
Di depan pintu masuk ke kamar Bethany yang masih rapi, Chamomile melihat Luo Qing menggenggam tangan Lyra dengan tangan kanan nya. Dia duduk menghadap Lyra sembari menunduk, seperti sedang tidur. Namun, Chamomile merasakan perasaan yang tidak nyaman itu semakin jelas ketika mendekati Luo Qing, seakan-akan aura-aura misterius sudah menyelubungi ruangan itu dan Chamomile bisa merasakan sesaknya. Dia bisa mendengar sesuatu sedang bergumam pelan dan semakin dia mendekat semakin yakin kalau Luo Qing sedang merapal kan mantra.
"Novusaliqu imperium, novusaliqu imperium, novisaliqu imperium.." dia terus mengulang mantra itu sampai aura yang ada di sekitar tubuhnya mengeluarkan warna ungu agak kehitaman.
Chamomile langsung tahu kalau itu adalah jenis mantra yang mengambil alih bagian dari seseorang sehingga hal itu membuatnya mendorong Luo Qing dari kursi agar dia melepaskan tangan Lyra.
"Brengsek! Berani-beraninya kau melakukan ritual busuk semacam itu di rumah ku!" seru Chamomile hampir berteriak, dia kini menahan emosinya agar tidak meledak-ledak.
Luo Qing yang tersungkur di lantai sangat terkejut dan langsung bangkit, dia mundur beberapa langkah dan mawas diri, sangat takut kalau-kalau ada orang lain yang bersama Chamomile. Dia tahu, dia akan tamat dengan cepat bila hanya diam saja, melawannya pun tidak akan menang. Dia terlalu lemah sebagai penyihir yang sudah cukup umur, tidak punya apa-apa selain sihir yang biasa dia gunakan. Itu tidak berarti apa-apa bila dihadapkan oleh Chamomile, dia bisa merasakan energi yang sangat kuat yang terpancar dari wanita itu.
"Kau ingin mengambil alih jiwanya? Kau ingin membunuhnya? Kau ingin dia meninggalkan raganya?" kini Chamomile sudah berteriak sangat keras, jika Lyra hanya tertidur di atas ranjang itu, mungkin sekarang dia sudah terbangun dengan wajah terkejut karena mendengar teriakkan yang memekikkan telinga. "Apa kau tidak tahu terimakasih karena telah diselamatkan olehnya?" Chamomile maju satu langkah, mendekati Luo Qing dengan tangan kanan yang terbuka.
Dari sana terbentuk sebuah gumpalan benda hitam yang entah berasal dari mana, menyatu menjadi padat, persis seperti sebongkah batu.
Luo Qing panik di tempatnya, dia tahu kalau Chamomile akan melemparnya dengan itu dan menghindarinya tidaklah cukup. Chamomile akan terus menyerang sampai benda itu mengenainya. Luo Qing benar-benar panik, tidak dapat berpikir dengan jernih. Tamatlah riwayatnya.
"Apa? Kau menyerah? Lawan aku! Sudah seharusnya kau melawan ku karena sudah menggagalkan rencana mu! Ayo!" Chamomile berteriak kembali dan kali ini berhasil di dengar oleh Rick.
Beberapa derap langkah kaki yang berlari menuju ke sana membuat Chamomile cukup puas, diam-diam dia penasaran dengan reaksi Rick. Reaksi macam apa yang akan ditampilkannya di hadapan semua orang saat dia sudah menyelamatkan hidup seseorang tetapi malah berkhianat.
Bethany yang muncul lebih dulu, "Mile, ada apa?"
Di belakangnya disusul Rick dan Tobias yang sedang menatap benci ke arah Luo Qing. Tidak tahu di mana keberadaan Sean, sejak dia pergi meninggalkan Lyra dan sampai saat itu Chamomile tidak melihatnya. Dia juga cukup penasaran bagaimana jadinya jika dua orang itu membenci laki-laki tidak tahu diri di hadapan mereka itu ingin membunuh orang yang mereka cintai. Meski pun mulanya Chamomile tidak menginginkan perkelahian, tapi sikap Luo Qing benar-benar menjijikan.
