Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
16. Kehadiran yang Tidak Disangka


__ADS_3

Rupanya Lyra tertidur entah untuk beberapa waktu lamanya, sedangkan Sean tengah mengunyah sesuatu sambil bernyanyi mengikuti alunan musik dari earphone yang terpasang di telinganya.


"Kau tidak tidur sama sekali?" tanya Lyra.


Sean tidak merespon, dia masih menggerak-gerakkan badannya karena begitu asik dengan musik yang mengalun. Lyra merasa Sean tidak mendengarnya, juga tidak menyadari kalau dia sudah bangun.


Lyra kemudian mengacuhkan Sean dan memeriksa tas ransel miliknya, dia mengambil kertas yang diberikan Orance padanya, menatap nanar ke arah kertas kusam yang kosong itu. Dia benar-benar tidak percaya kenapa Orance memberikan barang-barang seperti itu padanya yang mana dia sendiri bahkan tidak tahu untuk apa.


Mereka menepi di salah satu ruko pinggir jalan yang kosong karena hari mulai menjelang malam kala itu. Sepanjang jalan sejak kejadian itu, Sean membungkam mulutnya dan tidak melihat Lyra sama sekali. Lyra sempat berpikir kalau Sean kecewa padanya karena dia sudah mengacaukan aksinya yang penuh lelucon jaman dulu, meskipun usianya baru tujuh belas tahun.


Sebelum benar-benar memutuskan untuk tidur dan beristirahat di mobil, Lyra sempat beradu argumen dengan otaknya sendiri. Bagaimana menjelaskan hal ganjil yang terjadi padanya pagi itu kepada Sean, bagaimana dia seharusnya meyakinkan Sean kalau dia memang melihat Rick yang seperti mayat hidup itu seraya menatapnya dan seakan menertawakannya dengan begitu sinis. Lyra bersumpah, setiap kali dia mengingat Rick, dia benar-benar merinding dan penasaran dengan apa yang dilakukan Rick di sana waktu itu. Apakah dia sudah mati dan menjadi hantu lalu menghantuinya? Atau mungkin dia memang sudah mati? Lyra bergidik sekali lagi dan hal itu malah berhasil membuat Sean menoleh ke arahnya.


Sean menautkan kedua alisnya dengan sengaja sepertinya, lalu tangannya bergerak untuk melepaskan kedua earphone nya, "ada apa denganmu?"


Lyra membawa wajahnya ke depan, memandang lampu jalan dengan cahaya remang-remang. Dia menghembuskan napas panjang, "maafkan aku." lirihnya pelan.


"Untuk apa?"


"Aku tidak tahu," Lyra langsung membalas tanpa jeda di antara pertanyaan itu. "kupikir, aku mengacaukan aksimu."


Sean terkekeh, "harusnya itu aku, karena terlalu lama meninggalkanmu sendirian di sana waktu itu, dan mendiamkan mu sepanjang perjalanan tadi."


Lyra menimbang-nimbang akan mengatakan apa selanjutnya karena dia dan Sean sudah saling meminta maaf walaupun tidak ada kata 'aku memaafkan mu' di setiap kata yang mereka ucapkan. Kalau saja dengan orang lain Lyra berbicara seperti itu, ada kemungkinan mereka hanya akan mengatakan 'tidak apa-apa' atau sesuatu yang lain yang terdengar agak meyakinkan.


"Aku melihat Rick." tukasnya akhirnya dengan suara yang dia rasa sudah sangat jelas dan membuat Sean bereaksi dengan aneh.


"Kau melihat Rick? Dimana?"


"Tempat pemberhentian pertama." jawabnya, "dia terlihat menertawakan ku dengan begitu sinis."


Sean menarik wajah Lyra agar menghadap ke arahnya, "tapi kau tidak apa-apa 'kan?"


Lyra menggeleng, "aku takut."


"Aku benar-benar minta maaf, Lyra, jika saja aku tidak meninggalkanmu, kau tidak akan merasakan takut seperti ini."

__ADS_1


"Wajahnya seperti mayat hidup, kau tahu? Dia mengingatkan ku akan hal-hal mengerikan yang pernah ku alami selama hidup ku." tukas Lyra dengan suara gemetar hampir seperti akan menangis.


Benar, Rick seakan-akan sudah memanggil hal-hal mengerikan itu ke dalam hidupnya lagi, dia berhasil melakukannya. Rick mengingatkannya tentang semua hal yang menyeramkan dalam hidupnya dan dia semakin bergetar ketakutan. Lyra tidak sadar kalau dia sudah meneteskan air mata.


