Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
17. Kertas Kusam dan Kalung Pemberian Orance


__ADS_3

"Kau sudah gila Lyra! Apa yang kau lakukan sebenarnya? Dan, dan soal itu.." Sean tidak dapat melanjutkan perkataannya, dia seperti kehabisan kata-kata.


"Sean!" tukas Lyra, "aku akan mengatakannya padamu, sebaiknya kita kembali ke dalan mobil." dia berjalan ke mobil dengan perasaan yang bercampur aduk.


Sebenarnya, Lyra juga penasaran kenapa mereka malah berbalik dan pergi? Bukan menyerangnya atau Sean lebih dulu. Lalu apa maksud lelaki asing itu bilang bahwa Rick kecewa pada Alice? Astaga! Kepalanya rasanya akan pecah karena dia sudah cukup banyak menerima informasi baru yang dka dapatkan dalam beberapa waktu saja.


Lyra berasumsi bahwa Rick memang masih di Kota, dia masih di sini dan dia lah sosok yang berdiri di sana waktu itu. Bukan untuk berprasangka buruk kepada Rick, tetapi dia menyadari keganjilan itu akhirnya, Rick memang membuntuti mereka, tepatnya membuntuti Lyra, dan terus mengawasinya dari balik bayang-bayang. Dia jugalah sosok yang Lyra temui di hutan dekat klub golf gedung Cams ketika dia dalam perjalanan pulang bersama Kawanan Epile, dia ada dimana-mana.


"Kau masih bersamaku, Lyra? Hei!" Sean menyentuh pipi kanan Lyra berulang-ulang kali sampai akhirnya dia tersadar ternyata dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Maaf," sergahku," kepalanya rasanya pusing, ini pukul berapa sih?" tanyanya.


"Hampir pukul dua."


"Dan hampir setengah hari kau tidak tidur sama sekali?" tanyanya lagi.


Sean manggut-manggut di tempatnya, "sekarang jelaskan padaku." tuntut nya.


Lyra menghela napas panjang, dia bingung harus memulainya darimana. "Aku tak tahu harus dimana memulainya, tetapi aku yakin kau pasti mengerti. Kalau kau sempat berpikir dan menuduhku karena hampir saja akan ada pertarungan di antara kita yang pastinya kita akan kalah personil, dua lawan tiga tentu kita dalam masalah besar. Namun, syukurnya, mereka juga tidak ingin adanya pertarungan di antara kita. Aku mencurigai ada perselisihan di antara mereka dengan pasukan Exchanges lainnya karena di lihat dari pasukan itu tidak ada keberadaan Rick, yang mana hal itu akan sangat membuatku yakin bahwa dia lah sang Alpha pasukan Exchanges II ini.


"Sebenarnya semua perempuan itu mudah untuk ditebak jati dirinya, salah satunya dengan cara memancing emosinya. Namun, perempuan mana saja tidak akan pernah bicara untuk kedua kalinya kepada orang yang pernah memancing emosinya, kan? Jadi ku sarankan jangan lakukan itu bila kau menyukai perempuan." Lyra tertawa terbahak di depan wajah Sean yang membuatnya langsung cemberut.


Wajah Sean jengkel melihatnya, "kukira kau serius!" tukasnya kesal tapi Lyra tahu dia tidak sedang marah.


Dengan masih tertawa Lyra melanjutkan penjelasannya, "kau masih belum mengerti juga ya? Sudah ku bilang bahwa aku sejak bertemu mata dengan mereka di sekolah waktu itu, aku sudah mulai curiga. Dalam waktu yang singkat begitu ada murid yang seenaknya pindah sekolah atau apalah itu ke sekolah kita dimana kita sedang dalam akhir semester, ku rasa kepala sekolah tidak mau bersusah payah memerintahkan guru lainnya untuk merekap nilai yang hanya setengah, tidak logis, kau tahu."


"Ya, aku mengerti maksudmu, tapi tindakan mu yang sengaja mengejar dan bertemu Rick sampai membuat janji begitu, apa sebelumnya kau pikirkan?" sergah Sean.

