
Tanpa sadar mereka sudah berlari cukup jauh tetapi tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti yang di harapkan. Tobias memang sudah mendiskusikan idenya dengan Lyra dan Rick, tetapi sama saja tidak ada hasilnya.
Menurut Lyra, jika memancing keributan di Glencoe, tempat Carlos dan kawanannya tinggal, itu hanya akan membuat pencarian semakin rumit. Mungkin yang tugaskan untuk menjaga Sean agar tidak kabur akan menyembunyikan Sean semakin dalam. Namun, jika Tobias sempat melihat Sean sedang berbincang dengan orang lain yang mana hal itu tidaklah mungkin terjadi, itu artinya seseorang sudah berhasil menjadi Sean yang lain, menduplikat diri Sean secara tidak langsung. Yang bisa melakukan itu hanya seorang penyihir.
Itu petunjuk! Seru Lyra.
Hei, kau mengangetkan ku.
Lyra tertawa kemudian meminta maaf, dia tidak sengaja melakukannya. Tobias, aku ingin kau bawakan aku ke tempat dimana kau melihat Sean. Karena ku pikir mencari aroma Sean hanya mengulur-ulur waktu.
Kau punya ide yang lain? Sela Rick, yang ingin tahu apa yang direncanakan Lyra.
Tentu saja, aku punya rencana cadangan.
Apa itu? Tobis menginterupsi, kalau lebih tidak masuk akal, aku tidak mau ikut. Katanya berlagak menolak padahal dia juga penasaran.
Begini, ujar Lyra lalu berlari dengan pelan, jika Tobias sempat bertemu Sean di tepi jalan, secara harfiah seorang penculik tidak akan membiarkan seseorang yang diculiknya berkeliaran begitu saja. Dan yang dilihat Tobias waktu itu hanya duplikat diri Sean yang mana hal itu hanya bisa dilakukan oleh seorang penyihir. Karena aku bisa memanipulasi sihir, mungkin aku bisa mendapatkan petunjuk dari sana bila aku mendapatkan sisa sihirnya.
Aku mengerti. Tukas Rick.
Tapi, apa mungkin berhasil?
Hei, kita tidak tahu kalau tidak mencobanya. Rick tertawa pelan, dia merasa jantungnya berdebar karena sesuatu bergejolak dalam dirinya. Dia merasa semangat dari sebelumnya.
Lalu Tobias kembali mempercepat langkah kakinya agar lebih cepat sampai di tepi jalan, berharap apa yang direncanakan Lyra berhasil. Semoga saja masih tersisa, setidaknya sedikit saja sihir di sekitar sana.
Penglihatan Lyra menunjukkan tempat kosong, dimana itu membatasi tumbuhnya pepohonan yang sejak awal mereka lewati. Terlihat jelas hamparan aspal hitam dengan garis kuning ditengah-tengahnya. Dia tidak menyadari kalau jalanan itu sempat dia lalui bersama Sean sebelum akhirnya mereka tiba di tempat yang terlalu banyak tipuan.
Hari semakin sore, Matahari merangkak perlahan-lahan untuk meninggalkan bumi bagian Eropa. Sementara mereka bertiga berhenti di tepi jalan dengan napas terengah-engah dan Lyra berjalan dengan santai seraya merubah dirinya menjadi manusia. Dia membenarkan kuncir rambutnya yang sudah berantakan dan bahkan tidak sadar kalau dia sekarang tinggal mengenakan sehelai baju bertali yang agak transparan berwarna nila serta jeans sobek-sobek di bagian lutut dan pahanya. Dia memeriksa saku celananya dan masih menemukan benda itu mencuat keluar di sana, dia sedikit lega menyadari hal itu karena dia memang membutuhkannya, tetapi bukan untuk saat ini.
Lengan Lyra yang terluka itu kini hanya membekas, bahkan hampir tidak terlihat kalau di sana ada bekas luka tiga cakaran yang khas milik serigala. Rick yang melihat lengannya yang putih persis seperti warna kapur itu tersenyum puas
__ADS_1
Kalau begini, mungkin hanya kau yang tahu apa yang ada di kepala ku 'kan, Tobias?
Tobias terkekeh, wajar saja kau menyukai perempuan itu ketimbang Alice yang murahan. Lalu mereka tertawa puas bersamaan.
Kedua lelaki itu akhirnya mengikuti Lyra dari belakang seraya mengubah diri mereka juga. Lyra yang menghirup napas dalam-dalam masih mencari aroma sihir yang tertinggal di sana. Dia berharap kalau dia mendapatkannya sedikit saja meskipun hanya sekecil debu.