"Apa yang kau lakukan? Di mana Sean? Ku kira Sean menjaganya bersama mu." ujar Rick setengah berteriak.
Luo Qing yang masih panik menjadi semakin panik karena kedatangan orang-orang itu, ditambah Rick yang mungkin masih membencinya karena kejadian di ruang tamu beberapa waktu yang lalu. Tapi anehnya, Sean tidak ada di sana. Entah kemana anak itu pergi.
Rick mendesis sembari mendekati Luo Qing dengan wajah sinisnya yang penuh dengan kebencian mendalam. "katakan, apa yang kau lakukan!" serunya.
Mata Luo Qing menatap mereka satu per satu, Bethany yang sedikit tersenyum merasa sedikit puas, seperti ada sesuatu yang sedang dirayakannya secara diam-diam. Merasa menang. Namun. Berbeda dengan Chamomile yang masih bersikeras ingin menghantam dirinya, diikuti dengan Tobias yang memilih berada di dekat Lyra alih-alih melindungi. Luo Qing masih menunggu kedatangan seseorang lagi, mungkin tak lama orang itu akan segera tiba jika mendengar keributan itu.
"Santai saja, Rick."
__ADS_1
Rick dengan cepat menoleh ke arah pintu, di sana muncul sosok yang sejak tadi menghilang.
"Dari mana saja kau? Kenapa kau meninggalkan Lyra dengan lelaki tidak tahu diri ini?" serunya seakan ingin menghajar wajah Sean yang semakin mendekat.
"Maafkan aku, aku meminta Tobias menjaganya, bukan padanya. Lagi pula, sejak awal, kedatangan kita kemari adalah suatu kesalahan." Sean mendekati Luo Qing tanpa peduli kalau lelaki itu akan membunuhnya. "Dia terpojokkan begini karena suatu hal."
Raut wajah Bethany yang tadinya merasa menang, kini malah berubah agak panik dan sedikit ketakutan.
"Tobias, kau mau menolongku? Tolong jaga pintunya agar tidak ada seseorang pun yang kabur." katanya lagi, membuat orang-orang di sana semakin bingung.
Rick mengiyakan dan Tobias langsung melakukannya, dia menjaga pintu keluar tetapi tidak menutupnya.
Sean memegang bahu Luo Qing, merangkulnya, "kupikir seorang penyihir memang tidak bisa menghipnotis karena ku dengar hanya seorang vampir yang bisa melakukannya. Dan, entah bagaimana bisa seorang penyihir terkena sebuah hipnotis dari penyihir lain." ucapnya dengan santai. Lalu meninggalkan Luo Qing dan berjalan ke arah Bethany, "tapi yang pasti, orang itu sudah merencanakan banyak hal. Iya, kan?" dia tersenyum ke wajah Bethany yang menahan amarah.
"Kau jangan macam-macam padanya!" sergah Chamomile menghalangi pandangan Sean untuk melihat Bethany.
"Kau tanya saja pada adik mu yang selalu merasa iri kepada semua orang yang ditemuinya." balasnya, "aku memang bodoh, tapi sekarang aku sudah banyak belajar. Maka dari itu, menyelidiki kasus yang sudah terpecahkan ini menjadi mudah bagiku."
"Oh, jadi, semua adalah suatu yang sudah terencana?" Rick berbalik melihat ke arah Bethany dan Chamomile bergantian. "semua memang sudah direncanakan?" tanya nya lagi.
Rick mendengus, "kau pikir aku masih mau percaya padamu?" dia menatap rendah wanita itu.
"Kau bisa lepaskan mantra nya sekarang, kalau kau tidak mau situasi menjadi tidak terkendali dan Rick semakin membenci mu." Sean melipatkan tangannya di depan dada.
