
Tiga hari terlewati begitu saja, keadaan Lyra pulih dengan cepat tanpa disangka. Padahal Chamomile sudah memprediksi kalau Lyra akan pulih dan kembali membaik setidaknya dalam satu atau bahkan sampai berminggu-minggu. Meski pun memang kakinya belum pulih secara total, dia sudah bisa berjalan dengan normal seperti tidak pernah mengalami patah tulang kaki sama sekali. Itu terjadi karena pengaruh dari keinginannya yang besar untuk sembuh lebih cepat, sehingga mendorong adrenalin dalam dirinya agar memproses masa regenerasinya lebih cepat ketimbang ramalan Chamomile.
Dia begitu rindu mengendarai mobilnya saat sedang memanasi mesinnya, selama hampir kurang satu minggu yang dihabiskannya di rumah para penyihir itu, dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia duduk dibalik setir dan mengemudi.
"Kau yakin akan melanjutkan perjalanan?" Sean tiba lebih dulu di sana ketimbang yang lainnya, dia nampak baru saja mencuci mukanya karena ada beberapa bulir air yang masih menempel di rambutnya.
Lyra hanya mengangkat alis, sebab dia sedang mencari kertas peta yang diberikan Orance yang ada di dalam dashboard tapi tidak kunjung menemukannya.
"Padahal kau bisa berangkat dua atau tiga hari lagi agar kau pun punya tenaga untuk mempersiapkan diri." kata Sean lagi, mencoba membujuk lebih keras.
Lagi-lagi Lyra tidak mengindahkan perkataan Sean melainkan sibuk dengan kegiatannya sendiri. Tangan nya masih ke sana kemari, sibuk mencari kertas tersebut. Dia membutuhkan benda itu agar perjalanannya tidak menyimpang ke tempat lain lagi. Toh, mereka diberikan bekal daro Glencoe dan Chamomile juga memberikan beberapa persiapan untuk mereka. Sudah pasti itu akan cukup.
Terdengar Sean menghela napas, seolah menyerah. "Aku memang tidak bisa meyakinkan mu sedikit pun kalau kau sudah bertekad untuk pergi, kalau begitu aku akan siap-siap dulu."
"Baiklah." balas Lyrs dengan cepat.
Lyra duduk di kursi kemudi dan membiarkan pintu nya terbuka, dia menyandarkan kepalanya sembari menghirup udara pengap dari mobil tersebut karena sudah cukup lama sekali tidak digunakan. Kain yang didapatkannya dari Irish waktu itu masih ada di kursi belakang, sudah nampak agak kusam dari sebelumnya. Begitu cepat warna kainnya memudar.
Karena tidak kunjung menemukan kertas peta tersebut, Lyra hanya menyalakan radio dengan volume sedang di dalam mobilnya. Seakan deja vu, dia terkejut bukan main menyadari keputusannya bukan hal yang salah. Dia memang di takdir kan untuk melanjutkan perjalanannya secepat mungkin dan tiba-tiba dia kembali bersiap untuk sesuatu yang sudah lama menunggunya di depan sana.
"Tidak ada lagi barang yang tertinggal, kan?"
"Sepertinya tidak."
Lura menoleh ke sumber suara itu, Rick dan Tobias membawa beberapa barang yang diperlukan nanti di perjalanan mereka.
Rick dan Tobias berjalan ke bak belakang untuk meletakkan barang-barang tersebut dan sepertinya mereka pun sama siapnya dengan Lyra sekarang. Tidak lagi ingin menunda dan melewatkan banyak waktu untuk bersantai-santai, beberapa hari kemarin rasanya sudah cukup untuk beristirahat dengan damai tanpa ada yang mengganggu.
"Lyra." panggil Rick pelan, kepalanya muncul di pintu seperti kura-kura.
Perempuan itu melirik sekilas dan kembali memandang ke arah depan, ke arah jalanan kosong yang penuh hutan di pinggirannya.
"Ayo pamit pada mereka." ajak Rick dengan lembut.
