Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
66. Kesempatan Untuk Menebus Kesalahan


__ADS_3

Rick sudah bicara baik-baik kepada Luo Qing dan akhirnya memutuskan untuk meminta bantuan Chamomile dan Amarilys untuk membuka gerbang menuju Flos Orbis agar Luo Qing bisa kembali lebih cepat, tapi ternyata Amarilys belum pandai melakukannya dan Chamomile takut kalau gerbang itu malah terbuka ke tempat yang tidak seharusnya mereka buka.


Sean yang ikut bingung juga kehabisan ide, seharusnya itu jalan satu-satunya agar Luo Qing bisa kembali dan dia membutuhkan Nona Yue agar bisa menyelamatkan Lyra. Atau setidaknya dia bisa berbicara dengan jiwa Lyra agar dia terbangun dari waktu pingsan nya yang sudah terlalu lama itu.


"Mungkin kah ada cara lain?" sela Tobias yang selesai menyesap minumannya, mereka baru saja selesai menyantap makanan enak yang disajikan Amarilys.


Rick menghela napas, dia nampak berpikir keras. "aku menyesal tidak belajar bahasa penyihir kalau begini caranya." gumamnya pelan.


Orang-orang yang ada di sana tertawa mendengar hal itu. Padahal dia tidak bermaksud melawak, hanya saja, setelah kejadian yang sudah-sudah dan tidak pernah terpikirkan, Rick sangat merasa kehilangan sehingga mencoba tegar dan tetap baik-baik saja. Memang, dia terlihat seperti pecundang kala itu, menghabiskan banyak waktu bersama Bethany di dapur sebab luka bakarnya yang cukup parah dan membiarkan Lyra menuju ajalnya dengan cepat alih-alih diambil jiwanya oleh seseorang yang sedang bersamanya.


Tidak ada satu pun yang mengira semua itu akan terjadi dalam waktu sesingkat itu. Mereka para penyihir memang hebat sejauh dia mengenal mereka, dia mengakuinya, tapi mereka bukanlah tandingan yang cocok jika harus melawan manusia serigala yang kebanyakan hanya mengandalkan kekuatan fisik.


"Semua orang bisa menjadi penyihir," ujar Chamomile tiba-tiba, dia meneguk minumannya dan menelannya dengan cepat. "Bahkan kau punya kenalan, ah maksudku, kau tahu beberapa orang yang terlahir sebagai manusia normal tetapi dia percaya dengan hal-hal mistis yang tidak pernah dipercaya oleh manusia normal mana pun."


"Tidak hanya itu, bahkan aku sudah melihat seorang hybrid." sahutnya. "Valdez."


Sean menatap Rick sekilas, tidak tahu apakah membicarakan orang itu di sekitar sana akan baik-baik saja atau tidak.


"Dia tidak akan macam-macam dengan penyihir mana pun," Rick meyakinkan. "Valdez menghindari banyak penyihir karena dia tidak menginginkannya. Aku tidak tahu alasan dibaliknya, tetapi dia tidak pernah ingin berurusan dengan penyihir."


"Kecuali dengan lelaki ini." Tobias menyikut bahu Luo Qing dengan kasar lalu tertawa kecil menggodanya.


Chamomile mengalihkan pandangannya agak jauh dari sebelumnya, melihat ke luar jendela dengan cahaya Matahari yang semakin redup, sore hari itu akan menjadi malam sebentar lagi. "Dahulu sekali, ibu ku bukanlah seorang penyihir. Namun, dia jatuh cinta dengan penyihir dan percaya begitu saja, nyawanya tidak berarti apa-apa baginya. Dan aku sempat membencinya kala itu." katanya, semua orang melihat ke arahnya. "Setelah melahirkan aku, banyak kejadian-kejadian aneh yang menimpa orang tua ku. Rumah kami terbakar habis dan terpaksa harus tinggal menumpang dengan saudara ayah lalu kami diusir dan dituduh mencuri." Chamomile menyunggingkan senyum.


