
Di bawah cahaya bulan, tanah tandus membentang memenuhi daratan. Tak terlihat adanya perairan, atau bahkan sedikitnya padang rumput yang tumbuh. Dari berbagai sudut, terdengar suara raungan monster. Tak terlihat adanya monster di sekitar, dapat diperkirakan, tak jauh dari lokasi pohon oak saat ini, terdapat beberapa monster, tapi terhalangi oleh kabut yang selalu membatasi jarak pandangan.
Morgana kini sedang memberitahukan pada Veroa tentang cara melepaskan kutukan yang membelenggunya selama ini. Seluruh tubuhnya, baik raga maupun jiwanya mendapat efek kutukan, dia tak dapat merasakan kehangatan dari kehadiran Veroa. Dia yang seperti kutukan itu sendiri, tak dapat melepas diri dari kutukannya. Maka dari itu, hanya dengan bantuan pihak luarlah, dia dapat membebaskan diri dari belenggu itu.
“Jadi, salah satu solusinya adalah membunuh orang yang menanamkan kutukan ini?” ucap Veroa mengulangi perkataan Morgana yang telah memberitahukannya cara untuk menyelamatkannya. Akan tetapi, baik Morgana yang mendapat kutukan itu, apalagi Veroa tak mengetahui siapa pelakunya. Sambil memikirkan bagaimana dia dapat mengetahui pelakunya, Veroa teringat dengan hadiah yang didapatnya dari pencapaian yang baru saja dicapainya, filosofi sihir. “Kutukan termasuk kekuatan sihir, sedangkan sihir merupakan hasil dari interaksi pengguna sihir dengan alam” ucapnya tanpa sadar.
Morgana mendengar ucapannya, dia mengerti maksudnya, tapi belum dapat mengetahui arah perkataannya. Apakah yang diucapkannya barusan itu berhubungan dengan solusi atau hanya sekedar gumaman.
“Setiap interaksi menggunakan bahasa tersendiri, termasuk sihir. Apabila bahasanya diubah, maka hasilnya pun akan berubah. Tak peduli apakah sihirnya telah bereaksi, selagi belum menghilang, hasil akhirnya dapat diubah sesuka hati. Haha... sesederhana itu kah?”
Perkataan yang keluar dari mulut Veroa merupakan sebagian kecil dari isi pengetahuan filosofi sihir. Dia hanya mengikuti kata hati, dan itulah yang diucapkannya.
Morgana mengangkat kedua alisnya, baru mendengar tentang apa yang baru saja diucapkan Veroa yang menurutnya di luar pengetahuannya sebagai dryad yang seharusnya, dryad akan secara otomatis mengetahui segala pengetahuan di Dunia Cosmic, termasuk pengetahuan sihir. Yang paling membuatnya tertarik adalah kalimat ketiga yang diucapkannya, yang membuatnya mengerti arah perkataan Veroa.
__ADS_1
“Jadi, sihir kutukan ini bisa diubah menjadi sihir lain?” tanya Morgana, meyakinkan apa yang baru saja dipahaminya.
Veroa tersenyum mendengar perkataan Morgana yang sepertinya telah mengerti apa yang baru saja diucapkannya yang menuruti kata hatinya. Lalu, dia pun berkata “Tidak, aku akan menghapus sihir kutukan itu, dengan cara menghapus bahasa yang ditanamkan padamu”
Tapi, apa yang diucapkan oleh Veroa selanjutnya, membuat harapan yang telah menjulang ke langit, menjadi terjun kembali ke dasar jurang.
“Hanya saja, aku tak terlalu mengerti tentang sihir. Sampai saat ini, aku hanyalah seorang soul contractor, tingkatan terendah dari soul master. Aku berspekulasi bahwa di dunia ini, aku tak dapat meningkatkan afinitasku dengan spirit yang telah kukontrak. Jadi, hehe... solusi terakhirnya adalah... TOLONG AJARKAN AKU SIHIR!” ucapnya seraya bersujud meminta persetujuannya.
Selama ini, Veroa masih terjebak di tingkatan terendah soul master. Tapi, selain memiliki spirit tingkat Legend, Aethelfaed juga selalu mendampinginya dan memandunya untuk menjadi lebih kuat dengan metodologi yang berbeda. Apalagi, skill-skillnya yang sangat kuat, soul master mungkin nanti hanya akan menjadi sebuah gelar.
