Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
71. Valdez


__ADS_3

Perasaan Lyra menyadari kalau lari para serigala itu semakin cepat saja, sehingga dia mau tidak mau melepaskan baju kemejanya, hanya menyisakan baju kaos tidak berlengan. Tindakannya itu menunjukkan seakan dia bersiap untuk bertarung.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Rick yang menyadari hal itu.


Lyra menoleh ke arahnya dengan wajah yang serius, tidak ada ekspresi lain selain raut tegasnya. "Aku sudah meragukan perjalanan ini sejak awal dan tidak mengatakannya padamu, pada Sean dan Tobias. Jika memang akan terjadi sesuatu, aku yang harus bertanggung jawab. Ini salah ku." tukasnya.


Jantung Sean berdegup kencang, mendengar perkataan Lyra seakan mereka tidak memiliki opsi lain selain menerima serangan mereka itu. Lagipula, mereka sudah terlanjur melewati jalur ini dan tidak akan bisa kembali. Jika memang akan terjadi sesuatu, Sean akan berjuang sekeras tenaga untuk tetap melindungi Lyra dan dirinya.


Ketegangan di dalam mobil semakin menjadi ketika bagian belakang mobil terangkat sehingga membuat mereka tidak berhasil bergerak maju lagi. Lyra dan Rick bertahan dengan menempelkan tangan mereka ke kaca depan mobil sementara Sean dan Tobias berpegangan pada kursi yang ada di depan mereka, mereka benar-benar tidak siap dengan serangan itu.


Beberapa serigala yang berada di belakang mobil seakan tidak memberikan mereka kesempatan untuk kabur, mereka terus mencoba membalikkan mobil tetapi rasanya tenaga mereka kurang banyak untuk melakukannya.


Tanpa bicara, Lyra memaksa membuka pintu mobil, ingin bertindak seperti pahlawan di saat-saat genting tetapi serigala yang lain mendorong dengan keras pintunya hingga rusak. Mereka benar-benar sudah terjebak. Namun, Tobias tidak kehilangan akal, dia memberi isyarat kepada yang lain kalau dia akan berubah menjadi serigala dan menerobos kaca belakang agar membuat bagian belakang mobil kembali ke aspal.


"Minggir!" sergah Lyra, dia mencoba meriah kursi belakang lalu meninju sudut kaca tersebut hingga pecah berhamburan, dia tidak menghiraukan jemarinya yang terluka.


Lyra memaksakan diri menerobos ke kaca, bajunya tersangkut karena pecahan kaca yang tersisa agak tajam tapi dia menariknya secara paksa sehingga menimbulkan suara robekan yang membuat semuanya mendengar.


"Jangan pernah kau berpikir untuk melakukannya!" seru Rick, dia belum memiliki keseimbangan untuk bisa menarik Lyra masuk kembali.


Perempuan itu sudah keluar dari mobil dan berdiri tidak seimbang di bak mobilnya, dia sudah tidak peduli lagi jika memang mobilnya harus rusak dan hancur. Dia hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya. Jika saja Lyra sempat berbicara dengan Rick, atau Sean, atau bahkan Tobias, mereka tidak akan mengalami hal ini.


Jadi Lyra memutuskan untuk merubah wujudnya tanpa berpikir panjang, dia benar-benar akan menghabisi beberapa serigala yang mencoba merusak mobilnya. Dia sudah kehilangan kendali akan amarahnya.


Ketika tubuhnya berubah sempurna menjadi serigala dengan bobot yang lebih berat dan lebih besar dari yang seharusnya, membuat beberapa serigala melepaskan gigitan mereka dari bak mobil dan masih dua yang tersisa, yang tetap bertahan. Karena mobil sudah cukup mendapatkan keseimbangan, Rick tidak ingin melewati kesempatan itu, dia dengan cepat membenarkan posisi duduknya lalu menancap gas agar mereka bisa kabur kembali. Lyra yang memang sudah memantapkan keseimbangannya berhasil bertahan di atas bak mobil dan dua serigala yang tersisa tersungkur begitu saja.


Siapa yang harusnya ketakutan, hah?


Lyra mendengar suara itu dalam kepalanya, dia mencari sosok yang bicara padanya.


Sungguh sudah lupa dengan ku? Dia tertawa.


Memang tidak lagi asing tapi dia benar-benar lupa siapa orang itu.


Dia pikir dia bisa selamat setelah mengambil Rick, bahkan Tobias pun sekarang memilih bersamanya. Kembali suara lain muncul dalam kepalanya, membuatnya agak kebingungan.


