
Di sebuah gang, baru saja terjadi perkelahian kecil. Sebenarnya tak dapat disebutkan sebagai perkelahian, sebelah pihak menyerang, sebelah pihak lainnya hanya menghindari serangan sampai pihak lain merasa kelelahan.
Pemuda yang terluka telah sembuh, keempat orang itu tak ada yang mampu untuk memukulkan kepalan tangannya. Masalah kecil telah selesai, Veroa beranjak pergi dari sana dan berniat untuk melanjutkan aktivitas jalan-jalannya.
Sebelum dirinya melangkah lebih jauh, pemuda yang baru saja ditolongnya memanggilnya, “Tuan, tunggu sebentar!”
Mendapat panggilan itu, langkah kakinya terhenti. “Ada apa? Butuh bantuan lagi kah?” ucap Veroa, menoleh ke arah sumber suara.
“Itu... adakah hal yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan anda? Setidaknya, mungkin saya dapat membantu bersih-bersih di kediaman anda, saya juga bisa memasak” dia menawarkan kebolehannya pada Veroa, dia tak ingin menjadi orang yang dianggap tak tahu balas budi.
Memperhatikan dari atas sampai bawah, dari tubuhnya sebenarnya terpancar sedikit energi sihir. Seharusnya, dia telah melakukan upacara kedewasaan secara massal di kota ini. Makanya, orang yang berbakat, meski belum pernah melakukan sedikit pun pelatihan, dia tetap akan memiliki energi sihir bawaan setelah jiwanya dimurnikan di Katedral. “Kamu boleh bersih-bersih di taman istana. Datanglah ke kediamanku di sana, katakan kepada para penjaga gerbang bahwa dirimu diundang oleh Veroa Fliff”
Mendengar dirinya diundang dan akan memiliki tugas untuk bersih-bersih di sana, dia merasa senang. Wajahnya tersenyum dengan lebarnya, dia membungkuk dengan hormat pada Veroa. Setelah dirasa Veroa telah pergi, dia segera berlari menuju ke suatu tempat. Dia hendak bersiap-siap untuk melakukan tugasnya, sungguh dia sangat bersemangat setelah sekian lama.
__ADS_1
Veroa sengaja mengundangnya ke istana sebagai tukang bersih-bersih. Melihat bibit yang sulit tumbuh karena kekurangan air, Veroa memberi sedikit jalan baginya untuk mendapat kesempatan mengintip ke lapangan latihan yang ada di halaman istana. Bagaimana pun, selain Vina yang sering latihan di sana, sesekali pasukan khusus juga akan berlatih di sana. Hal itu bisa dijadikan sebagai gambaran bagi pemuda itu tentang dunia sihir. Dia juga sengaja tak menentukan kapan dia harus datang, dia ingin menguji sikap mandirinya dan apakah dia memiliki keberanian atau tidak, sehingga nantinya dia lulus untuk dijadikan sebagai muridnya.
Pada sore hari, ternyata yang datang bukan hanya pemuda yang ditolongnya, keempat orang itu juga ikut. Sebelumnya, Veroa telah menduga hal itu saat melihat ekspresi mereka di tempat sebelumnya. Mungkin, alasan mereka ke sini adalah untuk meminta maaf dan sebagai kompensasi, mereka hendak melakukan yang serupa dengan pemuda itu. Veroa memberikan pemberitahuan pada para penjaga untuk membiarkan mereka masuk dan berpesan untuk memberitahukan kedatangan mereka padanya. Jadi, mereka semua tak mendapat halangan untuk masuk ke dalam gerbang istana.
Di depan pintu istana, Veroa telah berdiri di sana menunggu kelima orang itu yang kini sedang berjalan memandangi halaman istana dengan penuh kekaguman, dua orang prajurit mengawal mereka di belakangnya. Saat melihat Veroa, langkah kaki mereka dipercepat, karena takut membuatnya menunggu lama.
Memandang keempat orang yang sebelumnya tak meminta untuk datang, dia seolah meminta penjelasan dari mereka sekedar berbasa-basi. Tujuannya adalah untuk menguji keberanian dan kepekaan mereka. Dia berniat memilih pemimpin tim dari grup kecil ini kelak dengan melihat siapa yang bereaksi lebih cepat.
