Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
64. Murka


__ADS_3

Sementara itu, di istal nya, Chamomile kembali melihat ke dalam bola kristalnya, hanya untuk memastikan kalau dia memang tidak salah menerka. Namun, dia malah mendapatkan sebuah gambaran kuno, di mana langit sangat gelap gulita dan lalu sebuah meteor dengan ekor yang panjang sangat terang melintasi langit bumi dan diikuti oleh satu meteor lagi di sebelahnya. Dengan kecepatan rata-rata 30.577 km/jam, meteor tersebut melesat dengan indah di langit yang sunyi itu.


Chamomile tidak mengerti maksud gambaran itu, tetapi dia berusaha mencari tahu. Dengan beramal kan buku astrologi dan antariksa yang dia dapatkan dari teman lamanya di Flos Orbis, Chamomile mencari sesuatu yang mirip dengan kejadian itu. Ada sebuah artikel yang ditulis tangan dalam buku bercetak tebal itu, terdapat gambaran yang persis sama. Orang itu menyebutnya dengan Cahaya Kembar Geminid, di mana kedua meteor itu adalah pecahan dari konstelasi Gemini pada bulan Oktober di musim gugur. Mereka selalu melintasi langit bumi pada tengah malam dan itu dipercayakan dapat memberikan keuntungan sekaligus mengubah takdir bagi nenek moyang terdahulu.


Dia hendak berpikir dengan keras, tapi konsentrasinya terganggu oleh suara keras yang ada di dalam kepalanya.


Bantu aku, Mile! Bantu aku!


Itu Amarilys. Chamomile memang tidak mengetahui di mana keberadaan Amarilys dan apa yang terjadi padanya setelah bertemu dengan Bethany. Namun, karena dia merasa dibutuhkan, meninggalkan istal begitu saja lalu mencari Amarilys yang terus memanggilnya.


Amarilys mengarahkan Chamomile ke kamarnya, pintu itu terkunci dari luar.


"Si gila Bethany mengunciku, dia sekarang sedang bersenang-senang dengan lelaki itu!" teriak Amarilys tidak terima dengan tindakan saudarinya.


"Maksud mu Rick?"


"Siapa lagi? Dia mengambil obat dari ruangan kerja ku dan membius ku agar aku tidak berontak, harusnya laki-laki itu berterima kasih padaku karena membebaskannya dari jeratan Beth, tapi kupikir dia tidak tahu isi kepala Beth yang sudah tidak waras itu." celoteh Amarilys, dia bersikeras mendobrak pintu tetapi nihil, bahkan untuk menggunakan sihir dia tidak bisa.


Chamomile menghela napas panjang, tidak tahu lagi harus memperlakukan Bethany seperti apa. "tunggu lah sebentar lagi, aku akan mencarinya."


"Tidak. Itu tidak perlu. Biarkan aku menjelaskan pada mu sesuatu." tukasnya, Amarilys mendekatkan bibirnya ke daun pintu agar Chamomile mendengar dengan jelas.


"Aku tahu itu hal buruk." sahut Chamomile.


Amarilys mendengus, "untuk kedua kalinya aku membenci saudari ku sendiri." gerutunya, "entah bagaimana Rick bisa terhipnotis lagi olehnya padahal dia sudah tahu kalau Beth mengincarnya. Meskipun Rick sudah memiliki kekasih, Beth tidak bisa melupakannya begitu saja." Amarilys menarik napas dalam kemudian menghembuskan nya segera, mencoba mengontrol emosinya yang mulai membara lagi. "mungkin sebentar lagi mereka sudah tidur berdua, lagi."


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" tukas Chamomile, dia tidak bisa hanya berdiam diri menyadari ketidakwarasan saudarinya itu mengulang lagi. "Tunggulah di sini, aku akan benar-benar menghukumnya kali ini." Chamomile menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal setengah mati.


Lagi-lagi Bethany ingin menodai rumahnya dengan tidur dengan lelaki yang bahkan tidak mencintainya sama sekali. Dia memang sudah gila, teracuni oleh cinta yang tidak akan pernah dia dapatkan karena dia mengerikan. Bethany adalah wujud asli iblis dengan paras cantik, hatinya tidak seindah tampak luar tubuhnya yang seksi. Dia ular di antara cacing-cacing yang menggeliat kepanasan.

__ADS_1


Pikiran Chamomile bercabang, dia memikirkan saudarinya sekaligus memikirkan perasaan Lyra. Entah kenapa meski pun dia baru saja mempersilahkan perempuan itu menginjak rumahnya tetapi dia bisa merasakan kedekatan seperti halnya saudarinya sendiri. Atau mungkin karena dia adalah anak asuh Orance? Sehingga bayang-bayang Orance selalu mengikuti kemana pun Lyra pergi.


