Sistem Katalis

Sistem Katalis
Lembaran Kertas Bagai Bom Waktu


__ADS_3

    Matahari mulai berona jingga, sebentar lagi akan tenggelam di balik Bukit Meitnerium yang berada tak jauh di sebelah Timur Kota Tungsten, masih termasuk ke dalam wilayah Hutan Copernisium. Gelombang awan sungguh indah dibaluti rona jingga sinar matahari. Angin perlahan terasa lebih dingin. Burung – burung banyak yang pergi mempersiapkan tempat untuk bermalam. Langit kini dihiasi oleh binatang terbang sejenis kelelawar.


    Orang – orang masih banyak yang berlalu lalang di jalan, tak mempedulikan waktu yang sebentar lagi akan malam. Mungkin ada yang telah memiliki tempat untuk peristirahatan, ada juga yang sedang sibuk mencari tempat penginapan bagi orang luar.


    Veroa dapat melihat kesemua hal itu dari balik jendelanya. Dia belum dapat menikmati pemandangan alam yang memanjakan mata, masih ada pekerjaan yang mengikatnya di ruangan itu. Telah beberapa lembar dia menulis surat yang berisikan hal yang sama dengan alamat tujuan dan penerima yang berbeda. Dia sedang menuliskan surat tentang rencana busuk seorang pangeran dari negeri lain, Duke Arthemis yang menjadi target penghancurannya. Melalui langkah itu, satu langkah penghancuran target akan segera tercapai.


    Setelah menandatangani surat yang terakhir, dia meregangkan badannya. Untuk beberapa saat, dia melihat pemandangan dari balik jendela, rasa lelahnya perlahan terobati semakin matahari terbenam di balik bukit.


    “Akhirnya, surat terakhir selesai. Aku tinggal mengirimkan surat – surat ini ke orang – orang terkait. Kira-kira, pengiriman yang paling tepat menggunakan apa ya?” tangannya memegang dagu, matanya menatap lurus ke arah matahari yang tinggal seperempat bagian hampir tenggelam. “Memakai merpati memang efektif, tapi tingkat keamanannya terlalu rendah. Apakah merpati – merpati itu juga harus dikawal oleh para pasukan sihir? Bagus juga sih. Telah diputuskan!”


    Di istana, telah banyak tersedia burung merpati yang khusus digunakan untuk mengirimkan surat. Selain tak perlu mengeluarkan uang untuk membelinya, dia juga tak perlu kerepotan membeli dari pedagang hewan.


    Mengirimkan surat – surat itu dimulai di paig hari setelah burung – burung merpati itu diberi makan oleh pengurusnya. Dia tak sendirian melakukan persiapan, pengurus itu berinisiatif membantu Veroa mengikatkan gulungan surat ke tiap-tiap burung merpati. Pekerjaan ini menjadi semakin cepat selesai, sekitar sebelas burung merpati telah siap diterbangkan. Saat waktunya tiba, mereka terbang ke angkasa, terbang ke arah empat mata angin yang berbeda, ada juga yang searah.

__ADS_1


    “Kini tinggal menunggu reaksi mereka, atau setidaknya balasan surat. Kuyakin, mereka yang mendapat kerahasiaan ini terungkap dari pihak luar, pihak guild mercenary setempat akan mendapat omelannya. Tapi, bagus dan tidaknya, tergantung mereka” duduk di kursi yang menghadap jendela, ditemani secangkir teh manis di sampingnya, melihat pemandangan kota di balik jendela membuatnya merasa ingin pergi jalan-jalan lagi.


    “Setelah menghabiskan teh manis itu, aku hendak mencari udara segar”


    Awan sedikit renggang, sinar matahari dengan leluasa menyinari daratan. Beberapa bayangan dari langit nampak bergerak melewati orang – orang di jalanan. Di bawah teriknya, orang – orang seperti biasa, tak menghiraukan rasa panas yang membuatnya banyak mengeluarkan keringat dan membakar kulit hingga semakin hari, kulit mereka semakin kusam. Ada yang memang sengaja membawa payung, beberapa orang memang mementingkan kondisi kulitnya, tapi kebanyakan dari mereka adalah para wanita.


    Veroa keluar tanpa sepengetahuan Karina maupun Vina, dia ingin berjalan-jalan seorang diri, namun kali ini dengan pakaian yang biasanya dipakai olehnya dan tak menutupi kepalanya. Saat di jalan, orang – orang membungkukkan badan dengan hormat, anak – anak memanggilnya dengan penuh semangat, banyak wanita yang mencoba mencubit lengannya secara diam-diam maupun terang-terangan. Tapi, sebenarnya menyenangkan meladeni mereka sesekali.


