
Bila dilihat-lihat, ukuran tubuh macan loreng hitam kali ini sedikit lebih besar daripada macan loreng hitam yang pernah mencuri buruannya yang berakhir gagal. Terdapat beberapa perbedaan kecil, seperti misal kumisnya yang lebih lebat dibanding macan loreng hitam sebelumnya, telinganya sedikit lebih lancip, dan bentuk wajahnya nampak lebih gagah, lebih tepatnya hidung dan rahangnya yang nampak lebih tegas. Kemungkinan, keduanya mencirikan sesuatu, bisa jadi yang ini jantan dan yang sebelumnya betina.
Dari matanya, terlihat adanya keraguan untuk menatap Veroa, instingnya pasti merasakan peringatan terhadap makhluk yang baru saja datang. Biasanya, binatang buas akan saling pandang terlebih dahulu, menguji lawan dengan adu pandang mata. Kakinya terlihat hendak bergerak mundur, namun macan loreng hitam ini merasa sangat waspada. Dirinya tak ingin secara gegabah bertindak, kemungkinan saat dirinya memulai pergerakan, nyawanya akan melayang.
“Andai kau mengerti, macan loreng hitam, aku tak ingin melukaimu. Aku hanya ingin kau membantuku mengalihkan perhatian para goblin untuk sementara waktu, agar aku dapat mengamankan para gadis yang menjadi tahanan mereka” Veroa tak berniat untuk berkata dengan serius, dirinya berpikir, binatang buas di hadapannya takkan mengerti dengan ucapannya. Tapi...
Macan loreng hitam menunduk, dia melompat dan perlahan berjalan ke arah Veroa dengan penuh kehati-hatian, matanya tak berani membalas pandangan mata Veroa. Saat berada di depannya, macan loreng hitam itu semakin membungkukkan badannya hingga menyentuh tanah, seperti seekor kucing yang ingin dimanja oleh majikannya.
Tangan Veroa perlahan bergerak, lalu mengelus bulu halus leher macan loreng hitam.
Mendapat perlakuan seperti itu, akhirnya macan loreng hitam merasa takkan terjadi apa-apa bila dirinya menatap mata Veroa. Seperti indahnya taman bunga yang selalu membuatnya merasa nyaman sat tidur, begitulah perasaan yang dirasakan olehnya saat matanya memandang mata Veroa. Sebagai raja macan loreng hitam, dirinya sebelumnya mengerti dengan perkataan Veroa, namun tak begitu saja dia mempercayainya sebelum mendapat perlakuan yang friendly seperti itu. Dia lalu mengeong, kepalanya memberikan gestur yang seolah meminta Veroa untuk mengikutinya.
__ADS_1
Veroa tak terlalu mengerti maksud dari sikap macan loreng itu yang tiba-tiba saja berubah sikap, dirinya hanya mengikuti kemana macan loreng hitam itu pergi. Tanpa di duga, keduanya berjalan ke arah Veroa datang, yaitu tempat pemukiman goblin.
Dari sini, pikirannya segera dapat menebak sesuatu yang langka terjadi. “Mungkinkah, macan loreng hitam ini mengerti dengan ucapanku sebelumnya!?” begitulah dirinya memikirkan hal itu sambil tetap berjalan mengikutinya.
Saat sampai di dekat pemukiman itu, macan loreng hitam berkamuflase ke dalam kegelapan. Satu detik kemudian, satu kepala salah satu goblin pemanah terpenggal. Disusul kepala goblin terdekat, macan loreng itu meneruskan memenggal beberapa kepala sebelum mereka dapat bereaksi.
Akhirnya, para goblin menyadari, mereka sedang diserang oleh seekor binatang buas. Keadaan di sana sangat kacau, panik karena tak dapat melakukan perlawanan, untuk mengetahui binatang apa yang menyerang mereka saja belum diketahui. Kini, tak ada yang mempedulikan para gadis yang menjadi tahanan mereka. Yang menjadi prioritasnya saat ini, mereka dapat mengatasi serangan binatang misterius itu.
Berlari dengan tak menarik perhatian, dia akhirnya sampai di depan kurungan itu dan melihat para gadis yang sedang ketakutan di dalamnya. Mereka meski berada dalam mental yang kacau, tapi karena mereka tak sendirian, mereka semestinya tak terlalu berada dalam kondisi yang seburuk itu. Sebagian gadis menyadari kedatangannya dan berhenti menangis, disusul yang lain yang perhatiannya teralihkan pada kedatangan Veroa.