Sangat disayangkan penelitiannya harus tertunda karena Bethany, padahal dia hampir mengetahui seluk beluk perempuan itu bukan hanya lewat penglihatannya yang bisa saja meleset. Tetapi dengan teori yang bahkan akan membuat Lyra terkejut, hanya saja tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk berbincang lagi dengannya mengingat kondisinya sedang benar-benar buruk.


Kau di mana Bethany? Chamomile mencoba menghubungi Bethany lewat isi pikirannya tetapi rasanya tidak ada jawaban.


Namun, saat mendengar teriakan dari arah dapur dia langsung bergegas ke sana. Entah butuh waktu berapa lama sampai akhirnya dia melihat Bethany menuding sebuah gunting ke wajah Tobias yang mana Rick berusaha menahannya. Chamomile melihat aksi gila itu dengan bertindak cepat, dia bergumam pelan merapal kan sebuah mantra yang mana membuat Bethany terdorong agak jauh dan terangkat lebih tinggi seakan melayang. Chamomile menunjukkan Bethany dengan telunjuknya dan menghempaskan nya cukup kuat ke lantai.


Rick dan Tobias terbelalak melihat semua itu terjadi secara cepat di depan mata. Mereka tidak bergerak satu inci pun di tempat mereka alih-alih menghindari kekacauan. Sementara itu Bethany bangkit dan memukul meja kayu bundar di depannya.


"Apa yang kau lakukan! Kau juga ingin menuduhku? Seperti yang dikatakannya?" seru Bethany, dia menunjuk-nunjuk wajah Tobias.


"Mile, dengar, biar aku yang bicara."


"Diam!" kali ini Bethany benar-benar berteriak. "Dia mengungkit kesalahan yang lalu yang mana sebenarnya itu tidak terjadi!" wajahnya berubah merah penuh amarah, "sebagai seorang kakak yang paling bertanggung jawab dengan adik-adiknya, kau seharusnya tidak memanjakan Amarilys sampai kau juga menghampiriku dan ingin menuduhku seperti yang dilakukannya?"


"Makanya biarkan aku bicara! Jika kau terus berteriak seperti itu, tidak ada yang akan mendengar setiap perkataan mu, Bethany! Aku tahu kau murka karena sikap saudari mu, tapi kau tak perlu melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan. Tenang lah," Rick mencoba meredakan suasana yang semakin tidak nyaman di antara mereka. "ya, Mile, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan, Bethany hanya mengobati luka-luka ku karena amukan Amarilys." jelasnya dengan perlahan.


"Dia ti.."


"Itu ide ku." sahutnya, "akan lebih baik kalau dia menenangkan diri. Karena jika dia terlepas kendali, seluruh rumah akan runtuh, aku tahu itu." sahut Rick, dia lagi-lagi memotong perkataan Bethany dan menumpahkan semua kejadian itu akibat ulahnya sendiri.


Lihat, betapa dia tidak menyukai keributan yang terjadi di antara ke tiga saudari yang malang itu. Rick tetap berusaha semaksimal mungkin agar Chamomile bisa mencerna dan mengerti maksud dari segala penjelasan yang sudah disampaikannya.


"Ya," Chamomile membawa pandangannya ke arah bawah, melihat kaki meja. "hanya tempat itu bisa membuatnya tidak meledak. Dan, Bell-eh Beth, maaf atas ketidaksengajaan yang kulakukan itu."


Bethany merapikan bajunya dan menaruh gunting tersebut ke atas meja, tepat di sebelah perban dan beberapa obat hijau tetes. "Aku memaafkan mu, tapi kau seharusnya tidak termakan omongan Amarilys begitu saja. Dia terus saja membual tentang pikiran kotornya terhadapku, dan sebagai kakak, kau selalu percaya pada semua perkataannya, menuruti perkataannya daripada mendengar dua sisi, seolah-olah dia pemilik rumah dan bertanggung jawab atas kau dan aku." dia menghela napas, "aku sudah murka, aku tidak lagi bisa mengandalkan mu dalam situasi apapun lagi, Mile. Padahal kau yang sering berperan dalam diriku agar aku bisa menjadi diriku dan melupakan masa-masa itu."


"Beth.."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak membutuhkan identitas itu lagi. Aku ingin Belladonna kembali." ujarnya, matanya berkaca-kaca.


"Bella.. donna?" Tobias tergagap.


