
Di depan benteng yang telah menjadi puing-puing, ada lapangan yang luas. Di sana baru saja didirikan tenda untuk melakukan perundingan singkat antar pimpinan pasukan. Sebelumnya, setelah benteng akhirnya runtuh, para ahli sihir menghentikan serangan sesuai instruksi dari Veroa. Sehingga, dengan ini ada kesempatan bagi Raja Arthur untuk menyampaikan pesannya kepada Veroa untuk melakukan perundingan singkat.
Tak ada air minum atau semacamnya, suasana mirip seperti di padang pasir. Keduanya saling tatap, namun Raja Arthur hanya beberapa detik dapat mempertahankan keteguhannya sebelum memalingkan pandangan.
“Silahkan anda mulai, Raja Arthur” Veroa memberikan kesempatan kepadanya untuk menyampaikan maksud dari perundingan singkat ini tanpa ingin berbasa-basi terlebih dahulu.
“Um... sebelumnya, saya minta maaf karena tidak memberikan tanggapan terhadap surat yang telah anda kirimkan. Namun, bolehkah saya bertanya terlebih dahulu?” Sikapnya ini sungguh berbeda dengan dua bulan yang lalu setelah dirinya baru saja diangkat menjadi raja.
“Oke, saya izinkan. Lagipula, pembicaraan ini bisa langsung dilanjutkan” ucap Veroa acuh tak acuh.
“Maksud anda?” Raja Arthut nampak ragu-ragu dengan pikirannya sendiri.
“Anda tadi meminta izin untuk bertanya, sedangkan perizinan itu telah terpakai dengan anda bertanya seperti itu. Jadi, silahkan lanjutkan pembicaraan ini” dalam hatinya, Veroa tertawa melihat ekspresi Raja Arthur yang terbengong dengan apa yang barusan didengarnya, sedangkan apa yang diucapkan oleh Veroa barusan memang masung akal.
Suasana terasa canggung, apalagi Jenderal Willford yang berdiri di belakang sebelah samping kirinya. Dia berusaha untuk tak tertawa mendengar awal pembicaraan ini. Selain itu, saat dirinya hendak memperingatkan atas sikap Veroa yang tak sopan di hadapan Raja Arthur, melihat Yuyue Wulan yang mengawal Veroa saat ini memegang gagang katana, dia segera mengurungkan niatnya.
“Ah... iya, kurasa anda benar. Baiklah kalau begitu, saya ganti metode perizinannya. Mohon izinkan saya untuk bertanya kepada anda terlebih dahulu, Tuan Veroa...” Raja Arthur segera dapat mengatasi hatinya yang tersayat itu dan mengabaikannya dengan cara fokus pada dirinya yang ingin bertanya.
__ADS_1
“Silahkan” kedua tangannya menyangga dagu, bersiap untuk mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.
Raja Arthur menanyakan tentang status perang ini, apakah perang pribadi atau perang antar negara. Melihat dari jumlah prajurit yang dibawa Veroa dan kekuatannya yang tak main-main, dia yakin orang ini mendapat bantuan dari pihak kerajaan. Hanya saja, setelah bertanya cukup panjang, beberapa baris kalimat yang telah dirinya susun malah hancur begitu saja.
“Baiklah. Anda telah bertanya, sedangkan anda tak meminta saya untuk menjawabnya. Jadi, mari kita beralih ke topik utama...”
“Tuan Veroa!! Mohon untuk tidak main-main” emosinya telah ditahan dengan susah payah beberapa waktu lalu, namun kini telah sulit untuk ditampung dan malah tumpah ruah begitu saja. Setelah menyadari dengan apa yang barusan dia katakan dan lakukan, dia segera menelan ludahnya dengan kasar.
“Maaf-maaf. Saya akan jawab. Semuanya sesuai dengan surat yang kukirim. Pihakku tak menerima bantuan dari manapun dan tak ada satu pihak manapun yang mengetahui tentang peperangan pribadi ini...” Veroa mengatakan juga terkait kekuatan militernya yang dibawa saat ini sebanyak tiga per empat dari seluruh kekuatan militernya. Namun, dia tak menyebutkan bahwa para petualang yang kini telah berkostum seperti para prajurit Kota Tungsten itu adalah para petualang yang mengajukan diri untuk berkontribusi dalam peperangan ini.
