
Ketika Lyra kembali duduk seperti awalnya, dia merasakan sesuatu pada jantungnya. Berdegup tanpa sebab yang pasti tetapi dia berupaya menutupinya dihadapan mereka—seakan tidak terjadi apa-apa, rasa cemas, khawatir juga sedih menyatu pada saat yang bersamaan.
Lyra berdeham untuk menarik perhatian mereka, para Kawanan Epile, lalu melanjutkan bercerita. "Karena malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak, aku berjalan-jalan ditengah malam, awalnya aku hanya memutar-mutar hutan dengan tujuan yang tidak jelas dengan rupa serigala-ku yang tadi. Lalu malam-malam berikutnya aku sering bertemu para Feroces dan melewati perkemahan mereka. Aku bersyukur aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan mereka yang sedang berburu. Aku tahu, memang berbahaya untukku, tapi ketahuilah, dengan cara itu aku mendapatkan ketenangan yang lebih." Lyra memperbaiki posisi duduknya yang kurang nyaman. "Setelah itu, aku menemukan sosok serigala dari Bukit seberang, awalnya kukira dia serigala sungguhan tapi aku dapat mengenali sosok itu dalam sekali lihat saja sebab sebelumnya aku tidak sengaja bertemu tatap dengan sosok itu di sekolah. Apakah kalian pernah mendengar murid pindahan dari Amerika?" tanyanya.
Mereka berempat saling menoleh tanpa menjawab pertanyaannya, raut wajah mereka kebingungan.
"Sepertinya aku pernah melihat mereka sekali, di sekolah." Ed angkat bicara, suaranya bersih sekali. Lyra baru sekali itu mendengar dia berbicara. "Kalau tidak salah ingat, mereka bertiga. Iya, kan?" jelasnya sambil bertanya.
Lyra mengangguk cepat, "ya, salah satu dari mereka bernama Rick. Dia bercerita padaku tentang kedatangannya kemari, dia bilang bahwa pasukan yang datang ke kawasan Tetua G adalah Exchanges, dimana mereka bukan manusia serigala berdarah murni seperti kita. Lalu dia berkata bahwa tujuannya kemari atas perintah kepala sukunya untuk menyampaikan pesan bahwa pasukan Exchanges ingin merebut wilayah ini."
"Tapi aku percaya bahwa merekalah pasukan itu." sergah Sean dengan cepat.
"Kau bisa jelaskan cirinya?" tanya Dorian.
"Dia punya bulu lebat berwarna kecoklatan, ekornya memilik panjang yang normal pada umumnya dan hidungnya berwarna hitam. Sekilas, dia seperti bara api berjalan karena warna coklatnya sangat mencolok bila dibawah cahaya Bulan." jelas Lyra.
Semuanya terdiam untuk beberapa detik kemudian dan agak sedikit kecewa menyadari bahwa klimaks dari ceritanya tidak membuat mereka terkejut sama sekali.
"Kau tahu, Lyra," kini Martin yang bersuara. "pasukan Exchanges sudah lama ada, merekalah yang membuat kekacauan dan membuat kita mengungsi di wilayah ini sekarang. Tetapi pada isu yang ku dengar, mereka sudah mati. Atau mungkin mereka membuat koloni baru? Seperti Exchanges II misalnya?"
"Kur asa apa yang diperkirakan Martin benar, aku hanya takut kalau-kalau dia memanfaatkan Lyra untuk mengorek informasi tentang wilayah ini."
Dan Lyra langsung teringat bahwa Rick punya tato A di bawah bekas luka cakaran.
"Omong-omong, apakah semua Alpha punya tato ditubuh mereka?" tanya Lyra tergesa-gesa. "Aku sempat melihat itu di lengan Rick, maksudku, dia menunjukkannya padaku."
Sean menatap Lyra tidak percaya, karena Lyra tidak mengatakan itu sebelumnya kepadanya saat dia menceritakan apa yang kemarin terjadi padanya. Lyra menatapnya seraya berkata maaf dengan pelan, tetapi sepertinya dia agak sedikit kecewa.
"Ya, mereka punya tato, dan hanya huruf A saja, sepertiku" jelas Dorian. "aku memilikinya di telapak tanganku dan itulah mengapa kau tidak melihatnya disekitar tubuh ku." lalu kemudian dia menunjukkan tato tersebut, mirip seperti milik Rick dan Zach.
"Ku rasa kalian bisa membantuku untuk mengawasi mereka." pinta Lyra.
__ADS_1
"Sepertinya mereka memang pantas diawasi, apalagi mengingat mereka dari Amerika." sahut Martin. "Aku akan melaporkan ini kepada Pimpinan Ducis."
"Eh, tunggu. Sebaiknya jangan dulu." sergah Lyra.
