit takut.
Wajah pucat itu memperlihatkan kekhawatiran dan Lyra dapat membaca gerak bibir Rick, yang berkata 'lari'.
Lagi-lagi jantungnya berpacu tak karuan, dia tahu sekarang kami berhadapan dengan Veneris, dimana Ducis dan Feroces juga ikut bekerja sama. Namun, Lyra tidak mengerti kenapa Rick tiba-tiba muncul dari sana dan memberitahunya bahwa mereka harus lari.
Lyra memutuskan untuk menghidupi mesin mobil dan membunyikan klakson agar Sean menyadari panggilannya. Sean langsung melihatnya kemudian berlari menghampirinya. Lagipula, dia sudah berjanji pada Lyra untuk tidak membuatnya menunggu terlalu lama di dalam mobil sendirian, meskipun untuk saat ini situasinya sangat berbeda.
__ADS_1
Rasanya mengikuti apa yang diucapkan Rick untuk saat ini adalah benar, mengingat Veneris bukan mahkluk yang dapat dibodoh-bodohi. Mereka semua yang bekerja di Veneris adalah orang-orang terpilih yang berhasil sampai tes akhir, mungkin saja mereka melacak Lyra dan Sean, dan terus mengikuti kemana mereka berdua pergi.
Tak tahu alasan yang jelasnya, mungkin karena para Veneris melihat mereka keluar dari salah satu rumah manusia serigala yang mana itu bisa diartikan bahwa mereka melarikan diri dari sesuatu atau mungkin mereka pada akhirnya dituding sebagai pelaku kejahatan yang terjadi di wilayah Tetua G, ditambah mereka terlihat di salah satu rumah para Civitas.
"Aku tak yakin soal ini, tapi cepatlah naik!" serunya ketika Sean muncul di kasa mobil.
Dia membuka pintu mobil dan tanpa berpikir apakah Sean akan terjatuh atau tidak, Lyra langsung menginjak pedal gas. Salah satu polisi Feroces melihat mereka dan anggota Veneris yang masih menerima panggilan dari talkie-walkie-nya langsung mengoceh ke panggilan tersebut. Dia bergegas ke mobil patrolinya diikuti polisi Feroces dan Ducis. Lyra sulit mempercayai hal itu, mereka bekerja sama dengan baik tanpa adanya satu orang pun dari golongan Civitas.
Menyayat hati rasanya, kerja sama ini dilakukan untuk menangkap golongan Civitas yang berasal dari kawasan yang sama dengan mereka. Lyra seolah bisa mengetahui apa yang mereka pikirkan dan itu sudah membuat perasaan yang selama ini menguasai dirinya. Kebencian yang sudah sejak lama dia tahan.
Sean tidak berucap apapun selama peristiwa itu, dia terdiam sepanjang perjalanan yang mana Lyra masih bisa mendengar suara sirene mobil patroli para Veneris. Seakan deja vu, ini pernah terjadi, tetapi yang dia lakukan sebelumnya untuk menghindari Rick dan saat ini dia melakukannya malah karena mendengar perkataan Rick. Sungguh tidak sinkron.
Lyra merasa tidak bisa kemana-mana lagi, dia seperti berada di dalam lingkaran yang dibuat Rick, sebuah lingkaran permainan dimana dia adalah bonekanya. Dengan seenaknya dia mengendalikan Lyra atas kemauannya, bertindak seolah atas perintahnya meskipun tadinya dia mengakui kalau Rick berkata benar, dia harus lari dari kejaran Veneris itu.
"Aku melihat Rick." kata Sean tiba-tiba.
Lyra menghentikan laju mobil dengan tiba-tiba juga ketika dia rasa mobil patroli sudah kehilangan jejak mereka untuk sementara waktu ini. Entah apa yang dia pikirkan sampai dia membuat jarum speedometer nya hampir menyentuh angka 100. Jika Lyra yang berada di posisi Sean, mungkin sekarang dia masih mencari-cari udara takut kalau-kalau ternyata dia sudah tidak bisa bernapas lagi.
Dia mengangguk, "dia menyuruh kita lari dari Veneris, kurasa."
"Kau jangan salah paham, aku tidak mengikuti kemauannya untuk lari, bukan juga untuk menghindarinya. Namun, perasaanku bilang bahwa Veneris sudah tahu."
"Ya," sahut Sean, "sedikit saja tadi kau terlambat memanggilku, mungkin kita sudah tertangkap sekarang."
Lyra merebahkan tubuhnya seraya mengatur napas agar jantungnya kembali berdetak normal, dia mengambil napas panjang lagi dan kemudian memejamkan matanya. "Sean." panggilnya, dia seolah bisa memprediksi bahwa Sean menoleh dan melihatnya. "Apakah pantas bagi seseorang untuk menuding yang lain tanpa bukti terlebih dulu?"
"Tidak. Sama sekali tidak. Tapi itu akan selalu terjadi jika rasisme masih merajalela di Portsmouth. Dan omong-omong, ini sudah waktunya kita berganti posisi, lagipula kau butuh merebahkan diri sejenak setelah seharian kemarin kau berkendara." tanpa diminta Sean sudah bergerak membuka pintu dan keluar.
Beberapa mobil yang lalu lalang mengklakson ke mereka, meskipun tidak saling tahu satu sama lain. Namun, Lyra menyadari beberapa hal kalau manusia normal memang ramah.
