
Dengan sedikit rasa kasihan yang berusaha dia tepis kan berulang kali, Lyra membiarkan Rick berada di bak mobilnya untuk sementara waktu. Meskipun mereka berdua sadar dia adalah bahaya yang selalu mengintai. Lyra berterus terang kalau ucapan Rick yang menginginkannya itu banyak artinya, dia tetap yakin kalau mereka, bukan, tetapi dirinya sendiri, dirinya sedang dalam bahaya.
"Lyra, tetaplah fokus!" seru Sean yang membuat Lura terus membayang-bayangkan wajah Rick tanpa sengaja.
Seruan demi seruan yang dia terima dari Sean tidak mengembalikan fokusnya sama sekali terhadap jalanan yang licin di hadapan mereka. Pikirannya kemana-mana tanpa berpusat ke satu titik, rasanya dia ingin membanting setir ke kanan lalu dengan sengaja menghantam pepohonan yang ada di pinggiran jalan. Dia ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya karena benci dengan keadaan itu kemudian membuka pintu dan melompat dari mobil walaupun pada akhirnya dia ketakutan sendirian dengan pikirannya yang terlewat mengada-ngada.
Entah sejak kapan beberapa serigala sudah menghalangi jalanan, warna mereka bermacam-macam tapi tidak ada yang berwarna putih seperti Ducis dan mirip dengan miliknya sama sekali. Lyra tidak dapat mendengar gerutuan Sean yang seiring laju mobil melambat semakin nyaring, atau dia memang kesal terhadap apa yang terjadi dengan mereka saat itu.
"Sial! Bahkan untuk bernapas saja rasanya sulit sekali!" dia meninju dashboard mobil dengan pukulan yang kuat sehingga Lyra bisa mendengar sedikit adanya retakan.
Lyra menggeleng, "kurasa aku harus menabrak mereka hidup-hidup."
Karena Lyra pikir, dia memang tidak bisa menghindar lagi dan juga tidak bisa memutar balik. Mereka benar-benar sudah menutupi ruas jalanan walaupun dalam keadaan kehujanan begitu.
"Lakukan apapun, aku setuju." ujar Sean yang kemudian melihat ke belakang untuk memastikan situasi.
Rick masih berdiri di sana, Lyra penasaran dengan apa yang dipikirkannya sampai-sampai mau berdiri di bawah lebatnya hujan seperti itu.
Ketika Lyra sudah yakin dengan keputusannya yang dipenuhi kekesalan yang membuncah sejak tadi, dia memejamkan mata sekilas seraya berdoa sekaligus meminta maaf karena mungkin dia akan membunuh salah satu dari mereka. Lyra benar-benar takut melakukannya tetapi mau tidak mau dia harus selamat sampai dia bertemu dengan orang tuanya, sebab itu adalah tujuan awalnya.
Sean dan Lyra terkejut secara bersamaan dengan mobil yang mengeluarkan bunyi yang nyaring, yang mana membuat Lyra membanting setir secara tidak sengaja ke kiri. Hal itu hampir membuat mereka masuk ke dalam hutan, dan kemudian dengan cepat dia membawa mobil kembali ke jalur sebelumnya, sementara itu Sean menyadari kalau mobil di tabrak sesuatu dari samping, dan mungkin dia tidak bisa melihatnya sehingga dia celingak-celinguk mencari ke sana kemari.
"Br*ngs*k!" dia terus menggerutu tak karuan karena kesal. "Aku harusnya bisa lebih cepat menyadari kalau peringatan Rick memang benar. Tapi aku sedikit bersyukur, dia berada di pihak yang sama." Sean menoleh ke belakang lalu menyunggingkan senyum sinis sekilas.
Butuh beberapa menit untuk Lyra menyaring maksud dari perkataan Sean dan dia langsung mengindahkan hal itu, kemudian kembali menaruh perhatian ke situasi yang sungguh tidak menyenangkan ini.
Dia berusaha semaksimal mungkin agar mobil tidak kembali oleng dan sesekali melirik kaca dalam mobil untuk memastikan Rick masih ada di sana. Namun, lagi-lagi tabrakan itu terjadi lagi, tetapi kali ini Lyra bisa melihat sesuatu yang menabrak mobilnya. Itu adalah seekor serigala dengan telinga panjang yang tidak seperti biasanya, matanya merah menyala seperti monster meskipun warna bulunya dominan hitam. Lyra bersumpah kalau serigala itu sedang menyeringai kepadanya, menampakkan giginya yang tajam, bahkan tatapannya yang benar-benar mengerikan itu membuat dadanya terasa terhujam, seperti pedang yang menghunus tubuhnya begitu kuat. Lyra merasa sesak dalam hitungan detik setelahnya, rasanya dia memang akan mati saat itu juga.
