Sistem Katalis

Sistem Katalis
Evolusi Pasukan Sihir Pertama


__ADS_3

    Di dunia yang cuaca, iklim, maupun waktu tak terdapat perubahan, Veroa sedang dikepung oleh lautan monster dari beberapa jenis. Dia telah berusaha keras untuk membersihkan jalur pelarian yang telah direncanakannya, tapi harapannya tak kunjung terlihat. Pasukan sihirnya semakin meredup, menandakan energi sihir yang menjadi komponen utama tubuhnya telah menipis. Dalam situasi seperti ini, mau tak mau, dia harus menggunakan rencana kedua, yaitu menyeberangi sungai besar di sampingnya.


    Beberapa waktu lalu, tangannya yang terpotong kembali pulih setelah dia menjauh dari tempat naga gurun menggigit leher stripped hell flame tiger. Dia berspekulasi bahwa untuk mendapat berkah penyembuhan, memerlukan beberapa saat setelah keluar dari zona pertarungan atau pada jarak tertentu di area aman. Dalam kondisinya saat ini, dia tak mungkin mendapat berkah penyembuhan. Meskipun luka yang diterimanya hanya luka – luka ringan di sekujur tubuhnya, yaitu memar akibat hantaman keras dari orc dan ogre yang menyerang dari arah tak terduga. Dengan bermodalkan kedua tangan dan kakinya, dia mampu memperkecil kerusakan yang diterimanya terhadap area vital, seperti kepala, leher, tulang rusuk, dan lain-lain. Tak lama lagi, otot – otot dalam tubuhnya akan mencapai batasnya dalam menerima kerusakan. Meskipun kerusakan yang diterima mendapat reduksi dari armornya, tapi perbandingan antara kerusakan yang diterima dengan rehat otot dalam mencerna kerusakan itu terlalu berlebihan. Lama-kelamaan, otot – ototnya akan mati rasa dan sulit untuk dikendalikan yang mana merupakan situasi bahaya bila itu terjadi.


    Dengan tebasan yang terlihat kaku, karena masih belum dapat beradaptasi dalam menggunakan honjou masamune yang secara signifikan mempunyai perbedaan sebagai sesama pedang, dia menebas kepala musuh dengan menggunakan teknik berpedang seperti biasanya. Tapi, bila musuhnya bukan monster, sebenarnya banyak celah yang dapat dimanfaatkan oleh musuh. Meskipun begitu, dia masih beruntung, karena memiliki senjata untuk membantunya bertarung mempertahankan hidupnya dari serangan lautan monster.


    Yang dirasakannya saat ini, staminanya telah banyak terkuras, akibat terlalu sering melompat untuk menghindari serangan yang terlihat dan tak terduga serta untuk menyerang  musuh yang di luar jangkauan serangannya. Sekitar 25% tersisa, keringat telah memenuhi kulitnya, tubuhnya juga terasa panas, karena ventilasi udara armor yang sedang dipakainya sedikit menghalangi pori-pori kulitnya.


    “Kini saatnya menggunakan rencana kedua. Pasukan sihir, terbang dan bawa aku menyeberangi sungai ini!” ucapnya di sela-sela pertarungannya yang intens.

__ADS_1


    Pasukan sihir yang hanya seorang saja segera menuruti perintah Tuannya. Dia terbang dan membawa Veroa pergi dari pertempuran, menyeberangi sungai yang memiliki aliran air yang sangat ekstrim. Beruntungnya, kelinci bulan yang telah menjadi peliharaannya berada di suatu tempat yang hanya sistem yang tahu, dia sedang dalam tahap perawatan.


    Monster – monster yang tak bisa terbang itu meraung marah melihat musuhnya yang telah membantai rekan dalam satu pasukannya dibunuh dalam sekali tebasan tanpa bisa membalaskan dendam mereka. Kini, giliran monster – monster bersayap yang sedari awal belum melakukan pergerakan, mulai mengejar Veroa. Mereka bergerak dengan cepat, mereka jelas sekali masih dalam keadaan prima, apalagi jumlah mencapai ribuan.


