
Usai mendengar kisah Onyx—yang sudah dia ringkas sependek-pendeknya dan itu masih terdengar sangat panjang, mereka keluar dari tenda bersama. Onyx menawarkannya baju lengan panjang miliknya untuk menutupi perban di lengan kiri Lyra. Onyx mengerti perasaannya jadi dia juga akhirnya berpendapat sama. Lagipula, Lyra tidak mau terus-terusan menjadi sorotan di kala pertunjukan dimainkan karena lukanya yang begitu aneh serta menggelikan, dan perban yang ikut menghitam penuh cairan penawar sementara itu terlihat nampak jelas Bahkan saat di campur ke kain kasa nya, cairan itu mengeluarkan bau yang tidak sedap untuk di cium. Onyx mencuri parfum milik Irish untuk menghilangkan baunya dan Lyra hanya membenarkan rambutnya yang berantakan.
Onyx pamit setelah mengantar Lyra ke tempat dimana semua lampu-lampu yang menyala tanpa listrik menerangi seluruh tempat pertunjukkan dan entah bagaimana mereka mempersiapkan semuanya begitu cepat, dalam waktu yang tidak mencapai dua jam.
"Aroma ini.." Irish menggerakkan kedua tangannya naik turun ke depan wajahnya tepat di hidung, dia menghirup napas dalam-dalam.
Lyra menyengir tengil, "Onyx melakukannya."
"Dia mencari masalah padaku ya rupanya, awas saja anak itu." gerutunya dan masih mengoceh.
Saat dia mau duduk, matanya bertemu dengan mata Peony, perempuan itu hanya tersenyum sekilas melihatnya lalu membawa wajahnya ke tempat yang jauh di sana, tempat dimana Nona Yue berada. Dia menguraikan rambutnya yang panjang itu yang membuatnya agak terlihat cantik malam itu, sementara beberapa lelaki yang berada tidak jauh darinya mencuri-curi pandang ke arahnya.
"Peony.."
"Ya, dia sedang tidak ingin bicara, bahkan denganku." Irish tanpa melihat ke arah Lyra menyadari bahwa dia sedang memperhatikan Peony yang berbeda malam itu.
Pertunjukkan masih berlangsung, beberapa orang dengan pakaian serba putih dan topi hitam berbentuk kerucut merapal kan sesuatu dan muncul cahaya yang terang sebagai sumber penerang, itu tidak seperti yang dilakukan Chrysler waktu itu. Kemudian dari sana muncul beberapa orang lagi yang entah dari mana, mereka menggunakan topeng dan baju bergaya era Victoria berwarna hitam. Lyra merasa mereka semua perempuan dan hanya ada satu laki-laki di sana. Duduk di hadapan mereka seperti penonton. Datang seorang perempuan lagi, berbaju mewah warna putih dengan pinggiran kuning keemasan yang panjang seperti seorang ratu dari kerajaan. Rambutnya hitam gelap mengkilap sepanjang pinggulnya yang selaras dengan wajah mungilnya, wanita cantik dan anggun itu tersenyum kepada seluruh penonton. Lyra tidak bisa menangkap detil wajahnya tapi dia tahu bahwa wajahnya benar-benar berseri di bawah lampu-lampu sorot yang di buat para penyihir tadi.
Musik mengalun lambat di belakang layar, instrumen nya begitu nyaman di telinga. Para penonton seketika bersorak dan berdiri sambil bertepuk tangan, melihat wanita itu memunculkan sesuatu dari ujung tongkat kecil yang dia pegang. Sangat di sayangkan suasana meriah itu dikacaukan oleh kedatangan Sean, dia membawa minuman di dalam kantong yang di jinjingnya. Dia memberikan salah satunya kepada Lyra dan Lyra mau tidak mau menerimanya. Namun, karena hal itu, dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di atas panggung sana. Semua orang masih berteriak dan terus bertepuk tangan tiada henti, itu membuat Lyra sangat penasaran.