"Aku ragu kalau aku bisa mendapatkannya, mungkin aku harus maju lebih dekat lagi ke arah sana." tukas Lyra, dia berjalan sendirian meninggalkan dua laki-laki yang hanya memperhatikannya.
Karena dua orang itu sibuk berbincang mengenai banyak hal yang belum sempat dikisahkan, mereka tidak sadar kalau Lyra sudah ambruk di antara aspal dan tanah yang penuh dedaunan kering. Rick lebih dulu lari ketika Tobias menunjuk Lyra yang tidak lagi sadarkan diri. Rick mengangkatnya lalu menggendong Lyra tanpa peduli dengan Tobias yang melihat hal itu. Dia memang tidak lagi panik karena dia sudah tahu hal itu pasti terjadi dan akan sering terjadi. Namun, yang dicemaskan Rick adalah efek sampingnya. Sejak awal dia terus memikirkan hal itu dan ingin sekali melarang kekasih hatinya untuk melakukan itu terlalu sering, tetapi dia tidak bisa melarangnya, bagaimana pun, semua itu keputusan Lyra yang memang tidak dapat terbantahkan. Jika Rick diposisi Lyra sekarang, dia tidak akan memikirkan resiko yang akan menimpanya nanti.
Lyra menyusup ke sebuah tempat yang minim cahaya, dia melangkah perlahan-lahan ke dalam tempat itu. Telinganya mendengar seseorang berbincang, mirip suara Carlos, tetapi dia tidak bisa memastikan kalau itu memang lah Carlos. Apa yang mesti dia perbuat hanyalah mencoba bersembunyi dan menguping percakapan itu serta mencari tahu siapa mereka. Saat akan melangkah masuk ke sebuah ruangan sempit, dia melihat sesuatu bergerak. Seperti sepatu seseorang yang tidak asing baginya, sepatu itu bernoda tanah basah yang Lyra yakini kalau itu milik seseorang yang pernah masuk ke dalam pedalaman hutan, jejak sepatu itu bahkan persis sama dengan apa yang tertinggal di sana. Mungkinkah itu milik seseorang yang menculik Sean?
"Mana mungkin? Tuan memintanya hidup-hidup." gertak seseorang diikuti dengan suara meja yang banting.
Suara tertawa tiba-tiba muncul yang membuat Lyra merinding karena dia mengenal suara tawa itu, khas milik Carlos gila yang hampir mati. "Aku juga tidak bisa memberikannya padamu juga begitu saja kalau kunci sihir itu belum dia berikan lebih dulu padaku. Aku bukan anak remaja yang bisa kau tipu, anak buah rendahan." dia tertawa kembali.
Lyra mengintip dari celah pintu, cahaya redup dari bohlam yang sekarat mengaburkan penglihatannya. Meski begitu, dia tidak salah menduga kalau sosok itu Carlos dan bersama dengan orang lainnya. Dia sadar kalau ternyata dia berada di rumah reyot milik Carlos, sejak awal tempat itu memang bukan tempat tinggal biasa.
"Aku dan Valde sudah sepakat, tapi kau menyulitkan bisnis kami. Kalau saja kau membawakan kunci sihir itu saat kau kemari, aku sudah melepaskan mu padanya sejak awal." kata Carlos, dia menaruh kedua tangannya di atas meja. "Para pasukan Exchanges isinya memang serigala-serigala rendahan yang hanya memikirkan uang jajan." ketusnya.
"Jadi bagaimana? Aku akan memutuskan bisnis ini dan tidak lagi mau meminjam jasa para Exchanges untuk hal-hal lainnya. Sayang sekali, padahal aku sudah mendapatkan targetnya, dan mungkin bocah yang bersamanya sedang mencarinya mati-matian."
Lawan bicaranya itu tertunduk, melirik jauh ke kanannya dan Lyra mengikuti pandangan orang itu. Seseorang terkulai di lantai marmer kotor dengan penutup kepala yang diikat cukup kencang. Meski ada dua lubang kecil di bawahnya agar orang itu bisa bernapas, Lyra seakan bisa merasakan sesaknya. Lalu Lyra mendapati pakaian yang lengkap di tubuh orang itu, semua milik Sean.
"Kalau begitu aku akan mengajak Tuan kemari, mungkin nanti malam." ujarnya lalu berbalik permisi meninggalkan ruangan itu.
"Bukankah seharusnya anda yang mengalah?" orang itu, yang mengenakan sepatu bernoda tanah basah itu, berbincang dengan Carlos.
Lyra memang tidak pernah melihatnya tetapi rasanya orang itu sangat penting bagi Carlos, dia akan mengingat detil kecil yang akan mempermudah Lyra menemukan orang itu. Dia ingin merobek habis tubuh orang itu dan membakarnya hidup-hidup.
