
Setelah dicari-cari, dia akhirnya menemukan satu daerah lilitan aliran energi sihir yang kecil dan berwarna hitam keunguan. Dari aliran itu, selain terpisah dengan aliran di pusat saraf dan sepertinya tak ada hubungan antara keduanya, dia segera mencari lilitan terkait dengan lilitan yang baru saja ditemukannya. Setelah menemukan lilitan kecil yang pertama, dia dapat menemukan lilitan yang mirip untuk kedua kalinya dan benar, kedua tali itu saling terhubung. Dia masih melihat adanya aliran energi sihir ke arah selanjutnya dan menemukan lilitan yang sama untuk yang ketiga dan keempat kalinya, sedangkan untuk yang kelima kalinya, dia seperti telah kembali ke posisi semula, di mana dia menemukan lilitan kecil yang pertamanya. Karena merasa penasaran, apa sebenarnya lilitan kecil itu, dia pun memperlebar jarak pandangnya.
Tak terlalu jauh dia mengambil jarak, ternyata saraf pusat yang menjadi pusat lilitan aliran sihir sedang dikelilingi oleh lilitan kecil yang berwarna hitam keunguan, empat lilitan kecil di keempat sisi dan dua di bagian atas dan bawahnya secara simetris, atau bentuk tepatnya mirip bentuk geometri molekul dalam kimia, oktahedral. Bila diumpamakan, pusat saraf seperti seekor burung dalam sangkar.
“Kupikir, inilah sihir kutukan. Jadi, aku harus melepas satu per satu lilitannya agar Nona Morgana dapat terlepas dari belenggu ini?” itu hanyalah ungkapan hatinya setelah melihat bentuk dari kutukan itu dan dari sini, dia banyak mempertimbangkan, harus dari mana dia mulai melepaskannya? Apakah berbahaya bila salah satunya dilepas begitu saja?
Untuk yang ketiga kalinya, kecepatan berpikirnya menjadi lebih cepat ketimbang perputaran waktu normal. Dalam keadaan seperti ini, tingkat konsentrasinya sangatlah tinggi. Berbagai kemungkinan telah dipikirkan dalam benaknya. Akhirnya, dia menemukan solusi. Dia hanya perlu membimbing aliran energi sihir milik Nona Morgana untuk menggantikan posisi lilitan kecil yang mengekangnya setelah berhasil dia lepaskan. Dengan kata lain, dia berencana menggunakan energi sihir bawaan Nona Morgana untuk menggantikan otoritas kekangan yang sedang mengekangnya. Jadi, dirinya yang dikekang oleh diri sendiri takkan bergantung pada orang lain dan dia dapat dengan bebas melepaskan kekangan itu.
Dia segera melakukannya. Satu per satu dia mulai melepaskannya dan satu per satu pula dia segera membimbing energi sihir bawaan Nona Morgana untuk menggantikan posisi lilitan kecil yang hilang. Satu, dua, tiga, untuk yang terakhir, lilitan yang keenam akhirnya berhasil digantikan dengan lilitan aliran energi sihir bawaan milik Nona Morgana.
Mengingat waktu yang telah menipis, dia bergegas membimbing energi sihirnya untuk segera dikeluarkan dari tubuh Nona Morgana.
“Selamat!”
__ADS_1
Di detik-detik terakhir, dia akhirnya berhasil mengeluarkan energi sihirnya dan di depan pandangannya, sebuah layar notifikasi dari sistem muncul. Tapi, rasa penasaran untuk melihat Nona Morgana yang telah terlepas dari kutukannya lebih besar ketimbang melihat hadiah dari sistem, dia pun mengesampingkan hal itu.
Pertama, noda yang menempel di sekujur tubuhnya dan bau busuk yang dikeluarkannya perlahan menghilang, menampilkan sesosok makhluk yang sangat cantik dan terdapat rona bercahaya di kulitnya. Kedua, iris matanya yang awalnya berwarna hitam legam, kini berubah warna menjadi hijau daun yang menjernihkan pikiran siapapun yang melihatnya. Ketiga, aura yang terpancar darinya terasa suci, meskipun intensitas aura suci yang terasa tidak sehebat para Dewa, apalagi bila dibandingkan dengan Aethelfaed. Keempat, pohon oak yang terlihat suram, kini dipenuhi dedaunan hijau dan buah – buahan segar. Perubahan yang sangat drastis, bahkan Raja Iblis Azazel nampak sedikit kaget karenanya.