Dia membawa minuman itu dengannya seraya berlari maju ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Wanita itu, yang bagaikan ratu di malam itu, merapal kan matra yang tidak dapat di mengerti. Bibirnya dilapisi lipstik berwarna peach dan bulu matanya begitu lentik. Lyra rasanya hampir salah lihat, wanita itu lebih seperti malaikat di tengah-tengah cahaya terang tersebut. Wanita itu menggunakan sihirnya untuk membuat beberapa gumpalan air mancur naik ke atas dan membuat pantulan cahaya ke tanah, salah satu tangannya seolah mendorong sesuatu yang membuat gumpalan air menjadi berputar. Ini hal yang pertama kali Lyra lihat dengan mata kepalanya sendiri selama hidupnya. Rasanya dia begitu beruntung.
"Matamu berkilat-kilat." Irish sudah berada di sampingnya, disusul Sean juga.
Lyra tersenyum lebar, "wanita itu luar biasa." akunya.
Irish kemudian tersenyum, "kami memanggilnya Nona Yue."
__ADS_1
Lyra melihat Irish setengah tidak percaya, entah apa yang membuatnya ternganga dan menggeleng-geleng kan kepalanya tiada henti. Namun, Irish paham hal itu. Semua orang akan terkejut dengan perawakan Nona Yue yang terbilang hampir sempurna itu. Bahkan saat dia muncul, semua orang akan berteriak memanggilnya seolah dia seorang selebriti.
"Aku tahu kau tidak bercanda, tapi, tapi dia hampir sempurna untuk menjadi manusia." tukas Lyra yang masih terkejut.
"Mungkin saja, dia menyembunyikan sayapnya dibalik rambutnya yang panjang." ujar Irish.
Lyra melihat Nona Yue berjalan ke belakang layar dan menghilang di kegelapan, dia terpaksa kembali duduk di tempatnya yang tadi. Sementara itu pertunjukan berikutnya dimulai, Chrysler yang ada di hadapan mereka memberikan instruksi agar anggota yang lain mengerti apa yang harus mereka lakukan walaupun Lyra yakin mereka sudah berlatih terlebih dulu.
"Hei, Irish." sapa seorang perempuan yang entah muncul darimana, "Nona Yue sudah mendengar hal itu, dan Nona Yue memintamu untuk menemaninya ke Volant Lapis."
Meskipun Lyra tidak paham apa yang dibicarakan perempuan itu kepada Irish, tapi dia tahu kalau perempuan itu mencuri pandang kepadanya. Lyra sadar kalau perempuan itu memperhatikannya selama dia berbicara.
"Ya, aku akan bicara dulu padanya. Terimakasih informasinya, Sels." Irish tersenyum sambil mengangguk yang mana hal itu dibalas anggukan juga oleh perempuan yang dia sebut Sels.
Manik mata Irish yang seakan berkaca-kaca di karenakan lampu-lampu terang itu menatap Lyra, dia hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengannya karena dia datang sebagai tamu di perkemahan itu. Lyra yang awalnya bingung hanya mengiyakan, karena dia pikir dia harus meminta izin kepada pemiliknya. Kemudian mereka berdua berjalan, meninggalkan Sean yang sudah merelakan Lyra pergi tanpanya.
Rupanya Irish membawa Lyra ke tempat dimana Nona Yue berada, apakah ini yang mereka sebut Volant Lapis? Lyra membatin.
Tangga yang terbuat dari batu itu memiliki lampu di setiap sisinya yang mana untuk menerangi jalannya. Ada beberapa tumbuhan yang Lyra tidak tahu namanya bertengger menjadi hiasan. Bahkan saat mereka sudah berada diujung tangga paling akhir, Lyra mendapati beberapa sosok seperti putri yang berada di kanan kiri pintu masuk yang di cat coklat keemasan. Bangunan itu benar-benar megah bak kerajaan dalam dongeng, lampu keemasan menerangi sekelilingnya. Aroma bunga Evening Primrose masuk ke dalam hidungnya, bunga yang hanya mekar di malam hari dan dia menemukannya tumbuh di dalam pot berlapis batu Labradorit yang mana itu memancarkan warna biru laut yang indah.
Lyra hanya dapat melihat dengan rasa tidak percaya di dalam hatinya, tapi setiap kali dia sadar bahwa dia benar-benar berada di sana, Lyra seolah ingin bersumpah untuk berada di perkemahan itu selamanya.
Dua perempuan yang cantik di depan pintu mempersilahkan mereka masuk tanpa bertanya lagi dan Lyra hampir saja terjatuh pingsan untuk yang ke sekian kalinya karena tidak sanggup melihat keindahan yang ada tepat di hadapannya.