"Apakah saat itu ibu mu sudah bisa mengendalikan sihir?" tanya Tobias.


Chamomile mengangguk, "dia belajar selama beberapa tahun lamanya bahkan saat sedang mengandung ku. Tahun-tahun berikutnya, Beth lahir, ayah ku sangat senang meskipun mulanya dia menginginkan seorang anak laki-laki. Kami tinggal di sebuah rumah kosong yang tidak dihuni, seperti tertinggal begitu saja dan kami sangat beruntung seakan Beth lahir membawa keuntungan bersamanya. Sampai akhirnya Beth berumur lima belas tahun dan Amarilys sepuluh tahun, kejadian naas menimpa keluarga kami lagi. Kami di serang beberapa serigala liar, dan mengatakan kepada ayah ku kalau dia ingin membalaskan dendamnya pada keluarga kami." wajahnya datar, tidak mengeluarkan ekspresi apapun.


Semua orang masih menunggu, termasuk Luo Qing yang penasaran.


"Entah bagaimana Beth terlepas dari genggam ibu, dia berlari menuju para serigala itu dan berteriak kepada mereka." Chamomile membenarkan duduknya dan melihat orang-orang yang ada di hadapannya. "Dia merapal kan sebuah mantra terlarang tanpa berpikir jika hal itu akan membahayakan semuanya dan saat ibu ku akan meraih tangan nya, saat itu juga sebuah lubang hitam besar muncul di hadapannya dan meledak begitu saja. Ayah dan ibu mengeluarkan kekuatan mereka untuk melindungi Beth, aku dan Amarilys, tetapi mereka tidak dapat bertahan." dia menghela napas. "Beth tahu, secara tidak langsung dia membunuh orang tua kami."


"Aku jadi memikirkan tentang Bethany yang kapan saja akan meledak lagi." ujar Tobias. "Kalau saja dia kehilangan kendali-"


"Tidak mungkin," Chamomile cepat-cepat menggeleng. "Saat dia akan melakukan sihir dan merapalkan mantra, dia terus dihantui oleh rasa bersalah itu. Aku selalu melihatnya setiap waktu, tapi entah kenapa, kejadian itu terjadi hari ini."


"Ku pikir dia hanya lelah dengan semua yang tidak bisa dia kendalikan, semua tidak sesuai dengan keinginannya." sela Sean tiba-tiba. "Bethany sempat menuliskan sesuatu tentang hal itu, dia selalu menyesali perbuatannya dan membuat orang-orang tidak pernah menganggapnya. Namun, dia akan mengulanginya lagi dan lagi."


"Ku harap dia bisa menjadi lebih baik lagi." Tobias membungkukkan tubuhnya ke meja.

__ADS_1


Chamomile tersenyum, "semua berharap hal yang sama."


Hari semakin gelap, bahkan suara jangkrik mulai terdengar nyaring di telinga. Chamomile menutup seluruh jendela dan pintu rumah mereka, berpamitan dengan yang lainnya lalu menuju istal. Sementara yang lain kembali ke kamar Bethany untuk menemani Lyra dan melihat kondisinya. Entah bagaimana situasinya, empat laki-laki itu berada di dalam ruangan yang sama dengan satu perempuan.


Ketika Chamomile akan kembali ke ruangannya dan menyibukkan diri dengan konstelasi gemini dan cahaya kembar tersebut, dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia tidak bisa menebak siapa orang itu dan menunggu sampai orang itu muncul dihadapannya. Namun, dia akhirnya tahu bahwa orang itu adalah Bethany. Kedua mata mereka bertemu, Bethany mematung di pintu masuk sementara Chamomile hanya memperlihatkan wajah datarnya.


"Kupikir aku bisa membantu." Bethany akhirnya bersuara dengan cepat.


Chamomile melepaskan buku yang sempat dia pegang awalnya, dan menaruh kedua tangannya yang saling berkaitan di atas meja kerjanya, dia menunggu Bethany berkata lagi.