    “Sudah jelas sekali, ada sosok yang memerintah mereka. Situasi yang sulit, tapi aku takkan menyerah begitu saja. Bagaimana pun, aku tak tahu apakah bila nanti mati, akan bangkit kembali seperti pada hukuman yang pertama. Aku tak boleh gegabah dengan nyawa” ucapnya selagi dibawa pergi oleh pasukan sihirnya, melihat ke belakang di mana monster – monster bersayap sedang terbang mengejarnya.


    Kecepatan terbang pasukan sihirnya lebih cepat daripada kecepatan terbang monster – monster bersayap di belakangnya. Dia masih mendapat keuntungan dalam pelariannya, tapi pasukan sihirnya telah mendekati batasannya. Sebelum menghilang menjadi butiran energi sihir, dia memutuskan untuk memberinya nama sebagai wujud rasa terimakasihnya, karena telah menjadi pasukan yang pertama dan banyak membantunya.


    Tanpa diduga, tiba-tiba pasukan sihir yang baru saja diberi nama olehnya memancarkan cahaya terang dan beruntung, dia memberikan nama itu setelah mereka telah berada di  atas daratan dan telah berhasil menyeberangi sungai dengan lancar, dia terjatuh, karena pasukan sihirnya telah terurai menjadi energi sihir kembali.

__ADS_1


    Dia mendarat dengan mulus, melihat pasukan sihirnya yang masih dalam proses penguraian dengan senyuman sebagai bentuk rasa bangga bahwa dia telah memanggil pasukan sihir yang hebat. Tapi, dia tak tahu bahwa pasukan sihirnya sedang berevolusi dari yang awalnya berupa gumpalan sihir murni yang berbentuk humanoid menjadi pasukan sihir berelemen kegelapan, karena proses tersebut sebenarnya proses penyerapan esensi alam yang paling dominan untuk dijadikan sebagai komponen utama tubuhnya, dengan cara mengonversi energi murni dengan esensi kegelapan yang telah ditarik. Veroa tak melihat proses ini, karena dia segera pergi, takut monster – monster bersayap itu dapat mengejarnya, walau pada akhirnya dia akan tetap terkejar. Dia hanya ingin berusaha untuk tak menyia-nyiakan Zaldot yang telah berusaha membantunya melarikan diri sampai masa hidupnya habis.


    Dia yang telah kelelahan tak dapat berlari dengan kecepatan pada saat dia masih prima, mungkin berkurang sekitar 60% kecepatan awal. Sedangkan, monster – monster bersayap yang sedang mengejarnya masih dalam kondisi prima. Jelas, dia segera terkejar tak lama setelah Zaldot berevolusi.


    Monster – monster bersayap itu terbang mengelilingi Veroa yang berada di tengah-tengahnya. Posisi mereka tak dapat dijangkau oleh Veroa yang telah kelelahan dan meskipun dalam keadaan prima, dia harus menggunakan tenaga yang besar untuk melompat tinggi agar serangannya dapat mengenai mereka. Veroa hanya bisa menelan ludah dengan susah payah karena selain tenggorokannya yang kering, juga merasa tak ada harapan untuk dapat keluar dari situasinya saat ini.


    Monster – monster itu ternyata dapat menyerang dari jarak yang jauh. Mereka semua mulai mempersiapkan serangannya yang berupa sihir elemen api, ada yang fire ball, fire arrow, ada juga yang mempersiapkan sihir berskala besar yang membutuhkan beberapa monster untuk membuatnya, yaitu firaga meteorite yang perlahan terbentuk di langit.


    Veroa melihat sihir elemen api yang sedang dipersiapkan untuknya hanya berpasrah diri. Dia tak mendapat ide untuk keluar dari situasinya saat ini. Dalam hatinya sedikit berharap pada keajaiban yang tiba-tiba datang dan mengeluarkannya dari situasi yang konyol seperti itu.

__ADS_1


    “Sigh... apakah perjuanganku selama 60 tahun lebih bertahan dalam masa hukuman dari Dewa ini sia-sia begitu saja? Rasanya terasa familiar dengan ingatan yang samar tentang masa depan, orang tuaku mati di tangan Kakakku sendiri. Sesuatu yang berharga direnggut oleh saudara sedarah. Tapi, bukan gayaku bila menyerah begitu saja tanpa berjuang sampai titik darah penghabisan. Bagaimanapun, aku masih ada janji yang harus ditepati. Mana mungkin aku akan berakhir menyedihkan di sini!”


__ADS_2