Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
57. Patah Hati Tanpa Alasan yang Pasti


__ADS_3

Lyra membuka matanya setelah sekian lama bermimpi tentang rasa sakit yang dialami Luo Qing, juga kisah bejat Valdes selama bertahun-tahun. Meski dia merasa tubuhnya lebih ringan dan lebih segar dari biasanya, Lyra tetap tidak yakin kalau ampul itu berefek padanya. Jika memang benar, dia sedikit bersyukur diberi kesempatan hidup lebih lama atau kekuatan untuk bertahan hidup lebih panjang.


Semua orang tertidur pulas di tiap kursi yang ada dihadapannya dan dia terkejut melihat sosok lain yang pernah dia lihat, dia bergerak ke arah orang itu, mencoba menggapainya untuk memastikan kalau orang itu benar berada di sana bersamanya saat itu.


Ujung jemarinya berhasil menyentuh puncak kepala orang itu dan orang itu menggeliat seakan tahu kalau seseorang sedang menyentuhnya. Perasaan Lyra campur aduk, dia senang sosok lain itu akhirnya kembali. Dia ingat sosok itu bernama Sean, tapi dia tidak mengerti mengapa dia merasa begitu dekat dengan orang itu. Atau sihir itu belum juga hilang?


"Ah, Lyra, kau sudah sadar." suara itu mengejutkannya dari belakang.


Saat dia berbalik untuk melihat, ternyata Luo Qing sudah terbangun juga dari tidurnya. Dia mengusap salah satu matanya lalu menatap Lyra dengan tatapan penuh tanya.


"Kau baik-baik saja, kan? Kau tidak merasakan sensasi yang aneh, kan? Atau kau menjadi lupa dengan ku juga?"


Rentetan pertanyaan itu membuat Lyra agak pusing dan memegang kepalanya, dia berupaya mengingat kejadian-kejadian yang sempat dia lalui. Sampai pada akhirnya dia sadar kalau dia pingsan sungguhan, bukan karena aroma sihir yang sudah menumpuk di dalam tubuhnya.


"Aku baik-baik saja, terimakasih Luo Qing. Tapi aku merasa lebih ringan seolah terlahir kembali." balas Lyra, "apa yang terjadi setelah aku pingsan?" tanyanya.


"Um.. itu.." Luo Qing memejamkan matanya beberapa detik kemudian melihat ke arah Sean yang terbaring. "Teman mu, teman mu itu datang ke halaman dengan wujud serigalanya. Aku tidak habis pikir kalau dia berhasil membuka ikatannya padahal itu sangat kuat. Dan, Lyra.. eh.."


Lyra menatap Luo Qing dengan tatapan menyelidik, alisnya bertaut.


"Aku, aku minta maaf, karena aku tidak mengatakannya sejak awal kalau Carlos meminta ku untuk melumpuhkan ingatanmu tentang teman mu itu." Luo Qing memasang wajah bersalah, seperti hewan peliharaan yang sedang dimarahi.


"Kalau kau melakukannya dengan sengaja, kau mungkin tidak akan pernah menjadi penyihir seperti beberapa waktu lalu. Namun, karena kau sedang dalam kendali Carlos, semuanya termaafkan." kemudian Lyra tersenyum lebar untuk memastikan kalau hal itu tidak lagi membuatnya marah, "tapi, omong-omong, kau bisa mengembalikannya, kan?"


Luo Qing tersenyum sangat lebar, menampakkan giginya yang putih. Matanya yang menyipit membuat Lyra tidak tahan untuk tidak tertawa. "Beruntungnya, sihir itu akan hancur jika kalian saling dipertemukan. Aku tidak membuat sihir yang memberatkan siapa pun, kok. Lagi pula, sihir itu hanya salah satu uji coba ku yang berhasil." jelasnya, "mungkin saat teman mu itu terbangun, memori tentang dirinya akan muncul dalam kepala mu."


"Terima kasih, Luo Qing."


Akhirnya, ketika Lyra bercerita tentang penglihatannya akibat dari terlalu banyak menyerap aroma sihir yang dikeluarkan Luo Qing waktu itu, dua teman mereka yang lainnya terbangun karena Lyra terlalu berisik. Rick yang memang tidak tidur, sudah sejak awal menyadari kalau Lyra sudah siuman, dia sejak awal hanya mencoba untuk tidur tapi tidak berhasil.


