
Suara air sungai terdengar di depan sana begitu deras, para gadis merasa sedikit khawatir mereka tak dapat menyeberanginya, taktu-takut bila mereka malah ditinggal bagi yang tak mampu menyeberang.
Benar saja, sungai yang cukup besar dengan lebar yang tak mungkin dapat dilompati begitu saja oleh kebanyakan orang, pastinya sangat jauh bila ingin mencari jembatan yang menghubungkan kedua hutan itu. Memang benar, seharusnya bebatuan besar yang menghiasi sungai dapat dijadikan sebagai pijakan, tapi jarak antara satu dengan yang lainnya kurang dekat. Para gadis tak mungkin dapat melompati bahkan dari batu awal ke batu selanjutnya, kecuali Yuyue Wulan yang memang dirinya adalah seorang petualang. Melompati batu yang lumayan berjarak seperti itu, tak membuatnya kesulitan untuk menyeberangi sungai.
Veroa yang mengajak mereka pergi ke Kota Tungsten tentunya harus bertanggung jawab akan segala hal yang membuat para gadis kesulitan untuk mengikutinya. Dirinya harus memastikan, tak ada yang tertinggal dan tersiksa selama perjalanan.
Melihat dua pohon yang tinggi di samping sungai tak jauh dari posisi mereka saat ini, Veroa memotong keduanya. Kedua pohon yang telah ditebang itu dijadikan sebagai jembatan, agar memudahkan para gadis menyeberangi sungai, sehingga tak ada seorang pun yang tertinggal.
Tiga pekan lebih beberapa hari telah berlalu, akhirnya mereka telah sampai di depan gerbang Kota Tungsten. Orang – orang yang mengantri untuk masuk, melihat para gadis dengan kasihan. Mereka berpikir, mungkin para gadis itu gelandangan yang hendak mencari peruntungan di kota yang makmur itu. Mereka tak melihat seorang pria yang berada paling depan dari para gadis, mungkin karena penampilannya yang tak mencolok, sehingga orang – orang tak memperhatikannya.
Akhirnya, giliran Veroa beserta para gadis tiba. Sebelum kedua penjaga gerbang hendak menghentikannya, mereka merasakan aura familiar yang biasanya mereka rasakan saat berada di sekitar Veroa. Keduanya memperhatikan lebih seksama, mereka segera menyadari bahwa pria yang memakai pakaian seperti orang desa adalah Duke Veroa, penguasa kota ini.
Orang – orang merasa aneh dengan tindakan kedua penjaga yang seolah sangat menghormati pria bertudung itu, bahkan sampai membungkukkan badan yang bahkan kepada para saudagar terkenal pun mereka tak memperlakukannya seperti itu. Beberapa saudagar yang sedang mengantri bahkan merasa penasaran, ada yang berniat mencari tahu identitasnya, ada pula yang hanya sekedar penasaran saja.
__ADS_1
“Aku akan merepotkan kalian berdua” setelah mengetahui kedua penjaga itu dapat mengenali dirinya, dia tanpa basa basi lagi meminta bantuan keduanya untuk mengurusi pendataan identitas para gadis bahwa mereka akan resmi menjadi penduduk Kota Tungsten.
Kedua penjaga itu dengan senang hati memenuhi permintaan Veroa yang mereka pikir, harusnya bukan meminta tetapi memerintah mereka. Memenuhi permintaan sosok yang mereka sangat hormati? Tentunya hal itu menjadi kebanggaan tersendiri dan mereka merasa semangat untuk itu.
Veroa bersama para gadis sempat menarik perhatian, tapi itu tak berlangsung lama sebelum mereka pergi.
Setelah menyerahkan para gadis kepada kedua penjaga, Veroa pergi ke istana kota untuk menyampaikan laporan atas kepergiannya kepada Karina. bagaimana dirinya tak berhasil membawa Duke Arthemis dan malah membawa pulang para gadis dari desa independen.
Kedua penjaga itu merasa, selain mengurus identitas mereka, keduanya juga harus menjamin keamanan dan kenyamanan mereka berhubung mereka mendapat undangan langsung dari Veroa untuk menjadi penduduk di sini. ada lagi yang memiliki tujuan lain, salah satu penjaga berusia cukup muda, sekitar dua puluhan tahun usianya saat ini, merasa tertarik kepada salah satu gadis. Mungkin, gadis itu adalah tipe wanita idamannya. Pandangan matanya secara diam-diam tertuju pada gadis itu, namun dia masih pemula dalam hal percintaan. Penjaga yang satunya, telah memiliki pengalaman dalam hal asmara dan dia menyadari bahwa rekan kerjanya baru saja menemukan gadis pujaannya. Dia tersenyum saat rekan kerjanya menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan, dia jadi salah tingkah dibuatnya.