Merasa mereka hendak ditolong, sebelum dapat bersorak, Veroa dan sebagian gadis yang lebih berpikiran dewasa menghentikan mereka yang terlewat kegirangan. Sebelum Veroa dapat membuka kurungan dengan paksa, pondok sederhana yang berukuran lebih besar dari yang lain yang berada di samping kurangan paling kiri, pintunya terbuka. Sesosok goblin bertubuh kekar dan tinggi muncul, pedang besar berada dalam genggaman tangan sebelah kanannya. Pandangan matanya segera tertuju pada Veroa yang tangannya yang hendak membuka kurangan dengan paksa, terhenti.
__ADS_1
Menyadari bahwa para gadis tahanannya hendak dibebaskan, dirinya murka. Dia berteriak cukup kencang dan berhasil menarik perhatian anak buahnya, lalu dia berlari ke arah Veroa. Pedang besarnya diayunkan secara vertikal ke tempat dimana Veroa berdiri, tapi dia segera terkejut. Tangannya terasa kesemutan saat ayunan pedang besar ditangannya dipaksa berhenti di tengah jalan, yang ternyata adalah Veroa yang menangkap pedang besar itu hingga berhenti melaju. Tangannya yang kecil bila dibandingkan dengan ukuran pedang besar miliki pimpinan goblin, memegang bilah pedangnya tanpa terlihat adanya luka yang timbul akibat menahannya. Dia tentu merasa terkejut, makhluk di depannya yang berukuran kecil dapat menahan serangannya yang berbobot dengan tambahan gaya berat pedang besarnya, tak bergeming saat menghentikan ayunannya. Insting bertahan hidupnya segera bekerja, namun tetap saja terlalu lambat untuk ukuran monster. Dia baru menyadari, lawan sangatlah kuat dan berbahaya.
Sedikit memberikan tekanan pada bilah pedang besar itu, jari-jari tangannya yang memegangnya membuat pedang mengalami retakan yang perlahan merambat hingga membuatnya terpisah menjadi puluhan keping logam. Saat itu, Veroa tersenyum sambil menatap pimpinan goblin yang terlihat sangat terkejut mendapati pedang besarnya hancur berkeping-keping begitu saja. Lalu, dia menatap Veroa dengan ngeri, bulu kuduknya bergidik andai dia memilikinya.
Dengan sekali ayunan kepalan tangan, tubuh kekar dan tinggi itu terpental jauh ke belakang. Dengan ini, Veroa memiliki sedikit waktu yang tak terganggu untuk membuka kurangan. Para gadis keluar secara bergantian, wajahnya nampak sedikit berseri, namun bercampur dengan rasa sedih. Veroa dapat menangkap alasan mereka tak sepenuhnya merasa senang, tapi masa lalu tak dapat diubahnya dan dia tak dapat membantu terhadap sesuatu yang telah terjadi.
Tapi para gadis juga sadar diri, mereka masih selamat dan baru saja ditolong, mereka semua mengucapkan kata “Terima kasih” sambil membungkukkan badan secara serentak. Meski keadaan masih kacau, tapi mereka merasa tenang saat berada di dekat Veroa.
“Maaf, aku tak ada di saat desa kalian mendapat serangan dari para goblin ini” dia tak merasa menyesal, karena memang begitulah takdir dan kehidupan, tapi setidaknya dirinya meminta maaf, hanya dapat menyelamatkan mereka dalam kondisi telah terkurung seperti itu.
Salah seorang dari mereka yang terlihat sedikit lebih dewasa dari perawakannya dan berdiri paling depan berkata, “Tak apa Tuan Penyelamat, kami merasa sudah sepantasnya merasa senang, bagaimanapun tak dapat dipungkiri bahwa pertolongan ini memang terlambat, tapi nyatanya tak seterlambat itu. Kami hanya berada di dalam kurungan dan belum mendapat perlakuan buruk dari para goblin, hal itu sepatutnya kami syukuri. Meski, tempat untuk kami kembali telah tak ada dan tak tahu harus kemana, tapi setidaknya kami masih dapat hidup dengan normal dan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Ucapan terima kasih saja masih belum cukup, tapi kami tak memiliki apa-apa lagi. Desa kami telah dibakar habis di depan mata kami, jadi tak ada apapun lagi yang kami miliki. Maafkan atas ketidaktahuan diri kami, Tuan”
__ADS_1