Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
38. Kesalahpahaman Berujung Fatal


__ADS_3

Aku semakin tidak yakin kalau Lyra hanya seorang manusia serigala berdarah murni, jika sedikit sisa sihir saja bisa membuatnya bereaksi berlebihan. Pikir Rick.


"Kau memikirkan apa, bung?" Sean menatapnya dengan sinis sekilas. Dia kembali mencurigai keberadaan Rick yang beralasan kalau dia ingin membantu dan melindungi Lyra. Padahal mungkin dia punya sesuatu dibalik tindakannya itu, yang Sean tidak bisa menembaknya barang sedikit pun.


Rick terkekeh, "aku hanya penasaran."


"Tentang?"


"Lyra."


"Kau penasaran atau.."


Rick tertawa pelan dan memotong perkataan Sean dengan cepat, "kau terus saja beranggapan kalau aku orang jahat, tapi aku tidak akan menyangkalnya."


"Tentu saja," Sean membalas dengan sinis, "kau sudah membuat Lyra terluka."


Mau tak mau Rick menghela napas panjang sambil tersenyum kecut, dia terus mengomel dengan hatinya agar tetap sabar menghadapi makhluk-baik-yang-tidak-tahu-apa-apa yang mana, juga sedang memikirkan hal-hal buruk mengenai dirinya. Rick tahu, sebagian diri Sean khawatir dengan Lyra dan wajar saja rasanya kalau Sean bersikap berhati-hati dengannya. Laki-laki itu seakan membuat dinding imajiner di antara Lyra dan Rick. Rick pun merasa tebakannya tidak akan meleset sedikitpun kalau dilihat dari gerak-gerik lelaki itu, dia menyukai Lyra, itu dalam artian yang sebenarnya.


Sekarang Rick hanya akan bersikap sebagaimana menghadapi seorang laki-laki yang takut pacarnya diperebutkan. Begitu saja kesimpulannya, pikir Rick.


"Berarti aku benar," ujar Sean dengan nada yang terdengar sangat yakin. "kau tidak sungguh ingin melindungi Lyra, kau masih menyimpan sesuatu yang jahat dibalik wajah datar mu itu."


Bagi Rick, rasanya dia tidak perlu beradu argumen, apalagi kalau sampai mereka bertengkar yang malah membuat Lyra terbangun dari tidurnya. Dia tidak akan memaksakan Sean untuk mempercayainya atau tidak, sebab walaupun dia bersumpah dan bersujud di depan Sean, jika laki-laki itu tidak membuang persepsinya tentang Rick, semua akan percuma saja. Rick akhirnya memutuskan untuk diam saja tidak membalas, membiarkan Sean menang dengan pikirannya yang selalu menilai dengan apa yang sudah terjadi.


"Kau tahu, kan, jika seseorang melakukan kesalahan dia hanya akan diam saja lalu meminta maaf. Hanya saja, karena kau tidak mengerti, jadi kau tidak minta maaf." Sean berceloteh sendirian karena Rick sudah tidak menganggap Sean sedang bicara dengannya meskipun dia masih mendengar apa saja yang dikatakan laki-laki itu. "Untungnya, aku belum menemukan bukti agar bisa meyakinkan Lyra kalau kau tidak bisa mengikuti perjalanan ini lebih jauh lagi. Aku hanya tidak ingin menambahkan beban pikirnya, dengan kau di sini saja sebenarnya juga sudah menyusahkan."

__ADS_1


"Itu," Rick menunjuk tikungan yang tidak jauh di depan mereka, dia benar-benar mengindahkan semua perkataan Sean dan lebih memfokuskan diri untuk melihat jalan. "tidak jauh dari sana ada toko." katanya lagi kemudian melihat ke peta lagi.


Sejak memasuki jalanan beraspal itu, mereka hanya melihat hutan yang rimbun mengelilingi jalan. Bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti kicauan burung atau sekedar suara dahan yang berderak tertiup angin. Pagi itu cuacanya lumayan cerah, cocok untuk melakukan aktifitas apapun di luar rumah dan hal lainnya. Namun, cahaya Matahari bahkan tidak dapat menyentuh partikel debu yang ada di sana karena hutan terlalu lebat. Dedaunan yang mulai berubah warna menjadi kuning menjadi pertanda kalau musim akan berganti, rasanya waktu begitu cepat berlalu.