Melihat perubahan itu, Veroa tersenyum sembari menatap Nona Morgana yang masih merasa tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dia sepertinya masih tak percaya dan menganggap bahwa kejadian ini hanyalah mimpi, karena sebelumnya dia tak sepenuhnya merasa bahwa dirinya bisa terlepas dari kutukan itu. Makanya, dia mencubit pipinya dengan sedikit keras hingga membekas berwarna merah merona. Sontak saja dia menjerit kesakitan akibat ulahnya sendiri. Veroa tertawa melihatnya.
“Gimana perasaanmu sekarang, Nona Morgana?” tanya Veroa setelah suasana kembali hening.
“Gana, panggil saja aku Gana. Aku, aku merasa sangat bahagia sekaligus merasa tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Telah ratusan tahun berlalu, akhirnya... akhirnya...” ucapnya sedikit terbata-bata dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan perasaan bahagia. Dia pun melanjutkan ucapannya, “Setelah aku terbebas, aku bersumpah kepada siapapun yang telah membebaskanku dari kutukan ini, aku akan menjadi spiritnya. Jadi...”
“Mau kah kamu menjadi pelindung calon istriku? Aku bukannya tidak mau membuat kontrak denganmu, tetapi aku juga telah memiliki spirit yang setara denganmu. Apalagi, nantinya akan sangat menyulitkanku dalam pemahaman spiritnya. Alhasil, aku akan tertinggal oleh orang – orang. Menjadi spirit untuk calon istriku juga merupakan pemenuhan janjimu, ‘kan?” jelas Veroa yang membuat Morgana yang awalnya merasa tak bisa membalas budi, kini dia merasa bahagia. Dia hanya mengangguk tanda setuju.
“Jadi, setelah ini, apa yang akan engkau lakukan?” tanya Raja Iblis Azazel yang merasa seperti telah dicemoohkan.
__ADS_1
“Pulang”
...
Dunia yang nampak berhenti berputar, kini kembali normal. Pandangan yang pertama kali dituju adalah sebuah makam yang baru saja dibuat, makam penculik yang baru saja dibunuhnya, dibebaskan dari penderitaan duniawi akibat ulah manusia sendiri.
Sebelum sampai tiga puluh tahun hukuman untuk yang ketiga kalinya, Veroa akhirnya dapat kembali ke Dunia Cosmic dengan bantuan sistem, hadiah dari penyelesaian tugas. Selain itu, dia kembali tidak dengan tangan kosong, selain armornya yang mengkilap berwarna perak, dia juga membawa hewan peliharaan berupa kelinci bulan dan dryad yang bersedia menjadi spirit kontrak untuk calon istrinya, Nona Morgana.
Menghilangkan penutup kepalanya, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu dikeluarkannya perlahan. Udara segar baru saja dihirupnya, dia merasa hidup kembali.
Waktu saat ini masih malam, dia memutuskan untuk segera kembali ke Desa Illiod untuk segera tidur menemani si gadis kecil yang ikut bersamanya dulu, Vina. Dia lupa dengan pakaian apa yang dulu dia pakai di saat sebelum dirinya mengalami hukuman dari Dewa, tapi di perjalanan pulang ini, dia mempersiapkan berbagai alasan untuk menjadi bahan jawaban ketika ditanya tentang pakaiannya oleh seseorang.
Beruntungnya, karena saat ini adalah tengah malam, semua orang sedang tertidur pulas, hanya sesekali sekelebat bayangan seseorang tertangkap oleh matanya, yang ternyata adalah pengintai yang kini sedang bertugas. Mereka tak berusaha untuk menahan seseorang yang baru saja masuk ke desa, karena mereka melihat wajah yang tak asing bagi mereka. Jadi, Veroa hanya perlu berjalan menuju kamarnya sendiri dan dengan bebas berganti pakaian di sana.
__ADS_1
“Akhirnya, tidur... setelah sekian lama, aku tak pernah tidur lagi...” ucapnya yang segera tertidur pulas saat seluruh tubuhnya dibaringkan di atas kasur di samping Vina yang sedang tidur.