__ADS_1


"Oh, waktu itu hanya ketidaksengajaan, pertemuan itu seolah menjadi takdir yang sebenarnya tidak ku harapkan sama sekali. Dan tentang pertemuan yang di dasari perjanjian itu, aku hanya sempat tergoda dengan wibawa lelaki itu, dia nampak baik dan bersungguh-sungguh dalam berkata jujur. Namun, setelah kepergiannya yang membuatku celaka saat itu, aku sadar, aku bahkan sedikit banyak ingat tentang isi kepalanya sebelum terbentur. Ah! Itu memalukan sekali." Lyra menghela napas panjang diikuti dengan Sean yang menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang sebelahnya.


Sean mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, membuat bantal sebagai sandaran kepalanya. Lyra yakin dia menahan kantuk yang menjelma seperti hantu.


"Kurang jelas sebetulnya waktu itu, tetapi aku yakin dia sedang bercakap dengan seseorang. Suara perempuan yang tidak lain adalah Alice si rambut merah aneh itu sebelum mendengar suara Qwentin, dia berkata 'aku segara ke sana' dan terdengar suara makian selanjutnya." dan lagi dia mengingat benturan keras itu, yang membuatnya pingsan dalam sekejap saja.


"Ku rasa, aku sudah mengerti dengan penjelasan itu. Tapi kenapa kau harus berpura-pura mengetahui semuanya padahal kau hanya mengada-ngada agar supaya mereka menunjukkannya sendiri." ujar Sean, matanya sudah tertutup entah sejak kapan. "Padahal kita bisa mengorek informasi lai.."


Cepat-cepat Lyra memotong pembicaraannya, "kalau saja mengorek informasi yang sangat rahasia semudah itu, ku rasa kita tidak perlu seorang detektif profesional dan profesi itu tidak lagi di minati banyak orang karena memang sudah tidak diperlukan." dia kembali tertawa dibuat Sean, kenapa anak itu tiba-tiba menjadi bodoh begitu? "Jangan menjadi bodoh begini, anjing peliharaan." Lyra mencoba menggodanya sampai Sean hanya membuka matanya dan menatapnya sinis.


"Mau kau apa kan itu?" tanya Sean sambil menuding ke arah kertas kusam yang sejak kehadiran serigala jadi-jadian itu terbengkalai di atas dashboard.


"Mungkin menatapnya sampai tertidur, lagipula apa yang bisa ku dapatkan dari kertas itu?" Lyra menariknya dari dashboard.


"Tunggu, aku seperti melihat sesuatu." sergah Sean dan memegang tangan Lyra yang memegang kertas tersebut. "Bagian ini tadinya menyala," dia menunjuk ibu jari tangan kiri Lyra. "aku serius." katanya lagi.


"Aku melihatnya," kata Lyra antusias. "Jelas sekali mereka sepertinya berhubungan."


Mungkin ini yang di maksud Orance bahwa Lyra akan membutuhkan keduanya suatu waktu. Ya Tuhan, dia sempat putus asa dengan kedua benda itu.


"Aku akan menebak cara kerja kedua benda ini dulu sebelum kita tertidur pulas." Sean menarik kertas tersebut darinya dan menerawang nya, mengangkatnya mengarah ke lampu jalan yang remang. "Tidak terlihat apa-apa sih, tapi.. Ah! Benar juga!" sergahnya yang membuat Lyra menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan ide-ide yang muncul dari pikiran Sean. "Coba kemari kan kalung mu."


Lyra mendekatinya, menunjukkan kalung itu padanya. Bahu Sean merosot seketika, wajahnya kembali jengkel melihat Lyra. Lyra hampir akan tertawa lagi.


"Kau bilang kemari kan, kau tidak bilang untuk melepasnya." ujarnya defensif. "Itu salahmu." katanya lagi.


"Benar juga, kau boleh bodoh sesekali." Sean mengangguk.

__ADS_1


Lyra melepaskan kalung tersebut dari lehernya, rasanya agak lebih ringan sedikit, entah mengapa. Lalu Sean menyambarnya tidak sabaran dan mengangkat mata kalung itu tepat ke arah cahaya remang lampu jalan dan menutupinya dengan kertas kusam itu dalam waktu yang bersamaan.


