
Matahari semakin menghilang di ufuk Barat tetapi cahaya jingga yang diciptakannya membuatnya merasa begitu baik dari sebelumnya.
Lyra dan yang lainnya masih berlari dalam rupa serigala mereka masing-masing menuju tebing Foreland, dekat dengan pantai Selatan. Sepertinya dia baru mendengar nama pantai tersebut yang mana lokasinya sangat jauh dari rumah tapi mereka bisa dengan sangat cepat sampai di sana. Sean berdiri diujung tebing dengan melihat ke depan, meratapi bahwa betapa luasnya lautan yang ada di hadapannya dan Lyra mengikuti Sean berdiri sampingnya. Memang, yang dia lihat kini adalah waktu memulainya kegelapan tanpa cahaya yang muncul, tetapi beberapa kapal yang akan sandar di Porstmouth dekat tempat mereka tinggal sudah menyalakan lampu kapalnya.
Lyra sadar bahwa penampakan itu tidak akan berhasil membuatnya tenang pada awalnya karena dia hanya terbiasa mendengar deburan ombak yang memecah tebing-tebing serta suara angin yang menciptakan nada di antara hutan di dekat rumah. Namun, sepertinya dia akan lebih sering kemari—sebelum keadaannya benar-benar akan gelap dan menikmatinya lebih lama dalam rupa apa saja—ika dia punya kesempatan. Lyra terlanjur senang melihat gelombang kecil yang menari dibawah sana yang diciptakan angin sampai dia lupa kalau dia sedang bersama teman-temannya.
Lyra merasa bahagia, kalian bisa merasakannya kan? Goda Dorian.
Aku tidak pernah melihat yang lebih besar seperti ini sebelumnya, dan mungkin tempat ini akan ku kunjungi lebih sering jika aku punya kesempatan. Tidak lagi berdekatan dengan para Feroces, terutama Bukit Perkemahan. Lyra tidak tahu mengapa dia sangat jujur dengan perkataan itu.
Semua ikut tertawa dan ikut duduk di samping Lyra dan Sean, mereka melihat ke arah yang sama, seolah mengatakan 'selamat datang' kepada sang malam yang akan tiba di Kota mereka.
Seandainya, kedamaian ini berlangsung lama dan tidak terbatas, Lyra mungkin sudah sejak dulu berkeliling bersama mereka tanpa rasa takut dan khawatir lainnya yang menganggu. Dia merasa aman, dan terjaga, dia merasa terlindungi sebab adanya keberadaannya. Namun, sayang sekali, perasaan itu akan hilang dalam hitungan detik saja.
Beberapa waktu setelahnya, Dorian, sang Alpha memutuskan untuk kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing dan mengingat Orance mengirimi pesan itu, Sean meminta mereka untuk mengiringi kepulangan dia dan Lyra sampai di perbatasan Bukit Perkemahan dan Martin dengan cepat mengiyakan. Lyra bingung, dia orang yang responsif terhadap apapun yang menyangkut tentang dirinya. Kenapa dia harus begitu? Kini dia sudah menaruh curiga pada Martin.
Di perjalanan pulang, tepat di tempat klub golf gedung Cams, suasananya agak sedikit menyeramkan tapi dia pikir siapa yang lebih takut ketimbang melihat lima serigala dengan warna bulu berbeda beserta Kawanan Epile yang paling mencolok berlarian di pinggir hutan, yang sebenarnya malah menghindari tatapan manusia yang cukup mematikan. Namun, Lyra bukan memikirkan tentang manusianya, melainkan suatu yang lain. Dia bisa merasakan seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi mereka, bahkan mungkin mengikuti mereka pergi sejak awal. Dia merasa cemas yang membuat teman-temannya menyadari pergantian mood-nya itu dalam beberapa waktu setelahnya.
Ada apa? Suara Sean muncul di kepalanya diikuti dengan yang lainnya.
Aku tak apa. Sahut Lyra pada mereka.
Dan setelah itu, Lyra mendapati sorot mata hewan liar tajam ke arah kami. Dia bertemu mata dengan sosok itu dan persis seolah bisa mendengar dia berkata bersenang-senanglah! Kemudian dengan cepat sosok itu menghilang di kegelapan hutan malam. Lyra tidak tahu apakah dia bisa merasakan merinding dalam rupa serigala-nya sementara kalau bulu di seluruh tubuh serigala sudah berdiri, itu artinya situasi sudah sangat membahayakan. Namun, dia hanya merasakan ketakutan yang muncul tanpa alasan sama sekali lalu dia terkekeh sendirian.
Dia memutuskan untuk tidak memberitahu Sean soal itu, karena mungkin itu hanya semacam sapaan biasa, tapi hewan liar mana yang dapat melakukan hal itu jika bukan seseorang yang seperti mereka. Mungkin Lyra perlu memikirkannya lain waktu saja. Kini dia dan Sean harus pulang dengan keadaan selamat.
