
Betapa senangnya dia saat itu lulus ujian pelatihan singkat, bahkan mendapat pujian dari Veroa. Hal itu memberikan dirinya semangat yang tinggi untuk terus meningkatkan penguasaan teknik berpedang kendo. Seharusnya, setelah sepekan ini dia resmi menjadi penjaga pribadi Veroa, tapi Veroa memberikan waktu sebulan penuh baginya untuk memperdalam penguasaan teknik pedang kendo, agar dia lebih merasa percara diri saat bertugas nanti.
Kesibukannya sedikit berkurang, hanya duduk di atas kursi dan mengurusi tumpukan dokumen yang dirasa sangat membosankan menurutnya. Sekali-kali dia juga menyisihkan waktu untuk menemani Vina bermain di taman atau jalan-jalan di sekitar alun-alun.
Suatu siang, saat dia sedang berjalan bersama Vina yang menggenggam tangannya dengan erat, ada pedagang tak jauh dari dirinya saat ini sedang berbincang dengan pedagang yang satunya yang berada tak jauh dari pedagang itu.
“Apa kau tahu? Di perjalanan menuju ke sini, ada seekor monster chimera yang sedang kelaparan. Terbukti chimera itu menyerang rombongan kami dengan ganas. Para mercenary, mereka yang menjadi korban, aku tak dapat berbuat apa-apa selain memanfaatkan hal itu untuk menyelamatkan diri sendiri, agar pengorbanan mereka tidak sia-sia” ucap pedagang itu.
Pedagang yang satunya yang mendengar nasibnya yang buruk bertemu chimera bergidik ngeri. Lalu, dia bertanya “Apa chimera itu masih di sana atau tidak ya? Kalau monster itu sampai berdiam di jalur pulang nanti, aku akan habis nanti”
Veroa hanya mendengarnya saja, tak berniat untuk ikut mencampuri obrolan mereka. Tapi, dia merasa bersemangat, karena dia berpikir akan ada gilirannya untuk menampilkan kebolehannya sebagai Duke Tungsten. Sebelum itu, dia berencana memastikannya terlebih dahulu kepada pihak guild petualang, lebih tepatnya Guild Master Alfrederic. Apakah para petualang mampu mengatasi masalah ini atau tidak. Bila memang mampu, berarti dia harus memberikan misi terkait masalah ini untuk memancing para petualang yang memiliki kekuatan yang mumpuni untuk dapat mengatasinya. Sebisa mungkin, dia berharap tak adanya jatuh korban dari pihak guild petualang.
Dia masih menemani Vina, sampai rona jingga tertangkap oleh mata semua orang di sebelah Barat. Matahari sebentar lagi akan segera terbenam, saat itu pula keduanya telah kembali ke istana. Selepas berganti pakaian, dia segera pergi kembali tak memutuskan untuk beristirahat, menuju ke guild petualang.
__ADS_1
Tepat dirinya sampai, matahari ternyata telah sepenuhnya tenggelam, hanya menyisakan sinar jingganya yang perlahan memudar. Dia lalu masuk ke dalam.
“Permisi...” melihat wanita resepsionis terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tak menyadari kedatangannya, dia merasa sedikit ragu untuk mengganggunya. Tapi, selepas dia berkata yang cukup pelan seperti itu, wanita resepsionis menolehkan pandangan dan barulah, dia terkejut, merasa tak enak dengan sikap dirinya yang tak menyadari kedatangan pelayanggan.
“Aduh, maaf-maaf. Saya tadi terlalu fokus dengan pekerjaan saya, sehingga tak menyadari kedatangan anda. Ehem... Selamat datang di guild petualang, Tuan Kota. Adakah yang dapat saya bantu?” tak perlu diherankan, semua orang yang telah lama tinggal di kota ini akan mengenal Veroa sebagai Duke Tungsten yang telah memimpin kota ini menjadi lebih baik dalam waktu singkat, membuat perubahan yang begitu besar ke arah yang positif.
