
Lyra terbangun dan entah bagaimana dia bisa tertidur ketika ditinggalkan oleh sang ibu beberapa menit saja. Napasnya tersengal seolah baru saja berlarian, padahal semuanya cuma mimpi. Dan, dia mengingat semua mimpi itu, dengan sangat jelas.
Setelah bangkit dari kasurnya, Lyra buru-buru turun ke bawah untuk menemui ibunya dan akan mengatakan semua mimpinya kepadanya. Tetapi dia tidak menemukan sang ibu di seluruh penjuru rumah, dia berteriak memanggil ayahnya dan tidak ada pula jawaban. Kemana mereka pergi? Lyra hampir ingin berteriak lebih kencang lagi.
Tak lama setelah itu, Lyra mendengar derap langkah kaki lalu diikuti dengan suara orang sedang berbincang yang sepertinya menuju ke arahnya. Dia berjalan dengan cepat menuju sumber suara tersebut dan menemukan ayah dan ibunya sedang asik mengobrol sembari menuju beranda rumah. Lura tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti itu nampak seperti obrolan yang sangat serius. Saat mereka mendapatinya di ambang pintu tengah melihat balik ke arah mereka, sang ibu langsung menyeret Lyra masuk ke dalam rumah dengan pelan lalu mengajaknya duduk di kursi beludru merah yang sudah agak kusam.
"Kau bermimpi tentang sesuatu atau seseorang akhir-akhir ini?" tanya sang ibu kepadanya. Mata ibunya menatap dalam dan Lyra bergidik ngeri diam-diam.
Dia berdeham, menyeimbangkan agar suaranya tidak terdengar serak. "Bu, siapa saja selalu bermimpi tentang sesuatu ataupun seseorang."
Ibunya langsung melirik ayahnya dan lalu kembali melihat Lyra kembali, "kau tidak mau membicarakannya?" tanya ibunya, lagi.
"Membicarakan apa?" tanyanya kepada mereka berdua, dia benar-benar bingung.
Ayah dan ibunya hanya terdiam, untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua tidak bicara satu sama lain. Sibuk dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan yang tidak kunjung pergi, mendesak seolah ingin terjawab.
"Aku.." lirih Lyra pelan, setelah ingat apa yang ingin dia sampaikan. Namun, sesuatu membuatnya tiba-tiba lupa setiap detil ceritanya.
Bagaimana itu bisa terjadi? Astaga! Lyra mengumpat.
"Kalau kau memang benar-benar tidak ingat tentang apa yang kau mimpikan atau siapa seseorang itu.."
"Biar aku saja yang mengatakannya padanya." kata ibunya memotong ucapan sang ayah yang belum selesai.
Dengan begitu penasaran Lura terus menunggu apa yang ingin mereka katakan padanya dan sesuatu tiba-tiba muncul dihadapannya seperti kabut yang kemudian memunculkan siluet orang-orang yang tidak pernah dia lihat wajahnya tetapi rasanya seperti pernah dekat dengannya. Lyra memperhatikannya lagi lebih seksama ke dalam kabut tersebut dan pemandangannya memperlihatkannya sebuah penampakan dua bayi dengan warna rambut yang sama dan mata indah yang sama. Lalu entah bagaimana mereka dipisahkan oleh orang-orang yang ada di sana, masing-masing bayi dibawa pergi dengan arah yang berlawanan. Kemudian siluet itu menghilang seiring kepergian orang-orang di dalamnya dan kabut tersebut memudar perlahan seolah di hembus angin, lenyap dalam hitungan detik.
"Bu? Kau yang melakukan itu?" tanya Lyra saat dia sadar bahwa dia masih duduk bersama mereka, dia menatap mata ibunya seolah tidak ingin melihat hal lain seraya menunggu jawaban.
Wajah ibunya pias tetapi dia berusaha tersenyum pada Lyra kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Kau adalah seorang penyihir." ujarnya lalu melihat sang ayah. "Jadi hal ini yang kalian tutupi dariku selama ini?" Lyra menekankan setiap katanya, dia hampir ingin menangis.
Oang tuanya membungkam, mereka tidak mengatakan apa-apa bahkan tidak melakukan apa-apa. Orang tuanya benar-benar terdiam.
"Kalian bukan serigala sungguhan." Lyra bangkit dari duduknya dengan air mata yang sudah mengalir di pipi, dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi dia tidak mampu. Namun, dia berupaya agar suaranya tetap keluar, "apakah aku juga bukan serigala sungguhan? Seperti kalian berdua?"
"Nak," kata ayahnya akhirnya bersuara dan mencoba meraih tangan Lyra, mencoba menenangkannya seperti biasanya. "Kau murni, kau adalah serigala sungguhan sepertiku." sang ayah mengelus kedua tangan Lyra yang gemetar lalu menoleh ke arah ibu yang masih duduk terdiam. "Kecuali, dia."
