Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
37. Citra yang Sempat Muncul


__ADS_3

Mobil mendarat dengan kuat dan membuat tiga kepala orang yang berada di dalamnya membentur bagian langit-langit mobil tersebut. Kendaraan itu seolah muncul dari reruntuhan bebatuan yang ada di dalam goa menggunakan teleportasi yang sangat canggih.


Lyra tidak tahu persis dimana keberadaan mereka saat itu, tetapi yang pasti aroma lembab yang menyengat di hidung mendorongnya untuk cepat-cepat keluar dari tempat itu. Dia berasumsi bahwa tempat itu memiliki sejarah yang mungkin bisa dibilang buruk sebab atmosfer di sekitarnya seolah mengeluarkan aura-aura kengerian yang muncul dari bekas-bekas tumpukan bebatuan yang sudah hancur.


"Mengapa Irish mendaratkan kita di sini?" seru Sean sedikit berteriak.


Apakah dia memikirkan tempat semacam ini dengan sengaja? Lyra membatin dalam hati.


Lalu tanpa sabar mereka bertemu dengan jalanan beraspal hitam dengan kondisi yang kering tetapi udaranya terasa dingin dan menusuk. Meski mereka semua menutup kaca jendela mobil, udara itu tetap dapat masuk dari celah-celah yang terbuka. Dengan ketidaksengajaan, ketiganya menghirup udara itu begitu dalam seraya memejamkan mata. Hidung Lyra mendeteksi bekas keberadaan makhluk yang sama persis dengannya, yaitu segerombolan serigala.


"Aku yakin kalian juga menyadarinya." tukas Lyra, dia melihat ke kanan dan ke kiri, menimbang-nimbang akan masuk atau tidak ke jalan itu.


"Bau ini tidak asing, rasanya." kata Rick, "tapi aku masih ragu kalau ini para Exchanges." kata Rick lagi menyelesaikan.


"Baunya bercampur." aku Lyra setelah dia mencoba menghirup aromanya lagi. "Oh! Astaga! Kepalaku!" kedua tangan Lyra menjambak rambutnya sendiri seraya memukul-mukulnya cukup kuat.


Rick yang tidak bicara sepatah katapun langsung membuka pintu mobil untuk keluar dan menarik Lyra keluar dari mobil, dia merangkul Lyra agar perempuan itu tidak tumbang begitu saja sementara Sean mencari aroma terapi pemberian Onyx yang dia simpan di saku jaket kulitnya. Dia seakan gelagapan seperti ikan kehabisan air mencari-cari benda itu, wajahnya benar-benar panik setengah mati. Selang beberapa waktu, Sean menyusul dua orang itu dan meneteskan beberapa minyak tersebut ke telapak tangannya kemudian menggosok-gosokkan tangannya dan menyodorkannya ke hidung Lyra. Perempuan itu sudah pingsan dengan napas yang tidak teratur, bola matanya yang ada di balik kelopak mata tersebut bergerak tak karuan ke sana kemari seakan Lyra melihat sesuatu yang buruk dalam pikirannya.


Sean mengguncang tubuh Lyra pelan seraya memanggil namanya, tetapi tidak ada jawaban. Bahkan suara mesin mobil yang masih menderu tidak mengusik kecemasan yang terpampang nyata pada raut masing-masing lelaki itu.


"Kau tidak mendengar ku? Lyra! Kembali!" tukas Sean masih bersikeras agar Lyra membuka matanya.


Rick yang menggenggam tangan Lyra kala itu, yang semakin dingin seolah bisa merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi dengan kondisi Lyra. Tiba-tiba tubuhnya terguncang hebat yang membuat Sean dan Rick terkejut, mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi selain memanggil Lyra agar dirinya kembali kepada mereka dan sadar.


