
Pada hari sepekan setelah acara megah pengangkatan seorang anak, kini aktivitas di
Kota Sylvani kembali seperti biasa.
Cruiser hari ini memutuskan untuk kembali ke kediamannya yang misterius bersama Rin. Mestinya, Raja membuat pesta kecil untuk kepergiannya dan hanya keluarga kerajaan beserta keduanyalah pesta itu dirayakan.
Menjelang siang hari, di taman istana, Veroa dan Rin sedang duduk di atas kursi. Keduanya masih duduk diam sembari menatap kolam yang berisikan bunga teratai dan ikan –
ikan hias. Entah apa yang sedang dipikirkan keduanya, yang pasti keduanya enggan untuk
berpisah.
“Nee... Apakah kamu telah menyimpan rasa terhadap seseorang?” Rin tiba-tiba
bertanya setelah beberapa menit dalam keheningan.
Veroa mengerti maksud dari kata “rasa” di sini, tapi dia tiba-tiba ingin menggoda Rin yang nampak malu-malu. Dia pun bertanya, “Rasa apa yang kamu maksud? Apakah rasa dendam, benci, atau...”
“Bukan! Itu, ano... rasa, rasa cin... cin... iih... kamu jangan bercanda deh! Aku tahu,
kamu juga mengerti maksudku, ‘kan?”
“Waduh, dia marah...” kata Veroa dalam hati, tapi dia merasa lebih bernostalgia dengan
adegan seperti ini. Lalu, dia pun menjawab, “Ya, hatiku telah direbut oleh seseorang”
Kata demi kata terulang-ulang dalam benaknya, hatinya terasa tersayat oleh pisau tumpul yang memaksakan diri untuk melukainya. Rin tersenyum menahan rasa sakit, tapi topengnya masih terlalu tipis untuk menyembunyikan ekspresi aslinya. Dia menyangka bahwa
hati Veroa telah diambil oleh seorang wanita sebelum dirinya muncul, karena selama dia
berada di dekat Veroa, dia belum pernah melihat dia berinteraksi dengan perempuan sebaya lainnya selain dirinya.
“Oh...” hanya itu yang dapat terucap dari mulutnya. Dia tak mampu untuk berkata lebih
dan memilih untuk segera pergi meninggalkannya. Tapi, sebelum dia dapat melangkah lebih jauh, pergelangan tangannya digenggam oleh Veroa hingga dirinya tertarik ke belakang yang pada akhirnya keduanya berpelukan.
“Seseorang yang telah mencuri hatiku adalah kamu, Rin. Kamulah perempuan yang membuatku jatuh cinta” ucap Veroa berbisik di dekat telinga Rin yang membuat Rin terkejut
__ADS_1
sekaligus senang.
“Ahem!”
Suasana yang romantis itu dipecahkan oleh pria tua yang sedari tadi melihat adegan
remaja yang sedang kasmaran itu. Cruiser sebenarnya mengerti situasi, namun dia tak ingin keduanya terlalu larut dalam perasaan cinta yang dalam suatu kondisi, dapat menyakiti keduanya. Biarlah waktu dan jalan takdir masing-masing yang menjawab masa depan.
“Aish, Pak Tua sialan. Jangan dikira, setelah menjadi ayahnya Rin, aku akan menaruh
hormat padamu setelah apa yang telah kau lakukan sebelumnya padanya” ucapnya masih tak sopan, sebab dulu Rin menangis karena dipancing olehnya dan tak berusaha untuk
menenangkannya. Dia tahu itu, karena Rin memberitahunya dulu.
“Oh, apakah kau tak ingin mendapat restu dariku?” sebuah ungkapan yang mengancam,
namun tak berkesan serius.
“Hmph! Di masa depan, kau akan memberikan restu itu secara sukarela” ucap Veroa
dengan yakin.
menghentikan lelucon bak padang pasir keduanya.
Mendengar permintaan kecil dari anaknya, dia tak kuasa untuk menolaknya dan dia pun
mengizinkannya sembari pergi ke tempat lain, meninggalkan keduanya.
“Aku juga cinta sama kamu, Ver” ucap Rin menjawab perasaan Veroa yang sempat
tertunda.
“Aku tahu kok” ucap Veroa dengan nada yang terdengar menjengkelkan di telinga Rin
yang membuatnya kembali cemberut, namun hal itulah yang ingin dilihat Veora, karena dia
saat cemberut terlihat sangat imut dalam pandangannya.
__ADS_1
Pada siang hari, Veroa dan Rin akan berpisah dengan waktu yang tak diketahui kapan mereka dapat bertemu kembali, namun keduanya telah saling mengikat janji yang telah diutarakan.