“Iya Nona, maaf juga mengejutkanmu. Kalau kamu sibuk, saya bisa mencari pekerja lain untuk membantu keperluan diriku kemari” memandang wanita resepsionis yang sama-sama memandang dirinya, dia membalas senyumannya.
“Hihi... Jadi, apa yang dapat saya bantu, Tuan?” wanita resepsionis itu segera beralih topik kembali setelah teringat dengan tugasnya yang cukup menumpuk.
“Cukup beritahu Alfrederic akan kunjunganku ini”
Tak perlu menunggu lama sampai suara teriakan yang cukup kencang hingga menarik perhatian para petualang dan para petugas guild, tapi hanya sekilas setelah tahu siapa yang bersuara. Mereka tentu telah mengetahui bagaimana Guild Master Alferderic yang suka membuat kehebohan. Jadi, mereka telah cukup terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
“Ooh... Tuan Kota!!!” dia berlari melewati tangga kayu, tak peduli dengan suara kayu yang cukup lapuk yang sewaktu-waktu bisa roboh.
“Alfrederic, bisakah kau...” Veroa berhenti sejenak sebelum dirinya mengingat kembali, dia telah beberapa kali mengingatkan pria yang satu ini untuk tak bersikap seperti itu sebagai guild master, tapi sikapnya telah mendarah daging. “Ah, sudahlah”
“Tuan Kota, kuyakin anda berkunjung ke sini, karena telah mendengar kabar tentang kemunculan monster chimera.” Guild Master Alfrederic berhenti sejenak untuk melihat tanggapan Veroa yang dibalas anggukan olehnya. Lalu, dia melanjutkan ucapannya, “Untuk saat ini, pihak guild sedang berusaha untuk menanganinya. Beberapa petualang yang memiliki keahlian sihir menyelinap telah mengintai monster itu. Tapi, sore tadi kami telah mendapatkan kabar yang cukup mengkhawatirkan, Tuan”
Guild Master Alfrederic sebelumnya segera mengajak Veroa ke tempat yang lebih tertutup untuk membahas hal itu, agar tak ada yang mengganggu saat keduanya sedang berbincang dengan serius.
“Sebetulnya, aku datang kemari untuk memastikan, apakah pihak guild petualang mampu menangani masalah ini atau tidak. Sehingga, aku dapat memberikan misi bagi para petualang untuk nantinya mereka akan mendapat hadiah yang setimpal. Tapi, sekiranya misi ini membahayakan hingga beresiko jatuhnya korban jiwa, kupikir akan menanganinya sendiri. Jadi, apa yang membuat seorang Guild Master ini merasa khawatir?” Veroa masih bersikap santai setelah Guild Master menyebutkan ada kabar yang mengkhawatirkan, bahkan tangannya kini menahan dagunya dengan kakinya yang dilipat, memandang Guild Master yang terlihat terkejut dengan ucapannya barusan.
Melihat reaksi yang tak diharapkan, Guild Master Alfrederic merasa heran. Tapi, dia segera memberitahukan kabar itu sebelum dia menolak mentah-mentah ucapan Veroa yang katanya akan menangani masalah itu oleh dirinya sendiri. Dia sendiri sadar, sulit menemukan seorang penguasa yang mampu dibandingkan dengan Veroa yang masih muda ini. Jadi, akan sangat disayangkan bila dia mempertaruhkan hidupnya demi keamanan kota.
“Hee... Kau belum tahu, betapa hebat diriku ini. Tapi, cukup mengejutkan juga, chimera yang biasanya tak turun gunung dan hanya terbang mencari mangsa di sekitar, kini berada di dataran yang kebetulan dekat kota ini. Terlebih, monster chimera ini memancarkan aura kegelapan, katamu?” Veroa berpikir, pasti adalah alasan kuat yang membuat monster chimera itu nampak liar dan membahayakan pemukiman. Dia mencoba menghubungkan kemungkinan yang terjadi, bagaimana monster ini dapat tercemar oleh energi kegelapan. “Apakah Dunia Terbengkalai ada hubungannya dengan insiden ini?” pikirnya.
__ADS_1