Di dimensi lain—di alam bawah sadar Lyra, dia bertemu dengan Cravene palsu, bersama pasukan Exchanges-nya. Citra yang pernah muncul dalam mimpinya, seekor serigala berbulu perak persis dengan miliknya, kini tergantung terbalik, kedua kaki belakangnya diikat dengan tali yang disambungkan dari pohon ke pohon. Di bawahnya terdapat beberapa patahan kayu yang siap untuk dibakar sekaligus membakar seekor serigala yang ada di atasnya. Helai bulu-bulunya yang panjang satu per satu terlalap api, sementara Lyra dibiarkan untuk menyaksikan ritual penyiksaan itu. Dia tidak bisa bergerak atau bahkan sekedar untuk bergeser, tubuhnya benar-benar diam terpaku tetapi akalnya masih sadar kalau rupanya dia sedang dalam hipnotis Cravene palsu. Sosok itu kemudian beresonansi, dia berubah menjadi seseorang dengan tubuh tegap yang cukup besar, rambutnya lebat dengan warna hitam panjang sepunggung. Laki-laki itu tersenyum sinis yang mana membuat gigi taringnya yang begitu panjang terlihat jelas dan kilatan dimatanya benar-benar mirip api yang sedang menggerogoti tubuh seekor serigala itu.


Ujung hidung Lyra terasa begitu panas seakan terbakar, dia merasa ikut terbakar dengan serigala itu. Matanya yang dia paksakan untuk beralih dari menyaksikan hal itu hanya menampakkan keadaan yang benar-benar mengerikan sekaligus menyayat hati, citra serigala yang sempat muncul di dalam mimpinya kemarin saat dia berada di Flos Orbis, semuanya tergeletak tidak berdaya dengan tubuh yang koyak dipenuhi darah. Salju di sekitarnya bahkan berubah warna menjadi lautan merah tanpa sisa celah warna putihnya.


Lyra!


Telinganya bergerak ke sana kemari mencari sumber suara, tetapi dia tidak berhasil menemukan apa-apa. Dia hanya menyaksikan serigala itu hampir habis terbakar, bulu-bulunya sudah menghilang, tubuhnya menghitam mirip dengan bekas luka yang ada di lengannya. Lyra berteriak tapi suaranya tidak muncul, bahkan dia menunggu kalau saja suaranya terlambat muncul. Namun, tidak ada apa-apa yang terjadi.

__ADS_1


Lyra! Kembali!


Untuk kedua kalinya, suara itu meneriakkan namanya tetapi semakin samar dan entah sejak kapan Lyra sudah menangis, air matanya meluncur jatuh begitu saja. Di dalam benaknya, citra yang sama muncul kembali sepintas lalu dengan senyuman tipis yang sosok itu sungging kan padanya dan dia langsung menyadari kalau sosok itu terus muncul dengan berulang kali dalam mimpinya.. Larry.


Larry mati terbakar di hadapannya kala itu dan mengucapkan selamat tinggal lewat benaknya yang entah bagaimana bisa terhubung.


Aku tidak seharusnya membiarkan ini terjadi pada saudaraku! Lyra berteriak sekuat tenaganya seraya berharap semuanya hanyalah mimpi seperti biasanya.


Nihil. Dia tidak terbangun tetapi dia berhasil merasakan seseorang memegang tangannya, bahkan suara-suara yang memanggilnya terus menerus terdengar jelas kembali seiring kesadarannya mulai normal lagi.


"Lyra!" Sean memegang wajah Lyra dengan kedua tangannya ketika perempuan itu membuka matanya. Dia menarik Lyra begitu saja ke dalam pelukannya tanpa peduli sosok Rick yang masih memegang tangan Lyra yang dingin.


"Larry." lirihnya pelan, "mereka mengincar Larry." tubuhnya masih melemah.


"Cravene palsu?" tanya Rick. "mengincar saudaramu?"


"Ini mimpiku yang kedua kalinya, aku takut mereka memang akan melakukannya."


Itu masih kurang normal bagi Rick karena seharusnya Lyra tidak mengalami hal semacam itu—hal-hal yang berbau sihir. Tapi bagaimanapun, saat perempuan itu menyentuh apa saja yang masih menyimpan sihir atau sisa-sisa sihir, dia langsung pingsan dan mengalami mimpi buruk seperti dapat melihat takdir, dua hal tersebut sudah menjadi bukti. Apa mungkin Nona Yue sudah bertindak jauh dan Lyra tidak menyadarinya? Atau mungkin penyihir tiga saudara itu, atau perempuan pemilik rumah kaca? Rick tidak tahu sampai dia mendapatkan jawabannya nanti. Rupanya, dia melewati celah itu dan tidak berbalik untuk mencari tahu. Tapi entah dengan apa dia akan kembali ke Flos Orbis.


