Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
61. Jiwa Kembar


__ADS_3

"LYRA!" seru Bethany dengan wajah panik diikuti dengan Rick yang langsung melompat dari kursinya.


"Di mana?" tanyanya hampir berteriak.


"Di tempat saudari ku." Bethany kemudian berlari meninggalkan teh herbal yang baru saja dia buat untuk tamunya. Padahal mereka sedang membahas masalah gerbang untuk menuju Flos Orbis, tapi kejadian yang aneh itu terjadi begitu saja.


Rick yang masuk tanpa permisi ketika tiba di tempat saudari Bethany, dengan sigap menarik Lyra dalam pelukannya agar perempuan itu segera menghangat dan tidak meninggalkan raganya di sana.


"Kembali.." lirih Rick pelan ke telinga perempuan itu, telapak tangannya mulai basah.


"Sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri?" sergah Sean yang ikut panik menyadari tidak ada tanda-tanda kalau Lyra baik-baik saja.


"Sekitar sepuluh menit, ku pikir dia hanya pingsan biasa." balas saudari Bethany. "Apa dia akan baik-baik saja? Aku sangat merasa bersalah." akunya.


"Dia akan baik-baik saja." ujar Rick pelan, meyakinkan dirinya sendiri.


"Tidak! Dia tidak akan bertahan, ini sudah keterlaluan! Astaga! Kau membahayakan nyawanya!" seru Sean yang hampir hilang kendali. "Rick, panggil Lyra kembali!" Sean kemudian bergerak memegang tangan Lyra yang lain untuk menghangatkannya.


Saudari Bethany terdiam, dia sungguh merasa bersalah. "tolong maafkan aku.." lirihnya.


Luo Qing menghela napas, "Lyra bukan perempuan biasa ataupun manusia serigala murni biasa, bahkan aku tidak bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja ketika dalam kondisi seperti ini."


"Memangnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan padaku.." pinta saudari Bethany, suaranya sedikit serak.


Luo Qing yang mulanya enggan mengatakan kenyataan yang rasanya mustahil untuk bisa dipercaya itu akhirnya bicara juga, "dia bilang, hal itu terjadi ketika dia merendamkan kakinya di aliran sungai bekas jam air ramalan Nona Yue, dia seakan mendapatkan sebuah karunia yang tidak semua bisa mendapatkannya. Bahkan memanipulasi aroma sihir bukan keahlian seorang penyihir di zaman ini, melainkan para leluhur kita terdahulu." jelas Luo Qing singkat yang mana membuat Bethany merinding setengah mati.


"Rendaman jam air ramalan Nona Yue," ulang saudari Bethany sembari mencerna semua perkataan Luo Qing. "Jadi dia seorang penyihir juga?"


Tobias cepat-cepat menggeleng mewakili Luo Qing yang memang tidak tahu akan jawabannya. "sejak awal Lyra bukanlah seorang penyihir, dia hanya seorang manusia serigala dengan warna bulu berbeda, dia menjadi incaran semua manusia serigala jahat, tetapi dia diterima begitu saja di Flos Orbis."


"Itu karena orang tua asuhnya adalah seorang penyihir yang dekat dengan pemilik Flos Orbis. Bahkan Nona Yue bersedia membantunya tetapi mendengar kenyataan bahwa dirinya akan mati saat akan bertemu dengan saudaranya, dia melarikan diri tanpa mendengar solusinya lebih dulu. Tolong, bantu dia," pinta Sean, "biarkan dia bahagia sedikit saja walau aku tahu dia akan mati." Sean menitikkan air mata yang mana membuat Rick runtuh pada pertahanannya.


Rick memang tidak begitu percaya dengan ramalan atau sebutan apalah itu menurut para penyihir di masa lampau, tetapi ketika menyadari kesedihan yang melanda Sean—sahabat dekat Lyra, yang mana lebih paham akan keadaan perempuan itu sejak awal, membuat Rick tidak bisa bertahan lebih lama. Padahal dia sudah berjanji untuk melindungi Lyra, dia langsung menyesal membiarkan Lyra pergi sendiri seperti ini kalau saja dia bisa melihat masa depan.


"Siapa nama orang tua asuhnya?" imbuh Bethany.


"Orance." balas Sean masih menahan suaranya tetap normal agar tidak terdengar menyedihkan.


Bethany dan saudarinya mematung di tempat seakan baru saja di sumpah serapah oleh seseorang yang berada jauh dari sana menjadi batu. Keduanya tidak bisa berkata banyak setelah tahu kalau dialah perempuan yang hilang itu, dialah perempuan yang selama ini diincar banyak orang jahat. Pasukan Exchanges, yang mana mereka kenal anggotanya, Rick dan Tobias.

__ADS_1


"Tapi.. tapi bagaimana mungkin.. kalian ingin menguasai Lyra?" sergah Bethany yang spontan berpihak kepada Lyra kala itu juga. "Lepaskan tangan kotor mu darinya, Rick!" teriak Bethany yang murka.