Berawal dari pemahaman tentang rapalan sihir sederhana, merasakan aliran energi sihir, bagaimana mengkorelasikan antara rapalan dengan energi sihir, dan akhirnya mengimplementasikan rapalan sihir menjadi kekuatan sihir. Butuh beberapa waktu bagi Veroa untuk dapat memahami dasar-dasar kekuatan sihir. Meski telah menerima penjelasan ringkas dan mudah dimengerti, tetapi menerapkannya sangatlah sulit bagi mereka yang memang sebelumnya tak terlalu paham tentang kekuatan sihir.
Berkali-kali dia mencoba untuk merasakan keberadaan energi sihir, berkali-kali dia mencoba untuk memahami rapalan sihir, berkali-kali pula dia mengalami kebuntuan. Hingga, pada suatu waktu, Morgana mencoba teknik pengajaran baru. Dia tanpa memberitahukan pada Veroa, dia meminta pasukan sihir Veroa untuk menyerang Tuannya dengan serangan sihir. Meski butuh beberapa kali bujukan, akhirnya Zaldot selaku pemimpin para pasukan sihir menyetujuinya dan memerintahkan kepada seluruh pasukan sihirnya untuk tak mengganggunya saat menyerang Tuannya secara diam-diam.
__ADS_1
Pada saat Veroa sedang bermeditasi, berusaha untuk dapat merasakan keberadaan energi sihir, tiba-tiba, tubuhnya terasa panas, perasaan itu semakin kuat. Merasa ada yang aneh, dia membuka mata dan melihat bahwa sekujur tubuhnya kini sedang terbakar oleh api. Saat merasakan energi sihir yang terasa familiar, dia pun menolehkan padangan ke arah tempat di mana Zaldot baru saja merapalkan sihirnya.
Hampir saja dia hendak mempertanyakan hal itu pada Zaldot dan dipenuhi amarah, dia segera menyadari sekilas tentang energi sihir. Dia baru saja merasakan energi sihir! Dan itu disebabkan oleh bantuan Zaldot yang tanpa diketahui olehnya, menyerangnya dengan energi sihir, dia telah berprasangka buruk padanya.
Pada saat itulah, aliran berwarna-warni dan diselingi dengan warna hitam memenuhi seluruh ruangan dunia ini. Dalam pandangannya, dia merasa bahwa dunia begitu berwarna. Tapi, secara samar, dia dapat merasakan energi sihir yang terasa familiar lagi yang berasal dari pasukan sihirnya. Energi sihir yang berasal dari pasukan sihirnya tereduksi, karena tekanan energi sihir dunia ini sangat kental. Tiba-tiba, dia merasa mabuk, sedikit ingin muntah, mukanya sedikit pucat saat merasakan tekanan energi sihir yang begitu melimpah seolah-olah sedang menekan tubuh raganya.
Melihat reaksi Veroa yang seperti itu, Morgana segera melindunginya dengan menyebarkan energi sihirnya untuk mereduksi tekanan itu.
“Selamat! Kamu akhirnya berhasil merasakan keberadaan energi sihir yang sangat melimpah di dunia ini. Bagaimana rasanya? Hm...?” seraya bertepuk tangan, Morgana merasa senang dengan keberhasilan langkah awalnya dan sedikit memberikan candaan. Selain itu, dalam hatinya, dia berpikir bahwa manusia yang bernama Veroa ini adalah sosok yang berbeda dibanding dengan spesies manusia lainnya. Selain dari sikapnya dan pengambilan keputusannya yang patut dipuji, ketangguhan tubuhnya juga hebat.
“MENAKJUBKAN! Sungguh, sensasi yang membuatku merasa bernostalgia. Dunia ini, kini terasa lebih berwarna” reaksi Veroa yang sedikit membuat Morgana merasa kecewa, karena dia pikir, Veroa akan merasa sedikit ketakutan atau trauma merasakan tekanan yang sangat kuat dari kelimpahan energi sihir. Dia sendiri, pada saat pertama kali dikirim ke dunia ini, berhari-hari dia merasa tak nyaman dengan energi sihir yang selalu menekannya. Yang pasti, dia saat ini merasa kagum dengan manusia di depannya.
“Mau melanjutkan rencananya atau beristirahat?”
__ADS_1
“Tiada kata istirahat untukku. Masalah sekecil ini, bahkan tak setetes pun keringat yang muncul di dahi” ucap Veroa sambil sedikit memperlihatkan rasa bangganya, karena memang selama dia berada di dunia ini, dia beristirahat hanya untuk memenuhi kebutuhan raganya, yaitu makan dan minum. Yang paling sulit adalah mencari air untuk diminum, dia telah sering meminum darah monster bila telah sangat merasa haus.