
Lyra mengira waktu sudah pagi, ternyata dia terbangun oleh mimpi anehnya sendiri. Namun, mimpinya tiba-tiba mengabur begitu saja dan saat dia lihat jam weker nya yang menunjukkan pukul setengah empat dini hari kemudian dia mendengar suara ketukan di jendela yang begitu cepat dan diikuti suara lain sedetik kemudian.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, dia langsung bergerak menuju jendela kamarnya dan membukanya. Saat dia melihat ke bawah, ada seseorang di sana sedang duduk seraya membersihkan lengan baju kirinya yang mungkin kotor.
Oh astaga, ternyata suara susulan itu adalah suara orang itu terjatuh. Menyadari itu Lyra menahan tawa dalam hati dan begitu tahu siapa orang itu, dia langsung terdiam. Orang itu menengok ke atas, tepat ke arahnya dengan wajah panik. Bagaimana dia bisa tahu rumah ini? Bagaimana laki-laki itu tahu bahwa ini rumahku? Lyra membatin dalam kesal. Sulit dipercaya, sekarang dia mungkin menjadi incaran Rick. Buru-buru Lyra menutup jendela tetapi dia berteriak yang membuatnya takut setengah mati. Dia takut suaranya membangunkan ayah dan ibunya yang sedang tertidur pulas, dia takut mereka terbangun dan menyadari laki-laki itu berada di bawah kamarnya, ya, walaupun sebenarnya dia di luar. Lyra hanya tidak ingin orang tuanya tahu kalau dialah serigala yang berhasil membuatnya keluyuran setiap malam, dia alasan dibalik semuanya.
"Tolong! Tolong jangan tutup jendelanya!" teriaknya lagi.
"Laki-laki tak tahu diri!" tukas Lyra setengah berbisik setengah berteriak lalu melihat ke belakang, ke arah pintu. "Tetap di sana!" serunya kemudian tanpa berpikir panjang.
Lyra menutup jendela kamarnya dan kemudian turun, daripada nantinya Rick mengacaukan semuanya dalam semalam, lebih baik dia saja yang turun menemuinya. Sekarang Lyra tahu, laki-laki itu tidak punya otak yang waras. Lyra mendapati Rick sedang bersandar di pohon yang berjarak kurang lebih dua meter dari kamarnya, pohon itu tumbuh dengan dahan yang jarang-jarang sehingga cahaya rembulan dapat menembus Rick yang sebenarnya hanyalah siluet hitam bertengger dibawah pohon.
"Apa mau mu?" kata Lyra ketika sudah berjarak cukup dekat dengan Rick. Dia membiarkan Lyra memiliki jarak dengannya, jadi jika terjadi sesuatu Lyra langsung bisa berlari masuk ke dalam rumahnya lagi.
"Maafkan aku, Lyra. Aku sudah meninggalkanmu waktu itu." tukasnya seraya mendekat.
"Tetap di sana!" seru Lyra yang tidak ingin Rick berada lebih dekat dari posisinya sekarang. "Darimana kau mengetahui rumahku?" tanyanya akhirnya.
Rick berhenti di tempatnya dan berdiam kaku, dia tidak bergerak maju ataupun mundur. Kakinya seolah tertancap dalam ke dalam tanah hingga tidak mampu membuatnya bergerak sedikitpun. Dia melihat Lyra, tatapan itu seolah meminta maaf ratusan kali dan Lyra tidak bisa menatapnya terlalu lama.
Dia tampak gugup di tempatnya, kemudian menarik napas panjang. Entah apa yang membuat Rick melakukan itu.
"Bisakah kita bicarakan ini baik-baik? Aku merasa bersalah." suaranya terdengar gemetar. Rambut hitam kecoklatan miliknya yang tadi kaku, kini bergerak kecil tertiup angin.
Lyra menjadi tidak tega membiarkannya tersiksa begitu, meskipun akibat ulahnya sendiri. Mungkin dia bisa mengajaknya berdamai, setidaknya untuk sebentar.
"Ya, aku memaafkan mu. Lalu apa lagi yang ingin kau bicarakan? Kita sudah selesai."
"Lyra." lirihnya pelan tetapi Lyra masih bisa mendengar suaranya yang berat. "Aku, aku memang suka padamu."
"Dan aku juga suka padaku." Entah membuatnya tersinggung atau tidak Lyra tidak peduli, setidaknya dia sudah memaafkan Rick. "Dengar ya," tukas Lyra, "kau sudah punya pacar, kau harusnya tahu bahwa menduakan nya bukanlah hal yang baik untuk dilakukan."
__ADS_1
"Kau mengira aku pacaran dengan cewek berambut merah itu?" tanyanya. "Maafkan aku soal itu, aku sudah membuatmu dipermalukan olehnya begitu saja. Aku benar-benar minta maaf, kita baru saja bertemu dan aku sudah melakukan banyak kesalahan." Lyra bisa mendengar seolah Rick memohon di akhir katanya.