Cruiser dan Rin pun berpamitan dan berlalu pergi. Veroa mengantar kepergiannya sampai keluar benteng Kota Sylvani.
Beberapa hari berlalu, akhirnya hari yang telah direncanakan sebelumnya telah tiba. Veroa, setelah menginjak usia dewasa, sebagai seorang pangeran, dia ditugaskan untuk mengelola dan memimpin Kota Tungsten. Gelarnya pun kini memiliki gelar tambahan, yaitu Duke Tungsten. Kedua kakaknya pun sama, Duke Titanium, yaitu kakak pertamanya, Rein Lambert memimpin Kota Titanium dan Duke Hydragyrum, kakak keduanya, yaitu Dizz Perquis memimpin Kota Hydragyrum. Kota Palladium, sebagai Ibukota dari Kerajaan Sylvani, dipimpin langsung oleh Raja Danmark.
Untuk bangsawan tingkat marquis, earl, dan baron, mereka adalah orang – orang yang
telah berkontribusi besar dalam membantu pengembangan kerajaan. Jadi, mereka berfokus pada suatu tujuan, seperti bangsawan baron yang berfokus pada pertahanan. Bisa dibilang, bangsawan baron ini memimpin pasukan dari tiap-tiap kota. Untuk bangsawan tingkat earl, mereka adalah para pemegang ekonomi kerajaan, sedangkan bangsawan tingkat marquis memegang kendali dalam politik.
Di Kota Tungsten, tak ada bangsawan earl, sehingga perekonomian di kota ini tidak
stabil. Namun, untuk pertahanan dan keamanan adalah yang paling hebat dibandingkan ketiga
kota lainnya. Duke Tungsten memimpin di kota ini, itu artinya dia juga bertanggungjawab dalam masalah perekonomian.
Baroness Karina, dia adalah bangsawan yang diduga telah mengkhianati kepercayaan Duke Arthemis, itu menurut orang – orang atau kabar yang beredar. Namun, nyatanya setelah Veroa melakukan pertemuan, dia segera menanyakan berbagai hal pada Baroness Karina, atau lebih dikenal sebagai Red Baroness, Karina. Ada alasan kuat dibalik itu semua dan buktinya adalah adanya anak tanpa ayah dari Baroness Karina.
Raja Danmark, kala itu melihat kemampuannya yang luar biasa, dia pun diangkat menjadi Baroness Karina yang ditempatkan di Kota Tungsten. Dialah alasannya, mengapa
Kota Tungsten ini menjadi kota terkuat di Kerajaan Sylvani. Bukan hanya pasukannya yang dilatih dengan baik dalam teknik bertempur, tetapi juga strategi lapangan saat perang, pengajaran, dan lain sebaginya dibimbing oleh Karina secara langsung. Sistem pertahanannya sendiri, benteng dirancang berlapis-lapis, tiap-tiap lapisan diberi jarak setengah kilometer dan pastinya bukan hanya benteng saja, tetapi juga adanya sistem pertahanan lain, seperti meriam, artileri, dan semacamnya.
Baroness Karina yang masih muda, telah mengalami pengalaman hidup yang berwarna-
warni, pahit dan manis telah dia rasakan. Kini, setelah memiliki anak dari musuhnya, dia
semakin bijaksana.
“Apakah kamu ingin membalas dendam?” tanya Veroa padanya setelah seluruh pertanyaan terkait dirinya dan segala macam hal yang berpotensi membahayakan kerajaan, kini
menawarkan sesuatu yang dulunya pernah dijadikan sebagai tujuan hidup oleh Baroness Karina beberapa waktu setelah kehidupannya hancur.
“Mengapa Tuan Veroa menanyakan hal itu?” tanyanya kemudian, ingin mengetahui
alasan seorang Duke Tungsten yang baru saja mengenal dirinya, namun telah memberikan
penawaran terkait masa lalunya dan memercayainya begitu saja.
__ADS_1
Duke Tungsten atau Veroa, sehari setelah dirinya tiba, dia tak serta-merta beristirahat berlarut-larut. Dia segera bekerja dan mengurus berbagai berkas. Inilah alasannya, mengapa pada hari kedua, dia meminta Baroness Karina untuk datang menemuinya. “Itu karena, aku tak ingin ada korban lebih banyak lagi. Kamulah orang yang paling cocok untuk menangani hal ini. Segeralah tumpas pria bernama Arthemis itu, agar tragedi pemerkosaan wanita diberhentikan” ucapnya memberikan alasan yang tepat.