Tobias dan Sean saling bertatapan satu sama lain karena menyadari kalau Lyra begitu asik bercerita dengan Luo Qing hingga tidak tahu kalau temannya sudah terbangun karenanya. Mereka mencoba untuk mendengarkan kisah itu juga sampai pada akhirnya Luo Qing melihat ada pergerakan disudut matanya lalu menoleh ke arah Tobias dan Sean berada, itu membuat Lyra berhenti bicara dan ikut melihat ke arah yang sama. Mata Sean dan Lyra tidak sengaja bertemu dan Lyra tiba-tiba mendapatkan serangan aneh seperti asap abu-abu yang menembus matanya.

__ADS_1


Seketika, citra Sean muncul di dalam kepalanya dan sepintas kejadian-kejadian yang dia lalui bersama Sean muncul kembali. Sean adalah teman terbaik yang pernah Lyra miliki.


"Lyra.." panggil Sean untuk menyadarkannya yang melongo.


Perempuan itu langsung bangkit dari kursinya dan sedikit berlari untuk menggapai Sean, memeluk temannya itu di depan banyak orang tanpa rasa ragu atau berpikir tentang perasaan Rick jika dia melihat hal itu. Namun, Rick yang sudah melihat semuanya sejak awal hanya tersenyum simpul. Dia ikut bahagia melihat Lyra sebahagia itu.


"Ku pikir aku tidak akan melihat mu lagi." gumam Lyra, meski pelan, semua orang mendengarnya. "aku sudah berusaha untuk bertahan, tapi aku tidak bisa lagi membiarkannya mengelabui mu lebih jauh. Maafkan aku."


Sean yang memeluk Lyra dengan lembut, seakan tidak ingin melepaskannya lagi, merasakan jantungnya tidak bekerja dengan baik karena degupnya terlalu cepat. "Aku yang minta maaf karena tidak percaya padamu." dia sangat sedih dan menyesal, tetapi dia tidak ingin mengutarakannya di depan banyak orang.


Saat Lyra melepaskan pelukannya dari Sean, Sean agak merasa sedih karena Lyra melepaskannya terlalu cepat. Padahal, dia ingin lebih lama berada lama situasi seperti itu. Karena tidak akan ada seorang pun yang bisa melarangnya sebab dia dan Lyra terpisah cukup lama, ditambah Lyra kehilangan ingatan tentang dirinya.


Entah apa yang membuat Rick begitu tenang dan sabar menunggu giliran untuk disapa oleh kekasih hatinya itu, tapi yang pasti dia bahagia akhirnya Lyra baik-baik saja. Perempuan itu terlihat lebih segar dan ceria, seakan semua beban yang berada di pundaknya hilang begitu saja. Rick masih tersenyum di saat Lyra menghampirinya dan saat perempuan itu menarik tangannya kemudian mengatakan terima kasih atas semuanya, Rick tidak tahan untuk memeluknya. Mau tak mau, Rick hanya membalas anggukan seraya mengelus tangan Lyra yang masih saja nampak pucat.


"Jadi bagaimana rencana kita selanjutnya?" Tobias memecahkan keheningan.


"Sepertinya kita harus mengembalikan Luo Qing ke Flos Orbis secepatnya." balas Lyra, mereka sudah duduk melingkar di kursi bungker Luo Qing yang usang. "karena jika tidak bergerak cepat, bisa jadi Luo Qing menjadi incaran Valdes selanjutnya."


Sean yang kurang paham hanya diam mendengarkan, sementara Rick yang sejak tadi bersandar di kursi seraya melihat Lyra dengan tatapan orang yang sedang kasmaran membuat Sean agak kesal. Perasaan cemburunya kembali datang tanpa di undang hingga akhirnya Sean terlepas kendali.


Semua mata tertuju padanya dan Sean merasa dihakimi sejurus kemudian oleh mereka, dia terdiam mematung tak berkutik. Dia bahkan tidak percaya kalau dia sudah mengatakan hal itu.


"Hei, bung! Tenanglah, tidak ada salahnya seorang pacar melihat pacarnya sendiri seperti itu." sahut Tobias menjadi penengah alih-alih menghindari keributan.


Mata Sean seketika melirik kepada Rick yang sejak tadi membuatnya kesal, dia tidak ingin mempercayai hal itu tetapi rasanya memang ada yang ganjil sejak tadi, bahkan menyadari tatapan Lyra pada Rick yang penuh kasih beberapa waktu lalu. Apa mereka sungguh pacaran? Ucap Sean dalam hati.


"Maaf." ujar Rick pelan kemudian duduk tegak dan menaruh kedua tangannya di atas masing-masing kakinya dan menunduk. Dia tidak peduli dengan celotehan Tobias tentang itu karena dia tidak ingin merusak suasana, Rick memilih untuk mengalah seraya menunggu reaksi Lyra.