"Sean, aku.." lirihnya, dia memegang dadanya sendiri. "Rasanya sakit sekali." gumamnya pelan berharap Sean mendengar itu.
__ADS_1
Sean bergerak ke kabin belakang lalu Lyra mendengar dia menggedor-gedor kacanya kuat, mungkin memanggil Rick. "Aku harus bertukar tempat duduk dengan Lyra, tolong bantu aku!" teriak Sean kepada Rick.
Diam-diam Lyra berharap Rick akan membantu sepenuh hati.
Beberapa serigala yang tadinya menghalangi jalan kini sudah berlari mengiringi mobilnya bersama dengan serigala bermata merah itu. Tanpa ragu, Rick langsung melompat ke arah mereka seraya mengubah dirinya menjadi serigala Amerika yang Lyra temui untuk pertama kalinya, dia kemudian menggigit leher salah satu dari mereka dan langsung tumbang bersamaan. Sementara itu yang lainnya berusaha untuk membantu temannya, mungkin untuk mengeroyoki Rick bersama-sama agar dia tidak bisa lagi menjaga Lyra dan Sean yang ada di dalam mobil.
Tetapi Sean langsung meminta Lyra untuk bergeser, berpindah posisi, meskipun peluang untuk berhasilnya kecil, tetapi mereka akan tetap melakukannya. Mungkin itu satu-satunya cara agar rasa sakit yang dia terima agak sedikit mereda.
"Kurasa itu akan membunuh Rick." sergah Lyra ketika Sean sudah memegang setir, agar mobil tetap pada jalur.
"Kau masih peduli padanya." tukasnya.
Lyra terdiam karena hal itu, Lyra sebenarnya bukan peduli padanya. Tetapi ya tentu saja, dia sudah mau berada di pihak mereka entah dengan alasan apa dia melakukannya, tetapi kehadirannya itu sudah cukup membantu. Lyra bahkan tidak kepikiran perihal rasa peduli atau rasa cemas, dia hanya kasihan.
Sebelum Lyra benar-benar menarik kakinya dari pedal gas, mobil goyah karena di tabrak serigala. Salah satu dari mereka bahkan sudah naik di bak mobil tanpa mengindahkan kecepatannya. Mereka rupanya tahu kalau Lyra dan Sean akan berpindah posisi dan mungkin mereka pikir itu adalah kesempatannya, sedangkan Rick hanya sebagai umpan.
"Kita akan tergelincir!" teriak Lyra yang membuat Sean ikut panik juga. "Kalau saja nanti kita gagal, aku benar-benar minta maaf."
Mobil langsung oleng karena tabrakan beruntun dari serigala tersebut, bahkan untuk memijak rem pun Lyra sangat ragu. Tetapi Sean memaksa dirinya agar bisa memijak rem dengan posisi tubuh mereka yang saling terhimpit satu sama lain, dia tidak bisa membayangkan posisi yang kapan saja bisa membuat mereka berdua celaka itu, tetapi dengan yakin Lyra mencoba membawa dirinya berpindah dari kursi pengemudi ke kursi penumpang. Tanpa dia sadari bahwa kaki kirinya tersangkut di antara dashboard dan kaki Sean yang mana membuat dia terkunci, tidak bisa bergerak.
"Bagaimana ini!" serunya sambil berusaha mengeluarkan kakinya. "Kalau kau menarik kakimu, bisa-bisa setirnya oleng dan membawa kita masuk ke dalam hutan.
Tetapi sebelum semua itu terjadi, mobil lebih dulu oleng dan Sean tidak bisa mengendalikan setirnya. Dengan terpaksa Lyra memijak remnya yang membuat mobil tergelincir, mobil sontak berputar 180 derajat. Dimana pemandangan mengerikan itu begitu jelas tertangkap oleh matanya, Rick sudah terbaring di aspal dengan tubuh yang basah kuyup. Entah intuisi dari mana seolah memerintahkannya untuk keluar dari mobil dan menghampiri Rick yang sudah terkulai.
Padahal situasi saat itu membuat mereka hampir celaka dan mati, tetapi menyadari bahwa Rick sudah mau mengorbankan dirinya, Lyra merasa bersalah tanpa takut akan apapun. Walau dia mengakui kalau rasa sesak di dalam dadanya masih menjelma.
Tanpa diminta Sean sudah kembali ke posisi semula dan dengan keadaan mobil yang terbalik itu, Lyra langsung membuka pintunya, berharap tidak ada mobil yang lalu lalang kemudian menabraknya dan dia memang mati setelahnya.