"Kau tak tahu apa-apa, biarkan kami menghangatkannya lebih dulu! Teriakan mu tidak membantu!" Rick balas berteriak yang berhasil membuat Bethany ketakutan, sebab menyadari urat tebal mencuat di leher Rick, wajahnya pun memerah karena menahan emosi yang bercampur.


Saudari Bethany memegangnya agar tidak tumbang begitu saja di sana, dia sedang memikirkan suatu rencana tapi nampaknya tidak akan berhasil, sebab dia hanya bisa meramal tanpa bisa memanggil roh atau jiwa yang berkeliaran. Ilmu sihir itu masih sangat jauh untuk mereka yang tidak memiliki matra latin yang lumayan banyak, yang banyak dikuasai penyihir leluhur.


"Dia baik-baik saja, sungguh, aku melihatnya, dia baik-baik saja." tukas saudari Bethany meyakinkan semua orang yang ada di sana, "aku dan dia baru saja melihatnya hidup tenang di masa depan." jelasnya lagi, masih berusaha meyakinkan.


Sementara itu, di tempat yang berlawanan, di masa lalu, Lyra terbangun dengan suara tangis yang memenuhi ruangan. Dia mendapati dua bayi dengan rambut perak yang bersinar diterpa cahaya Matahari pagi itu, beradu dengan suara tangisnya yang semakin lama semakin kencang.


"Akhirnya, aku bisa menembus dinding kokoh itu." suara helaan napas terdengar di belakang Lyra.


Karena sudah terbiasa dengan kilas balik yang kerap kali terjadi saat dirinya berhasil memanipulasi aroma sihir, jadi Lyra tidak menganggap suara itu bicara padanya. Namun, sangat terkejutnya dia ketika suara itu muncul lagi memanggilnya untuk kedua kalinya diikuti dengan tepukan pundak yang lembut. Lyra otomatis berbalik untuk melihat.


"Hei, kau mengabaikan ku." sosok itu tersenyum seraya memiringkan kepalanya sekilas.


Tidak tahu harus menggambarkannya bagaimana, sosok itu memiliki wajah yang begitu buram meskipun Lyra bisa melihat senyumannya yang sama persis dengan miliknya. Bagian tubuh yang lain bahkan lebih transparan dari kepalanya, rambutnya yang tidak berwarna membuat Lyra semakin yakin kalau jiwa itu sebenarnya tersesat.


"Sejak kapan kau meninggalkan raga mu?" tanya Lyra, walau pun dia tidak yakin kalau sosok itu akan membalas.


"Tidak tahu, aku hanya sedang berjalan-jalan untuk menemukan saudari ku." balasnya. "Oh ya, sudah beberapa waktu lamanya aku melihat kau berdiri mematung di depan keranjang bayi milik ku dan saudari ku itu? Kau seharusnya sudah kembali ke raga mu, waktu mu semakin menipis, kau tahu?" katanya lagi.


"Tunggu," sergah sosok itu, "kau bermimpi tentang dua bayi kecil?"


Lyra mengangguk sebagai balasan, belum mengerti dengan penglihatan yang satu itu, membuatnya benar-benar kebingungan sebab tidak ada petunjuk sebelumnya, bahkan sosok itu dapat bicara padanya, tidak seperti biasanya. Setengah jiwanya sudah menghilang, persis seperti sosok yang sedang bersamanya itu.


"Sebutkan nama mu cepat, sebelum kau kehabisan waktu!" sosok itu menjadi tidak sabaran karena melihat jiwa Lyra yang mulai setengah menghilang.


"Ah, nama ku Lyra." balas Lyra pelan. "Kau?"


Sosok yang tidak jelas itu langsung memeluknya kemudian suara isak tangis muncul dari mulutnya.


"Tidak salah lagi, dinding kokoh itu ternyata memang milikmu. Aku sangat merindukan mu, Lyra!"


Lyra yang membatu di tempatnya masih mencerna perkataan orang itu. "tapi aku tidak bisa melihat mu, bagaimana kau yakin akulah orang yang kau cari?" tanyanya, seakan menjadi bodoh begitu saja dalam beberapa waktu.


"Hanya saudara kembar yang memiliki insting begitu kuat satu sama lain. Kau adalah kembaran ku yang hilang bertahun-tahun lalu, kita sudah dekat sekali Lyra!"


"Kau Larry? Bagaimana mungkin?" Lyra yang syok berat memeluk sosok yang tidak jelas itu sekuat hatinya, seakan tidak ingin melepaskannya lagi.

__ADS_1


"Tapi kau sudah tidak bisa lama-lama di sini, ini bukan dunia kita, jiwamu sudah setengah memudar." sergah Larry, dia menarik diri, "jika kau memang mencari ku, kau bisa ikuti aba-aba dariku, sebab hanya ini yang bisa ku lakukan."