Tak heran kalau tempat ini menjadi sasaran empuk bagi Irish untuk mendaratkan mereka bertiga, meskipun tempat ini sudah dikenal beberapa serigala untuk sekedar beristirahat, seperti pasukan Cravene palsu, itu tidak memberatkan Irish menurunkan mereka di sana dengan efek yang cukup parah. Rick berharap Lyra sudah kembali membaik ketika bangun nanti.


"Kau yang turun, aku tidak akan meninggalkan Lyra sendirian, apalagi denganmu." ketus Sean.


Rick turun dari mobil dan membuka penutup tanki bensin, dia memperhatikan angka-angka yang tertera di dispenser bahan bakar kemudian menarik nozelnya yang terhubung dengan selang, memasukinya ke dalam inlet yang ada di bagian kabin belakang mobil, dimana Rick bisa melihat ujung kaki Lyra tanpa selimut. Aroma bahan bakar itu menelusuri hidung lalu ke rongga dadanya ketika dia menarik klep pada nozel tersebut. Rick hanya menggerak-gerakkan salah satu kakinya seraya menunggu, tetapi kepalanya terus memikirkan sesuatu. Dia takut kalau nanti kesalahpahaman Sean terhadapnya mengundang malapetaka, walaupun sebagian dirinya ingin menjelaskan seluruh kisah dan alasan dia melakukan semua hal-hal jahat itu. Namun, kembali ke awal lagi, itu hanya akan membuang-buang waktunya.


Semakin dibiarkan, Sean semakin semena-mena memperlakukanku seolah aku bukanlah salah satu dari mereka berdua. Tidak ada toleransi sama sekali saat melihat sikapnya yang terus saja memerintah. Rick bergumam sendirian dalam hatinya, hanya dia yang bisa mendengar semua hal yang dia pikirkan.


Sejak tadi, logikanya ingin meninju wajah Sean yang terus bicara asal-asalan, tangannya gatal untuk membungkam mulut laki-laki itu agar tidak bicara lagi. Karena jika Rick terus berdiam diri tidak membantah, dia sudah menduga kalau dirinya akan berakhir seperti apa nantinya. Rick, sebagai serigala Amerika yang bekerja sama dengan Cravene palsu—pelaku kejahatan yang masih berkeliaran di dunia ini, bahkan berhasil menjadi mata-mata yang baik sekaligus Alpha yang sedikit cacat, dia tidak mau dibodoh-bodohi oleh orang-yang-tidak-tahu-apa-apa itu tetapi bersikap seolah tahu segalanya. Berbanding terbalik dengan Lyra, perempuan itu sudah bisa menentukan apa-apa sendirian tanpa perlu dijelaskan lebih banyak hal sebagai bahan keyakinan. Tapi Rick malah suka kalau dia membuang-buang waktu bersama Lyra, itu hal yang memang dia inginkan sejak pertaman kali melihat Lyra.


Saat Rick sadar kalau bensinnya sudah terisi penuh, dia menarik nozel tersebut dan menaruh kembali ke tempatnya. Sekilas dia melihat kaki Lyra bergerak lalu membawa matanya untuk melihat Sean, bibirnya bergerak seolah bicara. Rick tidak sengaja mendengar Sean membicarakan sesuatu dengan serius dan Lyra sebagai lawan bicaranya, dia sudah bangun tapi Rick tidak bisa melihat wajahnya.


"Kau minta uang padaku?" tanya Sean bersikap jengkel. "aku dan Lyra belum makan, kami akan mencari makanan, kau tunggu saja di sini sampai kami kembali menjemputmu." katanya lagi.


"Berikan saja padanya." tukas Lyra, dia membenarkan rambutnya yang acak-acak kan seraya menguncir nya. "lagipula kita yang membutuhkan bahan bakarnya. Oh ya, terimakasih, Rick." dia melihat Rick acuh tak acuh.


Rick hanya menghela napas dan terpaksa mengeluarkan senyum palsu kepada Lyra, hatinya seperti tersayat-sayat oleh benda tumpul sehingga nyerinya terasa sangat nyata. Seakan bisa memprediksi, apa yang Rick pikirkan kini menjadi nyata. Semua terjadi karena kesalahpahaman Sean yang mungkin dia besar-besarkan.