Chamomile yang awalnya ragu melihat sekilas ke arah Bethany yang menunduk menahan kesal sebab tidak bisa berbuat apa-apa. Terlebih, Bethany sangat takut jika Rick akan semakin terluka kalau dia melepaskan sebuah mantra kuno di ruangan itu.
"Aku yang akan melakukannya." Chamomile menghilangkan benda mistis dari tangannya yang terbuka, kemudian berjalan menuju Luo Qing yang sangat panik, dia tidak tahu akan diperlakukan seperti apa. Kata mati semakin jelas di telinganya.
Luo Qing beberapa kali menghindari tatapan mematikan dari Chamomile dan pada akhirnya menyerah karena di ancam oleh Rick. Tanpa sadar, dia menangis.
"Ini salah ku, harusnya aku tidak melakukan kebodohan itu. Maafkan aku.." dia terduduk dengan wajah memerah penuh air mata. "Rasanya memang bukan diri ku yang sesungguhnya."
Jantung Bethany berdegup kencang, kali ini dia yang setengah panik karena berada di situasi yang tidak menguntungkan. Dia sudah membuat banyak kesalahan karena terlalu buta akan cintanya pada Rick, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiam diri dan akhirnya menerima tamparan keras dari Chamomile.
__ADS_1
"Jika kau ingin membunuh seseorang, kenapa kau tidak membunuhku!" teriak Chamomile dengan telapak tangan yang memanas. "kau harusnya tahu, kau tidak boleh bersikap seperti anak-anak! Ternyata kau sudah merencanakan hal ini, membuat Luo Qing melihat kejadian yang tidak pernah terjadi seperti yang kau lakukan pada Tobias waktu itu! Betapa rendahnya harga dirimu Belladonna! Betapa tidak tahu malunya kau!"
"Apa kau masih tidak ingin mengakui kesalahan mu?" tanya Sean dengan pelan. "Tadinya aku sempat berpikir kalau kau tidak akan melakukannya. Tapi rupanya semakin dibiarkan, kau semakin tidak bisa mengontrol dirimu sendiri. Dan membuat Lyra menderita tiada henti."
"Tapi kau tahu dari mana semuanya?" tanya Tobias.
Sean melihat Tobias dan Bethany bergantian, "aku mencari Rick, tapi rupanya aku salah masuk ruangan." ujarnya dengan sedikit cengiran. "Siapa sangka aku malah menemukan sebuah buku yang terbuka begitu saja di ruangan bawah yang cukup jauh dari sini. Penuh dengan obat-obatan seperti racun, yang pernah ku temui di rungan kerja Luo Qing kala itu. Aku juga menemukan sebuah note yang bertuliskan 'Rick akan kembali'. Kira-kira siapa ya pemiliknya?" Sean menyunggingkan senyum.
"Apa itu tidak keterlaluan? Dia masuk seenaknya ke ruangan ku dan melihat barang-barang pribadi ku!" sergah Bethany, terdengar seperti membela diri.
"Diamlah, Belladonna, aku tahu memasuki area pribadi seseorang adalah salah, tapi berencana untuk mencelakakan orang pun adalah tindakan yang lebih salah. Kau pikir dengan cara kau menggerakan pena dari jarak jauh begitu, tidak akan ketahuan oleh siapapun? Sudah cukup bagi ku dibodoh-bodohi oleh orang yang ku percayai. Walau pun aku memang tidak percaya kepada siapapun yang ada di sini pada awalnya." Sean menatap benci ke arah Bethany.
"Wajar saja nama mu berbeda dengan penyihir-penyihir lain yang ku temui, bahkan dengan saudari mu sendiri. Ternyata kau menyimpan banyak keburukan dalam dirimu sehingga memilih untuk menutupinya dengan nama lain. Dan berpura-pura kalau Bethany adalah nama panggil mu sewaktu kecil." ujar Rick, dia benar-benar mendekatkan dirinya ke Bethany. "jika kau berpikir kalau aku akan berpindah mencintaimu karena Lyra tiada, kau salah besar, aku malah semakin membenci mu karena kau penyebab Lyra tiada." tatapannya benar-benar penuh dengan kebencian yang tidak terhitung banyaknya, sampai-sampai rasanya dia ingin meremukkan wanita itu.