"Jangan khawatir." kata Lyra sekilas lalu dan akhirnya dia meninggalkan Sean di dalam mobil.
__ADS_1
Hujan mengguyur tubuhnya secara langsung setelah dia menutup pintu mobil, membuat beberapa rambutnya yang basah menutupi mata. Sejak itu hujan tidak kunjung reda dan malah bertambah lebat tanpa perhitungan. Lyra maju ke depan mobil, berdiri di sana memperhatikan mereka yang juga berbalik memperhatikannya.
"Aku tidak tahu apa mau kalian, tapi biarkan aku menyelamatkannya lebih dulu." Lyra berteriak sekencang-kencangnya, itu membuat air hujan masuk ke dalam mulutnya.
Namun, tak ada reaksi apapun dari mereka semua. Lalu Lyra memutuskan untuk melangkah maju, menghampiri tubuh Rick. Langkah demi langkah sampai pada akhirnya dia berada di hadapan mereka semua, salah satu dari mereka menyingkir dan membiarkannya melewati mereka. Aneh bukan? Lyra bahkan tidak yakin kalau setelah itu dia akan baik-baik saja.
Saat melihat tubuh Rick yang basah kuyup dengan luka di kaki depannya, entah kenapa hatinya rasanya hancur seketika. Kakinya lemas untuk melangkah mendekat ke arah Rick tetapi sesuatu membuatnya bangkit kembali, itu suara Sean yang berteriak kepadanya. Lyra menoleh kebelakang dan mendapati mata merah menyala di hadapannya, lebih tinggi beberapa senti dari tinggi tubuhnya. Napasnya melewati setiap ruas wajah Lyra dan membuat Lyra bergidik ngeri, jantungnya berdegup bukan main, rasa sesak bahkan semakin menjadi-jadi. Dia menyeringai kembali, menunjukkan kembali gigi-giginya yang tajam. Saat itulah Lyra rebah, pertahanannya runtuh begitu saja, dia sudah berlutut.
Yang ada dalam pikirannya hanya, dia akan mati, bahkan kata itu muncul begitu jelas seperti teriakan Sean yang semakin kencang. Lyra tak tahu apa yang harus dia lakukan kecuali pasrah dengan situasinya.
Aku akan mati di sini semudah ini. Lyra membatin.
"Lyra," Lyra mendengar suara itu, rintihan itu. "Jangan tundukan kepalamu itu." katanya lagi, Lyra tahu itu Rick, rupanya dia sudah kembali dalam bentuk manusia.
Dia bukan menundukkan kepalanya, tetapi matanya terlalu menakutkan untuk dilihat.
"Dia tidak se-mengerikan itu," Rick tertawa pelan kemudian dia terbatuk-batuk. "Dia hanya mencoba menakuti mu."
Lyra kembali merasakan napas serigala bermata merah itu, dia mendekati wajahnya lagi ke hadapan Lyra. Kali ini Lyra bisa merasakan darahnya berdesir di bawah kulit, dia kembali bergidik tetapi kali ini dia mengangkat kepalanya, mencoba memberanikan diri untuk melihatnya, se-menakutkan apapun dia, dia tetap sama dengan Lyra.
Rasanya memang hampir mati, berada di tengah-tengah perkumpulan serigala asing yang datang kemari untuk menghancurkan wilayah mereka—mungkin, yang mana sekarang Lyra setuju jika mereka membumi hanguskan wilayah itu dengan harapan Orance dan Peal bisa selamat.
"Aku tidak takut padamu." tukasnya, membalas tatapan serigala itu dengan dingin.
Seolah muncul suar dari dalam kepalanya, menyuruhnya berubah bentuk seperti mereka semua. Tiba-tiba Lyra bangkit dan mundur beberapa langkah tanpa memalingkan penglihatannya dari si mata merah itu. Dia menggeram kepadanya lalu memaksakan diri untuk berubah tanpa berpikir kalau dia akan merobek bajunya sendiri.
Lyra yakin Sean bisa melihatnya, bahkan dia mendengar suara Sean dalam kepalanya.
Kau berhasil membuat mereka mundur, akunya. tapi untuk saat ini hajar mereka secepatnya. Aku takut manusia akan melihat kita. Sean rupanya sudah lebih dulu bertarung dengan beberapa serigala berbulu hitam, sama dengan miliknya.
__ADS_1
Dengan percaya diri Lyra melompat dan mencoba mencakar si mata merah itu, dia tidak menghindari cakaran yang Lyra daratkan tetapi hanya mundur satu langkah, kemudian dia meringis kesakitan, rupanya serangan Lyra tepat sasaran. Hal itu mendorong Lyra untuk melakukannya lagi walau itu untuk pertama kalinya dalam hidupnya.[]