Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
55. Melepaskan Diri dari Ikatan


__ADS_3

Di tempat lain, diantara debu yang membuat sesak dan lampu remang dengan suasana agak gelap, seseorang terbangun dari tidurnya yang terlalu panjang.


Dia sadar kalau dia pingsan dan mendapati mimpi-mimpi aneh dalam beberapa waktu yang cukup lama, tetapi yang diingatnya hanyalah sebuah tempat lama dengan kepulan asap hitam mengelilinginya kemudian seseorang datang untuk menyelamatkannya. Dia tahu orang itu, dengan aroma tubuh yang khas, muncul dari kobaran api yang hampir melahapnya.


Kepalanya terasa berdenyut tiap kali mengingat mimpi-mimpi itu seolah seseorang baru saja menimpuk balok ke belakang kepalanya. Seperti intuisi, dia meraba bagian belakang kepalanya dan mendapati benjolan seukuran cangkir saat pesta teh. Wajar saja hal itu membuatnya tidak sadarkan diri, bukan karena sesuatu yang lain, melainkan seseorang dengan sengaja memukulnya dengan keras agar dia kehilangan kesadarannya. Akhirnya dia menyadari satu hal aneh lagi, saat dia mengangkat tangannya untuk meraba kepalanya, keduanya terangkat ke atas secara bersamaan dan itu karena kedua tangannya terikat kuat dengan tali kecil sewarna tanah yang berbulu.


"Sial! Apa-apaan benda ini!" umpat Sean, merasa kesal karena matanya menyadari kalau kakinya juga terikat dengan kencang. "Kep*rat!" umpatnya untuk kedua kalinya.


Sean menengok sekelilingnya, bangunan renyot yang akan hancur itu sudah pasti milik Carlos. Kemudian menerawang lebih jauh dengan mata serigalanya yang menyala, menampakkan sebuah tempat kotor dengan begitu banyak benda yang sering dibawa oleh Lyra, ampul yang berserakan dimana-mana. Sean belum mengerti mengapa benda itu sampai sebanyak itu dan menumpuk seperti sampah yang tidak berguna sama sekali.


"Aku penasaran dengan apa yang terjadi," gumamnya pelan, "selain karena aku berakhir di sini dalam keadaan yang menyedihkan begini." Sean berpikir keras, mencoba mengingat-ingat sesuatu yang mungkin bisa membantunya mengetahui sesuatu yang terjadi.


"Bukankah seharusnya aku bersama Lyra? Astaga!" Sean tidak berhenti mengumpat sejak awal, "ada apa sih sebenarnya! Apakah Lyra baik-baik saja? Ya ampun!" kemudian bergegas melepaskan ikatan yang kencang di tangannya.


Jika di film-film, adegan seperti ini sudah pasti menjadi salah satu adegan terbodoh yang pernah ditampilkan dilayar kaca, kenapa dia tidak dari awal mengubah dirinya menjadi serigala dan akan membuat ikatan itu putus dengan sendirinya? Karena pikirkan itu terbesit dalam kepalanya, dia mengubah dirinya menjadi serigala. Namun, ikatan di tangannya alih-alih kaki depannya masih belum berhasil putus, itu masih menjerat kedua kaki depannya dan membuat malah tidak bisa berbuat banyak.


Sial! Sean tidak habis pikir mengapa hal itu terjadi dan sangat memalukan meski tidak ada yang melihatnya.


Dia harus segera keluar dari sana bagaimana pun caranya dan menemui Lyra atau bahkan mencarinya, karena dia tidak bisa berpikir tentang hal yang baik-baik kalau keadaan dirinya sendiri sudah mengenaskan begitu. Setidaknya dia harus mendapati Lyra kembali ke dalam genggamannya, dia sungguh takut keadaan Lyra bahkan lebih buruk darinya dan sesuatu yang benar-benar dia takutkan kini melayang-layang dengan jelas dalam kepalanya.


Akhirnya Sean mencoba menggigit tali itu dengan giginya yang tajam-tajam agar bisa putus, kemudian menendang-nendang dengan kaki belakangnya untuk mendorong tali tersebut terlepas dari sana. Hasilnya nihil, dia masih kesulitan melepaskan tali itu dan kakinya terasa sakit. Mana mungkin dia dapat berjalan dengan menggunakan kaki belakangnya saja untuk menerobos rumah renyot itu.