"Kau seharusnya berterima kasih padanya," celetuk Lyra ditengah-tengah kecanggungan semua orang. "jika bukan karena bantuannya, aku tidak akan selamat." katanya lagi, Lyra agak marah tapi dia berusaha menahannya.


"Tapi, dia tidak seharusnya begitu, kan?"

__ADS_1


"Aku tidak ingin menyalahkan mu atas semuanya, tapi kau malah meminta ku untuk melakukannya. Tidak bisa kah kau bersikap normal dan tidak melakukan hal itu lagi untuk selanjutnya?"


Wajah Sean seketika pias, dia merasakan ada seseorang yang sudah menghantam hatinya dengan godam hingga remuk. Apa mungkin itu yang disebut patah hati? Tapi Sean berusaha untuk tidak jatuh cinta pada Lyra dan sudah berjanji kalau mereka sebaiknya berteman sampai kapan pun karena akan merusak pertemanan yang sudah lama terjalin. Namun, lagi-lagi dia merasakan dadanya sesak, tidak begitu yakin dengan alasannya.


"Kami sudah berpacaran." sela Rick, kemudian menghela napas, "dan Lyra tidak akan pernah mengatakannya pada mu karena mungkin dia tidak ingin melukai perasaan mu. Tapi jika aku yang mengatakannya, itu artinya kau tidak boleh merasakan sakit hati kepada Lyra. Lagi pula, aku memang memaksanya untuk berpacaran dengan ku."


Sean mendengus, "kalau begitu, selamat." ujarnya. "Aku senang mendengar kalau teman ku sudah besar, dan bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Aku hanya ingin berpesan, tolong jangan merusak hatinya."  Sean kemudian meninggalkan ruangan tersebut dengan berjalan memasuki sebuah ruangan lain yang seperti tidak berpenghuni.


Lyra yang tidak tahu akan mengatakan apa hanya terdiam seraya melirik Rick sesekali, dia sedikit merasa bersalah karena mungkin sudah melukai perasaan Sean. Namun, bagaimana pun juga, suatu waktu hubungan mereka akan diketahui juga oleh Sean siap tidak siap.


"Apa setelah ini kau masih ingin bersama ku?" tanya Rick pelan, tanpa melihat Lyra sekalipun. Dia begitu tenang dan santai menghadapi semuanya, Lyra begitu iri.


Lyra menggeleng, "maafkan aku," sahutnya, "seharusnya aku memberi Sean pengertian tentang hubungan ini."


Rick tidak bereaksi, dia hanya memainkan jemarinya. Dia menyesal mengatakan hal itu kepada Sean secara terang-terangan agar Lyra tidak terlalu memikirkannya, tapi yang dia lakukan malah membuat Lyra terus menyalahkan dirinya sendiri.


"Rick.."


Rick membuang wajahnya alih-alih menghindari tatapan Lyra yang mungkin akan menyayat hatinya.


"Kau.. kau berani menghindari tatapan ku?"


"Lyra, tenang lah." Tobias mencoba menenangkan.


"Tidak, Rick, kau harus melihatku!" seru Lyra setengah berteriak.


Rick yang melihat ada sesuatu yang jatuh di lantai langsung menarik tangan Lyra ke arahnya agar dia bisa memeluk perempuan itu. Lyra sudah menangis di tempatnya dan Rick tidak bisa melihatnya secara langsung, hatinya kini tidak lagi sekuat baja ketika menemukan Lyra tidak berdaya seperti sekarang ini. Dia mungkin bingung dan panik setengah mati harus bersikap bagaimana selanjutnya kepada Sean, Rick tahu kalau itu yang sedang menggangu pikirannya.


"Jika berat untuk mu dan malah membuat kau dan Sean sedikit renggang, kau bisa memutuskannya sekarang. Aku akan turuti pilihanmu." kata Rick pelan, penuh kelembutan.


Lyra bisa merasakan Rick tersenyum ketika mengatakan hal itu, karena dia akan terus bersikap tenang. Bahkan saat akan kehilangan sesuatu yang sedang dia genggam, Rick tetap bisa membawa dirinya untuk tidak bertindak seenaknya. Dia bahkan tidak langsung meninggalkan Lyra sendirian di sana tapi malah memeluknya untuk sekedar membuatnya tenang.

__ADS_1


"Aku butuh keduanya dan aku juga tidak bisa kehilangan keduanya. Aku tahu, aku memang egois.." gerutu Lyra sambil terisak, "dan aku tidak akan meninggalkan mu."


Tobias dan Luo Qing yang berada di sana seakan tidak pernah ada, tetapi mereka tahu situasinya dan inilah bagian tersulit dari memiliki pasangan, terlalu banyak drama yang akan ditemukan, salah satunya patah hati.[]


__ADS_2