"Alice, Noel, Lucas, dan Owen?" Tobias melihat mereka satu per satu dengan seksama, dia begitu mengenali teman-temannya sehingga tahu beberapa dari mereka yang terlihat.


"Owen? Bukankah dia sudah mati?" sahut Rick, masih sibuk menyetir dan sama sekali tidak sempat memperhatikan mantan teman-temannya.


Sean yang duduk berbalik ingin sekali menyusul Lyra yang ada di belakang, tapi dia takut kalau akan merepotkan Lyra jika terjadi sesuatu. Jadi dia hanya mengawasi Lyra, memantau keadaan sekitar Lyra, jika dirasa tidak aman, dia harus memberitahu perempuan itu.


"Sean, tolong awasi Lyra. Ji-"


"Aku sedang melakukannya." balasnya dengan cepat, bahkan sebelum Rick selesai bicara.


"Mereka sepertinya membuat kelompok baru, tapi Owen, dia cukup berbahaya." ujar Tobias, matanya terus melihat sekitar mereka.


Sean terkejut ketika Lyra tiba-tiba mengaum keras tapi hanya sebentar, dia ingin menyusul dan merubah dirinya juga tetapi dengan cepat Tobias menahannya.


"Kenapa? Dia sedang merasa terancam!" tukas Sean, dia menepis tangan Tobias kuat-kuat lalu merangkak melewati kaca yang pecah, tidak peduli jika ada bagian tubuhnya akan tergores.


"Dia memang keras kepala. Kau tetap perhatikan pergerakan musuh, aku akan menambah kecepatan lagi."


Entah usaha macam apa lagi yang perlu dilakukan Rick agar dia bisa melindungi Lyra, bahkan meminta Tobias untuk bertukar posisi sepertinya sulit dalam kondisi yang tidak menguntungkan mereka itu. Jadi Rick hanya bisa berharap kepada Sean dan Tobias sementara dia cukup mengendalikan mobil agar tidak terbalik dan tetap terjaga.


Walau nampak puluhan lebih serigala yang sudah mengikuti mereka, bahkan mungkin sudah menghalangi jalan mereka di depan, Rick tetap akan menerobosnya, tidak peduli jika di antara banyak serigala yang tidak ada hubungannya dengan mereka selain menjadi budak Valdes ada yang mati.


Kembali dengan Lyra yang sudah ditemani Sean di bak mobil yang rasanya semakin sempit, bekal dan barang-barang mereka hampir tidak ada yang utuh lagi. Semua rusak tidak tersisa.

__ADS_1


Mengapa kau melolong?


Lyra mendesis, wajah serigalanya mengernyit. Tidak ada kesempatan bagi kita, meski pun Rick berusaha semaksimalnya untuk menerobos dan memaksa keluar dari jalan hutan ini, mereka sudah menunggu di ujung.


Sial! Aku harus memberitahu Rick. Dengan cepat Sean kembali lagi ke wujud manusianya, kembali melewati kaca yang pecah. "Kita tidak akan berhasil, mereka sudah menunggu kedatangan kita di depan." ujarnya dengan cepat.


"Dia pasti sudah dipengaruhi Alice, meski dia tidak bisa dipercaya, sebaiknya tetap waspada." sergah Tobias.


Namun, belum saja mereka siap kembali dan mawas diri. Dengan begitu keras dua serigala berbulu hitam dengan tubuh yang cukup besar menabrak diri mereka ke mobil hingga mobil oleng, berpindah ke jalur lainnya yang tidak dilewati oleh siapa pun sejak ke datangan mereka di sana. Rick tidak bisa menstabilkan mobilnya sebab mereka berulang kali membenturkan badan ke mobil sehingga membuat Lyra terpaksa melompat terjun ke tubuh salah satu serigala, sementara serigala baru datang lagi membantu temannya yang sedang diserang.


"Sial!" umpat Rick terlepas kendali. Dia menginjak pedal rem dengan tiba-tiba hingga membuat dia keluar dari kaca depan mobil yang pecah karenanya, mobil berguling dengan masih ada Sean dan Tobias di dalamnya.


Lyra yang menyadari hal itu, meninggalkan serigala yang sedang dihajarnya demi menyelamatkan dua orang yang ada di dalam mobil. Barang bawaan mereka keluar berhamburan di atas aspal panas itu.


Maafkan aku. Aku tidak seharusnya membuat mereka terjebak di dalam mobil. Sergah Rick, dia sudah ikut berubah menjadi serigala juga kemudian mengekor di belakang Lyra untuk menolong temannya.