Lyra diam sejenak, seakan sedang memikirkan sesuatu sebab tiba-tiba keraguan muncul dalam hatinya untuk pergi. "Aku akan menyusul." gumamnya.
"Baiklah, aku akan menunggu mu." Rick yang tidak paham dengan suasana hati Lyra yang mudah berubah dengan terpaksa meninggalkan perempuan itu sendirian di mobil.
Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya atau apa yang dirasakannya, Rick sama sekali tidak tahu dan belum ingin bertanya. Namun, Rick berharap jika Lyra tidak terburu-buru untuk mengambil keputusan sebab Sean sudah gagal membujuknya.
__ADS_1
Apa lagi yang harus kulakukan? Rick membatin.
Lima menit terlewatkan begitu saja dan Lyra belum juga masuk ke dalam rumah Chamomile untuk sekedar pamit dan mengatakan terima kasih kepada mereka karena sudah diizinkan untuk tinggal di sana dan merepotkan mereka beberapa hari lamanya. Sampai pada akhirnya di tersadar dari lamunannya, bergegas turun dari mobil dengan berlari menuju rumah. Kakinya agak ngilu tapi dia tidak memperdulikan rasa sakitnya, dia menganggapnya sebagai gigitan semut saja.
"Mile," dia memaksakan senyuman terukir dari wajahnya saat mendapati Chamomile sudah berdiri di beranda bersama yang lainnya. "terima kasih atas semua bantuan mu dan maaf karena sudah merepotkan kalian berdua. Mungkin ini saatnya aku dan yang lain harus pergi untuk melanjutkan perjalanan ku, aku masih berharap kalau penglihatan mu tidak salah, sekali lagi terima kasih." Lyra semakin memelankan suaranya.
Chamomile bergerak mendekat padanya, memeluk Lyra seperti saudarinya sendiri. "Tetaplah berdoa, apa pun yang terjadi, semoga keberuntungan selalu menyertai mu. Hati-hati saat di perjalanan nanti, ya." kedua tangannya kemudian mengusap punggung Lyra dengan lembut.
"Terima kasih banyak, Mile." balas Lyra dengan rasa haru menjelma hatinya.
Sempat terjadi perdebatan antara tiga laki-laki itu dengan Lyra sebab Lyra meminta kalau dia saja yang mengemudi, Rick yang juga berusaha sebaik mungkin agar Lyra bisa mendengarkan pendapat yang lain pada akhirnya menyerah. Lyra tetap bersikeras ingin mengemudi dan membiarkan yang lain menikmati perjalanan mereka saja. Dia hanya ingin melakukannya, bukan bermaksud apa-apa.
"Kau masih membutuhkan ini, kan?" Tobias menyodorkan sebuah kertas kusam yang tergulung.
Sebelum Lyra benar-benar menancapkan gas, dia menarik kertas itu dari tangan Tobias. Dia menghela napas, merasa lega sekaligus kesal. "kenapa tidak dari tadi sih, aku sampai pusing mencarinya." gerutunya.
"Sean yang menyimpannya," jelas Tobias, matanya melirik Sean sekilas yang duduk di sebelahnya. "dan dia lupa menaruhnya, bersyukurlah aku menemukannya."
"Ya, terima kasih, Tobias." balasnya acuh.
Dia menaruh kertas tersebut di atas dashboard dekat setir, agar memudahkannya melihat pergerakan mobil mereka di sana. Kemudian tangannya bergerak menarik persneling dan menancap gas untuk meninggalkan tempat itu dan dia sempat membunyikan klakson sebagai tanda perpisahan mereka dengan para penyihir itu.
"Jika sudah sampai di Dingwall, dekat hutan Evanton, aku yang akan mengemudi. Dua jam menyetir cukup membuat mu penat, jika kau menolak, aku tetap memaksa." tukas Rick, rasanya dia memang perlu sedikit tegas dari biasanya.