"Kurasa aku bisa membuka gerbangnya." katanya.


Entah kenapa Chamomile masih belum ingin membalasnya, dia masih menunggu Bethany benar-benar selesai berbicara.


Bethany menunduk sebentar, lalu mengangkat kepalanya lagi melihat Chamomile. "Untuk menebus kesalahan ku."


"Tapi aku belum mengizinkan mu untuk keluar dari ruangan itu." Chamomile bersandar di kursinya dengan tatapan yang masih sama, dia melipat kedua tangannya.


"Tapi setidaknya aku ingin mencoba membantu." balas Bethany pelan, tidak ingin Chamomile salah arah atas pembicaraan itu.


Chamomile mendengus, "tetap saja. Kau tidak menghargai ku, Bella."


"Kita tidak akan tahu kalau tidak mencobanya, beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Setidaknya, agar kau tetap menjadi pelindung ku, Mile." gumam Bethany pelan, dia terdengar seperti ingin menangis.


Chamomile memang tidak akan terkecoh sekali lagi padanya, dia berpura-pura menangis agar rencananya berhasil. Tapi Chamomile tidak bisa mendiamkan saudarinya begitu saja, karena mau bagaimana pun, mereka akan hidup bersama selama waktu yang diperlukan. Mana mungkin dia tahan dengan mendiamkan Bethany yang akan setiap hari dilihatnya dan terus dihantui rasa bersalah karena tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki kerusakan yang sudah dilakukannya.


Akhirnya Chamomile berdiri dari tempatnya untuk menghampiri Bethany, "ikut aku." katanya tegas dan Bethany memang berjalan di belakangnya.


Di depan pintu masuk kamarnya sendiri, Bethany bahkan merasa asing dengan ruangan itu. Penuh aroma menyengat dari obat-obatan dan perlengkapan medis lainnya yang masih setia mendampingi Lyra yang masih dengan posisi yang sama juga, terbaring kaku. Bahkan semakin pucat, lebih parah dari sebelumnya.


"Ternyata dengan kekuatan Amarilys pun, suhu tubuhnya tidak berubah." kata Sean.


"Aku sudah memperingatinya agar tidak terlalu banyak menggunakan sihir, mungkin itu sebabnya kekuatan Amarilys tidak membuahi hasil." sergah Rick, dia tidak ingin mengambil resiko kalau Lyra akan terus menghirup aroma sihir dan semakin menjauh dari raganya.


Mustahil baginya untuk bisa mendapatkan Lyra kembali, ditambah tidak seorang pun yang mampu berinteraksi dengannya ketika jiwanya pergi entah kemana. Dia terus memikirkan peluang yang rasanya kecil sekali untuk Lyra bisa kembali, tapi dia tetap menyemangatinya untuk terus bertahan. Namun, jika bertahan membuat Lyra kesakitan, dia yang akan menjadi orang pertama, yang bertanggung jawab atas kepergiannya dan merelakannya seikhlas mungkin.


"Apa kami mengganggu?" Chamomile masuk ruangan tanpa diberi izin, lagipula siapa yang akan melarangnya kan?


Rick dan Sean serentak menoleh, sementara Tobias dan Luo Qing tidak berada di sana.

__ADS_1


"Permintaan maaf?" ketus Rick.


"Omong-omong, di mana Luo Qing?" tanya Chamomile, dia tidak menggubris perkataan Rick.


Sean melihat Rick dan sebaliknya bergantian, "oh, dia keluar bersama Tobias, sebentar lagi juga akan kembali." dan belum juga Sean selesai bicara, Luo Qing dan Tobias muncul. "belum juga satu detik." dia menyunggingkan senyum sekilas.


"Ada apa ini?" Tobias melihat Bethany yang sejak tadi memang menundukkan pandangannya.