Sean dengan sigap menghapusnya sebelum jatuh dari pipi dan membasahi kertas pemberian Orance, dia langsung menarik Lyra ke dalam pelukannya. Lyra bisa mencium aroma tubuh laki-laki itu dan dia merasa nyaman berada di sana, dia berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan merusak pertemanan yang sudah mereka bangun cukup lama itu. Sejujurnya, Lyra memang tidak memiliki rasa seperti yang dia rasakan saat bersama Rick, jantungnya lebih berdetak ketika Rick berada di sampingnya. Lyra tak tahu alasan di baliknya dan terus mencoba menepis perasaan yang kian datang menghampiri.


"Terima kasih," ujar Lyra dengan suara gemetar, "aku tidak tahu harus melakukan apa selain memanggilmu, aku benar-benar ketakutan."


"Jangan pikirkan lagi, sekarang, aku sudah tahu, selanjutnya aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku hanya ingin kau aman dan aku sudah berjanji."


Lyra menarik diri dari pelukan Sean mendengar dia berkata seperti itu. "apakah hanya karena janji itu kau ingin melindungi ku?" tanyanya.


"Tidak, maksudku, bukan begitu. Kau sudah seperti adik ku sendiri Lyra, sudah pasti aku akan melindungi mu dengan atau tidak dengan janji itu." balas Sean seolah merasa sangat bersalah, raut wajahnya berubah-ubah tidak jelas.


"Ya, aku tahu, lagipula kau tidak ada hubungannya dengan perjalanan ini." Lyra kemudian menunduk untuk melihat-lihat kertas kusam itu lagi.


"Lyra." panggilnya.


Dia mengangkat kepalanya menghadap Sean yang tadinya tertunduk juga, Lyra dapati Sean sedang melihat sesuatu dan menunjukkannya padanya.


Lyra mau tak mau turun dari mobil dan mengindahkan teriakkan Sean yang mencoba menghentikannya berulang kali. Dengan bekal keberanian dan tekad yang kuat Lyra melangkah maju ke depan mobil yang mesinnya menderu-deru. Dia melihat penampakan itu dengan tajam, Lyra langsung tahu siapa mereka.


"Apa yang kau inginkan?" teriaknya dengan amarah yang membuncah meskipun mata dan hidungnya terasa membengkak sehabis menangis tadi.


Sean menyerah dan menyusul Lyra pada akhirnya ke depan mobil, "kau tahu mereka?" bisik Sean pelan padanya.


Lyra mengangguk dengan percaya diri sebagai balasan, "aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mu dan Rick, rambut merah." tukasnya. "tolong jangan ikuti aku kemanapun."


Si rambut merah, yang mengaku sebagai pacarnya Rick, melangkah maju dari kegelapan, memperlihatkan dirinya di hadapan Lyra dan Sean.


"Nyali mu besar juga ya, bocah kelabu. Pantas saja Rick suka padamu." dia tertawa pelan diakhir katanya.


"Oh, jadi kau si kelabu yang pernah diceritakan Rick waktu itu. Perkenalkan, aku Tobias, kau Lyra." lelaki itu menjabat tangannya sendiri.


Lyra tidak habis pikir dengan apa yang laki-laki itu lakukan, dia seakan-akan merendahkannya, tidak, dia mengejeknya lebih tepatnya.

__ADS_1


"Kau terkejut kami tahu tentang mu, bocah dalam ramalan?"


"Apakah kau tidak bisa diam, rambut merah?" tukas Sean, nada suaranya agak marah.


"Ku tebak kau adalah anjing peliharaan Lyra, ya?" sahut lelaki yang mengaku Tobias, semua tertawa.


Wajah Sean nampak marah, sebelum dia akan berubah dan menerkam mereka semua, Lyra menatapnya dan seolah berbicara tanpa kata lewat tatapan mata yang biasa mereka lakukan. Mana mungkin dia membiarkan hal itu terjadi? Lyra bukannya tidak ingin melawan atau bahkan bertarung dengan mereka, tetapi dia hanya tidak bisa melakukan suatu kekerasan yang bahkan itu tidak menyentuhnya sama sekali.


"Kau boleh bicara semau mu," kata Lyra perlahan, mencoba menyembunyikan perasaan kesal dan amarahnya secara bersamaan, "tapi asal kau tahu saja, menjadi sok tahu tentang ku, hanya akan membuat kalian lupa tujuan kalian sebenarnya." Lyra tidak lupa melirik ke arah lelaki yang berada di sebelah mereka berdua, yang sejak tadi hanya diam saja. Laki-laki itu hanya menatap Lyra sekilas dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.