"Maksudmu ibu?" sergah Lyra dengan cepat.
Di tempatnya, sang ibu menggeleng dan ikut bangkit dari duduknya. "Aku bukan ibumu, Lyra."
"Ini bukan waktunya untuk bercanda, ku mohon, katakan padaku yang sebenarnya!" Lyra hampir ingin berteriak meski matanya terasa semakin panas akibat air mata yang terus keluar.
Siapa yang masih mampu berpikir jernih ketika di situasi semacam ini? Lyra yakin tidak ada satu pun. Bukan, bukan di bagian kalau kau mengetahui bahwa ibumu adalah seorang penyihir dan ayahmu seorang manusia serigala. Tetapi tentang siapa mereka sebenarnya. Karena selama bertahun-tahun hidup bersama mereka, Lyra juga tidak mengenal ibu dan ayahnya yang sebenarnya. Dia tidak pernah melihat mereka berubah menjadi serigala atau bahkan melakukan trik-trik sihir meski dalam keadaan tidak sengaja. Saat sang ayah bilang bahwa dia adalah manusia serigala berdarah murni, lalu dimana kedua orang tuanya yang sesungguhnya? Mengapa orang tua aslinya tidak mengurusnya? Dan mengapa orang tuanya memberikan dirinya kepada kedua orang asing ini meski mereka sudah menghidupinya selama ini. Apa yang terjadi kepada orang tuanya? Atau sang ayah adalah orang tua sungguhan nya dan ibunya sudah tidak ada atau malah sebaliknya? Memikirkannya membuat Lyra frustrasi.
"Lyra, sebelumnya aku minta maaf." kata sang ibu, tidak, dia bukan ibunya lagi. Lyra tidak tahu harus memanggilnya apa sekarang, wanita itu bahkan sudah mengakui kalau dia bukanlah ibunya dan bagaimana mungkin Lyra akan terus memanggilnya ibu seperti biasa? "Aku memang bukan ibumu, kami bukan orang tua aslimu."
Lyra bisa melihat bahwa wanita itu juga ingin menangis, matanya sudah berkaca-kaca tetapi sepertinya dia menahan diri untuk menangis. Lyra penasaran sekali, apakah wanita itu benar-benar merasa sedih dengan semua ini.
"Ibumu percaya padaku," ujarnya. "sehingga dia menitipkan mu padaku. Aku membawamu pergi menjauh dari keluargamu yang lain karena mereka percaya satu hal, tentang pepatah leluhur yang mengatakan bahwa serigala kembar tidak dapat hidup bersama."
Kembar? Tunggu, apakah aku punya seorang kembaran? Batin Lyra.Entah bagaimana Lyra rasanya ingin mengumpat.
"Aku punya kembaran?" dia benar-benar syok.
"Ilusi kabut yang ku perlihatkan padamu adalah dirimu dan kembaran mu, Larry. Kalian adalah anak kembar yang diagungkan leluhur namun kalian memang harus dipisahkan." ucapnya yang semakin membuat Lyra frustrasi. "Kau pasti ingat cerita tentang penyihir yang mencoba merubah dirinya menjadi serigala itu, ya, itu adalah aku, Orance."
Lyra terdiam untuk beberapa lama, pikirannya sesak karena penuh dengan informasi baru dan pikiran yang lainnya. Setiap penyihir itu memberikannya informasi baru tentang Lyra dan hidupnya yang sebelumnya, pikiran-pikiran baru muncul juga sehingga tak satupun yang berhasil dia cerna dengan begitu baik. Namun, Lyra ingat, tentang penyihir itu, yang sang ayah ceritakan padanya. Ah, apakah dia juga akan memanggil pria itu dengan panggilan seperti itu lagi? Atau tidak akan menganggap mereka berdua lagi? Atau lebih parah meninggalkan mereka dan menjauh, untuk mencari orang tua aslinya dan kembarannya itu.
__ADS_1
"Kau pasti tahu dimana mereka tinggal, kan? Aku ingin bertemu mereka." tukas Lyra tak sabaran.
Orance menggeleng, "aku tidak bisa Lyra, itu terlalu berbahaya, penyihir jahat dan sekelompok serigala Exchanges terus berkeliaran di luaran sana. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi, maafkan aku." Katanya, suaranya terdengar putus asa.