Chamomile berbalik dan membiarkan Luo Qing dan Tobias masuk lebih dulu. "Aku memang sudah menerima rencana mengembalikan Luo Qing ke Flos Orbis secepat mungkin," ujarnya, "dan karena Amarilys belum mampu melakukannya dengan benar, Bethany mengajukan diri," Chamomile melihat Bethany yang masih menunduk. "untuk menebus kesalahannya kepada Luo Qing sekaligus meminta maaf atas perbuatannya."


"Aku minta maaf, biarkan aku menebus kesalahanku. Tolong beri aku kesempatan." Bethany mengangkat kepalanya dengan takut-takut, bahkan dia menghindari tatapan mematikan dari Rick.


"Kalau begitu, dia tidak perlu kata 'aku memaafkan mu' dari ku, jika dia mau membantu, aku akan memberinya kesempatan." Luo Qing bersuara dengan tenang setelah beberapa saat kemudian, padahal dia masih tidak tenang dengan hal-hal mengerikan yang terjadi.


Rick berharap laki-laki yang lebih tua dari mereka itu bisa dengan cepat beradaptasi dan memperbaiki pembawaan dirinya yang masih seperti bayi. Bahkan jika diukur, dia mungkin berbeda sekitar lima belas tahun dari Sean dan Lyra. Apa mungkin karena di Glencoe otaknya menjadi berhenti berkembang dan menjadi seorang bocah tanpa memikirkan usianya? Rick menahan senyum keluar dari wajahnya karena hal itu.


"Sebaiknya kau ikut kami, mungkin melakukannya malam ini akan lebih bagus. Lebih cepat lebih baik." ucap Chamomile.


Rick berdeham, "bagaimana jika aku dan Tobias ikut sebagai saksi? Aku hanya ingin berjaga-jaga kalau tidak ada lagi hal buruk yang akan terjadi."


"Itu terdengar seperti kau mencurigai kami." tukas Chamomile.


Rick memiringkan kepalanya dengan ringan seraya melihat Chamomile yang bergumul dengan pikirannya.


"Baiklah." akhirnya Chamomile mengalah. "Setidaknya semua dalam kendaliku."


"Biar aku saja yang pergi." celetuk Sean.


Rick melihatnya dengan wajah yang penuh pertanyaan pula, padahal dia memberi kesempatan agar Sean bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Lyra yang mungkin saja bisa mendengarnya dan berusaha kembali. Namun, anak itu malah menawarkan diri untuk pergi.


"Ya, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan dengan beberapa orang di sana." lanjutnya.


Rick menghela napas panjang, "semoga bukan hal sia-sia yang kau lakukan." ujar Rick. "Pergilah kalau begitu."


Situasi menjadi senyap seketika, hanya tinggal seorang diri di ruangan itu saat semua orang sudah pergi meninggalkannya bersama Lyra. Sebenarnya dia sudah memikirkan untuk meminta pertolongan kepada siapa pun di sana, di Flos Orbis, yang waktu itu pernah mengobati Lyra dan memberikan Lyra kekuatan magis di sebuah ampul. Dia ingin orang itu menarik Lyra kembali atau setidaknya mengajaknya berinteraksi, memberitahukannya bahwa semua orang sedang menunggunya untuk kembali.


Nampaknya, Sean memikirkan yang hal sama atau setidaknya dia meminta petunjuk kepada beberapa orang di Flos Orbis. Untuk saat itu, dia berharap banyak kepada Sean sementara dia menunggu Lyra agar tidak dicelakakan lagi oleh siapapun.


Rick melihat Lyra, mengelus dahinya perlahan. Tidak ada desiran darah yang biasa didengarnya mengalir dibawah permukaan kulit perempuan itu. Rasanya tubuhnya menyembunyikan kesaksian hidup yang sebenarnya masih ada di sana. Bibirnya semakin kering dan di sekitar matanya mulai sedikit menghitam, seakan Rick diperlihatkan kondisi terburuk dari seorang Lyra.

__ADS_1


"Entah bagaimana, meskipun rasanya berat untuk percaya, tapi aku tahu kau akan selalu bertahan." lirih Rick.[]


__ADS_2