Sean begitu merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang tidak bisa mencari jalan keluar dari derita yang rasanya tidak kunjung usai alih-alih terikat dengan tali yang begitu kencang. Karena sudah terlanjur melakukan hal-hal bodoh, Sean akhirnya merubah dirinya kembali menjadi manusia lagi yang mana membuat ikatan tersebut terasa agak sedikit longgar. Dengan gesit dia menarik salah satu tangannya untuk keluar dari sana meskipun harus merasakan sakit dan kulit yang memarah, itu bukan usaha yang sia-sia.


"Akan ku balas hal ini nanti!" tukasnya seraya membanting tali tersebut ke marmer yang sudah retak-retak dibawah kakinya.


Sean tidak mengindahkan kepalanya yang maaih sakit karena membengkak akibat pukulan itu, tetapi dia memikirkan Lyra dan bagaimana keadaannya. Ada rasa menyesal ketika dia meminta Rick turun dari mobil waktu itu, karena rasanya dia sama tidak bergunanya dengan pecundang. Jika saja dia tidak memperlihatkan rasa cemburunya meski Lyra tidak menangkap maksudnya itu, mungkin saat ini Lyra berada di tangan yang aman, setidaknya itu bisa menghilangkan rasa cemas yang dia timbulkan sendiri.

__ADS_1


Entah sejak kapan dia sudah berdiri di depan pintu rumah renyot dengan bau yang tidak sedap itu, telinganya tiba-tiba menangkap suara keributan disertai petir yang menyambar. Begitu cepat waktu berlalu, pikirnya, sampai dia bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi jauh di luar sana.


"Kalau aku bergegas keluar dari sini dan menghindari keributan itu, aku mungkin akan bertemu dengan sosok yang tidak memberiku rasa simpati sama sekali di awal aku tiba bersama Lyra di sini, tapi aku harus menemukan Lyra, aku harus berada di sampingnya, karena aku sudah berjanji padanya." Sean menggenggam tangannya ingin meninju pintu yang hampir akan roboh dihadapannya, tetapi dia ragu dengan langkah yang akan dia pilih.


"Astaga! Aku harus bagaimana!" Sean hampir berteriak karena merasa frustrasi, rasanya masalah tiada henti-hentinya menghampiri mereka berdua.


"Mungkin aku harus keluar dan bersembunyi dari siapa pun, seraya mengingat apa yang terjadi padaku, jika ingatan itu kembali." ujarnya pelan.


Lalu Sean mendorong pintu tersebut keluar yang mana menimbulkan bunyi derit yang nyaring, Sean terkejut sekaligus takut kalau-kalau keberadaannya diketahui orang lain dan orang itu akan melaporkannya kepada seseorang yang menculiknya atau bahkan lebih parah orang itu sendiri yang akan membuatnya tersungkur di tanah dan kembali terikat dengan menyedihkan. Namun, pikiran Sean rupanya hanya menakut-nakuti dirinya agar lebih waspada setiap mengambil langkah.


Sean tidak sadar kalau hari sudah malam tetapi keadaan langit begitu cerah dan banyak bintang, meskipun jalanan masih nampak basah dan rumput-rumput dipenuhi bulir air, dia yakin malam itu sangat tenang harusnya tetapi keadaan berkata lain, gemuruh sedang terjadi di suatu tempat yang tidak jauh dari keberadaannya. Setelah yakin bahwa dia akan ke arah sana sambil menengok kiri dan kanan secara bergantian, Sean merubah dirinya menjadi serigala.


Awalnya dia tidak yakin, tetapi semakin dia mendekat ke arah itu semakin dia penasaran dengan apa yang terjadi hingga pada akhirnya, suara Lyra masuk ke dalam kepalanya.


Mungkin Carlos menelan ramuan Onyx dan aku.. aku meminum kunci sihirnya tanpa sadar.


Sean mencoba menerobos semak-semak yang rasanya semakin tinggi dihadapannya dan membuat bulunya basah, dia hanya ingin menghampiri Lyra, hanya itu yang berkecamuk dalam kepalanya. Entah Lyra merasakan atau tidak, Sean tidak peduli tetapi yang pasti dia harus menemui perempuan itu dulu dan melindunginya.


Rick.. kepalaku, astaga! Kenapa sakit sekali!


Rick? Pikir Sean. Dia sedikit memelankan langkah kakinya kembali. Apa benar Rick di sana? Tanyanya lagi. Kemudian Sean mengumpat, Lyra sedang dalam bahaya, gerutunya dalam hati seraya kembali melangkah dengan gesit.