Rick ingat tanaman itu, Belladonna. Tanaman itu mengerikan meskipun memang sangat cantik.


Bethany tersenyum dengan terpaksa, salah satu matanya sudah menitikkan air mata. "Memang Belladonna yang itu, dengan tampilan cantik dan menarik. Namun beracun dan mematikan." katanya.


"Beth, lupakan itu. Aku benar-benar minta maaf-"


"Kau bodoh, Mile! Kau bodoh! Kau selalu menuruti perintahnya bukan malah sebaliknya. Dia itu hanya anak perempuan yang manja dan karena kau memanjakannya, dia melunjak menjadi monster seperti sekarang ini!" akhirnya Bethany benar-benar menangis. "Sudah berapa kali ku katakan padamu, dia tidak akan berubah seperti yang kau janjikan.." isak tangisnya menjadi-jadi.


Chamomile bergerak ke arah Bethany dan meraihnya, dia merangkulnya sembari menahan emosi yang sedang bergejolak dalam dirinya. Kalau saja dia goyah, dia akan terlihat lemah di depan orang-orang padahal dia bertanggung jawab penuh sebagai saudari tertua. Mau tidak mau dia harus nampak kuat meskipun rasanya tidak sanggup menahan emosi yang ingin tercurahkan.


Bethany masih terisak dalam rangkulan Chamomile, tapi suaranya masih terdengar. "dia sudah merenggut tempat mu, kekuasaan mu, tapi kau terus menuruti perintahnya.."


Chamomile tidak ingin menjawab apapun, dia membiarkan Bethany alih-alih Belladonna untuk menenangkan dirinya. Karena hanya itu yang bisa dilakukannya, Chamomile tidak ingin Bethany menjadi Belladonna yang selalu, dan akan selalu merasa bersalah sebab dia membunuh orang tuanya tanpa sengaja. Entah bagaimana Bethany mengeluarkan racun mematikan dari rambutnya sendiri dan membuat yang memegangnya terinfeksi oleh racun mematikan itu. Selain orang tuanya, hanya Chamomile yang berani mendekati Bethany tanpa merasa terusik oleh hal mematikan yang ada padanya.


Suasana menjadi tenang kembali, Bethany sudah duduk kembali diikuti oleh tiga orang lainnya mengitari meja bundar di dapur tersebut. Luka bakar di tangan Rick akibat menahan Amarilys sudah selesai terbungkus dengan perban, tinggal menunggu beberapa waktu agar obat tetesnya meresap dan Rick bisa menginstruksi dirinya agar beregenerasi perlahan-lahan. Bahkan sobekan di telapak kakinya sudah tinggal bekas guratan kasar.


Chamomile berdeham, "tapi, aku masih penasaran, kenapa Tobias bisa mengetahui hal itu?"


"Itu.. Luo Qing, yang memberitahu ku saat dia mencari Rick ke dapur." balasnya.


"Ada-ada saja, aku mana mungkin melakukannya? Serigala memiliki sifat monogami yang sudah mengalir dalam darahnya. Jadi, aku akan terus dengan satu pilihan ku seumur hidup." ujarnya dengan tenang. "Apalagi seorang Alpha yang menjadi panutan bagi yang lainnya, tadinya." kemudian dia tertawa pelan dengan bercandaannya sendiri.


Chamomile yang mengerti maksud dari Rick tersenyum sekilas, "kalau begitu aku akan memeriksa keadaan Lyra, aku pergi dulu." Chamomile bangkit dari kursinya lalu keluar dari ruangan tersebut, dia merasa sesuatu yang tidak enak sedang terjadi dan sepertinya hanya dia yang bisa merasakannya.


"Aku akan menyusul sebentar lagi." sahut Rick ketika Chamomile hampir menghilang dari pintu.

__ADS_1


Kamar Amarilys terasa senyap ketika Chamomile melewatinya, dia berhenti sejenak dan perkataan Bethany terulang kembali dalam pikirannya seakan menjadi rekaman radio yang rusak. Tidak hanya itu, dia bahkan masih bisa merasakan isak tangis yang benar-benar membuat Bethany nampak tidak berdaya terlepas dari apa yang sudah dilakukannya pada masa kelam itu. Memang tidak ada seorang pun yang mudah memaafkan pada mulanya, tapi pada akhirnya memaafkan akan memberi kebebasan secara tidak langsung. Chamomile tidak akan pernah melupakan kejadian itu, pun tetap menerima dengan lapang dada mengenai peristiwa kelam itu.


Karena baginya, keluarga tetaplah keluarga.[]


__ADS_2