"Kalau begitu, ada baiknya kau tidak lagi menggangguku. Sudah ku bilang bahwa kita sudah selesai. Aku tidak mau lagi berurusan dengan serigala Amerika seperti kalian." Lyra sebelumnya berpikir kalau laki-laki ini bisa diajak berdamai meski sebentar, tapi ternyata tidak. Dia terus kekeuh dengan apa yang dia inginkan.
Rick melangkah maju sedikit, Lyra tahu dia ingin sekali menyentuhnya. "Aku tidak bisa melupakanmu."
"It's just two days, idiot. Kau tidak perlu berbohong untuk itu. Jawab aku dengan sebenar-benarnya, apa yang kau inginkan?" Lyra meninggikan sedikit nada bicaranya.
Lyra mulai kesal, lagi.
"Aku ingin kau, aku ingin mengenalmu lebih. Meskipun aku tahu, kau tidak ingin bersamaku."
Jantungnya berdegup, dia mengira perkataan itu tidak keluar dengan begitu mudahnya dari mulut laki-laki yang agak sedikit tampan itu. Dia mengakui kalau Rick memang punya kharismatik, yang entah bagaimana tidak bisa dia hindari lama-lama. Bahkan selalu muncul dalam pikirannya saat dirinya sedang tidak ingin memikirkan apa-apa. Bayangan Rick yang berhasil muncul, yang membuatnya mengerti bahwa tidak harus mempercayai semua orang, sekalipun itu keluarga.
Tapi benarkah dia suka kepadanya? Atau ada hal-hal lain yang sebenarnya sedang dia permainkan? Apakah dia harus percaya kembali pada Rick? Maksudnya ya, apakah bisa Rick diberi kesempatan? Lyra merasa semua jawabannya tidak. Rick tidak akan mendapatkan kesempatan itu.
"Ya, kau benar." sahut Lyra, "aku tidak ingin bersamamu kapan saja dan dimana saja. Aku tidak aman denganmu dan ku pikir kau orang berbahaya yang tidak punya otak waras."
Rick menatapnya, kilatan di matanya menunjukkan ekspresi sedih sekaligus kecewa. "Kuharap aku punya kesempatan, Lyra." lirihnya.
"Kalau kau butuh sesuatu. Aku ada di sana." katanya seraya tersenyum, begitu manis hingga Lyra sulit untuk menyadari bahwa dialah yang barusan tersenyum seperti itu.
Rick kemudian berjalan mundur tanpa ingin berbalik sama sekali, perlahan-lahan hingga hanya menyisakan siluet di bawah pepohonan rimbun menuju ke arah hutan Perkemahan Feroces. Lyra hanya bisa berharap bahwa dia tidak ditemukan oleh mereka.
Lyra masuk ke dalam rumahnya lagi dan mengunci pintunya kembali. Sadar bahwa hari sudah semakin terang dan pagi, Lura buru-buru untuk tidur kembali dan berharap tidak bangun kesiangan. Setidaknya pukul delapan dia sudah bangun dari tidurnya yang benar-benar tidak nyenyak. Padahal kemarin dia sudah tidur dengan damai sampai sesuatu datang kembali kepadanya, kali ini lewat mimpi aneh yang menampilkan sosok lain yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
Lahan bersalju itu menjadi salah satu alasan mereka berkumpul untuk hari ini. Tidak ada Matahari yang bersinar terang karena tertutupi oleh awan-awan tebal yang agak gelap. Salju berikutnya belum turun dan itu yang membuat mereka semua khawatir. Semakin tebalnya salju akan semakin mempersulit mereka menerka jalanan menuju suatu tempat yang mereka cari-cari. Mereka menyadari sesuatu telah datang dan akan merusak segalanya karena penglihatan salah satu anak leluhur.
Seseorang bertubuh besar berjalan dengan gagah menghampiri mereka semua. Dia berbicara dalam bahasa Ceko dengan aksen Polandia yang kental. Sementara sedang menyimak dia berbicara, salah satu dari mereka seperti tidak mendengar dan bersikap tidak peduli karena sesuatu sedang mengganggu pikirannya. Dia sibuk menepis semua yang ada dalam pikirannya dan tak lama, seseorang menyikut lengannya kuat sampai akhirnya dia berteriak. Seseorang bertubuh besar itu menyadari keanehan tersebut, kemudian menghampirinya secara langsung dan bertanya.
Laki-laki itu hanya menjawab bahwa sesuatu sedang mencoba mengirimkan sinyal, namun dia tidak dapat menerima sinyal tersebut dengan baik hingga akhirnya pikirannya tidak berjalan sesuai rencana. Kepalanya menjadi pusing berat dan mencoba membuat tubuhnya tumbang, itulah alasan dia berteriak. Dia hanya tidak ingin terlihat lemah karena dia tahu ayah dan ibunya adalah pasukan yang paling dipercaya oleh mereka sampai saat ini, mereka semuanya berhutang nyawa kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Aku akan bertemu dengan ibu dan ayahmu. Membahas soal itu lagi, tahanlah sebentar lagi anak muda." suara tegas dan berat orang bertubuh besar tersebut mendorongnya untuk yakin bahwa dia mampu dan kuat seperti orang tuanya.