Sean mengatakan terimakasih dan Lyra menyusul mengatakannya sambil berucap sampai jumpa setelah Kawanan Epile mengiringi mereka pulang dengan selamat. Kawanan Epile memang sangat baik sekali tetapi sayang sekali, mereka sedang tidak lengkap dan Lyra berharap Max secepat mungkin pulih dari sakit yang menyiksanya karena hal itu memang tidak semua kesalahannya, Max memiliki alasan dengan mempertaruhkan nyawanya demi kekuasaan wilayah.
__ADS_1
"Aku sangat berharap bahwa mereka yang menyerang Max sampai cedera itu segera bertemu dengan para Pemburu Feroces yang tidak kenal ampun." ujar Lyra setelah dia selesai berganti baju.
Sean menatapku dan melemparkan pertanyaan.
"Tentu saja, Kawanan Epile sangat baik kepada kita, mereka dapat di percaya, bahkan mau mengiringi kita, malah sampai ke rumah." aku menghela napas, "kurasa sulit untuk mendapatkan kepercayaan banyak orang, asal kau tahu saja."
Sean tidak menanggapi tapi Lyra harap Sean berpikir bahwa perkataannya adalah benar. Lagipula siapa yang patut dipercayai dalam situasi macam ini? Semua orang akan sangat sibuk memikirkan diri mereka masing-masing, bertentangan dengan kejujuran yang sebenarnya dijunjung tinggi oleh para Tetua G. Lyra benar-benar ingij minta maaf untuk itu secara langsung, dia bukannya tidak berani jujur akan siapa dirinya yang sebenarnya jika mereka melihatnya dalam keadaan aneh meskipun mereka melihatnya dengan rupa serigala-nya. Lyra tak punya jawaban atas pertanyaan tentang siapa dirinya sesungguhnya, dia sedang mencari, dan hanya orang tuanya lah yang tahu dan dapat menjelaskan siapa dan mengapa dirinya berbeda dengan manusia serigala berdarah murni lainnya.
Lyra dan Sean mengemasi barang-barang mereka untuk persiapan esok harinya. Mereka akan pergi pagi-pagi sekali agar dapat menghindari Veneris, anggota tangan kanan Tetua G dan beberapa pasukan Ducis. Dorian sempat menjelaskan kepada Lyra dan Sean bahwa para Veneris akan pergi ke setiap rumah-rumah untuk mengeceknya dan mengumpulkan mereka di Bukit Portsdown dengan menggunakan pick up besar khusus dan di sana lah kawasan Tetua G tetapi bukan tempat tinggal mereka sesungguhnya.
"Kau sudah yakin dengan semua ini 'kan?" Lyra terkejut, suara Sean agak aneh. "Ada apa? Aku salah menanyakan hal itu?" lanjutnya yang sadar bahwa raut wajah Lyra tidak seperti yang dia harapkan.
Rasanya Lyra ingin menangis sambil berteriak, karena dia akan berpisah dari orang tua asuhnya. Dan ada sedikit rasa takut dimana dia tidak akan selamat dalam perjalanan mencari orang tuanya. Lyra yakin dia bisa melakukannya dan tidak boleh membiarkan rasa takut itu menguasai dirinya sepenuhnya. Lyra yakin dia bisa, lagipula Sean sudah mengajukan diri untuk menemaninya, itu artinya dia tidak boleh lemah.
"Tentu saja." sahutnya se-datar mungkin, "aku tidak akan merubah pikiranku untuk hal yang satu ini."
Paginya, Sean sudah datang dan berbincang dengan Peal. Sementara Orance mempersiapkan sarapan kepada mereka semua sebelum Veneris datang dan merusak semua situasi yang nyaman ini. Seraya membawa beberapa perlengkapan dan tas berisikan baju ke dalam mobil, sedikit banyak Lyra bisa mendengar percakapan antara dua orang itu.
"Aku, aku hanya masih kurang percaya bahwa dia akan bertindak seperti ini meskipun aku setuju. Aku hanya tidak bisa melihatnya seperti itu setiap saat, tatapannya terus-terusan sedih." Peal bersandar ke mobil, matanya mendapati Lyra yang sedang berdiri melihat mereka.
"Makanannya sudah siap!" seru Orance.
Syukurlah, Orance menyelamatkannya. Kata Lyra dalam hati dan lalu tersenyum.
Lyra langsung berjalan cepat ke dalam rumah dan menemui Orance di dapur. Aroma masakan ini akan selalu dia rindukan setiap pagi, bercandaan mereka saat sedang sarapan, bahkan minum es limun bersama di siang hari di musim panas.