"Tak apa, aku hanya ingin menggertak seseorang." Carlos menoleh ke arah Lyra, yang membuat Lyra mundur ke belakang karena terkejut.
__ADS_1
Dia sadar.
Lyra menarik napas dengan cepat, detak jantungnya berdegup kencang. Dia tahu kalau Carlos bukan melihatnya, tetapi rasanya tetap saja Carlos bisa melihatnya dari balik pintu tersebut. Dia masih mencoba menetralkan kondisi dirinya yang setengah terkejut dan panik.
"Kau baik-baik saja?" Rick menggenggam tangan Lyra untuk menghangatkannya. Raganya yang ditinggal oleh jiwanya selalu terasa dingin, seakan raganya memang sudah mati.
"Apakah sihirnya bekerja?" celetuk Tobias yang setengah mati penasaran.
Dengan kekuatannya yang tersisa, Lyra duduk di tanah seraya memegang kepalanya. Dia melihat dua laki-laki yang bersamanya itu bergantian, alih-alih senang karena dia berhasil memanipulasi aroma sihir yang tersisa, dia menutup rapat mulutnya dengan reaksi wajah yang dibuat-buat seolah kecewa untuk menggoda mereka.
Rick meremas jemari Lyra, "apakah masih tetap nihil?"
"Ku rasa, kita perlu melakukan ide Tobias yang tadi." kata Lyra akhirnya ketika dia angkat bicara.
"Lho? Kenapa tiba-tiba? Kau belum mengatakan yang ku tanyakan." ujar Tobias yang bersikeras ingin tahu apa yang terjadi pada Lyra.
Lyra mendengus sambil tersenyum tipis, "aku sudah berhasil menemukan Sean, dia sedang disekap di kediaman Carlos. Dengan memancing keributan, mungkin Carlos akan meninggalkan rumahnya atau meminta anak buahnya yang keluar memeriksa. Dia hanya seorang pria tua yang sekarat, mungkin aku bisa melawannya."
"Hei," sela Rick, "kau tidak bisa langsung berasumsi kalau dia tidak sekuat serigala muda lainnya. Aku akan menemani mu, sementara Tobias akan berlari ke kedalaman hutan dan kembali lagi ke tepi jalan. Kita akan bertemu di sana nanti, kalau bisa, aku juga akan mengambil mobil Lyra yang tertinggal di sana."
"Ada satu informasi lain yang tidak boleh kalian lewatkan." kata Lyra lagi memperingati, "seseorang yang berbincang dengan Carlos mengatakan kalau dia dan Tuannya akan kembali nanti malam untuk membawa kunci sihir yang sudah dijanjikan. Sepertinya Carlos sering meminjam jasa mereka, para pasukan Exchanges." kemudian Lyra terdiam seribu bahasa.
Kalau ternyata Carlos sering meminjam jasa para pasukan Exchanges, dan laki-laki yang menjadi lawan bicaranya itu mengatakan kalau dia akan datang bersaman Tuannya, itu berarti Cravene palsu. Dia sudah menduganya. Cravene palsu meminta pertolongan Carlos karena mereka memang rekan bisnis yang sudah sering melakukan bisnis bersama, Carlos meminta imbalan yang dia sebut dengan kunci sihir, yang mana di penglihatan Lyra hari itu, kunci sihir tersebut memiliki fungsi untuk memanjangkan umurnya. Tapi apakah benar Cravene palsu memiliki hal semacam itu?
Rick dan Tobias hanya saling menoleh dan membungkam, tidak tahu harus berkata apalagi. Mereka akhirnya akan berhadapan dengan Tuan mereka, Cravene palsu, yang mungkin akan terhipnotis kembali. Rick takut kalau dia tanpa sadar akan melukai Lyra dan malah membuat rencana mereka gagal. Rick takut dia kehilangan Lyra dan tidak akan bertemu dengannya lagi. Itu benar-benar bencana baginya.
Apa yang harus dia lakukan? Bahkan untuk meninggalkan Lyra sendirian pun, dia tidak akan melakukannya alih-alih tidak sanggup berada jauh dari Lyra.
"Rick, kau yakin akan melakukannya?" lirih Tobias dengan ragu, takut kalau Rick akan meledak-meledak.
Rick yang tersadar dari pemikirannya langsung menghembuskan napas, raut wajahnya yang berubah drastis disadari oleh Lyra yang membuat Lyra bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apakah kau baru saja memikirkan hal yang sama seperti yang ku pikirkan?" tanya Lyra, menyentuh tangan Rick lembut.
Senyuman tersungging dari bibir Rick membuat Lyra tidak nyaman melihatnya. "Aku akan tetap bersama mu, apapun yang terjadi."[]