
Pasukan sihirnya telah kembali, membawa kabar yang memuaskan. Dugaannya benar, di sana ada seorang bangsawan bernama Arthemis yang menyewa kamar yang paling mahal, yang memiliki fasilitas terbaik yang didapatnya.
“Bersenang-senanglah dulu, menderita kemudian” setelah mendapat kabar ini, dia tinggal menunggu waktu upacara penobatan Pangeran Mahkota dimulai.
Dari waktu ke waktu, di area sekitar Katedral, di sana semakin ramai dengan orang – orang. Veroa tak ada keinginan untuk masuk ke dalam keramaian, dia akan ke sana setelah waktu penobatan dimulai. Saat ini, dirinya sedang menuju ke sebuah kafe kecil yang sedikit orang ada di sana. Di sana, dia hanya memesan makanan ringan, sambil menunggu waktunya tiba.
Yang sendirian di satu meja, mungkin hanya dirinya. Beberapa meja diisi oleh beberapa oang yang sedang mengobrol, ada juga yang hanya berisikan sepasang manusia yang sedang kasmaran. Dia hanya berinteraksi dengan makanan ringan yang telah dipesannya.
Dari apa yang didengarnya, ada satu informasi yang menarik perhatiannya. Informasi ini berasal dari meja yang berada di sudut ruangan, mereka sebenarnya berbicara dengan suara yang pelan. Tapi, pendengaran Veroa terlampau tajam, dia dapat mendengarnya dengan lumayan jelas. Entah mereka yang tak tertarik dengan topik yang sedang dibicarakan atau tidak mendengarnya, orang – orang yang berada di meja terdekat tak ada yang merasa tertarik.
“Kapan reruntuhan itu muncul?” salah seorang dari mereka bertanya pada kawannya yang lebih mengetahui secara rinci informasi itu.
“Kata ahli arkeologi yang kukenal, reruntuhan akan muncul sekitar sepekan dari sekarang” orang yang ditanya, menjawab tanpa ada niatan untuk menyembunyikan kebenaran itu. Dia mungkin menginginkan rekan untuk menjelajahinya. “Hanya saja, letak pastinya aku tak tahu. Yang kutahu, reruntuhan itu akan muncul di Pegunungan Tenesin. Kau tahu? Pegunungan itu sangatlah luas dan lumayan curam, memerlukan waktu yang tak sebentar untuk dapat mencarinya."
__ADS_1
“Iya sih, tapi kenapa kau tak coba mengajak ahli arkeologi yang kau kenal itu? Siapa tahu, dia mau ikut” teman yang satunya berpendapat.
“Reruntuhan bekas pertarungan para Dewa kah? Sepertinya menarik. Sepekan katanya? Ada waktu untuk bersiap-siap, jika begitu. Aku hanya perlu menjelajahi Gunung Tenesin, itu hal kecil asalkan aku sendiri yang pergi. Tapi, akan membosankan juga. Siapa yang akan kuajak ya?” setelah memfokuskan pendengarannya pada pembicaraan di sudut ruangan, dia mendapat informasi yang berharga. Dia kini sedang mempertimbangkan seseorang yang akan diajaknya.
Dunia Cosmic, dulunya pernah mengalami masa kehancuran, sebelumnya terdapat peradaban yang maju. Peradaban ini hancur akibat para Dewa yang seenaknya menjadikan dunia ini sebagai medan pertempuran. Banyak reruntuhan bekas peradaban zaman kuno yang tenggelam ke dalam tanah. Mungkin disebabkan dorongan energi kosmik yang berada jauh di bawah tanah, perlahan reruntuhan ini akan muncul kembali ke atas permukaan tanah.
Jangan dikira, reruntuhan ini hanya sekedar bekas bangunan yang masih utuh atau telah hancur sebagian. Selain menyimpan benda – benda kuno, di sana juga terdapat buku – buku penelitian dari peradaban kuno yang sangat maju. Ilmu sihir diketahui dulunya berasal dari buku – buku yang berisikan penelitian energi kosmik yang dikendalikan oleh makhluk berakal seperti manusia.