“Maafkan kami sebelumnya, Tuan. Kami ke sini ingin meminta maaf sekaligus memberikan kompensasi dengan semampu kami. Kami tak memiliki kekayaan yang memadai untuk dapat diberikan, sehingga kami memikirkan tentang bekerja membersihkan taman istana, sebagaimana dia membalas kebaikan anda. Apakah kami diperkenankan untuk itu? Dan juga, apakah permintaan maaf kami akan diterima, Tuan?” yang berbicara seperti ini adalah dia yang sebelumnya terduduk lesu setelah beberapa detik menatap tajam mata Veroa. Dia memang pemberani, makanya rekannya memanggil dirinya dengan sebutan ‘Abang’ saat itu.
“Apakah lawan bicaramu seekor semut, sehingga membuatmu harus terus melihat ke bawah seperti itu? Ataukah dirimu memandang rendah lawan bicaramu!?” Veroa berpura-pura menekankan setiap kata yang terucap dari bibirnya, seperti oran yang sedang menahan amarah.
Hal itu berhasil menekannya, bahkan teman – temannya yang lain juga ikut merasa tertekan. Pemuda yang tak menentang dirinya sebelumnya juga, atau bahkan dia yang ditolong sebelumnya, kini merasa ikut terkena imbasnya. Mereka semua malah menundukkan pandangan, tak berani sedikitpun mengangkat kepala hanya untuk sekedar menatap bagian leher Veroa.
__ADS_1
Mumpung tak ada yang melihatnya, Veroa sedikit tersenyum dengan sandiwaranya yang berhasil membuat mereka tertekan, juga sedikit kecewa. Tak ada yang berani sedikitpun menatap dirinya untuk sekedar menatap, apalagi sampai mengeluarkan pendapat. “Apakah kalian akan tetap melihat semut yang tak nampak itu? Atau kalian memang sengaja merendahkan orang di hadapanmu?” dia mencoba untuk memancing mereka agar bersuara atau sekedar membalas pandangannya.
“Oh, bahkan tak berniat membalas lawan bicara? Apakah kalian memang sesombong itu?”
Pemuda yang ikut menundukkan kepala perlahan mengangkat kepalanya, berusaha memberanikan diri untuk membalas pandangan Veroa. Mulutnya komat-kamit, tapi tak ada suara yang keluar.
“Bicaralah! Tak usah sungkan. Apakah diriku ini akan memakanmu, bila kamu bersuara?”
Mendengar ini, mereka semua baru tersadar dengan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka kembali berpikir, sedang apa mereka kemari? Apakah hanya menundukkan kepala di hadapan sosok yang bahkan takkan menggigit? Malahan, tujuan mereka kemari adalah membalas kebaikan dan meminta maaf.
“Maafkan kami, Tuan. Entah mengapa, kami merasa tak berani untuk membalas pandangan Tuan. Saya sendiri sebenarnya masih bingung untuk berucap, tapi tujuan saya mestinya telah diketahui oleh Tuan dan tak berubah seperti tadi siang” akhirnya, pemuda itu mengeluarkan suara. Meski sedikit terbata-bata dan nadanya bergetar, dia tetap memberanikan diri untuk bersuara dan mengungkapkan isi pikirannya.
Melihat pemuda yang tadi siang disakitinya berani bersuara seperti itu, keempat orang lainnya saling pandang. Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk mengungkapkan isi pikirannya, “Maafkan atas kelancangan kami, Tuan. Kami ke sini hanya berniat untuk meminta maaf dan menambal kesalahan kami dengan cara melakukan bersih-bersih seperti yang hendak dilakukan oleh dia”
__ADS_1
Yang lainnya ikut bersuara lagi, keberanian mereka semakin terkumpul. Mereka menjadi tak merasa tertekan saat membalas tatapan mata Veroa, meski hanya sekilas, tapi entah mengapa mereka merasa senang, seperti baru saja membuat suatu pencapaian yang baru saja diraihnya.
Akhirnya, setelah beberapa waktu berdiri dan berucap di sana, Veroa menitipkan mereka kepada para pelayan untuk diberikan tempat tinggal sementara selama sepekan untuk melakukan bersih-bersih di seluruh halaman istana.