Hal itu membuat Martin menatapnya dengan wajah penuh pertanyaan, Lyra sedikit merinding menyadarinya. Laki-laki itu memang terbuat dari sebuah perasaan penasaran yang begitu besar sepertinya hingga hal apa saja selalu menjadi pusat perhatiannya. Seperti saat ini misalnya, keingintahuannya seolah berteriak ingin terjawab dengan cepat sampai dia tidak berkedip melihat Lyra barang sekalipun.
"Aku bukannya melarang kalian untuk memberikan berita ini kepada Pimpinan Ducis, tetapi ada baiknya mereka tidak tahu tentang hal ini dulu. Jika terungkap mereka bersalah, kau bebas melakukan apa saja terhadap mereka. Hanya butuh beberapa waktu lagi untuk membuktikan itu." balas Lyra defensif.
Hal lazim kalau Lyra butuh beberapa waktu, alih-alih untuk membuktikan kebenaran dari ucapan Rick yang dia katakan padanya. Karena jika sudah berurusan dengan Ducis, permasalahannya menjadi akan sangat sulit.
"Padahal kita bisa langsung membawa mereka ke Pimpinan Ducis dan menanyakan kebenarannya."
Lyra mengangguk setuju, "tapi bukan cara itu yang ku inginkan. Ku kira kalian bisa ku ajak bekerja sama." katanya sembari menyunggingkan senyuman tipis.
"Kalau begitu, kalian bisa bertemu kami lagi disini? Besok malam?" tanya Dorian tiba-tiba. "Mungkin kita bisa berbagi rencana."
Semuanya mengangguk kecuali Martin dan setelah itu mereka berpamitan lalu pergi dengan rupa serigala mereka lagi. Mereka melompat dari tebing ke tebing yang lain seolah mereka bisa terbang dan sementara itu Sean terbengong ditempatnya. Lyra tidak tahu apa yang dia pikirkan, sesuatu sepertinya sedang mengganggu pikirannya.
"Kenapa kau tidak bilang padaku bahwa dia seorang Alpha?" ketus Sean, yang mana hal itu membuat Lyra tidak enak hati.
"Ya, mungkin tidak, tapi bisa saja dia juga berniat jahat. Kau tak ingat dia meninggalkanmu, hah?"
Lyra diam saja, tidak ingin menjawab soal itu. Dia sudah tidak memikirkan soal itu lagi.
Sepulangnya mereka dari hutan, Sean kembali pulang dengan mengendarai mobilnya entah kemana. Lyra berujung dengan kondisi kamar yang berantakan dan sambil menimbang-nimbang apakah dia perlu mencari tahu soal Exchanges yang lebih dulu ada itu kepada orang tuanya atau lebih baik dia hanya diam saja. Namun, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sangat-sangat ingin mengetahuinya. Dia ingin tahu mengapa mereka membuat sekutu mengingat dua belas kasus yang terjadi beberapa dekade lalu.
Untungnya Lyra bertemu dengan sang ayah di depan televisi sedang asik menonton acara komedi. Di hadapannya terdapat beberapa snackers dan minuman soda, di samping itu ada ponselnya dengan layar menyala, lalu buku catatan berkulit hitam agak tebal. Terakhir kali Lyra benar-benar memperhatikan ayahnya satu minggu yang lalu saat dia membenarkan mobilnya, air mukanya semakin kasar dan kerutan hampir memenuhi seluruh bagian wajahnya, janggutnya memutih semakin panjang dan terdapat rambut tipis di sekitar dagu kanan-kirinya.
"Hai ayah."
Sang ayah melihatnya terkejut, "kenapa kau belum juga tidur?" tanyanya.
__ADS_1
"Ayolah, ini malam libur. Kenapa aku harus tidur cepat?" sergahnya sambil berjalan ke sampingnya dan berniat duduk di sana.
"Lalu ada apa?"
Lyra memikirkan sebentar bagaimana caranya menanyakan hal itu tetapi tidak secara langsung dan entah bagaimana dia langsung mendapat suatu ide.
"Kau mau menceritakan padaku kisah leluhur beberapa dekade lalu? Kumohon!" Lyra mengekspresikan wajah merengek yang benar-benar hanya dibuat-buat, sesungguhnya dia tidak mau bersikap seperti bayi seperti itu tetapi jika tidak begitu rasanya sang ayah tidak akan mau memberitahukannya padanya.
"Baiklah, baiklah." akhirnya sang ayah menyerah dan mematikan televisi, kemudian menyesap minuman soda nya. Dia mulai bercerita..