Entah mengapa Rick tertinggal oleh langkah Lyra yang panjang, dia tidak tahu apa penyebabnya. Bahkan Rick baru menyadari kalau tubuh serigala Lyra benar-benar lebih besar ketimbang sebelumnya, dia sama sekali tidak punya opsi yang bagus untuk menebak kemajuan yang pesat itu. Pantas saja mobil terasa sangat berat ketika Lyra berada di bak mobilnya, Rick seolah merasa kalau dia membawa seekor gajah betina.


Kau mengejek ku ya? celetuk Lyra, tapi aku memang merasakan tubuhku agak besar dari sebelumnya, sih.


Rick mendengus, nanti saja kita bicarakan itu, kita harus menolong mereka dulu.


Lyra dan Rick lebih mempercepat langkah mereka sementara serigala pasukan Exchanges mulai bergerombolan mendatangi mereka dengan banyak macam variasi warna bahkan tubuh dari yang terkecil hingga besar. Diam-diam Lyra penasaran, apakah ada Valdes di antara mereka semua. Jika memang dia berada di antara gerombolan yang lumayan banyak itu, Lyra tidak segan menghajar dirinya.


Kau serius, Lyra Adamicz? Lagi-lagi pertarungan ini melibatkan mu ya.


Jantung Lyra berdegup sekencang-kencangnya, langkahnya terhenti begitu saja sembari melihat sekelilingnya, mencari sosok Valdes.


Aku juga mendengarnya, jangan pedulikan. Itu suara Sean! Rick bergerak sedikit agak cepat karena mendengar suara Sean yang mengerang, nampak kesakitan.


Beruntung Rick dengan cepat menyadarkan Lyra, jika tidak, dia sudah pasti akan diserang oleh pasukan Exchanges secara brutal karena hanya berdiam diri saja.


Bedebah sialan! Kalian selalu mengacaukan segalanya!


Sean, kendalikan dirimu! seru Lyra, mencoba menenangkan Sean


Sementara Tobias merangkak keluar dari mobil yang baru saja mendarat asal di perbatasan hutan dan jalanan, di dahinya mengalir darah segar tanpa henti sehingga membuat wajahnya nampak menyeramkan.


Astaga! TOBIAS! Rick berlari menghampiri temannya itu, dia bergerak sangat lambat sampai tidak bisa menolong Tobias yang masih terjebak.


Semua kaca mobil sudah pecah dan pecahan kacanya berhamburan di aspal. Rasanya sulit menemukan bagian yang masih utuh di antara ribuan kerusakan itu.


Rick.. Lyra gemetar di tempatnya, sudah tidak terhitung seberapa banyak pasukan Exchanges mengelilingi yang cukup jauh dari jangkauan Rick untuk melindunginya.


"Aku masih bisa bertahan," ujar Tobias seraya menahan sakit pada bagian kepala dan lengannya yang terjepit kursi. "kau selamatkan saja Lyra!" sergahnya.


Belum juga Rick bertindak karena bingung harus bagaimana, Sean sudah lebih dulu mengumpat kepada semua pasukan itu dan berlari menghampiri Lyra, dia agak pincang tapi masih tetap mempercepat larinya. Sean melompat cukup tinggi dan mendarat di salah satu punggung serigala, dia menggigit dengan kuat leher serigala tersebut lalu mencakar nya berulang kali pada bagian yang sama, membuat darah mengucur dengan deras jatuh menodai aspal. Serigala itu tidak lagi bergerak sama sekali tetapi tetap meringis kesakitan, terbaring tidak berkutik di aspal.


Seperti deja vu, hah? Ketus Sean, lagi-lagi semuanya persis, hanya saja kali ini dengan jumlah yang banyak.


Lyra yang juga merasa terancam akhirnya menggeram ke arah serigala yang sedang mengelilinginya, meski tubuhnya sudah lebih besar dari mereka semua, tetap saja jumlah mereka tidaklah seimbang. Dia menatap dengan bengis setiap wajah serigala dihadapannya, dia mengernyit, menampakan gigi taringnya. Lyra melebarkan kaki depannya untuk bersiap menyerang tapi sesuatu membuatnya tidak dapat fokus.


Masih mencari ku? Tebak lah dengan indera pencium aroma sihir mu itu, gadis manis.


Lyra berdecak di dalam kepalanya, pengecut!