__ADS_1
Satu jam setelahnya, ketika mereka melanjutkan perjalanan dimana Sean yang bertugas menjalankan kemudi dan Lyra yang melihat petanya. Mereka hampir sampai di Carlisle kira-kira beberapa waktu lagi dan akan mendapati pemandangan yang kata Sean sangat menakjubkan. Lyra penasaran dia tahu darimana soal Kota itu tapi katanya tim sepak bola Carlisle United F.C. bermarkas di sana dan Lyra mengakui kalau para lelaki memang benar-benar menyukai sepak bola, tidak bergantung dengan siapa diri mereka sendiri. Tapi dalam hati Lyra ragu kalau mereka akan melihat keindahannya secara langsung dan begitu nyata itu karena cuaca tidak mendukung. Awan hitam sudah menggumpal di depan mereka, bahkan dari balik kaca depan mobil, kenyataan itu tidak dapat disembunyikan lagi. Entah kapan hujannya akan turun, tetapi yang pasti Sean akan berhenti dan menepi di suatu tempat.
"Kau pasti sudah lapar juga, kan."
Lyra melirik ke jam tangan yang dikenakan Sean, pukul sebelas lewat dan saat itu mereka baru akan sarapan. Dia tidak menduga hal ini akan terjadi, karena dia tidak pernah melewatkan sarapan yang digantikan oleh makan siang.
Dia mendengus, "apakah aku harus makan dua porsi besar kali ini karena telah melewatkan sarapan pagi?"
Sean tertawa seraya melihat-lihat sekeliling mereka, "aku selalu melewatkan sarapan pagi tanpa pernah tahu apa yang dihidangkan, terkecuali hari kemarin."
"Kau membuatku merindukan masakan Orance." Lyra tertawa kecil dan mengikuti kegiatan Sean yang melihat-lihat.
Saat sedang mengamati sekeliling ketika sudah memasuki Carlisle, hujan turun sebagai rintikan kecil yang pada akhirnya semakin besar dan lebat, memenuhi kaca depan mobil dan Sean terpaksa harus menggerakkan wiper nya. Laju mobil yang agak melambat sedikit membantu untuk menikmati pemandangan yang benar-benar tidak berbohong. Yang Lyra saksikan pertama kali adalah bangunan megah yang berdiri tegak di atas tanah penuh rumput menghijau yang dia rasa selalu dipangkas rapi, tadinya dia mengira setiap bangunan di sana diukir tetapi memang terbuat dari bata merah meskipun beberapa bata nya sudah terkikis akibat alam.
Walaupun hujan menghalangi dan membuat pandangan mereka menjadi terbatas, dia tidak berhenti melongo berkali-kali melihat semuanya. Itu semua benar-benar indah.
"Aku akan masuk ke pusat Kota, aku tahu tempat makanan enak di sana dan sudah buka di waktu seperti saat ini." Sean kemudian memutar setir ke kiri, memasuki gang yang di penuhi mobil parkir.
Dia mengarah ke Utara di Crescent menuju Wardwick, dimana jalan itu akan membawa mereka masuk ke Lowther, persis dimana pusat perbelanjaan berada.
"Kau pernah kemari sebelumnya." sergah Lyra tanpa meminta penjelasan dari Sean.
"Aku tahu kau tidak bertanya. Namun, aku akan menjawab kalau iya, aku pernah sekali kemari. Aku lupa tepatnya kapan tetapi yang pasti tempat ini tidak pernah ku lupakan." jawabnya.
Sebetulnya, Lyra penasaran kapan Sean pergi sejauh ini dari Porstmouth, sementara untuk keluar dari sana saja rasanya sulit. Atau jangan-jangan Sean memiliki identitas ganda, dia kapan saja bisa menjadi manusia normal dan kapan saja bisa menjadi manusia serigala. Sedangkan Lyra, ya, dia hanya mengenal pelabuhan Porstmouth dan bergumul dengan sesuatu yang tidak begitu penting di rumahnya.
Ini bagian dari diri mereka yang lainnya, yang tidak saling terbuka tentang hal yang tidak semestinya dibicarakan. Lyra dan Sean bahkan bertemu ketika dia tidak yakin akan dirinya sendiri, di saat dia ketakutan sendirian berada di tengah-tengah manusia normal. Lalu Sean datang dan mengaku bisa mencium aroma tubuh asli Lyra, meskipun Lyra tidak tahu maksudnya dan tidak ingin memberitahukan kepadanya siapa dirinya yang sebenarnya sampai akhirnya Sean bilang kalau dia juga berada di golongan Civitas, sama sepertinya. Dari sana Lyra yakin, Sean tidak main-main dengan identitas aslinya karena dia yakin Lyra adalah salah satu dari mereka juga, karena apapun yang di alami manusia serigala ketika bertemu dengan banyak manusia normal sekaligus akan kesulitan beradaptasi. Entah bagaimana dia bisa merasakannya saat itu, tapi Lyra merasa dia pernah berada di posisi itu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk tinggal bersama manusia. Orang tua angkatnya yang sangat baik, hampir mirip Orance dan Peal.
"Sampai kapanpun, kau tidak akan mengatakan hal itu bila tidak melewati Kota ini." katanya.
__ADS_1
Sean tersenyum melihatnya, "kau mengenalku lebih dari siapapun, Lyra."
Lyra balas senyuman juga lalu tertawa kecil.[]