Sistem Katalis

Sistem Katalis
Mawar Berduri


__ADS_3

Angin yang berembus pelan menggoyangkan tangkai gandum, membuatnya terlihat seperti ombak di lautan lepas. Jalan yang membelah lahan terdapat sebuah kereta kuda yang mewah sedang menuju ke Desa Illiod.


Penduduk desa yang sedang memeriksa secara rutin lahan gandum, melihat kereta kuda yang memiliki lambang kejayaan Kota Tungsten, segera mengetahui bahwa pemimpin mereka datang berkunjung ke desa. Salah seorang dari mereka berinisiatif untuk memberitahukan kepada penduduk desa lainnya, terutama kepala desa untuk melakukan sambutan. Untuk yang lainnya, mereka berdiri di depan gerbang samping jalan, menunggu kereta kuda untuk melakukan sambutan awal.


“Selamat datang di Desa Illiod, Baginda Duke Tungsten. Maaf jikalau desa ini belum mengalami perkembangan yang nyata” ucap salah seorang pria yang tadi memeriksa kondisi lahan bersama beberapa orang lainnya setelah kereta kuda diberhentikan oleh oleh kusir kereta kuda setelah mendapat perintah untuk berhenti dari Veroa.


Veroa pun melihat mereka dan menyapanya sembari membalas ucapan pria tadi,”Terima kasih atas kerja keras kalian dan sambutannya”


Mendengar tanggapan positif darinya, mereka tersenyum gembira dan dengan semangat menuntun kereta untuk masuk ke dalam desa.


Di alun-alun desa yang berskala 1000:1 luasnya dengan alun-alun kota, para penduduk desa telah berkumpul di sana, semuanya tanpa terkecuali, karena memang tak ada yang sakit


atau berkendala lainnya, untuk menyambut kedatangan Duke Fliff atau sebut saja Duke


Tungsten. Setelah kabar yang diberitakan oleh warga tadi, para penduduk dengan antusias yang tinggi berbondong-bondong datang ke alun-alun untuk ikut melakukan sambutan. Biasanya, para warga hanya menyambut pemimpin atau bangsawan lokal dengan sambutan biasa, merujuk pada formalitas.


Saat kereta kuda Duke Tungsten mulai terlihat di belokan, mereka mulai bersorak. Veroa yang berada di dalam kereta sangat puas mendapat sambutan yang meriah dan tulus ini, apalagi saat anak – anak yang sebaya dengan Vina mengayun-ayunkan tangan secara serempak di barisan paling depan.

__ADS_1


Kereta pun berhenti di hadapan mereka. Veroa keluar bersama Vina yang mengikuti di belakang sebelah kirinya.


“Selamat datang di Desa Illiod, Baginda Duke Tungsten...” ucap serentak mereka semua dengan semangat, hingga menggema ke seluruh area desa.


Acara sambutan pun dilanjut sampai larut malam. Veroa belum menyatakan maksud kedatangannya, biarlah malam ini menjadi malam istirahat singkatnya dan akan dilakukan keesokan harinya.


Malam telah digantikan siang, tak terasa matahari telah menampakkan sinarnya di balik pegunungan. Embun pagi menetes dari dedaunan, angin yang menyegarkan datang dari arah hutan membangunkan para penduduk desa, membuat mereka memiliki semangat yang tinggi untuk memulai hari. Bekas sambutan kemarin masih ada dan kini sebagian orang, lebih tepatnya para wanita muda berinisiatif untuk membereskan itu semua. Anak – anak telah berlarian di jalanan desa, bermain bersama teman sebayanya. Beberapa orang masih ada yang sarapan di ruang makan. Ada juga yang masih tidur, karena mungkin pekerjaan yang sekarang telah diselesaikan kemarin. Ada pula yang hanya menghabiskan waktu di sungai yang mengalir di samping lahan gandum, memancing ikan.


Veroa tidur di kamar yang khusus disediakan baginya, kamar ini masih termasuk ke dalam bangunan rumah kepala desa, namun didesain lebih mewah. Sebenarnya, Veroa merasa sungkan, tapi bila dia menolaknya, justru dia seperti tak menghargai usaha yang telah mereka lakukan untuknya.