Mata Lyra yang tadinya hampir kering oleh air mata, kini mulai basah kembali. Air mata yang keluar kali ini adalah air mata putus asa dan rasa-rasa yang tidak mengenakan lainnya. Dia sudah menimbun rasa kesal dan amarahnya, dia sudah tidak memikirkan tentang siapa mereka berdua ini lagi. Yang dirinya pikirkan hanyalah bagaimana dia akan bertemu orang tua aslinya. Dia sungguh ingin bertemu mereka, apakah mereka tidak ingin bertemu dengannya? Atau mereka memang tidak menginginkan dirinya meski itu hanyalah keputusan leluhur. Pikir Lyra yang berakhir membuat dirinya sendiri merasakan sakit pada dadanya.
"Satu hal yang aku ingin tahu, mengapa aku tidak boleh hidup bersama kembaran ku? Mengapa hal itu terdengar berbahaya?" Lyra mencoba mencari informasi lain, lagipula dia juga penasaran dengan alasannya.
"Yang kudengar, serigala kembar yang lahir pada bulan dimana Matahari transit antara tanggal 21 Mei dan 21 Juni akan menyatu dan salah satunya harus mengalah dan mati, tetapi mereka tidak mengatakan kapan itu terjadi." Orance terdiam untuk beberapa waktu lalu bibirnya bergerak kembali akan bicara. "aku sendiri kurang percaya akan hal itu mengingat anak kembar selalu ingin berdekatan. Namun, kembar laki-laki dan perempuan memang memiliki pantangan untuk bisa hidup bersama."
Lyra bergidik ngeri tetapi hal itu tidak menggoyahkannya sama sekali untuk bertemu mereka, dia benar-benar ingin bertemu dengan keluarganya.
Lyra tidak lagi ingin bicara kepada mereka untuk saat ini. Dia sudah kehabisan kata-kata yang mana itu sudah menumpuk di dalam kepalanya, bergelut dengan kenyataan-kenyataan pahit yang dia rasakan. Namun, hal itu cukup adil karena orang tuanya ingin mereka berdua tetap hidup, orang tuanya tidak berkeinginan untuk membunuh salah satu dari mereka berdua.
"Oh ya, Lyra, aku minta maaf lagi, tentang mimpimu, yang terus menghilang dari ingatanmu."
"Aku sudah menduganya, hanya saja tidak menyadari bahwa di sekelilingku tersimpan sihir yang menakutkan." ketusnya, dia agak kesal soal itu.
Dia pikir soal mimpi adalah privasi, tetapi Orance mengendalikan isi pikirannya. Hal itu menjengkelkan sekali menurutnya.
"Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya, tolong jangan ganggu aku sebelum aku memutuskan untuk bicara lagi dengan kalian, aku permisi." Ujar Lura sembari berjalan menuju tangga yang mengarah ke kamarnya, jemarinya sibuk membersihkan air mata yang merusak wajah bangun tidurnya beberapa waktu yang lalu.
Lihat, Lyra bahkan tidak lagi memanggil mereka ayah dan ibu, tidak lagi merasakan hal yang seperti biasanya dia rasakan. Namun, mengapa kedua orang tersebut baru mengatakannya sekarang? Apa karena kondisinya semakin tidak dapat terkendali oleh Orance sehingga sihirnya gagal menjauhinya dari rasa cemas dan khawatir yang kedatangannya selalu tiba-tiba dan membuatnya sendiri ingin jatuh pingsan secara terus-menerus. Dia pikir, batin seseorang yang memiliki kembaran memang sulit untuk dihindari.
Tibanya Lyra di kamar dengan keadaan jendela yang terbuka lebar, yang memperlihatkannya pemandangan yang tidak bosan-bosannya menemani pagi hingga tengah malamnya tanpa perubahan. Pepohonan rimbun dan beberapa pohon pinus menjulang tinggi di dua sisi yang berbeda seolah membentuk gerbang menuju dunia lain. Tak jauh dari sana, dia bisa mendengar riuh suara air laut dan bau asinnya. Deburan ombak melebur di tebing bebatuan curam yang licin penuh dengan lumut hijau yang terus tumbuh memenuhi permukaan bebatuan. Lebih jauh lagi beberapa mil, suara klakson kendaraan di pusat kota menyadarkannya bahwa memang, dunia ini sulit untuk diukur.
Lyra tenggelam dengan penampakan yang ada dihadapannya, membantunya sedikit lega dan bernapas teratur. Langkah Matahari tinggal beberapa kali lagi untuk meninggalkan bagian ini, juga meninggalkan berkas-berkas cahaya jingga yang lebih indah ketimbang kenyataan yang baru saja dia dengar dari si penyihir Orance. Lyra baru menyadari bahwa namanya secantik itu, seimbang dengan wajahnya yang rupawan tetapi tidak dengan pikirannya yang kurang waras mengingat dia ingin berubah menjadi serigala juga.
"Kau boleh membaca pikiranku yang ini dan mengendalikannya, Orance." gumam Lyra pelan, dia yakin Orance bisa mendengarnya, juga serigala itu.[]
__ADS_1