
"Terakhir aku mendengar pernyataan itu, aku tetap saja ditinggalkan sendirian. Jadi, kau tak perlu berjanji untuk yang itu. Dengan berada di sampingku saat aku membutuhkan mu saja bagiku sudah cukup, aku tak mau hal yang lain terjadi pada mu juga." sahut Lyra, dia terlihat lemas di tempatnya.
Rick yang mendengar perkataan Lyra ikut lemas, seperti kehilangan setengah nyawanya. Rupanya, dia memang harus berhati-hati saat berucap sebab Lyra selalu menginterupsi dengan berbagai macam hal yang sudah dia alami. Lalu, bagaimana dengan rahasia yang akan Rick bongkar padanya? Tentang dirinya yang pernah bekerja sama dengan Carlos lalu Carlos mengkhianatinya? Memang sih, kala itu Rick memang membutuhkan banyak uang sampai dia mau membunuh orang tidak bersalah demi bisnis yang sudah cukup lama dijalani Cravene palsu dan Carlos. Namun, tetap saja hal itu akan membuat Lyra semakin melihatnya dengan tatapan yang 'aneh'. Rick ragu kalau Lyra akan bertahan sampai di sana bersamanya.
Ada hal-hal yang memang tidak harus dibagikan kepada orang lain dan cukup menjadi sesuatu yang terpendam hingga termakan masa. Jadi mungkin Rick akan tetap merahasiakannya dari Lyra, hanya saja, yang mengganggunya adalah suatu waktu Lyra mengetahui hal itu dari orang lain. Itu yang dia takutkan.
"Tidak usah kau pikirkan, aku tak apa." ujar Lyra dengan nada santai, dia lalu tersenyum kepada Rick tetapi bukan senyuman tulus yang biasa dilakukannya.
"Maafkan aku Lyra, aku hanya tak ingin sesuatu akan membuatmu kecewa pada ku." sahut Rick lemas di tempatnya. "Aku.. aku tak bisa."
Lyra menarik wajah Rick agar melihatnya juga, menatap dalam matanya lalu tersenyum miring. Ibu jari Lyra naik turun di pipi Rick yang seiring waktu semakin berubah kecoklatan. "Katakan padaku, jadilah seperti diri mu waktu itu, yang aku butuhkan." kata Lyra. Dia sama sekali tidak peduli dengan Tobias yang tercengang melihat mereka berdua.
"Ku rasa aku memang tidak bisa menyembunyikan hal penting terlalu lama dari mu." Rick menghela napas.
"Kau benar-benar ingin melakukannya?" Tobias dengan wajah terkejutnya melongo kembali melihat dua orang yang bersikap sok romantis dihadapannya.
Rick melirik ke arah Tobias yang berdiri di sebelahnya, dia menyunggingkan senyum tipis. "Jika Lyra kecewa dengan hal yang akan ku katakan padanya, aku akan menyerah untuk menjadi orang yang jujur." tukasnya dengan percaya diri, diam-diam Rick juga meyakinkan dirinya akan hal itu.
Sebenarnya Rick tidak yakin dengan apa yang dia katakan karena Lyra bisa merubah prespektif nya kapan saja dia mau dan memutuskan untuk pergi sendirian melanjutkan pencarian Sean tanpa peduli dengan panggilan atau ribuan penahanan yang dilakukan oleh Rick dan Tobias. Dia akan bersikeras untuk menutup telinganya secara tidak langsung lalu berjalan tanpa menoleh ke belakang sekalipun. Namun, jika dia tidak mencobanya, dia tidak akan tahu bagaimana hasilnya. Rick penasaran sekaligus takut dengan apa yang selanjutnya terjadi.
Gemuruh angin kembali mengisi kekosongan dan ada beberapa mobil lalu lalang seraya mengklakson mereka bertiga tanpa berhenti dan bertanya. Padahal hari sudah mulai gelap tetapi mereka tetap menunggu sesuatu terjadi, seperti teriakan atau suara-suara aneh yang muncul.
"Beberapa bulan lalu, tepat saat aku sampai di Eropa, bersama kawanan ku beserta pasukan Exchanges yang dibawa Cravene." Rick memulai penjelasannya, dia ragu dengan reaksi Lyra yang akan berubah-ubah, tetapi tidak, Lyra tetap datar dan membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar hal yang katanya akan membuatnya kecewa. "Cravene bertemu Carlos, dia mengakui dosa-dosanya tetapi aku tidak tahu soal seluruh kisahnya, Tobias bahkan hanya mendengarnya dari salah satu pasukan Exchanges. Lalu, sejak saat itu, mereka melakukan bisnis yang sangat menguntungkan untuk kedua pihak. Namun, lama-kelamaan Carlos semakin tidak puas karena dia mengetahui kalau Cravene bisa melakukan sihir. Dia meminta banyak sekali hal-hal yang tidak mungkin hingga Cravene membatasi bisnis mereka. Dia tidak lagi turun tangan, melainkan menyuruh anak buahnya, termasuk aku." Jelas Rick.