Laki-laki itu diam-diam bersyukur bahwa Pimpinan mereka itu mengerti dengan keadaan yang sedang dia alami. Karena memang berat berada dalam keadaan yang tidak seimbang seperti ini, seolah terpisah dengan separuh hidupnya yang entah pergi kemana. Saat ini dia hanya berupaya untuk mendapatkan sinyal-sinyal itu dan menangkapnya dengan baik. Bahkan ketika dia sedang tidak memikirkan apa-apa, jantungnya berdegup dengan sendirinya dan dia tidak bertanya kepada ayah dan ibunya. Ada apa sebenarnya dengan dirinya. Dia masih belum ingin mengetahuinya, dia hanya berharap bahwa kedepannya tidak akan semakin sulit. Tetapi sang ayah bilang kalau sinyal itu akan semakin kuat dan bisa menumbangkan satu pohon sekalipun ketika dia semakin bertambah usia.
Berjalan sedikit tergopoh-gopoh menelusuri lahan bersalju, dia dan kawanannya yang di pimpin oleh seseorang bertubuh besar tersebut tidak ragu melangkah. Mereka sudah percaya oleh pimpinan mereka tersebut hingga sesuatu bergerak di dalam pepohonan. Dahan berderak terdengar sampai ke telinga mereka semua pada jarak delapan mil saja, mereka langsung waspada, mengamati sekeliling. Kemudian Pimpinan mereka bersuara.
"Kenapa kalian bersembunyi?" tanyanya. "Kalian tidak perlu melakukan itu."
Salah satu dari mereka keluar disela-sela pepohonan kemudian diikuti oleh kira-kira enam orang dibelakangnya. Saat sosok tersebut bertemu mata dengan Pimpinan, dia langsung tumbang tidak sadarkan diri, terbaring lemas di atas salju beku. Warna rambutnya kelabu yang disadari si laki-laki mirip sekali dengan warna rambutnya. Sesuatu seperti sedang menghantam penglihatannya yang membuatnya juga tumbang sedetik setelah sosok tersebut.
"..tidak bisa tidur seharian, Lyra, bangunlah!" seru suara wanita.
Dengan setengah sadar, Lyra membuka matanya perlahan-lahan dan kaget, mendapati sang ibu sudah berdiri di sebelahnya entah sejak kapan.
"Astaga ibu! Aku tertidur rupanya? Bagaimana kelanjutan cerita tersebut?" tanyanya panik sendiri.
Ibunya tertawa kecil, "kau hanya bermimpi, kau sejak semalam di kamarmu, sayang, kau tidak mendengar atau menonton sesuatu. Kenapa kau terlihat penasaran begitu?" sang ibu balik bertanya.
Lyra mencoba mengingat-ingat mimpinya tersebut, tetapi bayangannya mengabur kembali. Namun, sesuatu yang dia sadari bahwa laki-laki dan perempuan tersebut punya kemiripan dari warna rambut mereka, kelabu. Hanya itu dari sekian banyak penampakan yang sebenarnya bisa dia ingat, astaga. Lyra mengumpat dalam hati.
"Aku sungguh tidur, kan? Aku hanya bermimpi?" tanya Lyra lagi hanya sekedar meyakinkan dirinya.
Ibunya menganggukkan kepala sebagai jawaban, lalu dia duduk disebelah Lyra. "Apa yang kau mimpikan Lyra? Sesuatu yang buruk atau semacamnya? Atau hal-hal indah sampai kau bersikap tidak biasanya seperti ini?"
"Bu, aku sedang mencoba mengingat semua mimpiku." tiba-tiba dia teringat bahwa semalam dia juga terbangun oleh mimpi sampai membuatnya bisa bertemu kembali dengan Rick.
Apakah mimpi ini ada artinya atau hanya cuma mimpi yang bukan apa-apa?
Kepalanya terasa pusing, seperti sedang dipukul kuat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Lura menjambak rambutnya sendiri untuk menahan denyutnya yang terasa sakit, dia ingin berteriak saat itu juga. Namun, tiba-tiba dia merasakan kedua tangan memegang tangannya dan kemudian memijat pelan kepalanya, itu membuatnya sedikit merasa lebih baik. Lyra tahu itu tangan sang ibu, ibunya menyadari keanehan yang terjadi pada Lyra.
"Mungkin, saat nanti aku teringat kembali soal mimpi itu atau bahkan aku memimpikannya lagi, aku akan menceritakan kepadamu. Kepalaku sakit ketika memaksa untuk mengingat semua kejadiannya." lirihnya sembari menahan denyutnya.
__ADS_1
"Itu hal normal sayang, apalagi kau baru saja terbangun. Setidaknya cobalah untuk rileks, jangan memaksanya terburu-buru." balas ibunya.
Lyra hanya tersenyum dan memeluknya.[]