...
“Begitulah, aku berencana memerangi Kerajaan Rome, agar raja itu tak meremehkan lawan. Biar dia menyesali bahwa keputusannya untuk melindungi penjahat dan mengabaikan peringatanku adalah kesalahan besar yang berujung pada kehancuran.”
__ADS_1
Karina mendengarkan penuturan Veroa dengan seksama, dirinya telah dapat menduganya bahwa sulit untuk membawa Duke Arthemis keluar kerajaan untuk dihukum, apalagi dia merupakan anak mantan raja dan saudara raja yang sekarang. Tapi, matanya segera melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya selanjutnya dari mulut Veroa. Dia telah lama merelakan masa lalunya dan keinginan untuk balas dendam hanya bisa dirinya pendam. Wajahnya tersenyum manis sekali, hatinya juga berbunga-bunga, merasakan kepedulian Veroa padanya begitu besar, hingga mengusahakan untuknya dapat menghukum pria yang telah merenggut mahkotanya.
Tak ada bantahan darinya, dia memilih untuk merasakan lebih dalam hatinya yang sedang berbunga-bunga. Dia bahkan tak mendengar kelanjutan yang diucapkan oleh Veroa, hingga dia mengucapkan selamat tinggal dan berlalu pergi, barulah dirinya tersadar kembali bahwa dia baru saja mengabaikan Veroa yang sedang berbicara padanya. Bunga-bunga di hatinya jadi layu.
Di kamar, Veroa menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, setelah hampir sebulan melakukan perjalanan dan hanya tidur tak sampai lima kali dengan alas yang keras, dia jadi merasa sangat nyaman saat merasakan kehangatan dan kelembutan kasurnya.
“Sudah lama aku tak membuka layar sistem” sambil rebahan, dia membuka panel Status yang sejauh ini tak ada perubahan yang signifikan selain gelar tambahan yang baru diketahuinya.
“Gelar ‘Pahlawan Kesiangan’? Kok, bisa tiba-tiba ada? Dari nama gelarnya, kayaknya berhubungan dengan penyelamatan para gadis yang tak sempat desanya diselamatkan. Apakah karena suasana yang mencekam, membuatku tak menyadari adanya pemberitahuan tentang ini? Apa mungkin, sistem juga memberikan tugas!?” habis terkejut dengan kemunculan gelar yang tak diketahuinya, dia baru sadar akan sesuatu. Biasanya, dalam kondisi tertentu, sistem akan memberikan tugas terkait suatu hal, seharusnya saat itu, sistem juga memberikannya tugas penyelamatan.
“Coba kulihat” saat dia memeriksa panel Tugas, ternyata benar ada. Tugasnya telah ada label berhasil diselesaikan. Disentuhnya layar tugas itu untuk menampilkan tugas lebih rinci, dan dia mendapat hadiah lagi.
Di sana tertulis, Hadiah: Anting ramalan; seruling pemanggil pasukan goblin; menjadi pelaku dongeng pengantar tidur anak; Skill kendo master: flash!; dan Skill universal detection. Tugas yang terkesan tak seberapa sulit bagi Veroa, tapi hadiahnya sungguh luar biasa. Misalnya, anting ramalan ini benda yang sangat hebat, memiliki kemampuan memberikan bisikan kepada penggunanya tentang suatu hal besar yang akan terjadi di masa depan. Memang tak terlalu berpengaruh banyak dalam pertempuran, tapi dia setidaknya memiliki persiapan yang matang untuk masa depan yang akan dihadapinya.
__ADS_1
Satu hal lagi, dia mengembalikan layar panel Tugas dan beralih ke Status pada kolom gelar. Dia lalu menyentuh gelar yang baru saja didapatnya untuk mengetahui apa efek yang didapat dari gelar itu. Pahlawan kesiangan, sebuah gelar bagi mereka yang telah menyelamatkan korban dari suatu insiden dengan waktu yang cukup terlambat. Efek yang dihasilkan dari gelar ini adalah membuat orang – orang akan mudah mempercayai segala tindakan dan ucapannya.