Saat melamunkan hal itu, di luar nampak semakin ramai. Orang – orang sedang antusias menyambut dibukanya upacara penobatan Putra Mahkota. Memang benar, waktu saat ini menunjukkan siang hari, sebentar lagi akan segera dimulai.
Veroa memanggil pelayan kafe untuk membayar pesanannya. Setelah itu, dia beranjak pergi dari sana.
Beberapa waktu lalu, jalanan dipenuhi orang – orang, arus keramaiannya bolak-balik. Kini, mereka bergerak ke satu arah, arah menuju Katedral, di mana tempat upacara penobatan Putra Mahkota akan dilaksanakan. Sudah pasti, mereka tak ingin ketinggalan untuk menempati tempat yang memungkinkan untuk dapat menyaksikan secara langsung upacaranya. Hanya saja, meski halaman Katedral lumayan luas, banyaknya orang tak dapat menampung mereka. Di barisan depan telah dipenuhi oleh para bangsawan yang hendak menyaksikan upacaranya. Disusul oleh para mercenary dibelakangnya yang tak ada menyadari identitas profesi mereka, dilanjut para pedagang yang membawa pengawal yang membuat mereka mendapat ruang untuk berada sedikit di depan. Yang paling belakang adalah para petualang yang tak terlalu berantusias untuk menyaksikannya, para pemburu yang hanya untuk sekedar hadir, penduduk biasa yang tak mampu untuk bersaing dengan kalangan atas.
__ADS_1
Veroa dari awal tak mau berbaur dengan orang – orang yang bau keringat. Ada tempat yang kosong dan luas yang orang – orang tak sadari. Dia melompat ke atas bangunan, bergerak ke depan dengan leluasa dan melihat dari atas bangunan. Dari sini, dia dapat melihat keseluruhan tempat sekitar halaman Katedral, dibantu dengan indera penglihatannya yang lebih baik dari orang – oran pada umumnya, dia dapat melihat dengan jelas satu per satu wajah orang.
Tanpa diduga, ada seorang perempuan yang melihat dirinya sedang duduk di atas bangunan. Dia nampak tersenyum padanya, sepertinya dia baru menyadari tempat terbaik untuk melihat upacara penobatan Putra Mahkota dengan lebih leluasa dan jelas. Dia bergerak menjauh dari keramaian, lalu melompat ke atas bangunan, bergerak menuju ke arah Veroa yang sedang duduk saat ini. Veroa hanya memandangnya sejenak, lalu kembali memandang ke keramaian di bawah sana.
“Jutek amat! Dasar pria aneh” melihat sikap Veroa yang hanya memandangnya sekilas tanpa menyapanya, dirinya merasa terluka mendapat perlakuan seperti itu. Dia berparas cantik, sudah sewajarnya memiliki kesombongan tersendiri atas kelebihannya, mungkin karena faktor lingkungan yang memang dirinya terbiasa mendapat pujian atas kecantikannya. Setelah memandang Veroa beberapa saat, dia tak mempedulikannya lagi dan beralih ke arah yang sedang dipandang oleh Veroa.
“Ada banyak tempat di atas sini, tapi mengapa anda malah duduk di dekat pria yang anda barusan katakan jutek ini” beberapa saat dalam keheningan, Veroa merasa perempuan yang baru saja datang itu aneh. Apa yang diucapkan pada dirinya barusan seperti hanya sebuah ungkapan belaka.
Perempuan itu hanya mendengus kesal mendengarnya, tapi tak ada pergerakan yang membuatnya akan berpindah tempat. Lalu, dia menjawabnya “Apakah kau tega membiarkan seorang gadis sendirian duduk di atas sini?” sambil tersenyum memandang Veroa yang tak sedikit pun menolehkan pandangannya dari keramaian.
Saat perempuan itu merasa semakin kesal dan terabaikan, dia hendak mengucapkan sesuatu sebelum di bawah sana terdengar semakin ramai. Perhatiannya teralihkan dan dia tak berniat untuk berucap kembali.
“Hadirin sekalian, maaf membuat kalian menunggu. Saya Arden, selaku pembawa acara, saya umumkan, UPACARA PENOBATAN PUTRA MAHKOTA ARTHUR, DIMULAI!”
__ADS_1