Lyra tetap datar dan tidak berkomentar apapun dengan kisahnya, dia tidak merasa ada hal yang seharusnya membuatnya kecewa, seperti yang dikatakan Rick, hampir berulang kali.
__ADS_1
"Carlos memintaku membalaskan dendamnya kepada seorang manusia normal, yang mana sebenarnya orang itu tidak melakukan apa-apa padanya. Namun, aku tenang melakukannya karena aku mendapatkan imbalan agar supaya kawanan ku tetap hidup dengan damai. Seperti yang sudah-sudah, aku melakukan sedikit banyak hal-hal kejam kepada manusia normal dan manusia serigala, bahkan seorang penyihir hingga akhirnya Carlos tidak membayar sepersen pun padaku karena dia pikir tugasku semakin hari semakin buruk." Rick menghela napas, "aku ingin sekali membunuhnya tetapi Cravene mengetahui tujuanku, dia yang menahan ku dan lalu kami berjalan kembali untuk mencari manusia serigala lain di Eropa."
"Rick, kala itu belum bertemu dengan mu, dia hanya ingin menjadi seorang Alpha yang bisa diandalkan oleh kawanannya dan ingin melindungi kami." Tobias menyela, dia mencoba menjelaskan sambil membela Rick yang sudah melakukan banyak kejahatan kepada orang-orang yang tidak bersalah.
Mungkin Lyra akan mengangguk mengerti karena Rick sudah menjelaskannya, tetapi dia tidak yakin dengan alasan mengapa Cravene masih ingin melanjutkan bisnis mereka padahal dia sudah dirugikan oleh Carlos. Apakah orang itu bisa bodoh juga?
"Bagi Cravene, Carlos adalah rekan bisnis terbaik yang sangat bisa diandalkan. Dia menjual semua informasi yang dibutuhkan Cravene, bahkan mungkin dalam penculikan Sean, dia sudah memintanya jauh-jauh hari." kini Tobias yang mengambil alih penjelasan.
Sesuatu yang menggangu pikiran Lyra hanyalah bagaimana caranya Carlos akan tahu kedatangan mereka? Sementara Rick atau bahkan Tobias tidak menjelaskan kalau Carlos memiliki seorang penyihir dibalik tubuhnya yang sudah tua renta? Lyra harus mencari tahu hal itu.
"Apakah di antara kalian tidak ada yang melihat seseorang yang memiliki kekuatan sihir di sekitar Carlos?" tukas Lyra.
Tobias membungkam, dia menunggu jawaban muncul dari mulut Rick yang sama membungkamnya dengannya, tetapi dahinya berkerut seakan sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Apa dia memiliki jakun dan terlihat agak kurus? Apa dia juga memiliki cincin di jari kelingking sebelah kiri?" Lyra tidak tahu kapan dia belajar menanyakan banyak pertanyaan dalam satu ucapan sekaligus.
Rick yang bingung dengan rentetan pertanyaan yang diajukan Lyra hanya tersenyum masam, dia masih berusaha mengingat detilnya karena orang itu jarang-jarang muncul dihadapan orang ramai. Apalagi dia seperti di sembunyikan oleh Carlos, seperti anak emas yang benar-benar dia takutkan akan kehilangannya. Meskipun Rick sempat berpapasan dengannya dan terhitung jarang, dia masih ingat kalau orang itu, yang berambut agak kemerahan dengan mata kecil tetapi tajam, sering memegang cincinnya dan memain-mainkannya.
"Aku tidak yakin sih cincin itu berada di sebelah jari yang mana, atau bahkan kanan atau kiri. Namun, dia memang memiliki cincin. Rambutnya agak kemerahan dengan sorot mata tajam, walaupun lingkar matanya kecil seperti orang keturunan Cina."
Jelas sekali, kalau memang itu orangnya. Dia yang sudah melakukan sesuatu kepada Sean dengan bantuan Grace dan Joy. Mereka sengaja membuat aroma Sean hanya di sana saja, tetapi Lyra tidak melewatkan sekecil apapun keganjilan yang ada. Dengan menutupi aroma Sean dengan sihir yang hanya tinggal sedikit ketika Lyra sampai, orang itu cukup bodoh karena jejak kakinya yang mengenakan sepatu besar itu nampak jelas. Lyra ingin menemui orang itu saja dan membiarkan Rick menghabisi Carlos dengan tangannya sendiri. Sementara Tobias, dia mungkin hanya akan membantu dari belakang.