"Katakan!" tukas Lyra tidak sabaran, dia bahkan ketakutan menyadari bagian kakinya sudah benar-benar menghilang.


"Saat cahaya kembar melintasi langit bumi, saat itulah takdir bisa diubah."


Larry kemudian mendorong Lyra dengan cepat agar dia segera pergi dari tempat itu dan tak lama penglihatannya menjadi gelap gulita, tanpa cahaya yang tersisa. Dia masih bernapas dengan tenang, walaupun dia ragu kalau dia kembali ke raganya karena memang jiwanya menghilang seluruhnya.


Rasanya sudah beberapa menit berlalu saat dia ambruk dari kursi penyihir yang sedang meramalnya. Teknik menahan napas memang bukan teknik yang bagus untuk dicoba agar dia tidak pingsan, tetapi dia tetap mencobanya kali itu. Namun, yang terjadi malah lebih parah dari biasanya, dia tidak ingat jelas dengan bagaimana dia bisa sampai di sana, bertemu secara tidak sengaja dengan saudaranya, bahkan sampai berbincang.


Lyra menunggu sampai jiwanya kembali ke raganya seperti semula, dia merasakan tangannya mulai menghangat, dia juga merasakan ada yang sedang menggenggam kedua tangannya sangat erat. Suara-suara tidak jelas mulai muncul perlahan-lahan seakan-akan dia baru saja kembali dari kematian. Ketika Lyra mencoba membuka mata, diam-diam dia berharap tersadar di tempat di mana seharusnya berada.


Dua sosok yang belum jelas detilnya menunduk dihadapannya, berada di sisi kanan dan kiri. Lyra mencoba menggerakkan jemarinya untuk meremas kedua tangan yang berbeda itu dan keduanya terkejut secara bersamaan, mengangkat kepala mereka berbarengan lalu melihat wajah Lyra yang pucat pasi.


"Kau kembali.." lirih orang yang berada di sisi kirinya, orang itu menangkup pipinya dengan tangan yang lainnya, yang sama hangatnya dengan tangan satunya.


"Syukurlah." desah orang satunya yang ada di sisi kanan, dia menggenggam tangan Lyra dengan kedua tangannya sambil meremas hangat.


"Kau dengar? Dia tidak akan meninggalkan kita begitu saja." kini sosok itu semakin jelas, Lyra langsung tersenyum menyadari kalau itu Rick, Rick sungguhan.


Diam-diam Lyra juga bersyukur kalau dia kembali pada raganya yang masih dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Tapi sayang sekali, dia tidak mendengar panggilan kedua orang itu yang biasanya masih mampu dia dengar cukup jelas. Sepertinya dia sudah bermain terlalu jauh.


"Jiwa kembar." lirihnya, "jiwa kembar memiliki insting yang kuat satu sama lain." Lyra menjelaskan dengan suara serak yang berat, bahkan suaranya terdengar seperti bisikan. "Aku bertemu saudara ku, di sana."


Rick melirik orang yang ada dihadapannya, melempar pertanyaan yang bahkan lawan bicaranya juga tidak tahu jawabannya.


"Dia memberiku sebuah petunjuk."


"Tapi, apa kau yakin?" tanya Sean, dia sebenarnya tidak ingin mengecilkan harapan, tapi dia harus melakukannya agar Lyra sadar.


Itu Sean, kata Lyra dalam hati, wajahnya pun sudah lebih jelas dari sebelumnya. "Jiwa kembar hanya bisa bertemu dengan saudaranya," tukas Lyra, masih dengan nada bicara yang sama. "untuk pertama kalinya dari sekian banyak penglihatan, aku dapat bersapa, menyentuh, dan berbincang dengan jiwa lain."


"Dia bisa dipercaya?"


Lyra menghela napas panjang, seolah sulit bernapas dengan normal. Paru-parunya terasa penuh dengan bongkahan es yang membeku sehingga membuat oksigen tidak bergerak lancar. "Saudara kembar tidak perlu rasa percaya, mereka menggunakan insting yang lebih kuat daripada apapun." balasnya akhirnya.


Rasanya memang mustahil untuk bertahan kalau saja dia tidak bertemu dengan saudaranya, sebab ramalan itu masih melekat sempurna dalam otaknya, ya, walau pun penyihir yang membuatnya pingsan itu sempat memperlihatkannya kalau dia hidup dengan normal bahkan tidak berubah barang sedikit pun. Mungkin saja itu hanya klip dari beberapa bagian yang sudah diedit sebagaimana rupanya, agar dia terlihat baik-baik saja di masa mendatang.


Tapi dia ingin mempercayai jiwa Larry yang menemukannya, bagaimana pun, dia ingin bersatu dengan keluarganya dan menyelamatkan orang tua asuhnya.[]

__ADS_1


__ADS_2