
Seorang pria lanjut usia memakai pakaian megah dan penuh dengan estetika, berjalan dari dalam Katedral menuju panggung. Di belakangnya, ada para Pangeran, satu orang Putra Mahkota, sisanya adalah bangsawan duke yang diberi tanggung jawab untuk mengurus sebuah kota.
“Saya persilahkan, Yang Mulia Raja Sirloyn untuk memberikan sambutan kepada yang telah hadir” badannya sedikit dibungkukkan, tangannya mempersilahkan Raja Sirloyn untuk maju dan memberikan ucapan sambutan.
Mendapat kesempatan untuk berbicara dan dipersilahkan untuk maju, Raja Sirloyn turut mengikuti. Menghadapi banyak orang seperti ini, dirinya yang telah lanjut usia ini telah terbiasa berbicara di hadapan umum. Menatap pembawa acara sebelum dirinya berucap, “Terima kasih, Tuan Arden telah memberikan kesempatan kepada saya, berdiri di sini untuk memberikan sambutan”
Raja Sirloyn pun memberikan kata – kata sambutan yang terstruktur, tutur katanya yang terpilih, dalam pandangan orang – orang, dirinya saat berbicara seperti itu terlihat sangat berwibawa. Seolah-olah, orang – orang yang hadir ini berada dalam genggaman tangannya.
“Aura seorang raja kah? Membutuhkan tak sedikit waktu untuk dapat seperti itu, sesuai dengan umurnya yang telah lanjut” Veroa bergumam di atas, dia juga mendengarkan ucapan sambutannya dan dia cukup terkesan.
Dari atas sini, dia dapat melihat adanya pergerakan mencurigakan dari beberapa orang. Orang – orang di sekitarnya terlihat menyadarinya, tapi sepertinya mereka tak memutuskan untuk mengurusinya secara langsung.
Sepertinya, beberapa orang ini mendapat kata sandi dari suatu tempat untuk mempersiapkan aksinya. Sebagian kecil lainnya bergerak dari beberapa titik dan mengarah pada satu arah. Dari perilaku mereka, terlihat jelas mereka hendak berkumpul untuk melakukan sesuatu sesuai kata sandi yang telah ditentukan.
__ADS_1
Veroa masih bersikap santai meski dia melihat itu semua, bila ingin, dia dapat menyelesaikannya dengan cepat. Tapi, dia ingin tahu tindakan apa yang akan dilakukan oleh para mercenary yang sedang berpura-pura hendak menyelesaikan permintaan kliennya.
Dalam hal ini, tiap-tiap mercenary dari guild yang berbeda mendapat pengarahan yang berbeda dari Guild Masternya. Mereka yang tetap tak mengubah tujuannya datang menghadiri upacara ini, kemungkinan besar adalah mereka yang memiliki hubungan khusus dengan klien, terutama Guild Masternya.
Di tempat yang agak sepi, beberapa orang yang nampak membawa senjata bermunculan dari berbagai arah. Seseorang di sana ternyata telah ada yang menunggu kedatangan mereka. Dia, seorang pria berperawakan kekar, tapi perutnya sedikit buncit dengan sebelah matanya yang ditutupi oleh kain khusus yang sepertinya untuk menutupi sesuatu yang tak seharusnya dikeluarkan di saat-saat dibutuhkan.
Melihat kedatangan orang – orang yang baru saja dipanggilnya, dia sedikit mengubah posturnya menjadi lebih terlihat sedikit gagah. Dia memandang mereka satu per satu, takut ada seseorang yang tak dikenal ikut campur dalam urusannya. Setelah semuanya dinyatakan lengkap telah berkumpul di sana, dirinya segera mengatakan sesuatu kepada mereka terkait rencana yang hendak dijalankannya.
“Kutanya sekali lagi. Setelah kalian melangkah di tahap ini, mungkin kalian takkan dapat melangkah mundur, ini adalah kesempatan terakhir bagi kalian untuk memutuskan keputusan akhir, apakah kalian ingin melanjutkannya atau tidak. Dalam kasus ini, tak ada paksaan, kalian bebas memutuskannya. Apakah ada yang memutuskan untuk mundur?” memandang satu per satu wajah bawahannya, dia melihat tak ada keraguan dalam raut wajah mereka terhadap keputusan yang telah diambilnya. Tak ada pergerakan yang membuat mereka terlihat hendak mengubah keputusannya, mereka telah membulatkan tekad untuk mengikuti Guild Masternya untuk memenuhi keinginan klien.