Bahwa pada waktu itu, nenek moyang mereka adalah leluhur yang paling disegani di wilayah itu. Hanya ia satu-satunya leluhur yang paling berbaik hati, hidup berdamai dan berdampingan dengan manusia biasa. Tidak ada satupun dari rakyatnya yang membantah, hidup mereka dipenuhi gelak tawa dan keceriaan. Teriakan-teriakan anak kecil yang begitu menggemaskan dan para orang tua yang memberikan mereka pelajaran yang cukup. Setelah hidup monoton seperti itu dalam beberapa dekade, salah satu anak dari leluhur ke-empat itu sendiri merasa bosan dengan hidup tidak bebas seperti itu dan pada akhirnya dia mulai pergi ke pemukiman manusia biasa dan menunjukkan dirinya secara terang-terangan di depan manusia biasa. Semua orang yang melihatnya ketakutan dan lari terbirit-birit untuk menghindari terkaman nya, dia dikenal dengan nama Cravene, salah satu anak yang paling berpengaruh untuk satu wilayah di Polandia. Kemudian dia membuat pasukan Exchanges—yang Lura kira itulah pasukan Exchanges pertama yang pernah ada—tanpa sepengetahuan ayahnya sendiri. Dia mengubah sebagian populasi manusia yang tinggal di dekat wilayah sana untuk menjadi budaknya dan membantunya menjatuhkan ayahnya sendiri.
Kasus-kasus yang lain semakin membuat keadaan semakin kacau, lalu ada beberapa dari manusia serigala membuat pasukan mereka sendiri untuk membela sang leluhur, memihak sang leluhur. Namun sayang sekali, mereka tidak bisa menghentikan serangan itu dan membuat leluhur terbunuh. Kemudian pasukan itu langsung mengangkat leluhur baru yang begitu besar dan kuat, mereka mengenalnya dengan nama Tefra namun sampai saat ini tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dia memerintahkan pasukan itu untuk mengungsikan rakyat yang tidak bersalah dan menjaga mereka, menyembunyikan mereka dari kegilaan para Exchanges. Pimpinan itu tidak bertahan lama hanya mampu selama tiga bulan karena Exchanges mengadu domba kan leluhur kepada polisi setempat, dia mengaku bahwa dia melihat pasukan manusia serigala dan itu yang selama ini membuat kekacauan. Akhirnya mereka bertarung bersama polisi setempat untuk mengalahkan pasukan yang memihak Tefra.
"Begitu kisahnya dan selesai." kata ayahnya diakhir penutupan kisahnya.
Lyra dengan wajah yang masih melongo melihat ayahnya bercerita berpikir bahwa itu bukan akhir dari segalanya. Diam-diam dia curiga sang ayah tidak memberikan detil ceritanya padanya, tidak seluruhnya. Jadi akan dia bujuk lagi ayahnya untuk bercerita lebih mendetil.
"Lalu kenapa kita bisa sampai disini?" tanyanya memancing.
"Oh itu, beberapa yang selamat dari peperangan itu segara pergi dari Polandia dan hidup menetap disini. Sementara Tefra disembunyikan keberadaannya oleh pasukan yang memihak nya yang sampai saat ini belum bisa ditemukan, aneh bukan?"
"Siapa yang memenangkan peperangan itu?" tanyanya lagi.
Ayahnya mengambil napas panjang dan menghembuskan nya perlahan, "tidak ada. Kedua belah pihak mundur secara tiba-tiba. Ada yang bilang kalau mereka mendengar auman Tefra yang benar-benar membuat mereka bertekuk tak berkutik sebab Tefra adalah Lycan yang paling kuat dan paling besar saat itu. Cravene, si Alpha Exchanges melarikan diri karena menyadari anak buahnya dan pasukan-pasukannya sudah tergeletak mati dengan tubuh yang tidak utuh lagi. Beberapa polisi juga mati dan itu adalah sejarah yang paling pahit dimuka bumi ini. Bangkai dan mayat mereka terbakar dengan sendirinya seolah datang seorang penyihir disela-sela kengerian yang terjadi." ayahnya langsung bergidik.
Lyra ikut merinding mendengar kisahnya dan sekaligus tidak menyangka bahwa mereka benar-benar mempertahankan manusia serigala sampai rela mati demi menyelamatkan kaum mereka. Dia sangat terharu mendengar kisahnya.
"Astaga, aku jadi penasaran seberapa besar tubuh Tefra." ucapnya pelan tapi sepertinya ayahnya bisa mendengarnya.
"Ku harap kita bisa bertemu dengan mereka lagi suatu saat." sahut sang ayah lalu menyesap minuman soda nya lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu," Lyra bangkit dari duduknya, "aku kembali keatas dulu, senang sudah bicara denganmu ayah, aku menyayangimu." katanya dan berlari naik ke tangga.
Lyra bisa mendengar sang ayah berteriak ingin penjelasan mengapa dia memintanya untuk bercerita tentang kisah itu. Padahal sebenarnya dia hanya penasaran dan tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang dia malah ingin bertemu dengan Tefra. Dia pikir, kalau dia bisa membawanya kemari dan bergabung bersama Tetua G, dia akan mendapatkan posisi yang baik. Dia akan menjadi Lycan yang paling disegani seperti leluhur-leluhur sebelumnya, dia akan menghentikan Exchanges yang baru ini dan mempertahankan wilayah ini, memusnahkan pasukan Exchanges II.[]