Veroa pun menjelaskan maksud kedatangannya ke Desa Illiod, yakni ingin membantu memecahkan permasalahan terkait hilangnya enam anak yang masih menjadi misteri.


Tentunya hal itu membuat mereka yang mendengarnya senang, tapi mereka juga tak mengharapkan labih, para pengintai yang bertugas di desa saja tidak dapat membantu banyak.


Dari ekspresi mereka, Veroa dapat memahaminya. Toh, meskipun dia telah mengubah Kota Tungsten menjadi lebih baik, tapi mereka juga mengerti bahwa Duke Tungsten berbakat dalam pemerintahan, tapi apakah dia berbakat dalam bidang lainnya, mereka tak tahu. Mereka hanya membayangkan bagaimana kepayahan seorang Duke dalam memecahkan masalah yang mana para pengintai saja tak dapat menyelesaikannya. Namun, Kepala Desa Dorway tetap memenuhi segala kebutuhan Veroa dalam memecahkan permasalahannya.


Dia membimbing Veroa ke tempat kejadian dan menjelaskan setiap apa yang ditanyainya.

__ADS_1


Anak – anak hilang pada sore hari di taman alami yang berada di sebelah selatan desa.


Di sana, ternyata apa yang diabaikan oleh para pengintai maupun orang – orang desa, Veroa menunjuknya sebagai salah satu petunjuk yang berhubungan dengan hilangnya anak. Terdapat enam tangkai bunga, bunga mawar yang dengan rapi dipotong. Jumlah yang terhitung, sama dengan jumlah anak yang hilang. Tapi, Veroa masih memerlukan beberapa petunjuk untuk dapat memberikan jawaban atau solusi yang jelas.


Dia yakin dengan kemampuannya, apalagi ada sistem dalam jiwanya yang telah membantunya akhir-akhir ini. Selain kemampuan berpedang dan memanah, terdapat skill pemberian dari sistem yang sangat berguna baginya seperti kemampuan ekstraksi bahan. Meski belum memiliki skill bertarung dari sistem, dia masih merasa percaya diri dengan kemampuan berpedang dan memanahnya. Jadi, dia membawa Vina bersamanya untuk mencari petunjuk di sekitar yang dikiranya memungkinkan, sedangkan yang lain kembali ke desa untuk mengamankan anak – anak di rumah masing-masing.


Dia membawa Vina sedikit lebih dalam ke hutan sebelah selatan desa sampai malam hari. Di sela-sela pencarian petunjuk, Veroa meminta maaf secara langsung karena melibatkannya dalam masalah yang ini yang mana anak kecil harusnya telah bersiap untuk


tidur.


Dia telah menyusuri tempat – tempat yang memungkinkan anak – anak dibawa. Dia yakin bahwa pasti ada sedikitnya petunjuk lain yang mengarahkannya pada tempat persembunyian Si Penculik. Beruntungnya, di tempat observasi ketujuh yang dianggap berpotensi memiliki petunjuk, Veroa melihat sepotong mahkota bunga mawar yang sepertinya terlepas dari kepala putiknya. Selanjutnya, Veroa memeriksa lebih lanjut apakah ada bekas seseorang pergi atau tidak. Sekali lagi, setetes darah yang telah mengering menempel pada salah satu batang pohon.


Melihat Vina yang menguap, Veroa sadar bahwa dirinya terlalu memaksakan Vina untuk menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin. Dia pun menggendong Vina yang telah mengantuk dan hendak membawanya pergi kembali ke desa.


Tak berapa lama dia berjalan, dia merasakan seseorang sedang mengawasinya. Bukan seseorang tapi beberapa orang dari berbagai sisi, dia dapat merasakan hawa kehadiran seseorang yang membagi tubuhnya menjadi beberapa bagian alias klon. Asumsinya segera tertuju pada Si Penculik yang sepertinya terpancing dengan kehadiran Vina.


“Mungkin dia seperti ikan yang akan terpancing dengan aroma cacing” begitulah apa yang dipikirkannya sambil tetap berjalan dan berkonsentrasi terhadap pandangan sekitar.

__ADS_1


__ADS_2