Di halaman Katedral, orang yang melakukan sambutan telah berganti, yang awalnya Raja Sirloyn, kini beberapa pangeran lainnya yang mengungkapkan curahatan hatinya, hampir kesemuanya memberikan ucapan semangat dan nasihat untuk Putra Mahkota yang merupakan kakaknya dan mengatakan kepada orang – orang untuk selalu mendukungnya dalam kondisi apapun. Tetapi, untuk yang terakhir Duke Artehmis atau sebuat saja Pangeran Arthemis untuk saat ini, dia berkata bahwa kakaknya itu tak pantas menjadi seorang raja. Buktinya, dirinya telah dibuat kecewa beberapa kali di belakang layar.
Sembari berkata demikian, dia juga memandang orang – orang yang dirasa para mercenary. Dirinya yakin, tindakannya ini akan membuahkan hasil yang luar biasa, melebihi ekspektasinya. Melihat orang – orang yang disewanya menyaksikan upacara penobatan ini, dirinya mengira mereka sedang menunggu gilirannya beraksi. Dan kinilah saatnya, dia mengungkapkan kekecewaannya pada semua orang dan melakukan gerakan seolah menyuruh para pendukungnya untuk menyuarakan empatinya. Nyatanya, hanya sedikit saja yang memberinya dukungan, orang – orang yang dikiranya berada dipihaknya malah memandangnya dengan datar.
__ADS_1
“Apakah kalian juga merasa demikian?” dia berusaha memastikan, apakah dirinya telah salah mengira bahwa mereka benar-benar orang suruhannya atau tidak. Tapi, di luar dugaannya, dari orang – orang itu ada yang menyuarakan pemikirannya. Seseorang itu mengetahui aturan di situasi seperti ini, dia mengangkat tangan untuk menarik perhatian pembawa acara sebelum berkata, “Bolehkah saya mengungkapkan isi hati saya?”
Para pangeran yang lain sebenarnya merasa geram dengan tindakan Pangeran Arthemis, orang yang sedang direndahkan hanya bisa menerima itu semua, karena memang faktanya seperti itu. Putra Mahkota memang sebelum-sebelumnya pernah mengingkari janji yang diberikannya pada Pangeran Arthemis selaku adiknya, tapi dirinya tak berpikir akan berakhir seperti ini.
Pembawa acara ini sebelumnya merasa, Pangeran Arthemis terlalu berlebihan berbuat merendahkan Putra Mahkota, kini ada lagi orang yang dengan lancang berbicara seperti itu, meski hanya meminta izin untuk bersuara.
“Silahkan. Bersuaralah, ungkapkan isi hatimu pada semua orang” bukan pembawa acara yang berbicara, beliau adalah Raja Sirloyn.
Tak ada yang berani membantah, Pangeran Arthemis hanya bisa mengepalkan tangan saat melihat ekspresi orang yang hendak berbicara itu. Mendapat perizinan langsung dari Raja Sirloyn, orang itu merasa tersanjung, tak menyangka akan terjadi hal yang menakjubkan. Raja Sirloyn banyak yang mengaguminya, beliau adalah sosok raja yang baik hati dan bijaksana, orang – orang telah mengetahui itu. Salah satu buktinya, Kota Barrium dapat semakmur ini berkat kepemimpinannya.
“Terima kasih banyak Yang Mulia, atas izin yang telah anda berikan kepada hamba. Yang saya ingin katakan adalah berkaitan dengan Pangeran Arthemis. Sejauh yang saya ketahui, ada begitu banyak perempuan yang telah dinodai dengan paksa olehnya, banyak juga yang menjadi pekerja paksa, saya sendiri mengetahui hal ini dari rekan saya yang beberapa waktu lalu mendapat kabar tragis mengenai anaknya yang tersiksa akibat perbuatan Pangeran Arthemis. Apa pendapat anda terkait hal itu?”
Semua orang yang mendengarnya terkejut, apalagi para pangeran dan Raja Sirloyn. Untuk Pangeran Arthemis, dirinya selain merasa terkejut, dia juga sedang menahan perasaan malu, marah, takut, dan perasaan lainnya yang bercampur aduk saat ini.
__ADS_1
“Mengapa? Bukannya dia termasuk mercenary yang kusewa? Tapi...”