Peal masuk ke dalam diikuti dengan Sean di belakangnya yang sibuk membenarkan rambutnya. Laki-laki itu kelihatan agak kurus akhir-akhir ini, entah apa yang membuatnya malas makan dan berolahraga seperti waktu dulu. Atau jangan-jangan Sean memang sengaja menurunkan berat badannya tanpa suatu alasan yang pasti. Sementara menimbang-nimbang akan duduk dimana, Lyra berpura-pura masuk ke dalam kamarnya, mungkin dia juga melupakan sesuatu dan sesampainya dia di depan pintu kamar, dia merasa desakan aneh melonjak dalam dirinya dan dalam hitungan detik kilasan wajah-wajah orang asing seketika muncul di hadapannya. Orang-orang itu tersenyum bahagia ke satu arah dimana sosok lelaki bertubuh kecil serta ramping sibuk menggerakkan jemarinya lihai di udara.
__ADS_1
Lyra hampir terjatuh ketika tersadar saat penglihatan itu mengabur dan hilang bagai kabut. Dia bisa merasakan seseorang sudah berada di belakangnya beberapa detik setelahnya.
"Kau baik saja, Lyra?" dia langsung memegang kedua pipi Lyra.
Lyra masih seperti orang hilang ingatan karena syok, kenapa lagi hal itu bisa terjadi? Bukankah Orance sudah tidak akan menggunakan sihirnya untuk hal semacam itu lagi padanya? Bahkan dia tahu aku melihat sesuatu itu tadi.
"Kau melakukannya?" tanya Lyra.
Orance menggeleng, "lebih baik kita sarapan dulu, mereka sudah menunggu." Oance memegang kedua lengannya agar dia tidak melemah saat melangkah. Orance membantunya berjalan menuju dapur tanpa dia memintanya sekalipun. Orance memang seperti seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya.
"Terimakasih." ujar Lyra padanya setelah mereka sampai dan memulai sarapan.
Tidak dibutuhkan waktu lama untuk menghabiskan sarapan pagi itu dan setengah jam lagi para Veneris akan bergerak melaksanakan tugas mereka. Artinya, Lyra masih punya waktu tiga puluh menit untuk berpamitan kepada Orance dan Peal. Kemudian Orance memberikannya sebuah kertas usang berwarna coklat yang di gulung, dia bilang bahwa kertas tersebut akan sangat mereka butuhkan dalam perjalanan untuk mencari sebuah lokasi. Lalu setelah itu ketika Lyra sudah bersiap untuk pergi, Orance menghentikan mereka tiba-tiba, dia meminta Lyra dan Peal untuk menunggu sebentar saja dan kemudian dia berlari masuk ke dalam rumah. Mereka berdua bertatapan satu sama lain dan Sean seolah menyuruhnya menyusul Orance ke dalam sana. Akhirnya Lyra berjalan masuk ke dalam rumah sambil memainkan kunci mobil. Lyra tidak mau membiarkan Sean kelelahan lebih dulu, jadi diaa memaksa untuk mengendarai mobil duluan.
Orance hampir menabraknya ketika dia keluar dari kamarnya, mereka berdua tertawa.
"Ini," lirihnya. "kau harus mengenakannya." Orance menunjukkan Lyra sebuah kalung bertali hitam yang lumayan besar lingkarannya sehingga bisa masuk ke kepalanya langsung. Liontin nya berwarna perak mengkilap, berbentuk kepala serigala. "Aku sudah menaruh sihir terselubung ke dalam kalung itu, jadi aku bisa melacak mu juga."
Lyra tersenyum dan merangkulnya sebentar, "terimakasih Orance." ujarnya.
Lyra dan Orance berjalan keluar rumah, dia berpamitan dengan dua orang itu sekali lagi, memeluk keduanya sangat erat. Mengucapkan selamat tinggal dan itu adalah bagian terberat yang mampu dia lakukan. Dia menahan tangis tapi Orance tidak bisa, dia hampir sesegukan di tempatnya.
Lyra berjalan menuju mobilnya dimana Sean sudah cukup lama menunggu di kursi penumpang. Sean melihatnya sekilas saat Lyra akan masuk ke dalam mobil, sesuatu membuat mereka berdua kaget.
"Tancap gas Lyra, mereka datang!" seru Sean.
Orance dan Peal menahan mereka tapi salah satu dari mereka berlari cepat ke arah Lyra dan Sean. Jantung Lyra berdegup sangat kencang menyadari bahwa anggota Veneris bertemu dengan mereka yang mungkin mereka pikir Lyra dan Sean melarikan diri. Lyra bergetar seraya membelokkan mobil ke jalur utama jalanan dan Sean melihat ke belakang mereka untuk memastikan apakah salah satu dari mereka mengejar mereka.
__ADS_1
"Kurasa dia akan melaporkan ini ke semua anggota. Aku sudah menduga hal ini." Sean angkat bicara.
Lyra tidak bisa berbicara sama sekali, dia gemetar sekaligus ketakutan di kursi pengemudi. Jantungnya masih berdegup sangat kencang, perasaannya benar-benar campur aduk.[]