Cepat sekali sikap seseorang berubah, dalam hitungan detik hatimu bisa saja kau berikan padanya lalu sedetik kemudian dia menjatuhkannya seakan tidak berarti apa-apa. Rick sudah benar-benar tahu cara kerja hal itu, selain merusak hati itu juga menyerang psikis.


"Aku tak apa," sahutnya santai, "jika ingin melanjutkan perjalanan tanpa aku. Lagipula aku bukan siapa-siapa yang bisa bersikap seenaknya." Rick agak meninggikan suara diakhir katanya.

__ADS_1


Dia sudah memutuskan untuk tidak akan ikut dalam perjalanan selanjutnya, tapi dia sudah berjanji akan terus melindungi Lyra. Hanya saja, sebenarnya, hatinya tidak terima diperlakukan seperti sampah. Padahal Lyra sudah mendengar semua kisahnya tetapi dia tetap melakukan apa saja yang Sean inginkan. Rick begitu lemas di tempatnya.


Langkah kakinya gontai menuju ke dalam toko, untuk membayar bensin, sedangkan deru mobil terdengar semakin menjauh. Sekarang hanya tinggal dirinya sendiri, tetapi dia belum bersiap untuk semua hal yang ada di depannya. Namun, bagaimana pun dia harus melakukan semuanya. Dia akan mengikuti jejak Lyra dan kembali melindungi perempuan itu dari balik bayang-bayang. Rick hanya berharap nantinya Lyra bisa membuka pikirannya lagi, untuk benar-benar percaya padanya tanpa peduli dengan omongan dari mana saja.


Si pemilik toko tersenyum sekilas, "remaja memang begitu, ya." katanya. Cara bicaranya terlihat seperti bukan aksen orang Eropa, lebih mirip Afrika kedengarannya.


Rick balas tersenyum juga, "ya, cinta segitiga memang sulit." balasnya.


"Kau bukan asli orang Eropa, ya?" tanya pemilik toko, "wajahmu mirip-mirip orang Amerika."


"Iya, aku memang berasal dari Amerika. Dan sepertinya kau juga bukan Eropa asli." kata Rick seraya tertawa pelan.


Si pemilik toko itu memang berkulit hitam sehingga Rick dengan mudah untuk menebaknya, bahkan dilihat sekilas pun, rambutnya yang hitam keriting itu sudah menunjukkan identitas aslinya. Dia mengenakan kemeja berlengan panjang yang di gulung sampai ke siku, tubuhnya yang cukup besar dengan perut yang agak buncit itu juga telah menyampaikan kalau dia sudah berumur seperti orang tua Rick. Berkisar di antara usia 50an ke atas meski wajah orang ini tidak menampakkan begitu banyak kerutan.


"Lalu, kau akan kemana? Ku pikir berjalan kaki cukup melelahkan." tanyanya.


Rick menggeleng, "mungkin mencari tumpangan."


"Aku bisa mengantarmu, tapi aku tidak bisa untuk sekarang."


"Tak apa, mungkin di depan saja akan ada orang yang satu arah. Kita mana tahu dari sekian banyak orang kalau tidak bertanya, kan?" balas Rick. Dia tidak habis pikir kenapa orang itu dengan begitu mudahnya memberinya tumpangan padahal dia bisa saja bertindak jahat dan mencuri mobilnya.


"Kau orang baik, nak. Aku bisa melihatnya dari setiap lirikan matamu." lirih si pemilik toko, "kalau kau butuh minum, ambil saja, untuk di perjalananmu." dia menunjukkan deretan minuman di rak dan di dalam lemari pendingin seraya tersenyum untuk meyakinkan Rick.


Apakah ini sebuah pertanda baik? Tanyanya pada dirinya sendiri. Setelah habis-habisan seseorang terus berpikiran buruk mengenai dirinya, rupanya masih ada orang baik yang melakukan hal-hal dengan cuma-cuma hanya karena mereka yakin kalau orang itu baik dalam pandangan matanya.

__ADS_1


Rick benar-benar berterimakasih kepada si pemilik toko dan mengambil salah satu minuman dingin dalam lemari pendingin, kemudian dia berpisah tanpa mengetahui nama pemilik toko itu. Dirinya kembali melangkah dengan semangat seperti sebelum-sebelumnya. Dia akan terus menjadi sosok yang diperlukan Lyra, Rick ingin Lyra melihatnya sebagaimana pemilik toko memandangnya.[]


__ADS_2