    Sampai siang hari, udara di jalanan semakin terasa panas, namun hanya berlaku bagi orang – orang , tidak untuk Veroa. Dia masih tetap menikmati waktu santainya di jalan sembari melihat-lihat dagangan, sekali-kali juga membeli barang yang dirasa menarik. Tak lupa, dia juga membeli barang yang diperuntukkan Vina dan Karina, dia juga sempat membeli beberapa cemilan untuk dimakannya saat itu juga.


    Seorang pemuda berbaju lusuh nampak terluka dipojokan, beberapa orang dewasa berdiri di hadapannya. Tiap-tiap dari mereka membawa pegangan berupa senjata tumpul dan senjata tajam. Pemuda itu sepertinya sedang mengalami masalah hidup dan mati.


    Veroa tak berpikir panjang, dia mendekati ke arah mereka berada. Tanpa bersikap aneh, dia menyapa mereka seperti sapaan pada seseorang yang akrab.

__ADS_1


    “Yo! Kalian sepertinya sedang bersenang-senang, gak ajak-ajak pula” Veroa berlagak seperti orang yang akrab dengan mereka, padahal dia sama sekali tidak mengenalnya. Dia berjalan mendekati mereka, tak mempedulikan ekspresi mereka yang nampak merasa kesal dengan kedatangannya dan sikapnya yang bertingkah sok akrab.


    “Siapa kau!? Jangan sok kenal dengan kami ya. Mending jauh-jauh sana, jangan ikut campur” salah seorang dari mereka berjalan maju, wajahnya bereskpresi jelek sembari menatap tajam seseorang yang baru datang. Dia berjalan sampai berdiri tepat di depan Veroa, hingga hembusan napasnya saling beradu.


    Beradu pandang dalam diam, rekannya tak melihat dengan jelas terhadap apa yang sedang dilakukannya. Yang pasti, setelah dia berdiri saling berhadapan dengan seseorang yang datang itu, dia hanya berdiri tak bergeming. Saat Veroa sedikit memiringkan kepalanya, agar orang – orang yang berada di belakangnya terlihat, orang yang berada di hadapannya jatuh terduduk lesu. Sontak saja, hal itu membuat rekan – rekannya terkejut dan secara reflek bergerak maju, hendak menyerang Veroa.


    “Abang!!!” ketiganya berteriak, serentak maju sembari menatap tajam Veroa. Satu per satu dari mereka mulai menyerang Veroa, salah seorang darinya berfokus pada seseorang yang dipanggil ‘Abang’ dan memeriksa kondisinya.


    Satu, dua, tiga pukulan telah dilayangkan, namun kepalan tangan dari keduanya hanya mengenai udara kosong. Pukulan kini digantikan dengan tendangan, lalu keduanya dikombinasikan untuk menyerang Veroa. Lagi-lagi, tak ada yang mengenainya, bahkan hanya untuk sehelai rambut. Selama beberapa saat, keduanya hanya memukul dan menendang udara kosong, keringat mulai terbentuk setetes di dahi masing-masing. Alunan napas keduanya pun telah mulai tak beraturan dan dari waktu ke waktu semakin terasa berat.


    Veroa tak berniat untuk membalas serangan mereka, dia telah merasa terhibur dengan perkelahian ini. Tapi, dia merasa kasihan dengan orang yang satunya, setelah beberapa detik menatap matanya, dia menjadi seperti orang dungu. Untuk pemuda tadi, dia  melihatnya tak terlalu terluka parah, biarlah dia mendapat luka dan merasakan rasa sakit itu lebih lama, semakin seseorang merasakan sakit, semakin kuat pula dia, itulah yang ada dalam benaknya.


    Tak sampai lima menit berlalu, keduanya telah mencapai batas untuk menggerakkan ototnya. Paru-parunya telah bekerja terlalu keras, keringat telah membasahi pakaian mereka. Keduanya terduduk lesu dengan tarikan dan hembusan napas yang kuat dan cepat. Keduanya kini hanya mampu memandang Veroa yang sedang berjalan ke arah pemuda itu setelah keduanya tak mampu menyerang lagi. Entah apa yang akan dilakukannya, mereka hanya dapat menebak-nebak saja.

__ADS_1


    Dengan sekali sentuhan, seberkas cahaya hijau menyinari tubuh pemuda itu. Luka-luka yang didapatnya perlahan sembuh, darah yang keluar kembali masuk ke bagian dalam kulit. Pemuda itu telah sembuh dengan sangat baik dalam hitungan detik. Setelah mendapat perlakuan seperti itu, dia membungkukkan badan dengan hormat dan berterimakasih pada Veroa, sang penyelamatnya.


__ADS_2