Tidak ada yang terjadi.


Dia menyengir, memperlihatkan gigi putihnya beserta taring serigala yang khas. "Akan ku coba lagi."


Dia melakukan hal yang sama tetapi kali ini kertas kusam itu yang berada di belakang mata kalungnya, dia mengangkat keduanya secara bersamaan lagi. Dan tidak ada yang terjadi.


"Sepertinya kau sedikit putus asa." goda Lyra, "biar ku coba mencari cara kerjanya. Kemari kan benda itu." dia menyambar kedua benda itu sebagaimana Sean melakukannya.


Saat Lyra menerima kertas itu di tangan kanannya tidak ada reaksi apa-apa. Namun, ketika kalung tersebut sudah berada di tangan kirinya, kedua benda itu langsung bercahaya bersamaan. Awalnya hanya kilatan kecil dari kedua benda tersebut, tetapi lama-kelamaan kilatan itu menyebar di atas kertas kusam tersebut. Kilatan yang muncul menimbulkan bekas seperti gosong di sana, lalu terbentuklah sebuah peta yang berukuran cukup besar dan muncul nama-nama tempatnya.


"Astaga! Ini benar-benar sihir Orance." akunya ketika selesai mengamati kertas itu bercahaya. "lalu kita dimana?"


Mata Lyra masih mencari letak keberadaan mereka di dalam peta seraya melihat-lihat nama tempat dan Kota sekaligus. Leicester, Nottingham, Sheffield, Leeds, dan masih banyak lainnya. Bahkan dia tidak menyadari kalau mereka sempat melewati London dan posisi mereka sekarang berada di Northampton.


"Kalau begitu pagi hari nanti, perjalanan ini akan kita lanjutkan, aku akan menyetir. Tapi untuk sekarang aku harus tidur dulu. Dan, sejak tadi mobil masih menderu tak karuan, tidak ada yang sadar dan berinisiatif untuk mematikannya. Sungguh luar biasa." ujar Sean tiba-tiba setelah dia menunjuk keberadaan mereka.


Padahal Lyra belum mengatakan mereka berada dimana, tapi Sean seolah dapat membaca pikirannya dan memutuskan seenaknya lalu memejamkan matanya sambil masih bergumam tentang hal yang tidak Lyra mengerti sama sekali.


Setelah Lyra membaca petanya dan mendapati nama Kota paling ujung, yaitu Wick, dia langsung yakin bahwa ke sana lah tujuan mereka, ke sana lah mereka harus pergi dan bertemu dengan keluarganya. Rasanya tidak sabar, tetapi sesuatu mengganggunya, apa yang akan dia katakan ketika bertemu dengan mereka di sana? Atau apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan langsung bertemu mereka ketika sampai di sana? Tapi kan, tempat itu besar, dia mana mungkin dalam sekejap bertemu mereka. Lyra bahkan tidak tahu nama kedua orang tuanya sendiri.


Astaga! Bagaimana mungkin dia lupa bertanya kepada Orance dan Orance juga lupa mengatakannya padanya? Lyra tidak mungkin kembali, kan? Menurut hitungannya, keberadaan mereka masih termasuk dekat dengan Porstmouth, tetapi dia mana mungkin akan kembali. Yang ada malah Veneris langsung menangkapnya dan dia tidak akan bisa kemana-mana lagi, kemudian nasib Sean akan dipenjara karena ketahuan tinggal bersama manusia yang mana tindakan itu beresiko sekali untuk semuanya.


Betapa bodohnya dia, tidak, dia dan Orance. Ini sedikit menyulitkan pencariannya sebenarnya, tapi mungkinkah dengan membawa nama Larry bersamanya, dia akan segera bertemu mereka? Lyra sedikit meragukannya tapi dia meyakinkan diri diam-diam.


Lyra mematikan mobil dan kesunyian seketika menemaninya sebelum dia ikut terlelap bersama Sean akhirnya.[]

__ADS_1


__ADS_2