
Langit merah dihiasi dengan lautan api yang siap dilemparkan pada musuh yang ditargetkan. Dalam area yang luas, warna jingga semu merah mewarnai daratan tanah tandus dengan Veroa sebagai pusatnya. Beberapa menit pun berlalu, persiapan mereka akhirnya selesai dan kini siap untuk dilepaskan.
Veroa sebagai target serangan masih berdiam diri di tempat, menunggu waktu yang tepat untuk berusaha menghindari serangannya secara langsung, meski terbilang mustahil bila dikatakan menghindari kontak langsung. Tapi, dia berpikir, setidaknya serangannya tak mengenai area vital.
Monster – monster itu tak melepaskan serangan sihirnya secara bersamaan, melainkan yang pertama menyerang adalah monster yang menyerang dengan menggunakan sihir api, fire ball. Mereka seperti mengetahui rencana Veroa yang hendak menghindari serangannya. Jadi, dengan dilancarkannya sihir fire ball terlebih dahulu, selain untuk mengacaukan pandangan target, juga mengganggu indera penciumannya yang memperbesar penggunaan tenaga, karena kesulitan bernafas.
Saat fire ball dari beberapa monster menghantam tanah yang sebelumnya dipijak oleh Veroa, ledakan pun terjadi dan debu pun kini memenuhi tanah tandus itu. Veroa yang berada di dalamnya merasa kesulitan untuk bernafas dan melihat arah serangan musuh selanjutnya.
Barulah setelah itu, fire arrow dilepaskan secara beruntun pada daerah yang tertutupi oleh butiran tanah tempat Veroa berpijak.
Di dalam tanah yang tertutupi butiran debu, panah yang terbuat dari api secara keseluruhannya datang dari berbagai arah secara acak. Dia dapat menghindari beberapa, tapi kebanyakan panah – panah api itu mengenai armornya. Meskipun begitu, armornya yang terbuat dari bahan konduktor yang efektif bagi perpindahan kalor membuat kulitnya lecet dan di beberapa bagian telah mengalami luka bakar yang serius. Tapi, dia yang telah mengalami siksaan yang lebih mengerikan, luka berat seperti itu seperti luka ringan saja dalam pandangannya. Beruntungnya lagi, panah api yang mengenai armornya tak banyak mengenai area vital, namun tetap saja itu mengganggu pergerakannya.
__ADS_1
Sebelah matanya telah terbakar, tangan yang satu telah sulit untuk dikendalikan, apalagi kedua kakinya yang telah gemetaran menahan kelelahan dan luka. Tapi, dia tetap berdiri dan mencoba untuk menghindari serangan panah api selanjutnya. Detak jantungnya telah memompa dengan sangat cepat dan dia merasa bahwa organ yang satu itu telah bekerja terlalu keras. Paru-parunya berusaha dengan keras untuk tetap menyalurkan udara yang dihirupnya ke seluruh tubuh sebagai suplai untuk memulihkan tenaganya. Namun, tenaganya tak kunjung terisi, karena majikannya tak memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya walau sejenak.
Tak jauh dari area pertempuran satu arah serangan, di langit terdapat area yang dikelilingi aura negatif yang telah dinetralkan menjadi energi kegelapan sedang diserap oleh sesuatu yang berada di pusat rotasi. Sesuatu itu sedang berusaha untuk berevolusi menjadi individu yang luar biasa. Dia adalah Zaldot, pasukan sihir yang sebelumnya berupa energi sihir murni yang berbentuk humanoid. Setelah Tuannya memberikan nama di detik-detik terakhir dia yang akan segera sirna, akhirnya dia mendapat kesempatan untuk berevolusi menjadi individu yang lebih superior.
Dark Knight baru saja terlahir di Dunia Terbengkalai! Proses evolusinya telah selesai, aura kegelapan telah terserap sepenuhnya dan kini sosok yang berwarna hitam seperti sebuah bayangan dengan tampilan tiga dimensi melayang di sana. Mata merah yang mengintimidasi menatap area yang dipenuhi butiran tanah, dia merasakan kehadiran Tuannya yang semakin melemah di sana yang mana menjadi pusat serangan para monster. Baru saja selesai berevolusi, dia merasa bahagia dan bangga terhadap dirinya sendiri, karena bisa lebih berguna bagi Tuannya, tapi segera diganggu dengan pemandangan yang memuakkan.