"Bagaimana mungkin dalam sekejap kau menjadi navigator yang terdengar sangat handal?" Lyra tertawa, dia hanya membuat lelucon agar dia tertawa saja bukan mengajak Rick bercanda.
Rick meliriknya sekilas lewat sudut matanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang mulai agak ramai. "Ya, tapi aku tetap akan melakukannya."
"Terserah." balas Lyra acuh tak acuh.
Setengah mati Rick menahan diri agar tidak melimpahkan semua emosinya kepada Lyra, dia benar-benar tidak mengerti bagaimana suasana hati Lyrs bisa berubah menjadi sangat dingin dan kaku seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya yang terus menganggu konsentrasinya sehingga tidak menyadari kalau semua orang di sana mengkhawatirkan keadaannya yang belum pulih secara total.
Mereka hanya berkendaran dalam diam sampai satu setengah jam terlewatkan begitu saja. Meski Rick berdiam diri, dia sama sekali tidak menikmati perjalanan itu, sama halnya dengan Lyra yang masih saja bergumul dengan pikirannya sendiri tanpa ingin memberitahu Rick jika ada sesuatu yang membuatnya merasa ragu. Sementara dua orang yang ada di belakang mereka hanya berbincang kecil, bahkan sesekali berbisik.
Rick menaruh tangannya di atas kepala dan bersandar ke kursi, tatapannya jauh melihat ke arah lain. Namun, dia tahu kalau mereka akan memasuki hutan Evanton, yang dipercaya oleh penduduk sekitar bahwa itu adalah gerbang menuju tempat lain. Sebab banyak orang menemukan ukiran random pada batang pohonnya dan Rick membantah asumsi orang-orang tersebut karena baginya itu tidak masuk akal.
Mobil tersebut tiba di depan jalan masuk ke hutan dan Lyra menepikan mobilnya karena ingin berhenti. Tanpa bicara sepatah kata pun, dia keluar dari mobil dengan hati-hati takut ada orang yang lewat dan menabrak pintu mobil. Sementara Rick yang cepat peka ikut kluar juga dari mobil dan memilih jalan yang tidak dilewati Lyra alih-alih tidak ingin memperlambat prosesnya.
Kembali menelusuri jalanan yang mulai gelap tersebut, pohon di sekeliling mereka menjulang sangat tinggi sehingga sulit untuk Matahari menjangkau daratannya. Hutan itu benar-benar rimbun dan perasaan Lyra semakin tidak enak seiring Rick membawa mereka masuk lebih dalam ke hutan tersebut.
__ADS_1
"Kalian merasakannya?" sergah seseorang di belakang mereka dengan suara yang waspada sekali.
"Aneh, tidak biasanya aku malah merasa tidak enak ketika berada di sekitar hutan." balas yang satunya, itu suara Sean.
Rick yang konsentrasi dengan kegiatan menyetirnya nampak belum merasakan atau menemukan kejanggal di sekitarnya, tapi ketika melihat pergerakan Lyra dari sudut matanya yang tidak biasa, Rick menjadi yakin jika memang ada sesuatu yang membuat teman-temannya merasakan kejanggalan yang cukup aneh.
"Apa ada yang ingin aku menambahkan kecepatannya agar bisa menghindari tempat ini?" tukas Rick.
"Ya!" celetuk Lyra, "sebaiknya begitu, tempat ini benar-benar membuat tidak nyaman."
Kaki kanan Rick menginjak pedal gas lebih dalam agar kecepatannya bertambah dan mereka sudah hampir melewati seperempat jalanannya. Hingga ada sesuatu dengan cepat melompat ke depan mereka secara tiba-tiba dan membuat Rick mengerem dengan mendadak hampir hilang kendali atas mobilnya. Tidak ada yang benar-benar mengira kalau sosok itu akan muncul tepat dihadapan mobil seakan berani untuk mati jika Rick benar-benar ingin menabraknya.
"Sial!" gerutu Rick kesal, "ini yang membuat suasana menjadi tidak enak."