Instingnya berkata kalau tempat itu tidak jauh lagi bahkan beberapa aroma serigala yang lain mulai tercium, tetapi aroma tubuh Lyra yang paling kuat. Beberapa meter lagi dia akan sampai dan Sean berupaya sekuat tenaga untuk tiba lebih cepat dari yang seharusnya.


Pemandangan itu mengerikan, aura sosok yang berada di sebelah Lyra begitu menakutkan dan itu berhasil membuat merinding seorang manusia normal dan berlari menjauh. Sean tidak pernah melihat sosok itu tapi Lyra dan Rick berada di sana bersamanya, sementara sosok tua renta yang sudah termakan usia duduk tergeletak tidak berdaya dihadapan mereka sambil meraung kesakitan. Selain itu, ada serigala lain yang berada agak jauh dari mereka yang melongo melihat ke arah lain.


Aku.. aku tidak sanggup lagi, aku akan.. pingsan..

__ADS_1


Tubuh serigala Lyra yang sedikit lebih besar dari biasanya membuat Sean bertanya-tanya, apakah benar selama itu dia pergi sampai Lyra tumbuh dengan secepat itu. Namun, melihat tubuh Lyra yang ambruk begitu saja mendorong Sean untuk ikut ambruk juga di tanah basah tersebut.


Rick menahan tubuh Lyra sementara orang yang bersama mereka itu memegang mulutnya, meraba moncong serta matanya, berulang kali.


Sean..


Sean merasa terpanggil, dia mendapati Rick sedang melihatnya di seberang yang lumayan jauh dari keberadaan mereka.


Itu kau?


Sean hanya diam saja, matanya berbinar dengan pupil yang membesar. Dia ragu kalau air matanya akan keluar tapi dia tetap merasakan sakit yang tidak beralasan. Dia merasa seluruh tubuhnya ikut lemah melihat Lyra tersungkur tidak berdaya.


"Lyra masih bernapas, aliran darahnya, juga denyut nadinya stabil. Kunci sihir itu mungkin membuatnya kehilangan kesadaran untuk beberapa waktu, ditambah, dia terlalu banyak mengkonsumsi aroma sihir yang aku keluarkan." orang itu tersenyum dengan begitu terpaksa, "dia akan baik-baik saja." kemudian menatap mata Rick yang kuning menyala seperti pijaran lampu.


Sean menghela napas panjang, dia tahu bahwa dia yang menyebabkan Lyra dalam bahaya meski orang itu bilang kalau Lyra akan baik-baik saja. Andai saja dia menolak semua ajakan dan tidak mempercayai siapa pun kecuali Lyra, perempuan yang dia sayangi itu tidak akan mengalami hal buruk terus-menerus. Sean menyalahkan dirinya sendiri atas apa pun yang menimpa Lyra.


Maafkan aku, Rick.. ujarnya pelan.


Tobias yang melongo memperhatikan Valdes kabur menyadari sebuah suara asing yang masuk ke dalam kepalanya tersadar dan membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara. Dia melihat Sean dengan tatapan tajam seakan mengintimidasi, tapi akhirnya dia sadar kalau itu serigala yang mati-matian dicari oleh Lyra. Dia berkorban hingga sejauh ini hanya untuk menyelamatkannya.


Oh.. jadi kau orangnya? Beruntunglah kau! Tobias berjalan menghampiri Sean yang masih terduduk lemas di tempatnya. Kalau boleh ku beri saran, kau sebaiknya percaya padanya. Dia tidak akan mengkhianati temannya, sekalipun seseorang berusaha membuat kau menghilang dari ingatannya.


Menghilangkan aku? Tanya Sean, dia sama sekali tidak memahami maksud perkataan serigala asing itu.


Yeah, tentu saja kau tidak tahu apa-apa. Karena waktu itu, ku lihat kau sedang berbincang dengan seseorang yang nampaknya begitu akrab dengan mu di jalan utama. Apa kau mengingatnya? Itu bukan kesengajaan, tetapi Tobias mencoba untuk membuat Sean teringat dengan sesuatu, sekaligus mencaritahu apakah dia salah orang atau tidak.


Berbincang dengan seseorang yang nampak akrab denganku di jalan utama. Sean mengulang perkataan itu dan mencoba mengingatnya meski kepalanya masih sakit. Dia mereka ulang semua kejadian sebelum akhirnya dia sampai di sini.

__ADS_1


Aku ingat. sahutnya.[]


__ADS_2