"Tapi kau sudah merasa agak lebih baik, kan?" tanya Sean, dia sudah duduk di kursi pengemudi.


Lyra hanya membalas anggukan kecil dengan tatapan kosong ke arah langit-langit mobil. Mata birunya berkaca-kaca seperti akan menangis dan sedetik kemudian, cairan itu memenuhi pipinya. Dia kembali menangis dan merasa lemah, walaupun dia sudah berulang kali menegur hatinya untuk tetap kuat tetapi semuanya tidak bisa dibohongi kalau rasanya benar-benar sakit luar biasa. Lebih sakit ketika dia menerima secara nyata cakaran dari Cravene.


Isi pikirannya terus memutar kejadian beberapa waktu lalu, seorang Larry, terbakar habis-habisan begitu mudahnya. Sementara dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolongnya. Lyra sungguh kecewa dengan dirinya sendiri, bahkan kalau hal itu sampai benar-benar terjadi nantinya.


Namun, kenapa dia merasa seolah bisa melihat apa yang akan terjadi jika sesuatu seperti sihir menghampirinya? Apa ada yang salah dengannya? Bahkan hal itu baru-baru ini terjadi padanya, sejak dia berada di Flos Orbis.


"Kita langsung ke Wick setelah mengisi bahan bakar, aku masih punya uang sisa untuk membelinya." Sean kemudian memasuki jalanan beraspal itu setelah menggantikan persneling nya.


"Tapi omong-omong," kata Rick dengan nada yang ragu, "kau tahu jalannya? Ini 'kan bukan jalan utama."

__ADS_1


"Mungkin kau bisa meminta tolong Lyra untuk menunjukkan petanya." balas Sean.


Rick menoleh lagi ke arah belakang, melihat Lyra yang baring meringkuk seperti orang sakit. Matanya sudah terpejam dan membuat Rick tidak tega membangunkannya, itu untuk yang kedua kalinya dia melihat Lyra menangis dan kemudian tertidur begitu saja.


Rick berdeham pelan, meminta perhatian Sean. "Dimana petanya? Aku tidak mau membangunkannya."


Sean dengan cepat memindahkan kaca spion yang ada di dalam untuk melihat Lyra tanpa menoleh ke belakang karena dia fokus menyetir. Dia menghela napas seraya tersenyum tipis menyadari Lyra sudah tertidur dengan tenang.


"Tapi jika kau mengambil kalungnya, bisa 'kan?" Sean melirik ke arah Rick sekilas yang mengerutkan dahinya kebingungan dengan perkataannya. "Iya, itu kunci petanya."


"Bisa-bisanya seperti itu." ujar Rick pelan kemudian berangsur-angsur mendekati Lyra, dia menarik kalung itu perlahan-lahan agar Lyra tidak terbangun.


"Nah, kau pegang kedua benda itu sekaligus." kata Sean lagi saat tahu Rick sudah mendapati kalungnya.


Saat tangan Rick menyentuh kertas kusam yang ada di atas dashboard itu, kedua benda itu langsung berkilau secara bersamaan, hal tersebut membuat Rick agak terkejut karena dia tidak menyangka kalau ada sihir semacam itu berada di tangan Lyra.


"Dia mendapatkannya darimana?" Rick melewati celah satu lagi dan sama sekali tidak mengetahuinya. Rupanya dia bisa melewatkan hal-hal seperti ini juga.


"Ibu asuhnya."


"Oh, penyihir itu. Dia terus saja mengetahui keberadaan ku saat aku.. Eh tidak ada." Rick berhenti dengan tiba-tiba tanpa peduli dengan raut wajah Sean yang berubah akibat perkataannya. "omong-omong kita sudah berada dekat dengan jalan utama. Kau tinggal belok kiri setelah lima belas kilo meter lagi." dia mengalihkan pembicaraan.


Sean yang ingin sekali bertanya menahan diri, dia tidak mau akan adanya keributan sementara Lyra sedang tidur.[]


***


Maaf nih, buat reader yang mungkin bingung dengan sebutan tempat misal seperti Flos Orbis, atau Volant Lapis, nama nama golongan itu juga.


Semua kuambil dari bahasa Latin, karena aku suka/sedang belajar bahasa Latin.


Mohon utk dimaklumi. Trims

__ADS_1



__ADS_2