"Ku pikir, aku akan menemui orang itu dan mencuri ingatannya."
Tobias menyipitkan matanya, "Kau mau apa?"
__ADS_1
"Dengan begitu, aku tahu apa saja yang direncanakan Cravene palsu." tukas Lyra, matanya berapi-api.
"Tapi.." kata Tobias, ragu untuk melanjutkan kata-katanya. "Rasanya itu akan berbahaya untukmu, apalagi ketika kau bisa memanipulasi sihirnya lalu pingsan, apa kau yakin kau akan terbangun di tempat yang sama?" akhirnya dia melanjutkan.
Lyra terdiam, seakan tertampar oleh kenyataan yang membuat dirinya sebenarnya tidak berguna. Meski nanti dia mungkin berhasil seratus persen dengan idenya, tetapi dia tidak akan sadarkan diri dalam kurun waktu yang lama, yang mana hal itu membuatnya ikut diculik dan malah semakin memperparah keadaan.
Entah bagaimana dia menyebut manipulasi sihir itu secara harfiah dan hal itu datang secara tiba-tiba tanpa sebuah tanda-tanda atau perubahan kecil yang aneh padanya. Namun, dia menyadari kalau mungkin itu adalah berkat dari dunia sihir Nona Yue dan obatan herbal mereka walaupun secara keseluruhan berkat itu belum benar-benar sempurna, atau mungkin dia harus mengendalikan dirinya tanpa harus pingsan dan jiwanya terlepas dari raganya sendiri. Sulit baginya mengendalikan jiwanya ketika dia mencoba masuk semakin dalam pada sebuah objek yang dia manipulasi, sebab dia takut kalau-kalau dia tidak bisa kembali kepada raganya.
Usai dia melakukan hal itu, dia akan kehabisan setengah energinya. Itu benar-benar menguras tenaganya karena dia belum mampu mengendalikan semua hal yang terkadang terjadi secara tiba-tiba itu. Kalau saja dia punya kesempatan untuk kembali ke Flos Orbis dalam waktu singkat, dia pasti akan bertanya tentang itu dan mungkin akan meminta tiga saudara atau bahkan Onyx, atau Nona Yue sendiri untuk mengajarinya cara mengendalikan sihir agar dia bisa melakukannya setiap waktu tanpa memikirkan resikonya. Lyra benar-benar bingung dia harus bagaimana.
Rick berdeham, dia memanggil Lyra secara tidak langsung sekaligus menyadarkannya. Rick tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai mereka di hari yang sudah malam itu. Tiada cahaya kecuali lampu remang jalanan dan sinar Bulan yang kian hari semakin bulat dan besar, tetapi dia tidak menantikan momen-momen ketika dia harus berdiri disebuah tempat yang tinggi, menengadah ke atas langit lalu melolong ke arah Bulan Purnama itu. Dia hanya menginginkan Lyra menjadi satu grup dengannya sebagai betina Alpha yang mungkin akan membimbing anak-anak mereka. Rick tidak mengira kalau otaknya sempat memikirkan hal seperti itu dikala situasi yang tidak menyenangkan itu.
"Sebaiknya kau bersama Tobias, lagipula jika aku datang di tengah-tengah mereka, mungkin hal itu sudah membuat Carlos keluar dari rumahnya, kan?" kata Rick tanpa ekspresi. "Tapi kau harus berjanji dulu padaku, Tobias, kalau kau bisa menjaga Lyra." dia kemudian mengangkat salah satu alisnya untuk menakut-nakuti Tobias.
"Ya, ku pastikan Lyra baik-baik saja dengan ku." balas Tobias terbata-bata.
Rick berbalik untuk melihat Lyra karena setelah ini mereka memang akan berpisah, entah apa dan bagaimana nantinya semua rencana yang sudah mereka siapkan dengan matang berjalan, Rick hanya ingin Lyra tetap hidup dan berhasil menemukan Sean.
"Kau mau aku berjanji atau?"
Lyra menghela napas panjang, "Sebenarnya, aku.. aku tak suka kau terlalu banyak berjanji. Kau seolah membuat rencana ini sebagai perpisahan yang panjang, tapi aku minta satu hal pada mu."
Rick memiringkan kepalanya, "apa itu?"
"Tetaplah hidup untuk ku." kemudian Lyra memberanikan diri mengecup pipi Rick, dia mengindahkan kehadiran Tobias yang bersama mereka di sana.[]
__ADS_1