"Rick, dia salah satu pasukan Exchanges, kan?" celetuk Tobias yang melihat serigala berbulu hitam itu dengan seksama.
Mata Rick melihat ke arah hidungnya yang memiliki bekas luka, "kuharap merrka belum mengepung kita."
"Mundur dan langsung memutar, mereka akan kabur jika melihat mobil manusia kan?" tanya Sean.
Rick hanya diam saja, tidak yakin akan jawabannya sebab mereka bisa saja mencelakai manusia normal juga. Namun, dia tetap memundurkan mobilnya dengan cepat dan ketika jarak mobil dengan si serigala itu cukup jauh, dia memutar setir dengan kuatnya dan menginjak pedal gas secara bersamaan sehingga membuat sedikit oleh tapi berhasil memutar untuk berbalik arah. Serigala tersebut menghilang ketika mereka sudah menjauh.
Mereka akan memutar, mengambil rute yang lain untuk menghindari jalanan itu tapi percobaan itu rasanya gagal. Setiap dari mereka sudah melihat Pasukan Exchanges berada di sisi kanan dan kiri pinggir jalan, jumlah mereka terlalu banyak dan itu tidak seimbang, terlalu berlebihan untuk Rick dan teman-temannya yang hanya beranggotakan empat orang.
"Sebaiknya kita memang mengambil rute yang ramai dilewati orang." kata Tobias, dia mengingat tentang ancaman Valdes kepada mereka yang memilih melewati jalan sebab mereka memang harus menghindari mana manusia normal.
"Ya, aku ingat." sahut Rick.
Namun, belum satu detik setelah dia mengatakan itu, mobilnya ditabrak dengan keras sehingga membuat Rick hilang kendali, keluar dari jalur yang seharunya. Dia masih bersikeras mempertahannya tapi serangan itu lagi-lagi membuat mobil oleng hingga salah satu bagian mobilnya penyot.
Lyra dengan wajah seriusnya mengintai dari balik kaca spion dalam, untuk melihat apakah ada yang melompat naik ke bak mobilnya. Dia takut salah satu dari mereka akan melakukan hal yang sama dengan Rick waktu itu, mereka sudah kalah jumlah dan benar-benar tidak seimbang. Rasanya seperti di film-film, Lyra tidak dapat berpikir dengan tenang lagi.
Serangan maaih dirasakan oleh mereka semua dan membuat Rick kesal sejadi-jadinya. Dia dengan tiba-tiba menghentikan mobilnya, melihat keadaan di sekitanya dan mencoba berpikir dengan tenang. Napasnya tidak teratur bahkan detak jantungnya lebih parah tidak karuan, seujurnya Rick tidak takut jika harus melawan mereka sebanyak itu, toh dia juga pernah berhadapan dengan beberapa pasukan Exchanges dan menumbangi mereka semua sendirian. Namun, beda halnya dengan saat ini, ada yang lain yang harus dilindunginya selain dirinya sendiri apalagi dia sudah berjanji. Mengingat keadaan Lyra yang masih diragukan kesembuhannya semakin membuat Rick ingin menyerah saja tapi itu bukanlah gagasan yang harus dilakukannya.
"Kalian bersiap, aku akan berbalik arah lagi, membuat mereka bingung. Kita sudsh terlanjur berada di jalur ini dan mereka sudah pasti mengepung jalan masuknya. Aku tahu strategi bertarung Valdes, jadi tetaplah tenang." tukas Rick dengan cepat, hanya itu tindakan yang bagus yang terlintas di kepalanya.
Mobil kembali mundur secara paksa, lalu tangan Rick dengan gesit menarik persnelingnya, kemudian menginjak pedal gas lagi dan memutar setir dengan cepat. Rick akan memaksa menerobos hutan Evanton tersebut dan berharap bisa sampai di sana sebelum serangan lainnya muncul.
"Jika sesuatu terjadi, tetap lindungi Lyra." katanya disela-sela keseriusannya.[]
__ADS_1