Chamomile yang tidak tahan ingin menampar Bethany sekali lagi sedang berusaha mengendalikan dirinya. "Tolong kau pergi dari sini dan jangan keluar dari ruangan mu sampai aku memintanya. Lakukanlah sebelum aku menghilangkan seluruh keberadaan mu di dunia ini." katanya tegas dan Bethany langsung berlari keluar dari pintu, Chamomile bisa memastikan kalau anak itu akan berada di ruangannya tanpa berani melawan sedikit pun.
"Kau yakin dia akan pergi ke sana?" tanya Tobias.
Chamomile mengangguk sebagai balasan, "dia tidak akan membantah ku kalau sudah melihatku berani menamparnya."
"Ku pikir dia butuh lebih banyak waktu dan teman bicara yang bisa mengerti dirinya." Sean tiba-tiba berjalan ke arah Lyra, memeriksa kondisinya. "Sebenarnya dia adalah orang baik, dia menyayangi mu tetapi Amarilys membuatmu semakin menjauh darinya, bahkan saat kedatangan Rick dan Tobias, dia merasa memiliki teman baru yang akan menemaninya tetapi kalian berdua hanya tinggal untuk beberapa hari. Dan dia kesepian lagi." senyuman tersungging di wajahnya. "Dan pada akhirnya, Lyra bisa merasa hangat. Aku sudah meminta bantuan Amarilys." dia duduk dan menggenggam tangan Lyra yang masih saja membeku.
Rick berjalan mendekatinya, menatap Lyra dengan wajah pucat nya. Bahkan urat-urat biru yang ada di bagian kelopak matanya sangat kentara. Bibirnya tidak berwarna, dia memang nampak seperti mayat.
"Aku akan memeriksa kondisinya lebih dulu." Chamomile meraih sebuah stetoskop dan memasangkannya ke telinga, lalu menaruh diafragma ke arah jantung Lyra kemudian ke bagian dadanya.
Sementara itu Tobias yang tidak tahu harus apa mendekati Luo Qing yang masih terduduk di sudut ruangan, wajahnya masih memerah tapi sudah berhenti menangis. Tobias tahu dia mungkin merasa bersalah karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya meskipun itu bukan kesalahannya sesungguhnya tetapi tetap saja dia yang melakukannya.
"Kau harusnya tidak perlu menangis, minta maaf lah kepada Rick sebelum dia tidak lagi menegur mu." kata Tobias, mencoba menenangkan Luo Qing yang mirip orang gelandangan.
"Cukup sulit menjangkau suara jantungnya tapi pernapasannya stabil, kok." Chamomile melepaskan stetoskop dan menaruhnya kembali ke atas meja.
"Setidaknya dia masih bernapas, meski pun nampak sulit baginya." Rick duduk di sebelah lain ranjang dan mengusap pelan dahi Lyra. "Bertahan lah." lirihnya.
__ADS_1
Sean melihat Rick sekilas dan tersenyum kepada Chamomile untuk mengatakan terima kasih padanya, dia bahkan tidak akan menyangka semua kejadian yang terjadi memang sudah direncakan. Sean sendiri mulanya sulit untuk percaya, bahkan akhirnya mengorek informasi tentang Belladonna yang akhirnya terpecahkan. Kemudian mencari Amarilys yang tidak sengaja dia temui di dalam kamarnya sendiri dengan keadaan yang terkunci sebelum akhirnya dia mendapati Chamomile yang ingin membunuh orang yang tidak bersalah.
Setidaknya dia datang tepat waktu sebelum terjadi hal-hal yang tidak seharusnya terjadi hari itu.[]