Mendengar ini, pikiran Raja Arthur menjadi kosong. Dia sungguh merasa terkejut sekaligus tertekan dengan apa yang barusan didengarnya. Bagaimana tidak, kekuatan militer Kota Tungsten ternyata hampir setara dengan kekuatan militer Kerajaan Rome secara keseluruhan. Sedangkan Kota Barium saat ini sedang menghadapi pasukan itu saat ini.
Akhirnya Raja Arthur tersadar dari lamunannya setelah mendengar kata ‘peperangan’ dari mulut Veroa. Dia segera bangkit untuk menghentikan niat Veroa dan mengajaknya untuk kembali melakukan perundingan singkatnya. Kali ini, dia segera menyampaikan maksud dari perundingan ini tanpa bertele-tele lagi, takut bila Veroa merasa bosan dan akan melanjutkan peperangan ini dari sebelah pihak.
Dia berkata dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi, termasuk sikap dirinya yang mengabaikan surat pernyataan perang itu, sehingga tak memiliki persiapan seperti sekarang ini.
Jenderal Willford juga yang mendengarnya di belakang merasa geram dengan sikap Raja Arthur sekaligus kecewa. Bagaimanapun, menurutnya Raja Arthur ini terlalu meremehkan pihak lain tanpa memperhitungkan konsekuensinya. Terlebih, saat mendengar alasan peperangan ini terjadi adalah karena Raja Arthur yang melindungi seorang kriminal, yaitu adiknya sendiri, dia semakin merasa marah, namun dia berhasil menahannya. Di lain sisi, dia juga sadar bahwa Raja Arthur baru-baru ini menggantikan peran ayahnya, sehingga pengalamannya di bidang politik dan kepemimpinan masihnya rendah atau bisa dibilang nol.
__ADS_1
“Saya sungguh menyesal, Tuan...” nada bicaranya memang menjanjikan, tapi raut wajahnya cukup menjengkelkan.
“Saya akan menghentikan peperangan ini. Namun, itu bila kompensasinya saya yang menentukannya...” Veroa memperlihatkan keseriuasannya, berharap bahwa Raja Arthur ini tanpa pikir panjang langsung menerimanya. Namun, melihat ekspresi yang menyedihkan yang ditampilkan oleh Raja Arthur, Veroa mengatakan sesuatu agar memperkuat pernyataannya. “Anda lebih memilih kehancuran atau kehilangan?” Ucapnya pelan yang bagaikan petir di padang pasir.
“Ah... baiklah. Sa-saya... se-“ sebelum ucapannya terselesaikan, seseorang memotong ucapannya dengan bersegera.
“Yang Mulia! Kami siap bertempur!” Jenderal Willford membungkuk hormat, namun posturnya telah siap untuk melakukan serangan maupun menangkis serangan. Dia berpikir, apa bedanya kehancuran dengan kehilangan? Lebih baik berusaha melawan sampai akhir daripada pasrah begitu saja.
Kepalanya sekarang terasa cukup dingin, seperti baru saja dibasuh oleh embun pagi setelah melihat sikap Jenderal Perang kebanggaannya begitu setia. Dia akhirnya memantapkan diri untuk menjawabnya, “Saya setuju”. Setidaknya, kehilangan sesuatu masih ada harapan untuk mengembalikannya, pikirnya.
“Ya-Yang Mulia! Mengapa anda...”
“Aku menghargai pendapatmu, Jenderal Willford. Tapi, sudah menjadi kewajiban bawahan untuk mengikuti keputusan atasannya, bukan?” Matanya tertutup tenang, terlihat jelas bahwa keputusannya telah bulat.
“Baiklah. Setelah saya berkata ‘Keputusanmu tak dapat ditarik kembali’, maka secara sah peperangan diberhentikan dengan biaya kompensasi yang ditentukan oleh saya” Veroa tersenyum mendapat hasil yang sesuai harapannya, dan dia tak perlu melanjutkan peperangan ini yang memang dia hanya gunakan untuk mencapai hasil yang diharapkannya.
Lalu, keduanya berjabat tangan, pertanda bahwa hasil perundingan ini telah mencapai klimaksnya. Selembar kertas yang berisikan ‘Surat Pernyataan’ untuk mempertegas hasil perundingan ini muncul secara tiba-tiba di atas meja. Veroa langsung menandatanganinya, karena dia yang membuat suratnya, sehingga dirinya tak perlu membaca ulang isinya.
__ADS_1
Kerutan di keningnya Raja Arthur tercipta setelah menyadari bahwa hasil perundingan ini telah berada dalam genggaman Veroa.
“Sepertinya, memang inilah yang terbaik...”