Si rambut merah maju satu langkah lagi, hampir ke tengah-tengah jalan beraspal itu. "Kau tahu apa tentang tujuan kami?" ujarnya seraya melipat kedua tangannya di depan dada, seperti pemain film yang berakting sebagai antagonis. Dia cocok sekali.


"Kau ingin memberitahu kepada Tetua kami tentang Pasukan Exchanges II yang akan merebut kekuasan wilayah kami, kan? Rick mengatakan itu padaku dan aku tahu dia berbohong tentang itu. Kalian sendiri lah pasukan itu yang mencoba menyusup ke dalam wilayah kami secara diam-diam dengan menyamar menjadi murid sekolah pindahan dari Amerika, kalian memalsukan identitas kalian sendiri." sahut Lyra dengan nada yang meninggi seiring katanya, "aku mendengar semua percakapan itu, bodoh!" Lyra sudah terlanjur kesal.


"Kau tidak mengatakan bahwa kau mendengar percakapan mereka padaku, Lyra?" bisik Sean tepat di sampingnya, dia berangsur-angsur ke samping Lyra rupanya.


Lyra terkekeh, "aku hanya berpura-pura bodoh setelahnya dan menjauhi Rick, dan kau dengan senang hati menampakkan dirimu di sekolah seolah aku tidak tahu apa-apa, aku ingat detil wajahmu serta rambut aneh itu." Lyra kembali membalas dengan melipat kedua tangannya di depan dada seperti yang si rambut merah lakukan.


"Alice, tunggu!" teriak Tobias ketika si rambut merah itu akan maju, yang mana akan semakin memperkecil jarak dia antara mereka.


Dengan rasa takut yang sebenarnya sejak tadi menguasai dirinya, Lyra malah semakin menjadi-jadi. Mengingat mereka tahu tentang Lyra, tahu tentang ramalan itu—yang mana hal itu bahkan tidak di ketaui Lyra sama sekali, lalu tahu tentang keberadaannya yang sesungguhnya. Satu sampai dua langkah ke depan dan kaki Lyra berhenti dengan sendirinya.


"Oh, Alice nama mu ya, pantas saja Rick terus saja menghindari mu dan terpaksa berpura-pura mendengar panggilan mu waktu itu agar kau tidak cemburu, budak cinta macam apa kau? Hanya demi seorang laki-laki seperti Rick kau mempermalukan harga dirimu sendiri? Rupanya tidak cuma aneh penampilannya, ternyata kau bodoh juga." Lyra terus berusaha membuatnya hilang kendali, dia ingin Alice menunjukkan dirinya yang sebenarnya agar dia tahu apa warna bulu mereka.


Sean menarik Lyra mundur dan membuatnya semakin jauh dari Alice, "Lyra! Apa yang kau lakukan? Kau memancing amarahnya terus-menerus."


"Kau lihat saja." sahut Lyra dengan santainya. "Kau akan melihatnya, Sean."


Lyra tidak tahu kapan wajah Alice berubah drastis dari wajah yang meremehkan menjadi wajah yang kesal penuh amarah, tetapi dia menikmati pemandangan itu, rasanya dia puas sekali meskipun dia ketakutan setengah mati kalau-kalau Rick muncul tiba-tiba dari belakang mereka dengan aura kegelapan yang berada di sekitarnya.


"Dasar p*c*nd*ng!" teriak Alice yang pada akhirnya menghentakkan tangannya sendiri agar pegangan Tobias terlepas darinya, dia kemudian berubah, menjadi sosok serigala yang sudah Lyra duga, dia memiliki bulu berwarna hitam gekap dan bermata kuning.


"Akhirnya kau menunjukan siapa dirimu, kau lihat Sean? Mereka benar-benar pasukan Exchanges seperti yang sudah kuduga."


"Kau mengacaukan segalanya!" pekik lelaki yang sejak tadi diam kepada Alice yang sudah menjadi serigala. "Aku yakin Rick sangat kecewa padamu."

__ADS_1


Alice menatap lelaki itu sekilas kemudian menatap Lyra dengan penuh kebencian yang menumpuk di hatinya, Lyra tahu itu, dan kemudian Alice mundur beberapa langkah dan berlari masuk ke dalam kegelapan yang tidak lagi diterangi oleh lampu mobil, disusul Tobias dan lelaki itu, keduanya menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan yang tidak pernah Lyra temui sebelumnya.[]


__ADS_2