Dia berteriak marah. Teriakkannya seperti tertuju pada monster – monster terbang yang sedang menyerang Tuannya. Gelombang suaranya berupa ultrasonik berfrekuensi tinggi yang diberi energi kegelapan dalam suaranya yang membuat energi psikis monster – monster itu kacau, membuat mereka yang merupakan makhluk tak berakal, semakin dibuat tak berakal. Tiba-tiba, mereka menyerang satu sama lain dengan beringas, tak memedulikan apakah mereka kawan atau lawan.
Zaldot segera terbang, melesat ke arah Tuannya berada. Dia sangat khawatir terhadap kondisi tuannya yang keberadaannya kian melemah. Pada saat dia sebentar lagi akan sampai di sana, keberadaan Tuannya tak dapat dirasakannya lagi. Dia panik, saking paniknya, dia yang tidak memiliki mulut dan hanya keinginan diri saja yang merupakan citra suatu makhluk, berteriak menyuarakan Tuannya.
“Tuan!!!” katanya berteriak tak sadar. Saat kedatangannya, aliran udara yang dibawanya menghempsakan butiran debu yang masih bertebaran.
__ADS_1
Veroa nampak berdiri dengan gagah, tapi dia tak melakukan pergerakan sedikitpun. Dia seperti patung dengan estetika tinggi, tapi matanya masih memancarkan pandangan yang tegas seperti biasanya. Tubuhnya telah kehilangan energi kehidupan. Makanya, Zaldot tidak merasakan adanya aura keberadaaan Tuannya. Artinya, siapapun dia yang telah kehilangan energi kehidupan, dia telah mati. Tapi, Zaldot belum menyadari bahwa dia belum menghilang. Bagaimanapun, bila Tuannya mati, spirit yang telah dikontrak akan ikut mati, begitupun dengan makhluk panggilan sepertinya.
Jiwa Veroa masih ada dan belum meninggalkan raganya. Hanya saja, meskipun dia masih ada dan menyatu dengan raganya, kasus ini seperti seseorang yang telah kehabisan tenaga dan tak dapat menggerakan tubuhnya, tetapi kesadarannya masih ada. Namun, tingkatan yang dialami oleh Veroa lebih tinggi dan menyangkut hidup dan mati. Energi kehidupan layaknya stamina tubuh yang menjadi penghubung antara saraf motorik dengan saraf pusat. Tidak ada stamina, seberapa besar pun tenaga yang dimiliki, dia takkan mampu untuk menggerakkan tubuhnya.
Kesadaran Veroa masih mengambang di dalam alam bawah sadarnya. Fenomena ini sebenarnya fenomena yang langka dan hanya mereka yang memiliki kekuatan jiwa yang tinggi yang bisa melakukannya. Artinya, mereka yang memiliki kekuatan jiwa yang memenuhi syarat untuk terjadi seperti kasus Veroa, sebelum raganya hancur, dia dapat tetap hidup, bila energi kehidupannya pulih sepenuhnya.
Sebenarnya, suara di atas mereka sangat bising dengan suara letupan api di langit, tapi, baik Veroa yang energi kehidupannya telah habis tak dapat mendengar atau tak tahu kondisi luar tubuhnya, sedangkan Zaldot, dia merasa tak berguna sebagai makhluk panggilan dan perasaanya berkecamuk, tak memiliki motivasi untuk hidup. Dia hanya berdiri di depan tubuh Tuannya dengan pandangan kosong.
Di langit, telah banyak berjatuhan monster yang terkena kawannya. Ada yang terluka parah, ada pula yang mati terbakar. Pikiran mereka masih kacau dan hanya tahu bahwa mereka harus menyerang dengan sihir api sambil terbang di langit. Itu adalah perintah mutlak dari Tuannya, namun tujuan mereka menyerang telah hilang terbawa gelombang suara yang dikeluarkan oleh Zaldot.
Waktu pun berlalu, tak ada yang tahu pastinya, tapi monster – monster itu dari yang awalnya berjumlah ribuan, kini semakin menipis dan mencapai ratusan saja.
__ADS_1