Tiba-tiba suara tawa masuk ke dalam kepalanya, semakin nyaring dan benar-benar mengganggu. Bersamaan dengan itu Lyra mendapati mata yang merah menyala di antara kerumunan dan saat menyipitkan matanya untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat, mata itu menghilang tanpa jejak, rasanya dia juga kehilangan indera penciumannya karena tidak berhasil merasakan aroma sihir di sekitarnya. Diam-diam dia bersyukur sebab tidak perlu takut kalau suatu waktu dia harus ambruk dengan sendirinya.


Beberapa serigala yang berada paling belakang melompat ke arahnya, berusaha menyerang tapi dengan cepat Rick ikut melompat juga, menepis mereka.

__ADS_1


Jangan biarkan mereka menyentuhmu begitu saja.


Maaf, Valdes benar-benar mengganggu. Jawabnya.


Apa kau tetap akan diam saja, Lyra?


Akhirnya suara Tobias muncul juga dalam kepalanya, dia lega kalau semuanya masih bisa bangkit dan bertahan.


Haruskah kita akhiri mereka satu per satu? Tanya Sean yang masih saja menghajar serigala yang juga menghajarnya, kuku kaki depannya sudah penuh dengan noda darah.


Rick belum bisa mengambil keputusan, tapi menurutnya, lebih baik menghabisi beberapa dari mereka dulu sebelum mereka benar-benar akan kalah jumlah. Sebab dia tahu, Valdes tidak akan mengerahkan semua pasukannya begitu saja di sini, dia sudah memiliki rencana lain yang harus Rick tebak agar tidak membahayakan teman-temannya.


Sepertinya, menghabisi beberapa dari mereka lebih dulu akan lebih baik, karena aku tidak ingin bertarung di tengah-tengah jalanan yang bisa saja dilewati manusia normal kapan pun. Kata Rick, dia berusaha menggigit leher serigala yang terus menyerangnya. Kita akan melarikan diri masuk ke dalam hutan dan jangan pernah berpisah. Ayo serang mereka!


Tobias dengan kepala yang terluka masih sanggup untuk bertarung dalam beberapa waktu ke depan sebelum dia akan kehilangan kesadaran karena kepalanya terus berdenyut tak karuan.


Saat semua sedang saling menyerang, menyakiti satu sama lain tanpa pernah ada suatu hubungan apa pun seperti dendam misalnya, Lyra sempat-sempatnya merasa kasihan kepada beberapa serigala yang sudah tumbang. Betapa kejinya Valdes mempermainkan serigala yang tidak tahu apa-apa sebagi pion nya untuk menguras tenaga mereka. Dia setuju dengan ide Rick, Valdes yang mungkin sudah merencanakan banyak rencana pun pasti sudah menduga kalau mereka akan kabur, melarikan diri sari pertumpahan darah yang tidak diinginkan siapa pun.


Lyra bertanya-tanya siapa yang akan mempertanggung jawabkan kekacauan itu semua dan membersihkan wilayah itu tanpa harus diketahui oleh manusia normal yang akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan dari pada dirinya.


Valdes selalu turun tangan untuk membersihkannya secara langsung menggunakan sihirnya, ujar Tobias, dia memang suka melakukan banyak hal sesuka hatinya tapi semoga, apa yang terjadi hari ini akan sama halnya dengan kasus-kasus pembantaian sebelumnya.


Kau bercanda hal semacam ini pernah terjadi. Sahut Lyra, menyangkal penyataan Tobias yang sedang bicara serius dengannya.


Aku dan Tobias menjadi saksi kengerian yang dilakukannya, dia menggila seakan tidak takut akan kematian yang kapan saja bisa melahapnya. Sambung Rick, membenarkan pernyataan Tobias.


Lyra hanya terdiam, tetapi tetap melakukan serangan bertubi-tubi pada lawannya yang rasanya tidak ada habisnya. Entah kapan ada serigala lain di sisinya, yang dengan brutal menerkam tubuh Lyra. Serigala itu tergantung dengan kuku yang menancap di kulit Lyra, rasanya seperti akan robek dalam sekejap dan Lyra berusaha menahan rasa sakitnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke serigala yang ada dihadapannya agar membuat serigala lainnya terjatuh, melepaskan terkaman nya. Lyra sedikit meringis tapi dia sadar kalau saat itu bukanlah waktunya untuk mengeluh kesakitan, semuanya merasakan hal yang sama dengannya. Bahkan saat Lyra melirik ke arah Tobias sekilas, dia lebih tidak beruntung daripada Lyra. Kedua kaki belakangnya sudah terluka parah dengan darah yang menempel di bulu-bulunya, wilayah tersebut benar-benar sudah penuh dengan darah. Tidak bisa dipungkiri betapa mengerikannya situasi itu jika manusia melihatnya secara langsung.