Sebuah singgasana yang begitu megah dengan nuansa yang damai memenuhi ruangan tersebut, itu berada agak tinggi dari yang lainnya. Singgasana tersebut memiliki dua sisi anak tangga di sampingnya yang mana itu semakin mempercantik keadaannya. Lalu di setiap sudut bangunan memiliki pintu yang sama persis dan di tengah-tengah bangunan itu terdapat anak tangga yang menuju ke bawah sepertinya.
Seorang perempuan datang menghampiri mereka berdua, "mari ku antar kalian bertemu Nona Yue. Lewat sini." perempuan tersebut meninggalkan aroma yang manis di belakangnya.
__ADS_1
Lyra dan Irish mengikuti perempuan itu melewati anak tangga yang memang menuju ke bawah yang rupanya memiliki ruangan. Tiba di anak tangga paling akhir, mata Lyra mendapati sosok yang dia lihat di pertunjukan, tapi kali ini wanita itu mengenakan pakaian yang agak santai dari sebelumnya walaupun tetap saja terlihat mewah.
"Ayo, duduk bersamaku. Jangan sungkan." cara bicaranya seolah bernada, Lyra sempat mengira tadinya kalau Nona Yue sedang melantukan sebuah lagu.
"Suatu kehormatan, sekali lagi, Nona Yue." sahut Irish dan dia mengajak Lyra untuk menunduk kepada Nona Yue.
Nona Yue hanya tersenyum tipis, dia membenarkan duduknya dan menaruh kedua tangannya di atas meja, dia mulai bersuara. "Kau adalah tamuku, Lyra. Namun, saat aku tahu sesuatu tentang kehidupanmu, aku sangat-sangat terkejut dan tidak ingin membiarkan kesempatan ini hilang."
Lyra hanya mengernyit di tempatnya, masih menunggu penjelasan dari Nona Yue.
"Ya, sebagai seorang manusia, kau sangat beruntung. Sahabatku, Orance, telah membesarkan mu hingga saat ini. Walaupun aku sempat memarahinya karena mengambil jalan yang tidak seharusnya dia lakukan. Dan, sebagai manusia serigala berdarah murni, sangat kecil kemungkinan kalau kau akan selamat."
"Jadi Nona Yue adalah sahabat Orance? Aku tidak percaya bahwa Orance memiliki sahabat sepertimu. Tapi.."
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, Lyra." sergah Nona Yue. "Karena aku seorang penyihir, bukan seseorang yang bisa mengubah takdir. Tapi setidaknya, aku bisa menghilangkan kutukan yang ada di lenganmu." Nona Yue kemudian menyuruh salah satu perempuan yang ada di sana untuk pergi mengambil sesuatu.
Sementara itu Irish tidak bereaksi, dia hanya diam mendengarkan seolah yang bersama Lyra itu bukanlah Irish yang Lyra tahu.
Nona Yue berjalan menghampiri Lyra seraya merapal kan sesuatu dengan mulut yang tiada henti bergerak. Sesuatu seperti kain yang putih dia tempelkan di lengan kiri Lyra, Lyra yang agak ketakutan sekaligus penasaran dengan apa yang dilakukan Nona Yue padanya menutup rapat matanya. Dia tidak ingin melihat hal itu terjadi lagi walaupun dengan orang yang berbeda. Hebatnya, dia tidak merasakan apa-apa, hanya dia merasa lengannya sedikit ringan.
"Apa yang Nona Yue lakukan?" tanya Lyra dengan wajah yang bingung.
Nona Yue yang kemudian memberi kain itu kepada perempuan di sebelahnya duduk kembali, berada sangat dekat dengan Lyra. "Laki-laki itu menaruh sesuatu pada lenganmu. Dia sengaja mencakar mu supaya dia mencari mu kalau-kalau kau berhasil kabur darinya. Dan sepertinya kau berhasil."
Lyra melirik Irish sekilas, "itu karena mereka. Mereka datang tepat waktu."
"Sebenarnya," tukas Nona Yue, "masih banyak yang harus ku sampaikan padamu, tapi sepertinya kau tidak punya banyak waktu."
__ADS_1
"Apa itu seperti kabar buruk?"
Nona Yue menggeleng, "bahkan lebih dari itu."[]