Teriakan Sean membuat Lyra menoleh ke arahnya dengan cepat, dia sudah terpojok. Dalam situasi yang sudah pasti membuat Sean kehilangan nyawanya, Rick bergerak cepat menghampiri Sean kemudian menghajar serigala-serigala tersebut tanpa memikirkan rasa sakit yang ditimbulkannya. Robekan demi robekan yang diterima serigala tersebut membuat mereka meringis dan mundur hingga akhirnya melarikan diri dari sana.


Kau masih bisa bertahan? Kalau tidak, kita kabur saja dari sini, sebelum yang lainnya menyerang lebih keras lagi.


Entahlah, aku tidak ingin mengeluh kesakitan tapi rasanya memang benar-benar sakit. Balas Sean, wujud serigalanya menampakkan wajah kelelahan yang tidak dibuat-buat, bahkan dia berdiri hanya dengan tiga kakinya sementara kaki satunya terluka parah. Tubuhnya gemetar sebab menerima serangan tanpa henti.


Mereka akhirnya melarikan diri dengan aba-aba Rick dengan Sean yang memimpin jalan dan Rick berada paling belakang untuk melindungi teman-temannya. Dia menjadi teringat dengan beberapa waktu lalu, saat dia meninggalkan Lyra sendirian di hutan kala itu. Keberadaan kawanannya diketahui oleh kawanan serigala yang menjaga di sana dan membuat Alice murka karena Rick sudah menyepelekan tugas yang diberikan Valdes kepada mereka. Entah kenapa, Rick hanya suka melakukannya, lagipula dia tidak mau mengingkari janji apapun dengan orang lain yang sudah berharap padanya walau pun dia cukup banyak menipu Lyra demi melindungi dirinya sendiri dan menghindari kecurigaan Lyra waktu itu.


Namun, Rick pada akhirnya tetap pergi dari kawanannya, merasa sudah tidak bisa melanjutkan kegilaan Valdes yang tidak pernah menyadari semua konsekuensi dari perbuatannya. Dia terus menugaskan mereka untuk membunuh orang-orang tidak bersalah, Rick akhirnya sadar kalau mereka hanya diperalat dan cuma dia satu-satunya orang yang berhasil terbebas dari hipnotisnya.


Kita akan kemana? Sean sudah tidak bisa memilih jalan lagi.


Mereka sudah berlari cukup dalam kehutan dan jika mereka berhenti maka pasukan Exchanges akan menemui mereka lagi.


Yang pasti tidak membawa kita semakin jauh dari Wick. Sahut Lyra.


Mungkinkah kita akan terus berlari menghindari mereka dan memaksa pergi menuju Wick yang akan membuat Valdes malah menemukan keluarga mu juga. Ujar Tobias, dia terengah-engah.


Tobias ada benarnya, tapi jika mereka semakin menjauh dari Wick juga tidak ada gunanya. Jika memang Valdes akhirnya bertemu dengan keluarganya, toh mereka mungkin bisa meminta bantuan.


Rick mendengus, tidak, Lyra benar. Meskipun Valdes akan tahu keberadaan keluarganya, kita bisa meminta bantuan mereka untuk mengalahkan pasukan Valdes dan aku sendiri yang akan menghabisi si hybrid sialan itu. Gerutunya, Rick sudah tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya kepada laki-laki gila itu. Jadi, Sean, bawa kami menuju Wick, aku akan mengawasi.


Rasa letih mulai berdatangan dan energi pun rasanya terkuras cukup banyak. Namun, meski pun harus melewati bermil-mil jarak yang ditempuh, itu sama sekali tidak menggoyahkan keinginan mereka untuk segera sampai di Wick dan hanya menghabiskan setidaknya hampir dua jam perjalanan.


Apa mereka masih terus mengejar? Tanya Tobias yang ada di belakang Lyra.


Lyra memang tidak melihat Tobias berlari dengan kaki yang pincang tetapi melihat Sean yang sama terlukanya, itu sudah cukup membuat kedua orang itu terus bertanya dan merasa waspada dengan sekitar mereka.


Kalau masih, aku bisa menghentikan mereka dulu dan menyusul. Balas Rick yang disangkal dengan cepat oleh Lyra.


Kau yang beberapa waktu lalu bilang kita tidak boleh berpisah dan kau sendiri yang ingin berpisah dari barisan! Nada bicara yang sudah diketahui semuanya, Lyra marah dengan ucapan Rick yang seenaknya.

__ADS_1


Aku hanya mencoba melindungi teman-teman ku.


Dan suasana kembali hening.


__ADS_2